Tampilkan postingan dengan label Harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Harian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Juli 2014

Ramaḍan An Oriant (2)

Bismillah, walhamdulillah. Shalawat dan salam teruntuk Nabi tercinta Muhammad ṣallallahu `alayhi wa sallam.


Ada yang sedikit tertinggal tentang catatan Ramaḍan kemarin. Sesuatu yang perlu diketahui, penulis rasa, karena manusia cenderung memusuhi apa yang asing baginya. Penulis lupa siapa yang menyebutkan kalimat terakhir ini, tetapi demikianlah.

Berikut ini ada dua video, tidak begitu panjang, tentang bacaan al-Qur'an yang sama dengan yang dibaca Imam "impor" di 'masjid' kami di Porte G 12. Rue Colbert pada shalat Tarawaih. Perbedaannya hanya di tempo [?] saja, berhubung shalat di sini digelar menjelang tengah malam nominal sehingga sering kali beberapa ayat selain al-Faatihah disambung untuk meringkas pembacaan.

Selidik punya selidik, ternyata setiap Ramaḍan, 'Masjid' ini kedatangan Imam yang terutama dikhususkan untuk shalat `Isyaa' dan Tarawaih. Alhamdulillah, Imam muda yang (di)datang(kan) dari Maghrib/Maroko tersebut membaca dengan fasih dan tartil. Walaupun, pada saat pertama kali mendengarnya jelas terasa berbeda. Silakan didengarkan sendiri contohnya pada video di bawah.

Untuk mencari bagaimana surat lain dalam Qur'an dibaca dengan cara yang sama, ini kata kuncinya: Warsy (Warsh) Imam Nafi'. Bacaan yang biasa kita baca adalah Hafsh Imam `Aṣim.

Baik, berikut ini video yang penulis maksud.
Al-Faatihah (Warsy) - Qaari' Mahmud Khalil al-Hussariy

Al-A`laa (Warsy) - Qaari' Mahmud Khalil al-Husariy

Bonus poin bila bisa mengenali apa perbedaan paling mencolok di pembacaan Surat al-Fatihah di atas.

Wallahu waliyu-t-taufiq.

––
24 Ramaḍan 1435
+33 / 56100 /1RNA 1033

AR

Jumat, 18 Juli 2014

Ramaḍan An Oriant

Bismillah, walhamdulillah. Shalawat dan salam teruntuk Nabi tercinta Muhammad ṣallallahu `alayhi wa sallam.


Ramaḍan kali ini ada yang lain. Itu ringkasan dari catatan ini.

Bila Ramaḍan-Ramaḍan yang telah lalu biasanya dijalani 'sendiri', kali ini baru benar-benar sendiri secara jasmani. Alhamdulillah, Allah jadikan muslimin di kota nirmasjid (yakni rupa masjid yang sejati) ini demikian guyub. Kalau tidak demikian, bisa jadi selain sendiri, aku pun 'sendiri' juga menjalani Ramaḍan kali ini.

Lorient, atau dalam bahasa Breton (Brezhoneg) disebut sebagai An Oriant, adalah kota kecil di daerah Bretagne di Perancis. Kecil, barangkali kalau dibuat perbandingan dari kota yang aku tahu, kelas kota ini adalah Kota Sukabumi. Kecil, karena menurut referensi lemah berupa wikipedia, penduduknya paling banyak hanya 60.000 kepala saja. Penduduk muslimnya, sebagaimana stigma kita bila mendengar Islam di Eropa, adalah minoritas. Warga 'asli' yang muslim jelas lebih sedikit lagi.

Kalau ingin melihat jumlah muslimin dan sebagian muslimat, sebagaimana kasus yang umum di negara berpenduduk muslim juga, datanglah hari Jum`at. Datanglah ke Maison des Association, 12. Rue Colbert; Tidak jauh dari pusat kota, tidak jauh dari Stasiun/Gare de Lorient (yang stasiunnya sendiri bisa ditempuh dalam empat jam perjalanan kereta dari Gare Montparnasse, Paris).

Bila waktu shalat Jum`at tiba, barangkali ada sekitar 400-500 muslimin dan muslimat yang tinggal di kota berangin ini. Kalau dilihat dari wajahnya, kebanyakan bernuansa Arab, lebih tepatnya wilayah Maghribi (Afrika Utara). Tanyakan pada mereka dari mana asal mereka, dan akan didapatkan jawaban dari Aljazair, Tunisia, hingga Maroko. Tentu, juga ada warga pendatang sementara dari Malaysia, India-Pakistan, dan seterusnya, namun bisa dibilang tidak seberapa.

Di Ramaḍan yang bertepatan dengan libur musim panas ini, Fajar dikalkulasi terbit mulai dari setengah lima waktu setempat hingga terbenam matahari pada saat jam menunjukkan pukul 22 lebih. Dua hal yang perlu dicatat adalah bahwa tengah hari (sesaat sebelum waktu Ẓuhur) jatuh pada sekitar pukul 14 lebih seperempat, dan musim ini juga hampir bertepatan dengan summer solstice, sehingga semakin ke belakang bulan hari mulai kembali memendek.

Sebagaimana diumumkan di Jum`at terakhir bulan Sya`ban, "dewan masjid" alias asosiasi mengadakan iftar (berbuka puasa) bersama-sama, setiap hari. Secara pribadi, aku diundang datang oleh seorang Saudara yang setiap hari juga mempersiapkan hidangan berbuka puasa. Mudah-mudahan dengan demikian bisa menjadi 'donor' pahala bagi yang memberikan hidangan untuk kami-kami.

Mengenai makanan berbuka puasa, 'normal'-nya adalah roti Perancis (baguette) yang panjangnya bisa setengah meter, yang dibagi dua. Kemudian ada selada (cf. KBBI daring Pusat Bahasa Kemdiknas, lema selada no. 2). Yang lebih wajar, jelas, adalah kurma. Ada juga Sup à la Maghribi yang dibagikan lepas shalat jama`ah, yakni lebih kurang 15 menit setelah Adzan dikumandangkan. Adapun minumannya biasanya adalah air, jus buah dalam kotak, susu, dan kopi (kopi susu dan kopi hitam).

Sementara itu, kadang-kadang ada juga hidangan yang 'tidak normal', yakni ketika ada jama`ah yang mendatangkan makanan besar. Rupanya bermacam-macam, yang sudah keluar antara lain adalah nasi (kebuli [?]), nasi khas Senegal (seperti nasi goreng), baso dengan kuah "tajine" dan kacang polong, ayam bakar (yang bumbunya sangat mengingatkan ke restoran Padang di rumah), maupun ayam panggang.

Walhamdulillah, makan bersama (dengan hidangan sepiring bersekian) adalah sesuatu yang dianjurkan oleh Rasul kita yang mulia ṣallallahu `alayhi wa sallam. Barangkali salah satu hikmahnya adalah mempererat kebersamaan. Buatku sendiri, rasanya jadi memperluas perut. Biasanya apabila berbuka puasa sendiri, sedikit nasi lauk atau roti sudah mengenyangkan. Sedangkan saat duduk di antara saudara-saudara, rasanya lebih banyak yang bisa tertampung sebelum (ke)kenyang(an).

Sebelum Ramaḍan, tadinya aku ada niatan membuat rendang untuk dijadikan lauk makan bersama di 'Masjid'. Namun nampaknya belum bisa terlaksana karena satu dan lain hal (tidak ada wajan 'raksasa', tidak ada bahannya, masakan percobaan yang gagal, dst). Jadilah, partisipasi yang bisa kuperbuat sebatas menggelar karpet untuk alas makan bersama saja.

Mudah-mudahan Allah membangunkan Masjid untuk penduduk Lorient. Kalau berkenan membantu dana, silakan kunjungi http://www.mosquee-lorient.com/?page_id=44 (bahasa Perancis) untuk mempelajari lebih detail.

***

Terakhir, ada keputusan besar yang telah diambil. 'Bola' sudah digulirkan, tinggal dioper ke pihak-pihak terkait. Syaithan meniupkan was-was bahwa keputusan ini kelak akan jadi sesalan. Namun bisa jadi juga keputusan ini hasil konspirasi Syaithan juga. Oleh karena itu, selalu mintalah perlindungan pada Allah dalam setiap langkahmu.

Allah-lah yang memberikan taufiq

--
20 Ramaḍan 1435, menjelang sahur
+33 / 56100 / 1RNA 1033

AR

Minggu, 15 April 2012

Pensil

Ya, pensil. Siapa dari kamu yang tidak mengenal alat tulis satu ini. Bersama krayon, mungkin pensil adalah alat tulis pertama yang diperkenalkan orang tuamu dan orang tuaku dulu. Selain kertas buku tulis dan gambar, mungkin saja kreativitas kamu atau aku dahulu sempat tersalurkan ke dinding-dinding rumah, atau tempat-tempat lain.

Rasanya, dari dulu hingga sekarang, pensil itu, ya begitu-begitu saja bentuknya. Batang kayu lurus kira-kira sejengkal, melapisi karbon di dalamnya yang akan tertinggal di media tulis.

Seiring bertambah usia, mulailah masuk dalam kehidupanmu dan aku sebentuk benda yang serupa pensil, namun tak lagi berupa kayu sederhana saja. Benda ini, pensil mekanik, lebih seperti selongsong plastik yang di dalamnya ada mekanisme yang bisa menggerakkan dan menahan batang karbon tipis pada lubang kecil di ujungnya.

Hari ini aku mendapat suatu hal yang menggelitik di ruang ujian. Seluruh peserta ujian di ruang tersebut, terkecuali aku, mempergunakan pensil kayu untuk menghitamkan lembar jawaban (membuang waktu, menurutku). Ditambah tema bacaan-bacaan ujian yang menyinggung soal lingkungan hidup, makin lengkap penasaranku.

Pertama, aku tidak memiliki data "usia" pakai rata-rata sebatang pensil kayu. Namun demikian, pada saat penggunaannya ada cukup banyak karbon yang dikikis dari pensil. Pun saat menajamkan pensil tersebut (dengan peranti penyerut, bukan dengan pisau), selain karbon yang ikut terkikis, ada juga remah kayu yang dipisahkan dari pensil.



