Assalaamu`alaykum warahmatullahi wabarakatuh
Bismillah, walhamdulillah
Beberapa bulan telah berlalu sejak kaki ini menginjak TGV pagi dari Gare de Lorient untuk meninggalkannya, dan entah kapan kembali lagi. Tapi ingatan tentang kota kecil itu, dan terlebih khusus lagi, saudara-saudara muslim di sana tidak hendak pudar.
Betapa besar kontras dari suatu negeri muslim (lebih tepatnya, mayoritas dan dikuasai oleh muslim) dengan suatu tanah yang ditumpangi muslim bisa terlihat. Sebab kontras itu jelas: Ilmu.
Alkisah suatu ketika pernah aku bertutur pada seorang saudara yang pada saat itu belum setahun ia kembali berislam, dan bapak dan adiknya masih belum seberuntung ia. Yang aku pertanyakan ketika itu sederhana saja, tentang kendaraan roda empat. Bahwasanya kendaraan yang bermerk Mini saat ini tidak lain hanya tersisa namanya saja. Tidak ada lagi Mini yang secara hakiki berbentuk mini.
Andaikan ia mengetahui, pesan tak terucap dari pengucap pada saat itu, bahwa ada keadaan serupa di suatu negeri tentang Islam. Di sana, Islam yang telah berurat berakar di dalamnya hampir-hampir tidak tersisa lagi Islam kecuali namanya saja.
Amboi, betapa ingin aku membawa sebagian kecil saja dari mereka, yang melazimkan diri di belakang imam pada shalat `Isya', dan terkadang mereka mendapatiku di barisan yang sama di masa shalat Shubuh.
Betapa mereka mencintai ilmu dengan sebenar-benarnya cinta. Buku yang ada di dalam masjid itu tidak hanya al-Qur'an, atau lebih parahnya, sepotong dari al-Qur'an yakni Surat Yasin yang malah ketambahan segala hal yang bukan al-Qur'an. Di sana ada sumber-sumber primer pengetahuan Islam: Qur'an dan Hadits. Berjubel-jubel dan beragam judul baik berbahasa persatuan Muslimin maupun berbahasa daerah mereka. Semua tersusun rapi dan manis di dua rak dinding tinggi dan satu rak dinding rendah di sana. Dan ada bekas-bekas buku tersebut dibaca, yang paling penting.
Pernah satu ketika aku 'diculik' seorang saudara lainnya selepas shalat `Isya', di kala malam cukup panjang. Ia berkeras mengajakku berbelanja kebutuhannya di sebuah toko kelontong besar, raksasa. Masih muda usianya, 19 tahun ketika itu, namun telah cukup mapan. Ia berasal dari daerah lain di selatan, dan belum genap setahun ia tinggal di kota kecil itu. Ia pindah karena urusan pekerjaan, yang kerap kali ditonton beratus-ratus ribu orang tiap akhir pekan, dan kadang pertengahan pekan. Dan sekali waktu, ketika kami singgah di tempatnya tinggal, aku mendapati buku yang sudah semestinya kita kenali, karya Imam Ibnul-Qayyim al-Jauziyah, yang ketika itu kulihat versi terjemahnya, "Médecine Prophetique". [13] Nomor punggungnya tegas menantang 'mitos' angka sial tersebut.
Ia berujar sembari memuji Allah, bahwasanya dengan pekerjaannya itu, ia dapat mencukupi kehidupannya dan keluarganya. Bahkan, ada lebihan yang ia dapatkan, dan itu tidak sedikit. Dan dengan lebihannya itu, ia berkeinginan besar untuk menolong saudaranya yang ia pandang dalam kesulitan.
Semoga Allah merahmatinya dan memberkahi segala urusannya, Ia kemudian membelikan berbagai hal untukku dengan menimbang aku datang dari negeri yang teramat jauh, dan tinggal sendiri saja. Semoga Allah memberkahi harta dan keluarganya dan semoga Allah memberkahi orang-orang yang menolong saudaranya yang kesulitan yang tidak meminta-minta. Sungguh, yang demikian pun tidak sanggup aku membalas kebaikannya.
Dan sungguh, pembicaraan mereka tidak lain berisi manfaat. Baik untuk keduniaan mereka - untuk merekat persahabatan - dan tidak jarang berisi nasihat dan peringatan yang mereka pahami dari al-Qur'an dan al-Hadits.
Tentu, sebagaimana negeri Islam di mana pun, keadaan Masjid saat shalat Jum`at selalu lebih penuh dari 'sekadar' shalat lima waktu. Namun semoga Allah menunjuki mereka dan menolong mereka mendirikan Masjid dan memperkenalkan Islam dengan sebaik-baik contoh di sana.