Perkenalkan rekanku, pekerjaku, dan senjataku setiap ujian seperti itu: Sebatang pensil yang terbeli entah 2 SMA atau 3 SMA (2004 atau 2005 - ya, aku tua -,-). Beberapa kali sempat raib, namun syukurlah masih kembali. Kalau kita ambil perkiraan aman, usia pensil ini sudah lebih kurang 7 tahun. Selama 7 tahun, sekadar jatuh tersenggol sudah biasa. Syukurlah dengan konstruksi plastik keras dan sedikit logam di beberapa titik, pensil masih berfungsi baik hingga kini. Untuk suplai karbon isi pensil, adanya standardisasi diameter lead (isi pensil) menolong kehidupan pensil ini.

Kini coba bayangkan selama 7 tahun; dengan penggunaan normal, berapa banyak pensil kayu yang terpakai? Berapa banyak kayu yang diperlukan? Berapa banyak karbon yang dibutuhkan? Memang tidak semua pensil mekanik setangguh contoh yang kuberikan -- dan tidak semua orang serakus itu juga dengan pensil kayu -- tetapi setidaknya dapat memberikan gambaran.

Kalau boleh memberikan saran untuk ikut serta 'menjaga' keberlangsungan hutan (ini dibesar-besarkan, tetapi mungkin saja), dariku mendukung penggunaan pensil mekanik. Yang konstruksinya baik tentunya, yang diharapkan dapat awet terjaga sampai, entahlah, mungkin bisa diwariskan ke cucumu kelak?

--
F  I  N
written on 15. April 2012, 20:06 WIB (GMT +7)
You know, I always want to leave some legacy behind me.

Rabu, 09 November 2011

Masyarakat yang sakit

Ya, judul itu yang aku pilih. Tetapi sebelum melangkah lebih jauh, mari batasi ruang lingkup pembahasanku kali ini pada daerah sekitar kode pos Indonesia 12620 dan 16424, dengan kedua area ini merupakan tempatku bergentayangan sehari-hari. Dan sebelum memulai... Gambar!


Sebuah gambaran pagi hari yang umum di salah satu perlintasan kereta listrik dan jalan raya. Yah, tidak mutlak pagi hari juga. Lebih tepat mungkin bila mengambil istilah round-the-clock. Tidak sedikit pengendara sepeda motor memilih 'antre' (kalau memang demikian) di melampaui palang perlintasan. Bahwa dapat jadi itu mendatangkan bahaya bagi mereka tidak lagi menjadi pertimbangan, apalagi memikirkan bahaya bagi orang lain.

Tidak hanya di perlintasan rel -- jalan raya, pada persimpangan berlampu lalu lintas (maupun tidak) pun berlaku hal serupa. Pengendara sepeda motor maupun mobil yang berhenti sebelum garis dapat dihitung dengan jari sebelah tangan. Alasan yang mendasari mereka melampaui batas sedemikian? Entahlah hanya mereka yang tahu.

Kalau boleh berasumsi, mereka ingin lebih cepat mencapai tujuan. Apa iya?

Pada perlintasan kereta api, kecenderungan kontur jalan adalah sedikit menanjak untuk meminimalkan selisih rel dengan muka jalan. Dengan demikian, diharapkan kenyamanan berkendara tetap terpelihara. Bila terlalu dekat dengan rel? Jarak untuk mendapatkan 'tarikan' awal (torsi) kendaraan terlalu minim, dan akhirnya tetap saja lambat keluar dari perlintasan.

Perempatan lampu lalu lintas? Pengantre-lewat-garis yang kutemui pada umumnya lamban memulai lagi. Belum lagi ditambah mata yang alih-alih mengawasi lampu lalu lintas berubah hijau justru memandang lalu lintas dari jalur lain sebagai patokan. Hasil akhir: lamban. Tidak berbeda.

Itu baru lalu lintas...

Contoh kecil lain: sampah. Entah sehari berapa kali wadah bekas pembungkus makanan-minuman bisa ditemukan ditinggalkan begitu saja di meja, kursi duduk, dan lain-lain tempat umum. Yang berat adalah bahwa hanya tak lebih empat meter dari lokasi tersebut ada tersedia tempat pembuangan sampah menganga.

Mari sejenak membayangkan. Bagaimana perasaanmu, pikirmu bila sedang berjalan dengan kawan karibmu, lalu saat hendak menduduki kursi, kamu mendapati gelas plastik berisi air sedikit yang tak memadai untuk diminum? Dan tak jauh dari situ ada bak sampah. Kalau hati dan otak tidak tergelitik rasanya aneh ya? Atau mungkin karena sudah terlalu terbiasa dan jadi kebas? Itu yang aku khawatirkan.

Ayolah, apa yang kamu makan sambil duduk berbincang, tidak bisakah dibawa bersamaan dengan kamu mengangkat kaki dari tempat itu? Sekitar enam langkah saja untuk melaksanakan falsafah pembersihan: memindahkan kekotoran ke tempat yang tidak terlihat.

Tidak, tidak perlu jauh-jauh memikirkan orang lain. Pada dasarnya manusia ingin menyelamatkan dirinya sendiri dulu itu wajar. Jadi pikirkan keadaan kalau suatu ketika yang kamu kerjakan itu yang kembali padamu. Mau?

Kalau tidak, mulailah dari kamu dan aku masing-masing. Sedapat mungkin tidak meninggalkan jejak sampah di mana-mana berpijak, bisa? Mari diusahakan.

--
F  I  N
written on 15.30 CET (UTC +1), 21.30 WIB (UTC +7)
sorry about the rant. Now I see why you don't seem to be coming back. :(

Kamis, 16 Desember 2010

Traktiran patah hati

Ha ha.. Maaf judulnya provokatif. Tapi kira-kira begitulah. Petang ini, setelah kemarin mendapatkan hadiah hiburan dari rekreasi jurusan - dan tetap utuh isinya karena merangkap jadi seksi dokumentasi, aku diberi kesempatan mentraktir kawan karibku Alfian, Reza dan Odi di sebuah rumah makan di suatu mal tak berapa jauh dari Terminal Depok. Adapun, selain amplop itu masih utuh, juga ada sesuatu yang perlu aku luruskan di antara kami. Tidak jauh, masih tentang beliau yang itu.

Kebetulan juga kami berempat tadi berpuasa, seperti kebiasaan kami tiap Kamis dan Senin. Untuk Kamis ini, bertepatan dengan tanggal 10 bulan pertama Hijriyah yang diriwayatkan memiliki banyak keistimewaan. Yah, jadi ambillah ini traktiran buka puasa untuk kami berempat.

Setelah berputar-putar -- pusat perbelanjaan itu seperti labirin, kalau mengutip Reza -- akhirnya kami mendapati tempat makan yang konon murah dan mengenyangkan itu. Mencari tempat duduk, membiarkan Fian yang memilih tempat tak jauh dari kumpulan "stabilo" (istilahnya untuk perempuan berhijab yang warnanya mengingatkan pada pena warna itu), kemudian memesan dengan gegas. Tinggal kurang dari 15 menit sebelum waktu Maghrib tadi.

Syukurlah pelayanan di resto tersebut tergolong cepat. Tak 10 menit, empat gelas teh manis dingin telah tersaji, dan menyusul kemudian nasi dan menu pesanan kami. Tunggu punya tunggu, waktu Maghrib pun tiba, ditandai berkumandangnya adzan maya dari ponsel Fian. Mudah-mudahannya jamnya tidak salah. Haha.

Nah, di tengah lahapnya mereka makan, aku meminta waktu sebentar. Singkat cerita, mengalirlah cerita tentang beliau, dan bahwa beliau menyatakan bahwa untuk saat ini.... Belum saatnya

Aku beruntung mendapati mereka bertiga -- yang mungkin tidak mampir dan membaca tulisan ini -- sebagai sahabatku. Aku beruntung. Itu saja. Dan nama yang kemudian mereka 'rekomendasikan' untuk menggantikan beliau, aku sanggah. Sementara tidak dulu. Terus terang aku masih meletakkan harap. Kosong, memang, tapi peluang kejadian nol apabila kejadian belum terjadi tidaklah nol. Tapi ya, entahlah. Mudah-mudahan beliau bahagia. Itu saja.


--
F I N
written on 16. Dez 2010, 22.15 WIB (UTC +7), 23.15 WITa (UTC +8)
Really, miss. It crossed my mind that you deliberately didn't want to see me. But I take it as you were taking your lunch. Just that. I'm sorry.

Rabu, 17 November 2010

"Resep": teh teman berpikir

Ya, kira-kira itu yang tebersit di kepalaku saat pertama kali menyeduhnya. Rasanya secara singkat bisa disebut sepet, tetapi enak. Ada efek menenangkan sepertinya di setiap gelasnya. Sungguh, siapapun yang memilihkan teh ini harus bertanggung jawab (teh ini asalnya dari paket 'Idul Fitri dari Jurusan). Sampai sekarang masih senang sekali dengan teh ini. Mari kita sajikan di sini, yuk?


Yellow label tea (etiket kuning?) dari Lipton.

Nah, itu dia gambarnya sudah muncul (kalau belum, coba periksa pengaturan di perambanmu). Berhubung teh pemberian, jadi kotak ini tadinya masih terbungkus plastik sampai pekan lalu. Sekali pembungkusnya terbuka, ternyata laju habisnya cenderung cepat. He he.

Kalau menurut pembuatnya, teh ini adalah campuran dari macam-macam daun teh yang memberikan rasa yang konsisten (kira-kira demikian). Hmm.. Kalau konsistensi, tergantung kepada konsistensi pembuatan juga, tentu saja. Contoh beratnya adalah saat ibu mengangkat kantung tehnya saat baru sekitar semenit tercelup. Rasanya? Amburadul. Duh.

Baiklah, kembali ke "resep". Membuat teh (dari kantung teh celup) ternyata mudah tapi sulit. Dari lebih dari 10 gelas yang kubuat -termasuk yang amburadul tadi- yang "pas" paling banyak hanya 4 gelas. Rata-rata di bawah 50% tetapi membuat resep? Oh, baiklah. "Resep". Menurutku, teh bisa dikatakan enak apabila perpaduan manis dan sepet pada satu gelas tersebut pas. Untuk mendapatkannya, itu tadi, relatif sederhana tetapi agak rumit juga.