Karena di sana aku melihat muslimin berislam seutuhnya.
Perjalanan masih panjang, dan jalan yang kupilih ini panjang dan berat. Semoga Allah menolong hamba-hambanya menempuh jalan-Nya.
10. Rabi`ul-awwal 1436
Jelang Maghrib di arah Timur jauh dari Makkah.
Dalam kerinduan mendalam ke arah AICL, Maison des Asso, Cité Alliende 12. rue Colbert, 56100 Lorient.
Karena sungguh, aku yakin tidak ada lagi yang lewat dan membaca ini.
Ikutilah jalan yang satu, yang lurus, jangan ikuti jalan-jalan lainnya -- Laman pribadi Arif R
Kamis, 01 Januari 2015
Selasa, 22 Juli 2014
Ramaḍan An Oriant (2)
Bismillah, walhamdulillah. Shalawat dan salam teruntuk Nabi tercinta Muhammad ṣallallahu `alayhi wa sallam.
Ada yang sedikit tertinggal tentang catatan Ramaḍan kemarin. Sesuatu yang perlu diketahui, penulis rasa, karena manusia cenderung memusuhi apa yang asing baginya. Penulis lupa siapa yang menyebutkan kalimat terakhir ini, tetapi demikianlah.
Berikut ini ada dua video, tidak begitu panjang, tentang bacaan al-Qur'an yang sama dengan yang dibaca Imam "impor" di 'masjid' kami di Porte G 12. Rue Colbert pada shalat Tarawaih. Perbedaannya hanya di tempo [?] saja, berhubung shalat di sini digelar menjelang tengah malam nominal sehingga sering kali beberapa ayat selain al-Faatihah disambung untuk meringkas pembacaan.
Selidik punya selidik, ternyata setiap Ramaḍan, 'Masjid' ini kedatangan Imam yang terutama dikhususkan untuk shalat `Isyaa' dan Tarawaih. Alhamdulillah, Imam muda yang (di)datang(kan) dari Maghrib/Maroko tersebut membaca dengan fasih dan tartil. Walaupun, pada saat pertama kali mendengarnya jelas terasa berbeda. Silakan didengarkan sendiri contohnya pada video di bawah.
Untuk mencari bagaimana surat lain dalam Qur'an dibaca dengan cara yang sama, ini kata kuncinya: Warsy (Warsh) Imam Nafi'. Bacaan yang biasa kita baca adalah Hafsh Imam `Aṣim.
Baik, berikut ini video yang penulis maksud.
Al-Faatihah (Warsy) - Qaari' Mahmud Khalil al-Hussariy
Al-A`laa (Warsy) - Qaari' Mahmud Khalil al-Husariy
Bonus poin bila bisa mengenali apa perbedaan paling mencolok di pembacaan Surat al-Fatihah di atas.
Wallahu waliyu-t-taufiq.
––
24 Ramaḍan 1435
+33 / 56100 /1RNA 1033
AR
Jumat, 18 Juli 2014
Ramaḍan An Oriant
Bismillah, walhamdulillah. Shalawat dan salam teruntuk Nabi tercinta Muhammad ṣallallahu `alayhi wa sallam.
Ramaḍan kali ini ada yang lain. Itu ringkasan dari catatan ini.
Bila Ramaḍan-Ramaḍan yang telah lalu biasanya dijalani 'sendiri', kali ini baru benar-benar sendiri secara jasmani. Alhamdulillah, Allah jadikan muslimin di kota nirmasjid (yakni rupa masjid yang sejati) ini demikian guyub. Kalau tidak demikian, bisa jadi selain sendiri, aku pun 'sendiri' juga menjalani Ramaḍan kali ini.
Lorient, atau dalam bahasa Breton (Brezhoneg) disebut sebagai An Oriant, adalah kota kecil di daerah Bretagne di Perancis. Kecil, barangkali kalau dibuat perbandingan dari kota yang aku tahu, kelas kota ini adalah Kota Sukabumi. Kecil, karena menurut referensi lemah berupa wikipedia, penduduknya paling banyak hanya 60.000 kepala saja. Penduduk muslimnya, sebagaimana stigma kita bila mendengar Islam di Eropa, adalah minoritas. Warga 'asli' yang muslim jelas lebih sedikit lagi.
Kalau ingin melihat jumlah muslimin dan sebagian muslimat, sebagaimana kasus yang umum di negara berpenduduk muslim juga, datanglah hari Jum`at. Datanglah ke Maison des Association, 12. Rue Colbert; Tidak jauh dari pusat kota, tidak jauh dari Stasiun/Gare de Lorient (yang stasiunnya sendiri bisa ditempuh dalam empat jam perjalanan kereta dari Gare Montparnasse, Paris).