Yang diperlukan untuk satu gelas besar (bukan mug juga. Seperti gelas bir [?] yang kecil): satu kantung dari teh etiket kuning tersebut, dan 4-6 butir gula batu ukuran sebesar kelereng (normal). Prosedurnya? Kira-kira seperti berikut ini:

  1. Kantung teh dicelupkan dalam gelas berisi air panas 3/4 penuh, diamkan 3-5 menit
  2. Gula batu dimasukkan satu persatu
  3. Air panas ditambahkan sampai gelas penuh, lalu diaduk sedikit dan gula dibiarkan larut
  4. Berdoa, mudah-mudahan hasilnya cukup enak. :D


Ini yang menemaniku kemarin saat sedikit sedih. Padukan keduanya dan berdoa, mudah-mudahan cukup enak


PS: {Foto-foto: koleksi pribadi. Silakan kirim surat ke arif.rahman91[at]ui[dot]ac[dot]id
sekiranya diperlukan foto ukuran besar}

PPS: Kebetulan warnanya kuning juga ya? He he he.

PPPS: Maaf, untuk foto hasil jadinya... Telanjur habis tehnya sebelum sempat difoto. Teman mengolah gambar juga. He he he.

--
F I N
written on 17. Nov 2010, 13.20 WIB, 14.20 (UTC +7), WITa (UTC +8)
Thank You and thank you for keeping me company through one toughest time in my days. :)

Selasa, 19 Oktober 2010

Opini: Berlalu lintas di Jakarta

Sebagai permulaan, anggap saja ini surat dariku untuk kita semua, pengguna jalan, yang sedikit banyak menyumbang merah hitam lalu lintas di Jakarta (dan kota-kota penyangga di sekitarnya).

***
Jakarta, 19. Oktober 2010,

Petang ini, seperti petang-petang lainnya antara Senin hingga Jum'at, aku melajukan sepeda motor dari tempatku beraktivitas sehari-hari di kampus yang rimbun di tepi Jakarta. Sweater, jaket, celana panjang, helm, semua siap. Tidak bersarung tangan aku karena dua hal: membatasi pergerakan jari jemari di atas tombol kendali sepeda motor, dan perjalananku tak demikian jauh. tak sampai 10 km sehari-hari.

Keluar dari pintu jurusan, melewati pintu fakultas, dan memutari putaran untuk melaju ke arah pintu keluar kampus. 100 meter bergerak, terlihat di kaca spionku ada pengendara motor lain yang gelagatnya akan mendahului. Tetapi, mengapa hendak mengambil jalur kiri? Segera kumasukkan tanda berbelok ke kiri, kupastikan aman, dan kubiarkan dia melewatiku. Dari kanan.

Itu baru sekali, kawan. Kamu yang menempuh perjalanan jauh lebih panjang pasti lebih sering mengalaminya. Mendahului dari kiri, kalaupun tidak ada aturan tertulisnya, pada lalu lintas setir kanan seperti di sini sebenarnya berbahaya. Siapa yang tahu kalau ada pedagang baso tengah berjalan di sisi kiri? Atau ada lubang dalam di lajur yang sama? Pun demikian, terkadang 'kesalahan' juga ada pada pengguna jalan di depan yang tidak awas pada adanya kendaraan lain yang hendak mendahului. Ketidakawasan ini membuat pengguna jalan tersebut tidak memberi kesempatan pengguna lain untuk mendahului. Saranku, pengguna yang hendak mendahului sebaiknya memberi tanda lampu (sein kanan) sebelum mendahului. Bila tidak terlihat itikad baik dari pengguna di depan, boleh lah, diberikan isyarat lampu (dim) atau klakson pendek sekadar untuk mengingatkan. Mudah-mudahan baik hasilnya.

Kemudian, selepas gerbang kampus, sepeda motorku masih melaju kira-kira 50 kpj. Mengambil lajur kiri, dan tetap di jalurnya. Tapi apa yang terjadi? Tiba-tiba ada sepeda motor menyeberang, memotong jalan hendak melintasi pembatas jalan yang telah disulap menjadi landaian. Sontak aku mengerem dan membunyikan klakson panjang dan lampu dim. Cuma itu yang bisa kuperbuat saat itu (meskipun 10 meter ke depan sempat memberi 'isyarat jari' dengan tangan kiri yang bebas ke arah belakang).

Jalan itu sebetulnya satu arah, tetapi terdiri dua bagian kiri dan kanan yang terpisah pembatas. Jalan baru, memang yang di sisi kanan. Tetapi entah mengapa sebagian pengguna malah menyeberangi jalan baru tersebut untuk melintasi rel kereta. Padahal perlintasan kereta api lain ada tak sampai 2 km dari situ. 2 km di atas kendaraan tentu tidak terasa, semestinya.

Mungkin ini salah satu bentuk kerakusan yang kurang disadari pengguna jalan: kerakusan waktu. Bahwa ingin cepat sampai sebelum terlambat, itu niat baik. Tetapi apabila pelaksanaan niat tersebut dengan jalan yang tidak baik, apalagi sampai membahayakan pengguna jalan lain? Ah, entahlah. Mungkin rasa ke-aku-an yang menjadi raja di berbagai segi sekarang ini menyumbang banyaknya kecelakaan lalu lintas.

Tak 100 meter dari situ, ada lagi kejadian 'lucu'. Pengendara sepeda motor lain, dalam satu massa besar, yang baru melintasi rel kereta yang sama dari arah berlawanan, hendak memotong dan kemudian berjalan melawan arus! Sekali lagi klakson panjang, dan lampu dim menyambut mereka. Salam dariku.

Pertama. Mereka tidak hanya memotong perlintasan KA, tetapi juga dua lajur di jalur kanan demi mendekati ujung pembatas jalan. Masalahnya: jalur kanan yang tadinya dua lajur dalam beberapa puluh meter setelah ujung pembatas jalan tersebut menyempit menjadi satu, bersatu kembali dengan dua lajur dari jalur kiri. Terbayang bukan, huru-hara yang terjadi saat beberapa belas sepeda motor beramai memotong jalur tersebut?

Kedua, mereka memutar untuk melawan arus. Memotong dua lajur lagi. Eee... Mengerikan. Betapa sering mereka memaksakan demikian padahal kendaraan dari arah yang mereka lawan tidak sedikit. Bahaya untuk mereka, bahaya untuk mereka yang arahnya dilawan. Berbahaya juga untuk pejalan kaki, karena di situ tidak tersedia trotoar yang memadai. Bahaya. Diabaikan.
***

Sedikit kasus yang kupaparkan itu hanyalah potongan kecil dari gambar besar apa yang dikerjakan sebagian pengguna jalan. Berlebihan? Mungkin. Tetapi biaya bila terjadi kecelakaan juga seringkali lebih dari kemampuan pengguna jalan yang menjadi korban.

Mungkin sekarang saatnya menanggalkan baju ke-aku-an dan menggantinya dengan busana ke-kita-an. Mudah-mudahan baik untuk kamu, aku, semua.


F I N
written on 19. Okt 2010, 19.45 WIB (UTC +7), 20.45 WITa (UTC +8)
Yes, it's a cliché, but if you want something right, do it yourself (first). I'll try to.

Kamis, 10 Juni 2010

Alhamdulillah, komputer baru

Yah, sebelum aku menulis dan membagi gambar-gambarku mengenai pantai-pantai indah yang belum banyak terjamah di Jogjakarta, ini ada sedikit tulisan pengisi. Tentang keseharian saja sih, jadi kalau kamu tidak berminat, dipersilahkan mencari bacaan lain sampai gambar-gambar itu dicuci dan dipindai (ya, aku mengkhususkan kamera film untuk ke pantai kemarin).

Lho? Katanya ke Jogja(karta) karena ada sepupu jauh yang menikah?

Betul sih, tapi anggap saja itu "kerjaan sukarela". Penyakit punya kamera agak besar. Lagipula aku tidak puas dengan gambar-gambar yang kuhasilkan. Momen-momen dan komposisinya kurang matang. Payah memang aku kalau urusan mengambil gambar manusia. Bukan berarti gambar alamku bagus, tetapi minimal lebih baik (sedikit) dan komposisi serta momennya lebih kupikirkan. Hehehe.

Yak, mengenai keseharian yang kumaksud sekarang. Setelah sekian lama menabung di BBB (Bank Bawah Bantal) dari sedikit honor yang kuperoleh tiap bulannya, akhirnya tiba saatnya menukarnya dengan suatu benda. Kebiasaanku sedari dulu sih, sebab rasanya untuk apa memiliki lembar-lembar kertas bergambar pahlawan nasional dan bertulis nominal tertentu?

Tadinya aku berpikir untuk menunggu beberapa bulan lagi, untuk sebuah lensa idaman: EF 200mm 1:2.8 mark II untuk mendukung rencana memotret olahraga, tetapi akhirnya setelah ditimbang masak-masak, belum saatnya aku membeli lensa. Pertama, aku berencana masuk lab lagi (ya, ya. Rencananya sudah jauh-jauh hari, tapi realisasinya memang belum. Hehehe). Kedua aku berencana bersegera menyusun tesis. Kendalanya adalah aku telah disediakan komputer di rumah, tetapi agak kekurangan daya (usianya sudah sekitar 4 tahun), dan adikku dan sepupuku juga kelak akan perlu. Penggunaan bergantian? Kira-kira begitu, tetapi bisa saja menghambat kinerja. Lebih lanjut, aku juga berharap dengan adanya komputer jinjing dapat membantu kinerjaku saat keluar dalam suatu perjalanan.

Jadi, akhir pekan kemarin, aku dan karibku Panji pergi ke pusat perbelanjaan elektronik di utara Jakarta: Mal Mangga Dua (M2M). Kalau sebelumnya kami turun di stasiun kereta B.O.S alias Beos alias Jakarta Kota, kali ini agak berbeda. Menurut ibuku, kalau kita turun satu stasiun lebih awal di Jayakarta, kita tidak perlu menunggu dan berdesakan dalam angkutan umum (mikrolet) untuk menuju pusat perbelanjaan itu. Alasannya? Jarak dari stasiun itu ke M2M lebih dekat dan masih bisa ditempuh berjalan kaki.