Bila waktu shalat Jum`at tiba, barangkali ada sekitar 400-500 muslimin dan muslimat yang tinggal di kota berangin ini. Kalau dilihat dari wajahnya, kebanyakan bernuansa Arab, lebih tepatnya wilayah Maghribi (Afrika Utara). Tanyakan pada mereka dari mana asal mereka, dan akan didapatkan jawaban dari Aljazair, Tunisia, hingga Maroko. Tentu, juga ada warga pendatang sementara dari Malaysia, India-Pakistan, dan seterusnya, namun bisa dibilang tidak seberapa.
Di Ramaḍan yang bertepatan dengan libur musim panas ini, Fajar dikalkulasi terbit mulai dari setengah lima waktu setempat hingga terbenam matahari pada saat jam menunjukkan pukul 22 lebih. Dua hal yang perlu dicatat adalah bahwa tengah hari (sesaat sebelum waktu Ẓuhur) jatuh pada sekitar pukul 14 lebih seperempat, dan musim ini juga hampir bertepatan dengan summer solstice, sehingga semakin ke belakang bulan hari mulai kembali memendek.
Sebagaimana diumumkan di Jum`at terakhir bulan Sya`ban, "dewan masjid" alias asosiasi mengadakan iftar (berbuka puasa) bersama-sama, setiap hari. Secara pribadi, aku diundang datang oleh seorang Saudara yang setiap hari juga mempersiapkan hidangan berbuka puasa. Mudah-mudahan dengan demikian bisa menjadi 'donor' pahala bagi yang memberikan hidangan untuk kami-kami.
Mengenai makanan berbuka puasa, 'normal'-nya adalah roti Perancis (baguette) yang panjangnya bisa setengah meter, yang dibagi dua. Kemudian ada selada (cf. KBBI daring Pusat Bahasa Kemdiknas, lema selada no. 2). Yang lebih wajar, jelas, adalah kurma. Ada juga Sup à la Maghribi yang dibagikan lepas shalat jama`ah, yakni lebih kurang 15 menit setelah Adzan dikumandangkan. Adapun minumannya biasanya adalah air, jus buah dalam kotak, susu, dan kopi (kopi susu dan kopi hitam).
Sementara itu, kadang-kadang ada juga hidangan yang 'tidak normal', yakni ketika ada jama`ah yang mendatangkan makanan besar. Rupanya bermacam-macam, yang sudah keluar antara lain adalah nasi (kebuli [?]), nasi khas Senegal (seperti nasi goreng), baso dengan kuah "tajine" dan kacang polong, ayam bakar (yang bumbunya sangat mengingatkan ke restoran Padang di rumah), maupun ayam panggang.
Walhamdulillah, makan bersama (dengan hidangan sepiring bersekian) adalah sesuatu yang dianjurkan oleh Rasul kita yang mulia ṣallallahu `alayhi wa sallam. Barangkali salah satu hikmahnya adalah mempererat kebersamaan. Buatku sendiri, rasanya jadi memperluas perut. Biasanya apabila berbuka puasa sendiri, sedikit nasi lauk atau roti sudah mengenyangkan. Sedangkan saat duduk di antara saudara-saudara, rasanya lebih banyak yang bisa tertampung sebelum (ke)kenyang(an).
Sebelum Ramaḍan, tadinya aku ada niatan membuat rendang untuk dijadikan lauk makan bersama di 'Masjid'. Namun nampaknya belum bisa terlaksana karena satu dan lain hal (tidak ada wajan 'raksasa', tidak ada bahannya, masakan percobaan yang gagal, dst). Jadilah, partisipasi yang bisa kuperbuat sebatas menggelar karpet untuk alas makan bersama saja.
Mudah-mudahan Allah membangunkan Masjid untuk penduduk Lorient. Kalau berkenan membantu dana, silakan kunjungi http://www.mosquee-lorient.com/?page_id=44 (bahasa Perancis) untuk mempelajari lebih detail.
***
Terakhir, ada keputusan besar yang telah diambil. 'Bola' sudah digulirkan, tinggal dioper ke pihak-pihak terkait. Syaithan meniupkan was-was bahwa keputusan ini kelak akan jadi sesalan. Namun bisa jadi juga keputusan ini hasil konspirasi Syaithan juga. Oleh karena itu, selalu mintalah perlindungan pada Allah dalam setiap langkahmu.
Allah-lah yang memberikan taufiq
--
20 Ramaḍan 1435, menjelang sahur
+33 / 56100 / 1RNA 1033
AR
Langganan:
Postingan (Atom)