Mengingat kebiasaan jalan kaki aku (juga ibuku) serta Panji boleh dibilang sama, maka kali itu aku dan Panji memutuskan turun di Sta. Jayakarta dan berjalan kaki. Benar saja, jarak tempuhnya menurut perkiraan kami hanya seperti dari Stasiun UI ke kampus kami di FT. Kira-kira 500 meter paling jauh.

Sebelum tiba di sana, aku sudah punya pilihan sebetulnya, tetapi tetap kami memutuskan berkeliling dulu. Salah kami adalah berhenti pertama kami di toko distributor resmi komputer yang jadi pilihanku. Mengapa salah? Pendek cerita, kami berkeliling ke lima lantai di Mal tersebut dan memang tidak ada harga yang lebih murah dari toko pertama tersebut. Dikutuk. (-_-").

Akhir kata, kami pun pulanglah. Panji kali itu tidak membawa apa-apa, kebetulan tidak ada dananya, sementara aku pulang menenteng doos komputer tersebut: ASUS K40IJ VX266. Ulasannya menyusul ya. Bahan sudah ada, foto lengkap, tetapi perlu disentuh ulang agar lebih laik tampil.

Mudah-mudahan komputer ini memenuhi harapan awal pemiliknya: Mencicil tesis yang sudah nampak di horison. Semoga.

--
F I N
written on 10. Jun 2010, 06:00 WIM (UTC +7)
And 3 out of 4 days I have awaken very early in the morning.
That single day was when I'm up 'til late for an evening chat with, well, her.
So I think she's not for me, as she hindered me from Him. :)

Selasa, 18 Mei 2010

Ujian

Dalam pekan-pekan ini, ada beberapa ujian yang aku harus jalani.

Pertama, soal urusan hatiku dengan beliau. Kalau ini, aku memutuskan akan menempuh cara 'curang'. Akan kudekati Dia dulu, lagi. Yah, lama sudah aku jauh dari Dia, padahal telah diterangkan padaku kalau Dia selalu di kedudukanNya. Dan kalau kudekati dengan berjalan, maka Dia akan mendekatiku berlari.

Dan urusanku dengan beliau tentu Dia yang paling tahu kelanjutan dan akhirnya. Mudah-mudahan. Berdoa dan berusaha saja yang bisa kuperbuat.

Kemudian ujian dengan peranti lunak pengolah 3D (yang ternyata tetap berat ampun-ampunan di komputer tua kami yang telah ditingkatkan kapasitas RAM-nya).

Bayangkan saja, menjelajahi satu hutan, dengan peta yang telah pudar oleh hujan, dengan lilin di tangan, satu orang saja. Nah, kira-kira begitu urusanku dengan peranti Sol**Wor*s itu. Hiiiy.. Alhamdulillah berhasil mengatasinya, tetapi laporan Pembuatan Cetakannya jelek. Sangat. Mudah-mudahan saja.

Lalu pekan ini dan pekan depan, ada Ujian Akhir Semester.

Ya, tanpa terasa siklus perkuliahan telah berputar kembali ke tiga kata yang sedikit banyak membuat bulu roma berdiri itu. Apalagi persiapanku semester ini, jujur saja, kurang. Pelatihan WI di Maret-April kemarin mengacaukan UTS, dan terbawa sampai ke UAS. Tapi dengan mengulangi kuliah-kuliah yang diberikan dan berdoa, yah, mudah-mudahan.

Alhamdulillah, akhir pekan depan akan berangkat ke Jogjakarta (lagi). Hei, aku suka Jogjakarta, kota di mana pengendara dan penumpang sepeda motor berhelm, berhenti di belakang garis di persimpangan, dan keluar gang dengan lebih "wow" dari Jakarta (:D). Sepupuku (agak jauh) akan menikah Jum'at 27. Mai mendatang.

Yah, kali ini semoga si Twendy (kamera digitalku) berguna. Dan mungkin aku akan mengisi Neopan yang teronggok di kedai fotokopi tak jauh dari rumah ke kamera peninggalan ayahku. :)

Sedikit dulu kali ini. Tidak baik mengeluh. Tidak Dia sukai orang-orang yang tidak bersyukur itu.


--
F I N
written on 18. Mai 2010, 20.23 WIB (UTC +7)
Aku sayang Dia (lagi). Ke mana saja aku selama ini ya? (-_-")

Jumat, 14 Mei 2010

Ibu, aku cinta Ibu sepenuhnya

Memang, kata orang, "sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna" belum pernah salah.

Kejadiannya telah lama. Waktu itu, ponselku si biru Motorola C650 yang sekitar 4 tahun sebelumnya beliau belikan tiba-tiba saja hilang salah satu tombolnya. Jangan bayangkan ponsel ini seperti ponsel merk N itu yang keypad-nya bisa diganti sesuka hati. Jadilah selama sekitar 3 hari aku menekan tombol utama itu menggunakan pensil mekanikku yang, syukurlah, telah bertahan selama sekitar 5 tahun pada masa itu.

Malam sebelum kehilangan tuts itu, aku tengah iseng mencoba memotret garis bintang (star trail). Waktu itu dengan kamera film dan lensanya milik ayah yang kuurus. Saat itu ponselku terlepas dari tanganku dan jatuh. Sudah biasa dan terbukti tahan banting si Biru itu.

Berhubung keadaan balkon atas di sisi kamarku sengaja kugelapkan agar tidak mengganggu pengambilan gambar, aku tidak menyadari kalau ada yang kurang dari ponselku. Saat turun ke bawah, barulah kusadari ada yang hilang di situ.

Selidik punya selidik, setelah sekitar 5 harian, tuts itu kutemukan masih di balkon yang sama. Saat terang saja sulit melihatnya. Setelah kutemukan, aku tidak melaporkannya ke Ibu. Suatu kesalahan karena beliau melihatku sebelumnya menggunakan pensil untuk menekan di tempat tuts yang hilang itu.

Sekitar dua hari setelahnya, tiba-tiba Ibu pulang dan membawa sebuah kotak dalam kantung plastik. Saat kulihat, oh tidak. Itu sebuah ponsel lainnya, Motorola W388. Saat itu, aku jauh dari keadaan tenang, dan langsung terucapkan ketidaksukaanku pada ponsel itu. Jujur kepalaku panas saat itu. Terlalu panas. Kalau dibandingkan dengan sekarang, mungkin ibarat suhu Sahara dibandingkan dengan suhu Bogor.

Saat itu tidak terpikir seperti apa perasaan Ibuku. Salahku. Salahku.

Kemudian, hari ini, 14. Mai 2010. Saat tengah di kelas Metode Komputasi, kulihat si Uthy memakai arloji. Yah, arloji yang kelihatannya bagus, dan digital. Bukan, bukan seperti itu yang kuingin. Yang aku ingin adalah arloji berbingkai logam, dengan jarum yang berputar sinambung, dan ukuran yang pas. Yang terakhir ini yang selama ini menjadi kendala. Kerjaku kebanyakan berhubungan dengan komputer dan pergelangan tanganku, yah, kecil. Sempat terpikir juga mungkin akhir bulan ini atau bulan depan aku akan mencari arloji yang kuinginkan.

Tapi tidak perlu menunggu sampai bulan depan ternyata. Mungkin Dia membisikkan keinginanku pada Ibuku. Lepas Isya', Ibuku pulang bersama Ayah. Kali ini, ada lagi sebuah bungkus plastik yang terisi sebuah kotak biru.

"Mas*, ini Ibu tadi beli di Senen. Kelihatannya bagus. Mudah-mudahan mas suka."

Ketika kulihat kotak tersebut dibuka, terlihatlah sebuah arloji yang bagus, berbingkai logam bentuk segi empat, dan rantai logam juga. Meskipun demikian, memang pergerakan jarumnya masih konvensional, masih berdetak-detik sih. Tapi kali ini kepalaku dingin. Jauh, jauh lebih dingin, dan hatiku hangat karena apa yang terjadi dalam pekan terakhir ini. Dan reaksiku yang bisa kuperlihatkan adalah, "Wah, bagus kok, Bu." sembari mencium kembali tangan Ibu, dan binar mata bahagia tersirat di wajah Ibuku.

Ibu, maafkan aku atas yang dulu, dan yang dulu, dan semua yang kulakukan dan kukatakan dulu. Benar pulalah ucapan lama, "Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan," tiada akan berakhir. Ibu. Maafkan aku tak bisa meminta maaf kemarin dulu. Semoga penerimaanku kali ini bisa mengobati sedikit yang dulu itu. Aku cinta Ibu, sebagai Ibuku, sepenuhnya, sepenuh hati dan segenap jiwaku.


--
F I N
written on 14. Mai 2010, 20.38 WIB (UTC +7)
Yes, Mum. It's my stubbornness that prohibited me from apologising. Please, forgive me. For I deeply regret that time, when I rejected your gift. I ♥ you, Mum.

Nota bene:
*) Jangan protes. (-_-"). Mas itu panggilanku di rumah. Mbak untuk adikku yang pertama, dan Adek untuk adikku yang paling kecil.

Jumat, 07 Mei 2010

Datang Lagi

Aku tahu. Mungkin sudah bosan kamu mendengar aku begini dan begitu pada anak perempuan ini atau itu. Mungkin juga kamu bosan dengan langkahku yang terbatas pada skala mikrometer per langkah. Mungkin nantinya kamu bosan mendengarku menyesali lambatnya inisiatifku. Tapi bacalah, kalau kamu berkenan.

Beliau, sebut saja X, belum lama kukenal. Perkenalan pun berlangsung tidak formal dan seperti biasa, lambat. Kami dipertemukan keadaan. Saban pekan, untuk beberapa jam dalam sehari, kami bersama-sama.

Pada mulanya, seperti kebiasaanku yang segan/malas/lambat/ogah-ogahan (tandai yang benar) mengenal orang lain, aku tidak begitu memperhatikan beliau. Tetapi bukan aku tidak mengenal. Untuk nama, aku dapat dengan cepat mengingat dan menyebutkan kembali, dan perlu beberapa pertemuan untukku bisa mengingat wajah.

Waktu berlalu, berbagai hal terjadi di hari-hariku, dan mungkin hari beliau, dan sekonyong-konyong kami berbincang. Perbincangan sederhana, -- di mana kami bersekolah -- yang ternyata menyeret rekanku yang jauh di sana juga. Yah, memang dunia ternyata sempit. Selanjutnya, cerita itu dimulai. Kami bertukar nomor, berkomunikasi per pesan singkat (sankat), dan juga jejaring pertemanan yang didominasi warna biru tua itu.

Sampai akhirnya, waktu jua beranjak ke tepi di mana kami akan terpisah sementara. Satu petang dan kami (berenam) menyempatkan diri menggelar 'perpisahan' di sebuah mal di tepian Jakarta. Masih, bukan beliau yang paling kuperhatikan. Ada seorang lagi yang nampak jauh lebih indah di mataku.

Tapi itu sebelum hari-hari ketika kami berbincang via fasilitas obrolan di situs yang tadi kusebutkan. Di sana kami bercerita, tentang apa saja. Dan di sana juga terkuak beberapa rahasia dan 'rahasia'. Di sana kami berbincang, dan kurelakan waktuku beranjak tidur untuk menunggunya menyapa, atau aku yang mulai menyapa. Dan dari sapaan itu, perbincangan panjang hampir selalu terjadi. Ya, beliau - si X - memang pada saat itu tidak bersendirian. Tetapi dari sedikit ceritanya, ah, tak perlu kuceritakan padamu.

Dan waktu berlari, hingga suatu pagi ponselku berdering, dengan berita yang sebagian hatiku menyayangkannya, tetapi sebagian lain bersiap menggelar pesta dan perjamuan.

Entah. Sekali lagi keadaan ini terjadi. Dan setiap kali itu pula aku bimbang. Jujur saja, perempuan bukan lawan bicara yang sepadan untukku. Aku selalu merasa mereka ciptaan yang amat tinggi, tapi rapuh. Dan tugasku sebaiknya adalah tidak mendekati mereka, mengingat lisanku demikian tajamnya. :(

Entahlah. Yang jelas, untuk saat ini, biar kuendapkan dulu yang kali ini datang lagi. Biar terang semuanya. Biar kuyakinkan dulu sebelum aku melangkah ke tepi yang tak pernah kujelajahi sebelumnya. Maafkan aku juga, tak bisa jujur untuk beliau, setidaknya saat ini.


--
F I N
written on 7. Mai 2010, 20:32 WIB (UTC +7)
Milady... I'm sorry. Deeply sorry.


Sabtu, 01 Mei 2010

Saudara

Jum'at, 30. Apr 2010, Masjid Ukhuwah Islamiyyah (M.UI), Depok.

Seperti Jum'at-Jum'at yang normal, aku 'memaksakan' kaki-kakiku melangkah, kali ini cepat, ke M.UI. Satu hal yang tak biasa adalah, aku membawa tas kecil yang kuisi dengan 'twendy' kameraku. Rencananya, selepas dari M.UI dan Shalat Jum'at, aku langsung ke Balai Sidang BNI, untuk peluncuran tim Shell Eco-Marathon UI yang dijadwalkan setengah dua siang. Meskipun pada akhirnya, setelah Shalat Jum'at dilangsungkan dan aku berjalan ke sana dan memutuskan kembali. Sebabnya? Sepinya aktivitas dan kurangnya publikasi yang menunjukkan ada acara besar di gedung itu. (-_-)

Dua belas kurang seperempat atau sepuluh, aku sudah sampai, dan selepas berwudhu', aku mencari tempat. Seperti biasa, di sisi kanan (kalau menghadap arah kiblat) dan agak keluar. Biasa. Cari angin di Jum'at yang selalu panas. Hehe.

Saat pengumuman-pengumuman, ada satu hal yang tak selalu terjadi setiap Jum'at. Pengumuman pertama adalah mengenai permintaan Shalat Ghaib untuk dua orang almarhum, entah siapa aku lupa (maaf). Tapi pengumuman kedua menggelitik hatiku.

"Setelah Shalat Jum'at ini, insya Allah akan ada pengucapan dua kalimat syahadat dari seorang saudara kita. Apabila berkenan, jama'ah diharapkan hadir dan menyaksikan."

Kira-kira demikian pengumuman tersebut. Ini yang kedua kalinya aku menyaksikan seorang insan mengucap kesaksian tersebut, dan kedua kalinya pula di Masjid yang sama: M.UI.

Oh iya, sebelum kulanjutkan, sedikit yang bisa kusarikan dari Khutbah Jum'at kemarin adalah pesan dari khatib mengenai 22 hal yang menjadi imbas dari perbuatan Maksiat.

Tidak semuanya kuingat memang (bukan karena ketiduran, lho ;) ). Yang paling kuingat terutama sekali yang di awal, lebih kurang adalah bahwa maksiat itu, kalau dibuat jembatan keledainya, menjauhkan dari AIROb (Allah, iImu, rizqi, dan orang baik). Selain itu bahwa perbuatan demikian mendekatkan pada kesulitan, dan perbuatan maksiat lain. (wah, hit rate-nya rendah amat... -_-").

Nah, saat khutbah dibacakan, mataku dan pikiranku yang sering kurang fokus menyempatkan diri memandang menyapu M.UI. Seperti biasa, ada yang tertidur, ada yang menyimak serius, ada yang terkantuk-kantuk dibuai angin yang kebetulan agak kencang, dan macam-macam lagi. Tapi satu hal yang agak menarikku adalah seorang pemuda yang berbaju krem (merah muda? Maafkan persepsi warnaku yang buruk) dan bercelana denim panjang terlihat agak-agak celingukan, mirip aku juga, tapi pandangannya seperti takjub melihat berbagai kelakuan anak manusia di bawah atap M.UI. Entahlah, sepertinya ada yang berbeda saja dari beliau.

Khutbah berakhir, Shalat Jum'at berakhir, dan tiba saatnya yang bersejarah bagi beliau. Beliau, belakangan kuketahui bernama Ronal(-d?) Y(ohanes) Wattimena, duduk bersila menghadap imam M.UI, Pak M. Fitrullah, yang kebetulan pernah satu lab dengan kami. Ternyata benar, beliau yang menghadapi Pak Fitrullah itu adalah yang tadi aku sempat perhatikan. Betapa intuisiku kadang menyaingi perempuan. Hihihi.

Mulanya beliau sepertinya enggan menggunakan lagi nama tengahnya, sehingga enggan pula memberitahukan nama tengahnya. Tetapi Pak Fitrullah sukses meyakinkan beliau bahwa itu tak mengapa. Dan setelahnya, pembimbingan itu pun berjalanlah. Satu kalimat, dan kalimat berikutnya. Bahasa aslinya dan dalam bahasa Indonesia menyusul. Takbir menggema segera setelah Mas Ronald menyelesaikan dua kalimat tersebut. Kami yang menyaksikan pun menyalami beliau, bahkan ada seorang dari jama'ah yang memberikan tanda mata berupa satu mushaf al-qur'an. Beberapa menjabat tangan beliau dan kemudian merangkul erat beliau. Meyakinkan bahwa kami memang bersaudara sekarang.

Jujur, dalam hati aku iri, sebesar-besarnya iri. Beliau yang berasal entah dari keyakinan apa, bisa Dia beri petunjuk agar menjadi saudara kami. Tidak seperti aku yang kebetulan dilahirkan dari sepasang orang tua yang muslim, sehingga mengaku-aku muslim. Iri, karena masih banyak yang belum kulakukan. Iri, tapi rasa iri tersebut menggetarkan dan mengentak kepalaku.

Dan bulir-bulir air mata pun membasahi pipiku.


--
F I N
written on 1. Mai 2010, 19.40 WIB (UTC +7)
Yes, I envy him. For now, will You please remind me everytime my way swerved? Thank You.

Kamis, 29 April 2010

Positif

Bukan, ini bukan tulisan yang akan membahas bagaimana cara jadi positif, atau mengenai uji kehamilan, atau uji pengaruh obat-obatan atau semua itu. Ini cuma akan jadi keluhan (lagi) dariku, pengguna kacamata negatif kelas berat. Kacamata negatif di sini boleh diartikan harfiah, boleh juga kiasan.

Jadi pekan ini termasuk paling banyak aku membuka laman-laman di situs jejaring facebook. Biasanya aku membuka, tapi sebatas sampai pada permainan Airline Manager, membuat pengaturan-pengaturan, dan kemudian kutinggalkan begitu saja.

Tapi Senin-Selasa-Rabu kemarin berbeda. Saat menunggu "pesawat berikutnya siap diberangkatkan", seorang rekan kursus Bahasa Jermanku menyapa. Mulanya mengenai teman kami bersama yang sepertinya tidak dapat melanjutkan kursus bersama kami lagi. Kucoba jelaskan duduk perkaranya pada dia - kebetulan perempuan. Berlagak tua, singkatnya. Padahal ditilik dari segi usia, kami sebaya. Maklum, pergaulan menuakanku jauh lebih cepat. Hehe.

Itu Senin. Selasa, aku menyengajakan diri 'kelepasan' mengatakan ada seseorang yang menarik buatku, rekan kursus kami yang lain lagi. Dan hari itu, perbincangan kami kemudian bergeser ke hal yang lebih kurang ada di judul ini.

Yap, positif. Pikiran positif, lebih tepatnya. Saat perbincangan belum bergeser ke arah ini, kami berbincang tentang cerita kehidupan, yah, C, C, C.. Itulah. Kehidupan 'C'-nya. Sampai akhirnya, selepas waktu offline yang coba kutetapkan untuk diriku pada pukul 22.00 WIB, kami bergeser ke topik mengenai diri masing-masing. Betapa aku demikian negatif memandang berbagai hal, dan ternyata dia juga menggolongkan diri sebagai pemalu, introvert (yang jelas tak kupercaya pada awalnya. Duh).

Pada akhirnya, ada satu 'kesimpulan' yang kami tarik. Aku harus lebih ramah, tersenyumlah pada orang-orang di sekitarku. Jujur saja, itu sulit. Itu juga yang coba kulakukan setiap pagi di hadapan cermin, tersenyum. Sulit, tak kudapati raut senyum dari dalam, melainkan senyum kecut saja yang tampak.

Yah, semoga bisa ya, Put. Semoga.


--
F I N
written on 21.02 WIB (UTC +7)
And I don't know whether to laugh or cry, for I knew she and her current alpha male is on the verge of ending a relation. I don't know.

Senin, 26 April 2010

Memulai Kembali

Jadi, hari ini diawali dengan agak off. Bangun lagi setelah subuh lumayan jauh. Bermotor (sudah dicoba hati²), masih diklakson orang buru-buru. Padahal di jalan kampung. Mau ke mana sih pengemudi Honda Freed entah nopol berapa itu. Alhamdulillah menghindari seorang yang menyeberang membawa balok kayu. Huff.. Ah, lupakan saja. Anggap saja sedikit tumpahan kopi di koran pagi, ya? Yah, intinya, aku selamat sampai di kampus, dengan segala keanehan jalan Jakarta-Depok di hari Senin... Eh, setiap hari dan lebih parah di hari-hari libur deh.

Nah, sampai di kampus, tak biasanya Fian sudah hadir dan absen mendahuluiku. Sehari-hari sih, dia juaranya, juara datang terakhir. Hehe. Tapi dia tak hadir di ruangan kami di pojok jurusan. Menurut Reza, dia sudah ke lantai 3, bersama Pak Herman. Yah, baiklah, sekali lagi aku tidak diminta untuk hadir, maka aku tidak hadir di sana. Agak gerah sih, mengingat aku juga dimasukkan sebagai bagian tim riset beliau, tapi biar kutunggu waktunya sajalah.

Dan waktunya ternyata pada hari tadi juga. Setelah makan siang, kuputuskan bahwa kalau aku tidak segera memulai, sekarang, maka niscaya tidak akan ada waktu bersantai-santai kelak di belakang hari. Mengapa demikian? Ternyata alasannya sederhana, dan sering melatarbelakangi pelbagai sikapku: Iri.

Iri? Ya, begitulah. Kawanku Nisa belum lama ini mendapat kabar gembira. Beliau akan (di)berangkat(kan) ke Eropa, Malta dan Belanda tepatnya, untuk bersekolah di sana. Senang sih, tapi tetap saja sebagai laki-laki ada tebersit iri juga, bagaimana ceritanya aku kalah dari beliau?

Jadilah aku sekali lagi mencari informasi tentang beasiswa serupa, tentang bidang ilmu yang sedikit-sedikit aku coba pahami. Ternyata ada, dan universitas yang menyediakan program tersebut ada di dua Negeri yang, sungguh, ingin aku menyinggahi atau meninggalinya: Jerman dan Spanyol. Aduh! Mereka mensyaratkan gelar magister untuk bisa masuk. Hm...

Maka aku kemudian memberanikan diri naik ke lantai 3, sedikit menyapa Pak Herman dan Fian, sebelum melihat-lihat lemari peralatan dan perlengkapan. Kubuat catatan-catatan, dan akhirnya aku pamit ke beliau dan Fian, belum shalat! *malu*

Maka setelahnya, aku mulai-mulai membaca jurnal digital yang kupengang lagi, dan mencoba mengira-ngira peralatan apa-apa yang diperlukan dan masih kurang di lab. Yah, hal-hal kecil yang kadang terlupakan itu siapa tahu perlu.

Melihat-lihat jurnal, baru teringat aku kalau ada jurnal yang belum kupegang salinan digitalnya. Kebetulan beberapa waktu lalu aku pernah meminta tolong Mbak Idham untuk mengunduhkan artikel jurnal tersebut. Hmm.. Saat hendak menulis surat elektronik untuk meminta tolong lagi, tiba-tiba saja terlintas pikiran untuk menyalakan internet messenger Yahoo! Messenger. Entah mengapa.

Setelahnya baru aku mengerti. Mbak Idham sedang tidak terhubung. Tetapi beruntung, ada Jordan teman kami yang juga diberi anugerah belajar ke Negeri Ginseng. Jadilah kuminta tolong dia, dan sedikit bincang-bincang. Sedikit mengobati kangen juga dengannya. Padahal saat dia masih di sini, aku tidak terlalu akrab juga dengannya. Jadi malu. Kadang jarak malah membantu meningkatkan kualitas hubungan ya? Hehe.

Setelah jurnal didapat, maka saatnya membaca dan membuat catatan-catatan. Bismillah, permisi dulu ya, ceritanya ku akhiri di sini. Hendak memaksa diri membaca untuk masa depanku. Semoga.


--
F I N
written on 26. April 2010, 20.20 WIB (UTC +7)
And today, the Sun seems like shining a bit brighter, and my saving is finally stuffed again.
Alhamdulillah.


Senin, 19 April 2010

Bipolar

Satu hari berlalu setelah reuni mini teman SD antara aku, Ginda, dan Arum, serta beberapa teman yang baru diperkenalkan padaku. Dua nama ini sudah lama tidak kujumpai. Harap maklum, dulu selepas SD, aku "mengungsi" ke SMP yang jauh, jauh, jauh di Rawamangun, Jakarta Timur, sementara mereka rata-rata masih berkisar di Ragunan-Pasar Minggu. Memang sebelumnya mereka pernah kutemui juga, tetapi waktu itu, saat acara resepsi pernikahan teman SD kami, Dewi Annisa, hanya sebentar saja kesempatan kami.

Kemarin, yah, diawali dari kemalasan berangkat ke bengkel untuk perawatan bulanan sepeda motorku yang mulai rewel. Setelah pergolakan batin, akhirnya berangkatlah aku menuju bengkel, jelang tengah hari, dan ternyata padat sungguh bengkel langgananku itu. Jadilah aku menunggu, menunggu, membaca majalah lama, mengirim tweets, menjawab beberapa pesan singkat, dan, ya menonton berita tentang perkembangan kasus di Tj. Priuk, ledakan tabung gas, dan pembuatan alat musik perkusi yang namanya sudah kulupakan.

Waktu menunjukkan pukul 12.30 WIB, dan si RW (Rot-Weiss, nama kode dariku untuk sepeda motorku itu) masih belum dipegang mekanik. Lalu terdengar suara bel pintu yang kupilih jadi tanda ada pesan singkat yang masuk. Eh, Arum? SMS? Tumben! [pucuk dicinta ulam tiba :D]

"Rif, nonton [menyebut judul film] di [menyebut pusat perbelanjaan di seberang kantor Republika, Jak-Sel], yuk? Bareng Ginda juga," begitu isi tulisannya.

Balasanku singkat saja, "hmm.. Boleh, boleh. Kapan?"

Yang tak lama berbalas, "setengah tiga di sini".

---- Anda boleh lho, beristirahat dulu, mengambil minum, kudapan, atau bacaan lain kalau anda pembaca paralel, sebab perjalanan kita masih panjang. :D ----

Hmm.. Pikiran mulai bergerak lagi. Pukul 1300 WIB dan si RW masih diurusi montir. Pukul 1400 balap mobil Formula 1 di Cina dimulai, dan film yang akan ditonton, dari bocoran si Ilman, bercerita tentang hal yang tak kusuka. Tetapi yang mengajak seorang Arum. Yah, beliau bukan dari kalangan yang menggoda dengan gaya berbusana yang njelimet atau bagaimana. Beliau perempuan yang sederhana, dengan celana denim dan kaus oblong dan jaket dan sepatu kets. Beliau bukan perempuan dengan rok (panjang atau pendek), kaus menempel di badan atau baju tanpa bahu. Bukan.

Jadilah berpikir, berpikir, berpikir, dan sampai pada kesimpulan. Oke, aku akan tiba sekitar pukul 1500, setelah sebelumnya menonton permulaan GP F1 Cina (bagian yang paling seru dari F1, kalau kamu belum tahu, adalah seperempat awal balapan ;).)

Sedikit meleset dari perkiraan, ternyata si RW baru terselesaikan pada 1345, yang artinya setengah mengebut ke rumah yang sekitar dua kilometer dari situ. Ups. Maaf ya, anda yang terganggu di Ahad siang kemarin. :)

Dan, biarpun ketepatan waktu bukan kebiasaanku, kemarin Ahad adalah hari yang tidak biasa. Aku tiba di depan pintu, tepat saat balap akan dimulai (dan jadi saksi yang curiga bahwa Nando Alonso melakukan "jump start" [T_T]). Kemudian, setelah persiapan-persiapan, akhirnya berangkatlah aku, sekitar setengah tiga (he he) menuju tempat yang dimaksud.

Sekali lagi aku tidak terlambat (sebuah prestasi, he he). Dan di sana sudah ada Arum, Ginda, serta dua orang --Adit dan Suryo-- yang masing-masing adalah teman Arum dan Ginda. Ternyata, tiket (berbentuk voucher) masih ada di temannya Arum yang lain, yang masih di jalan. Yah, jadilah kami menunggu di atas, di lobi bioskop jaringan itu.

Singkat cerita, mengingat aku juga berusaha tampak tertidur dari awal film hingga pertengahan (hei, aku mendengar segala tawa dan cela kalian tentang aku di depan telingaku!), akhirnya kami pun pulanglah. Kami berenam (ditambah dengan seorang lagi teman Arum --Agun namanya-- yang ternyata telah kenal Ginda) pun beranjak pulanglah.

Oh iya, di sela-sela menjelang film dimulai, Ginda diperkenalkan Arum pada Friski, seorang rekan perempuannya (sesuai janji beliau :D). Sepulangnya, kami berkongsi mencoba membujuk si Friski ini untuk mau diantar Ginda ke rumah. Haha, dasar anak muda. Masih labil. :P

Usut punya usut, sepertinya Ginda tidak berhasil kali ini. Kami telah pulang terlebih dahulu, supaya tidak terlalu mencurigakan. Oh iya, kebetulan *yang disengaja* aku membawa helm untuk penumpangku yang *kebetulan* adalah Arum sendiri. Oh, rasanya ingin mencubit pipiku sendiri. Seperti mimpi rasanya bisa mengantarkan beliau pulang ke rumahnya, yang kebetulan tidak jauh -- mungkin sekitar 2 kilometer -- dari rumahku.

Sepanjang jalan, entah kenapa sepertinya percaya diriku berlipat -- hal yang sekali lagi tidak biasa -- dan dapatlah aku berbincang dan diselingi tawa dengan beliau. Yah, perbincangan masih perbincangan begitu saja. Bahkan tidak menyinggung hal yang baru sadar ingin kutanyakan saat menulis tulisan ini. Ah, sudahlah. Lain waktu saja. :">

Sesampai kami di depan pagar rumahnya (yang pura-puranya aku lupa), kami pun berhentilah. Sedikit bertukar cerita lagi, sembari beliau berusaha membuka kait pada helm yang beliau pakai. Ternyata helm yang mendapat sertifikasi SNI tersebut tidak cukup mudah untuk dibuka. Jadilah aku sekali lagi menawarkan untuk membukakan kait tersebut.

Bayangkanlah, kait tersebut pada helm setengah (half-face) terletak mengikuti kontur dagu dan menempel di pipi. Tidak sulit sebenarnya, kalau kamu sering membuka-tutup kait tersebut, tetapi entahlah. Beliau bilang "bisa pasangnya nggak bisa tutupnya". Yang sulit dari prosesi pembukaan tersebut adalah bagaimana agar tanganku tidak nakal dan melakukan tugasnya, dan hanya tugasnya *malu*. Yah, demikian yang kudapat hari kemarin, yang sampai aku pulang masih terasa tawa renyahnya di telingaku.

**

Senin, hari rutin macet di depan stasiun Lenteng Agung arah Pasar Minggu. Seperti biasa, mobil yang hendak masuk dari jalan utama ke turunan Pasar terhambat dengan adanya SEGEROMBOLAN angkutan nomor 83 dan 02. Bertambah parah apabila ada mobil yang hendak naik keluar dari Pasar. Yang hebat, seorang polisi yang seolah mengatur lalu lintas di situ TIDAK berbuat apa-apa pada angkutan-angkutan tersebut. Hhhhh...

Entah mengapa, setelah sebelumnya sepanjang jalan sangat ceria, dengan lagu "Kahitna" - "Tak Sebebas Merpati" sembari sedikit berandai-andai, suasana hati tiba-tiba saja berubah. Ditambah lagi di pertigaan Pabrik Ubin ada sepeda motor dari arah berlawanan yang masuk jalurku, dan malah terkesan kesal denganku. HEI! PLEASE! Siapa yang memotong jalur siapa?

Tapi itu awal dari sebuah kejadian nyaris. Di pertigaan berikutnya, di sebuah toko kelontong yang induk perusahaannya belum lama ini diakuisisi oleh pengusaha yang juga memiliki stasiun televisi, entah mengapa rem depan si RW mengunci, dan keadaan jalan yang setengah licin membuat kendali lepas sementara. Huff..

Alhamdulillah, aku masih diberi refleks yang baik (dibandingkan orang yang merokok sembari mengendara motor. Idih), dan syukurlah tidak terjadi kejadian yang mengkhawatirkan. Padahal itu tak 500 meter dari belokan menuju rumah. Memang sepertinya kecelakaan dominan terjadi tak jauh dari rumah, betul?

Mudah-mudahan besok suasana hati telah cukup normal, sebab aku khawatir. Hampir selalu setiap aku demikian gembira, atau sedih, ada saja caraNya mengingatkanku dan membalikkan suasana tersebut. Selalu.

F I N
Written on 19. April 2010, 1815-1830, und 2200-2255 WIB (= GMT+7)
Halo, apa kabar? Semoga baik. Dan terima kasih kakak, untuk suntikan semangatnya. :)

Apa kabar?

Lama tak mampir ke halamanku, sepertinya ilalang telah merambah ke mana-mana. Beri waktu beberapa saat, dan akan coba kutebas ilalang tersebut, biar tenang. Bersabar ya? :)

F I N
quickerly written on 19. Apr 2010, 08.30
Und, sie schreibt jetzt doch wieder.

Kamis, 01 Oktober 2009

Antara Padang - Jakarta: Sedikit Cerita

30 September 2009, Petang.

Lepas kuliah yang kembali dilalui dengan twitter-an bersama C650 yang daya baterainya habis, maka meluncurlah aku pulang. Entah mengapa jalan Depok-Pasar Minggu petang itu terasa lebih padat dari biasanya. Tidak ada rata-rata 70-80 km/jam di atas si Putih Merah yang biasanya ditembus dengan agak susah payah.

Sampai di rumah, si bebek sudah masuk kandang, maka masuklah aku ke Rumah. Tiba-tiba saja Ibu berkata, "Mas, Padang berantakan".

Hah?

Tak mengerti aku pada awalnya. Kemudian teralihkan pandanganku ke layar kaca. Eh? "Breaking News"? Ada apa ini?

Tak berapa lama kebingunganku terjawab. Telah terjadi gempa bumi di Sumatera Barat. Ya, yang dimaksud "Padang berantakan" itu nyatalah akhirnya di hadapan mataku melalui layar televisi. Bangunan-bangunan runtuh, dan tanah sepertinya juga terbelah. Kemudian tebersit pertanyaanku.

"Bu, Mak tuo (Bibi/Tante/Budhé/Aunt dalam bahasa Padang) bagaimana?"

"Mak tuo nggak papa, tapi sempat jatuh dari Angkot."

Hah? Sekali lagi diriku dilanda kebingungan. Kemudian akhirnya Ibuku menceritakan bahwa beliau telah menelepon Mak tuo tak lama setelah kejadian. Ternyata pada saat kejadian, Mak tuo sedang menuju ke pasar bersama anak bungsunya. Mungkin saat kendaraan berjalan, tidak terasa getaran gempa tersebut. Tetapi, pada saat hendak turun, barulah terasa getaran itu -- membuat Mak tuo kehilangan keseimbangan.

Meskipun demikian, Mak tuo masih berusaha berdiri, tetapi kemudian terjatuh lagi dan lagi sampai ditenangkan oleh orang-orang di sekitarnya. Mereka kemudian menjelaskan bahwa tengah terjadi gempa keras, sehingga sebaiknya tidak berdiri dulu khawatir kehilangan keseimbangan. Yang terjadi kemudian, Mak tuo justru menangis, karena anaknya masih di dalam angkot. Waduh...

**

Syukurlah, sejauh ini tidak ada kabar berita duka dari keluarga Ibuku di Padang sana. Meskipun demikian, duka dan doaku kukirimkan khusus untuk 'saudara-saudara' kamu dan aku di sana yang tidak seberuntung keluarga Ibuku. Mudah-mudahan mereka yang ditinggalkan diberikan kekuatan menghadapi bencana/musibah/peringatan [coret yang tidak perlu] ini.

Juga kalau boleh mengingatkan, bagi yang sekadar ingin "Wisata Bencana" ke sana, janganlah. Masih banyak yang perlu ditolong, jadi berikanlah jalan untuk mereka yang mampu dan mau menolong.

--
F I N
01. Okt 2009, 20.09 WIB
Mungkin ini akibat dari motto "Lanjutkan!" ini mengikutsertakan di dalamnya "Lanjutkan semua bencana/musibah/peringatan ini" ya? Entahlah..




Rabu, 11 Februari 2009

L-C-D

Ya... L-C-D di sini adalah kependekan dari kata bahasa Inggris "Liquid Crystal Display". Agak bertolak belakang memang, karena dari pembelajaran dasar material dulu, kristal adalah suatu keteraturan dalam jangka panjang dari atom-atom -- yang notabene sulit dicapai pada material yang bersifat cair karena derajat kebebasan yang lebih tinggi. Tapi bolehlah kita sebut bahwa dengan kemajuan yang dicapai manusia -- meskipun bukan manusia berkebangsaan negeri berkode +62 ini -- dapat dihasilkan pada material berwujud cair.

Nah.. Cukup cerita tentang L-C-D! Kalau masih tertarik, silakan tuju blanko alamat di bagian atas perambah, kemudian ketikkan alamat situs pencarian favoritmu, kemudian ketikkan L-C-D atau Liquid Crystal Display. :-D

Oke, beralih ke pokok ceritaku. Kemarin sore, Ayah menelepon saat aku tengah berada di mobil angkutan menuju rumah selepas pengambilan gambar (ehm, pas foto tentu saja. Atau ada yang perlu peraga? :-P). Tidak ada hujan, tetapi banyak angin -- karena jendela mobil Kijang lawas itu terbuka lebar, Ayah bertanya tentang beberapa spesifikasi monitor L-C-D untuk komputer.

Wah, ilmuku masih sedikit, tapi tak mengapa kucoba saja sejauh yang kuketahui. Jadilah kulayani pertanyaan ayah tentang sesuatu yang bersatuan ms (kuduga ini milisekon/milidetik, jadi kuduga ini adalah waktu respon), terkait waktu (respon) tentu saja kuduga lebih cepat lebih baik. Kemudian pertanyaan berikut tentang sebuah perbandingan. Hmm.. Kurasa sih, angka 7000:1 dan 6500:1 itu terkait rasio kontras. Jadi, ambil yang lebih tinggi saja. Haha.. Ups.. :p

Kemudian soal resolusi. Setidaknya ada dua pilihan, resolusi biasa (atau kemudian baru kukenal dengan resolusi persegi/square) 4:3 dan semacamnya, dan resolusi lebar/wide 16:9 atau 16:10 dan semacamnya. Dari yang pernah kubaca sebelumnya, kumengerti bahwa angka itu adalah kelipatan persekutuan yang paling kecil dari resolusi yang didukung. Jadi kalau misal resolusinya 1024x768 (pixel:pixel; PixEl= Picture (pix) Element/elemen gambar/titik), maka KPK (ehm, kelipatan persekutuan tadi, bukan KPK yang berkantor di Kuningan itu lho..) alias perbandingan resolusinya tinggal dibagi dengan 256, maka hasilnya 4x3, sehingga perbandingan sisi panjang : sisi lebarnya 4:3, begitu seterusnya. Pembahasan berlanjut sepanjang Jalan Jatipadang, dan akhirnya menurut Ayah dan aku, lebih baik monitor dengan perbandingan biasa.

Petang harinya, saat sedang membenahi kamar yang hancur lebur berantakan tak terurus karena kalah prioritas dengan Si Krispi, Ayah pun pulanglah. Di tengah-tengah pembenahan itu, yang disambi mendengarkan radio KISFM karena topik -- ehm, maaf. Maksudku bintang tamunya (seorang reporter/presenter stasiun televisi swasta) yang menarik -- Ibu memanggilku turun, meminta bantuanku.

Ternyata eh ternyata. Waw... Sebentuk kardus cokelat yang tidak begitu besar menanti di dekat meja komputer kami. Dari etiketnya, terbaca bahwa itu adalah monitor L-C-D berukuran 43 cm (17") dari pabrikan Korea berseri SyncMaster 743 NX. Aw aw... Saat kardus dibuka.. Aw aw.. Licin (baca: cantik, eh salah, maksudnya bagus, hehehe... :p).

Jadilah, duapuluh menit kemudian aku mengangkat monitor yang usianya jauh lebih tua dari keponakanku ke gudang/kamarku, kemudian memasang monitor itu untuk pertama kalinya.


Kesan, Pujian, dan Ujian

Kesan pertama... Duh, tombol untuk menyalakannya di mana yah?? Yah, bisa dibilang ini bagus, karena secara tidak langsung memaksa pembeli lain untuk membaca petunjuk pemasangannya
(aku jangan diikutsertakan yah, aku memegang pedoman itu di tangan kanan selagi membetulkan letak monitor itu kok).

Kemudian, kesan berikutnya adalah kagum. Kagum karena tombol-tombol di panel depan monitor ini tidak ada.. Tidak ada??? Maksudnya tidak ada yang timbul. Satu sisi, dengan tombol yang seolah menyatu dengan badan monitor, timbul kesan anggun. Jadi kesan rapi yang monitor ini miliki meninggalkan monitor-monitor yang pernah singgah di rumah kami pada jaman batu *berlebihan*.

Sisi gelapnya -- secara harfiah memang gelap -- adalah bahwa tombolnya tidak nampak. Lain dengan etiket merknya yang berwarna abu-abu cenderung putih, warna 'tombol'-'tombol' yang ada pada sisi kanan tulisan merknya itu berwarna abu-abu cenderung gelap. Agak keemasan mungkin, tetapi dengan cahaya dari monitor, dan juga dari lampu di ruangan, tulisan pada 'tombol' itu seolah hilang ditelan cahaya. Hal yang bisa dilakukan untuk mengatasinya? Lampu senter, tentu saja. Mudah saja, tinggal sorotkan lampu senter ke sisi kanan bawah monitor apabila perlu menyalakan, juga mengatur ulang monitor ini. Hey, tak ada larangan bukan? Toh ini milik kami. Weekkk... :-P

Jelek yang satu lagi -- tapi ini bisa mempersalahkan keadaan rumah kami juga -- warna yang dibawanya adalah hitam.. Warna hitam + Debu = Kusam.. Kumal.. Tak terawat.. Huhuhu.... Yang bisa kami lakukan mungkin mencari kain untuk menutup monitor ini bila tidak digunakan.

Selanjutnya pengujian.. Tak sahih rasanya kalau tidak dilakukan pengujian -- dasar makhluk skeptis! Pengujian paling umum untuk layar monitor L-C-D adalah pengujian pixel mati (dead pixel). Dari pengujian di salah satu tempat [di sini] (lainnya cari sendiri yah, kata kuncinya "dead pixel test"). Sepertinya tidak ada yang dimaksud dead pixel dan kawan-kawannya itu. Jadi, ceritanya, dead pixel itu adalah pixel yang, yah, sudah mati. Jadi dia tidak bisa berubah warna meskipun sekitarnya kita ganti. Misal, satu titik selalu berwarna hitam meskipun kita mengganti gambar. Nah, dapat jadi itu adalah pixel mati itu.

Yah.. Bagaimanapun, alhamdulillah telah tiba juga monitor ini. Monitor yang menurut pengakuan ayah, hadiah. Hadiah untuk... Apa ya? Kelulusan atau untuk ulang tahun? Entahlah. Tak ada cerita hadiah barang dari orang tuaku setelah lama.. Tapi buatku, dengan Ibu-Ayah tetap bersama kami itu sudah lebih dari cukup. Makasih Ayah, makasih Ibu.. (^^,)


--
F I N
written on 11. Februar 2009, 09:19 WIB
Semoga bisa bermanfaat... (^^,)

Kamis, 15 Januari 2009

Sang Pencukur

Kemarin; 14. Januar 2009; lima sore; Lenteng Agung. Seorang bocah tergesa-gesa mendaki jalan di terminal/pasar Lenteng Agung, resah mencari tempat untuk mencukur rambutnya, demi beberapa helai foto dengan syarat: "enam bulan terakhir".

Tak sepuluh menit kemudian, ditemukannya tempat itu. Tempat yang saban hari dilewatinya, dilihatnya selalu, tapi diperhatikannya tidak. "PANGKAS RAMBUT (baris baru) ANDA (baris baru) {huruf hilang} AN {huruf hilang}", begitu yang tertera di kaca (kaca, bukan cermin!) besar bagian depan 'kamar' kecil itu.

Hijau catnya, dan hanya satu itu kaca jendela untuk memandang keluar. Perlahan bocah itu memasuki ranah yang tak dikenalnya sama sekali itu. Ada seorang bapak membawa dua anaknya -- yang satu telah duduk di 'singgasana' bagi orang yang dicukur.

Tukang cukur itu gemar bicara, begitu kesan bocah yang baru datang itu saat melihat dan mendengar derai guyon pencukur berambut dan berjanggut hitam itu. Luwes sekali, yang tak mungkin bocah itu sanggup menandingi kelancaran berbicara pencukur itu. Tak lima menit kemudian, tangannya yang menari-nari mengitari kepala anak itu pun selesailah.

Satu pencukuran satu pemuda tanggung -- yang juga dengan santainya beliau ajak bercanda -- pun berlalu tak sampai sepuluh menit. Anak yang beranjak itu pun membayarlah, sayangnya dengan nominal yang tak sesuai dengan yang tertera pada selembar kertas yang ditempelkan di dinding. Berkata beliau, "Mana nih, emang ada tarif Rp X.000,00 ?". Si remaja itu pun nampak sedikit takut-takut, dan kemudian memilih berkata "adanya cuma segitu, Bang". Mengagumkannya, beliau menerima lembaran-lembaran uang itu dan tersenyum, kemudian berkata pada bocah itu, yang kali itu mendapat giliran menduduki takhta, "Biasa emang gitu dik..". Tersenyum saja yang bisa dibuat bocah itu.

"Mau diapain dik? Digundulin aja, apa?", lanjutnya sambil terkekeh geli. Berkata bocah itu, "Wah, jangan, Bang. Biasa aja, dipendekin". Selesai ia berucap demikian, mulailah tangan-tangan terampil itu menari, memainkan irama rancak sisir dan gunting, serta sesekali mesin pemotong rambut (clipper, kalau tak salah).

Sepanjang ritus pemendekan rambut itu, tak segan beliau berkata dan bertanya pada bocah itu. Mulai dari cuaca ("hujan terus beberapa hari ini, cucian jadi apak. Apalagi udah punya anak"). Lalu, apa yang bocah itu kerjakan ("Kerja apa kuliah, dik? Ooh.. Kuliah. Semester berapa? Wah, dikit lagi lulus dong?", dan seterusnya). Kemudian tentang filosofi rambut pendek yang -- selain untuk kerapian -- menurutnya meningkatkan kemampuan belajar -- karena lebih nyaman, dan betapa anak-anak selalu dan selalu tidak mengerti tentang itu. Banyak hal lagi yang mereka bicarakan, yang membuat waktu sepuluh menit seolah berlalu selamanya.

Tentang yang terakhir -- filosofi rambut pendek, beliau menyatakan baru mendapat ilham tentang hal itu. Satu hal yang diamini bocah itu, karena sampai seusia saat itu, tak pernah ia mengira bahwa kemampuan menerima pelajaran dapat dikaitkan dengan panjang-pendeknya rambut.

Yah.. Begitulah. Tak pernah sekalipun bocah itu membiarkan rambutnya panjang dan dapat tergerai seperti beberapa kawannya. Tak pernah, seperti tak pernahnya ia biarkan dirinya menghirup asap atas kesadarannya sendiri.

Dan.. Di akhir sesi pemotongan rambut kali itu, beliau juga menyinggung soal bakti pada orang tua. Tak enak bocah itu bertanya, apakah orang tua beliau masih ada atau telah tiada. Jadi ia biarkan beliau bertutur tentang anak-anak yang selalu ingin ini dan itu dan harus terpenuhi ("kalau tidak, nanti ngamuk di tengah jalan"), dan kemudian, setelah berusaha mencari nafkah sendiri, semakin besarlah rasanya sesal pernah berbuat sebagaimana anak-anak pada masa kanak-kanaknya dulu.

Terakhir sekali, beliau 'menyindir' bocah tersebut sebagai orang yang "sudah banyak ilmunya. Nggak kayak saya, tukang cukur begini", yang tak bisa dibalas apa-apa selain dengan ucapan "nggak bang, nggak. Ilmu saya mah, masih sedikit", dan wajah yang (seandainya bisa) bersemu merah menahan malu.

"Nah, sekarang udah keliatan gantengnya", pujinya menutup sisiran terakhir di kepala bocah itu, dan diiyakan dengan senyum oleh bocah itu. Selembar uang berpindah tangan, dengan pengembalian beberapa uang pecahan lebih kecil untuk bocah itu.

Sekeluarnya dari situ, ia berjanji pada dirinya sendiri, sembali memburu waktu sebelum studio foto terdekat tutup. Selepas macam-macam hal ini, ia ingin berbagi dengan beliau. Berbagi apa saja, yang jelas hanya satu: ia akan kembali.


*NB: Disunting dari cerita asli/kenyataan yang terjadi saat itu.


--
F I N
written on 15. Jan 2009, 19.10 WIB
"Dan pagi ini, kedai cukur itu terlihat ramai . Semua demi sepuluh menit bersama beliau".