Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 November 2011

Tujuan

Waktu lepas tengah malam begini kadang ada saja sebarang pertanyaan melintas di kepala. Kali ini tentang sebuah kata: tujuan, atau kalau dalam bahasa lainnya, purpose.

Pertanyaannya sederhana saja, apa sih tujuanmu? Atau mungkin rencana/maksud/cita-citamu?

Cita-citamu, atau aku, bisa jadi tak sama dengan impianmu atau aku di masa lampau. Dahulu, saat dunia masih terasa luas dan besar, ada di antara kamu dan aku yang berkeinginan menjadi astronot, atau pilot jet tempur, atau pembalap mobil formula 1, atau beragam cita lainnya.

Namun, seiring tumbuhnya fisik, berkembangnya pemikiran, mengecilnya dunia (dalam persepsi), dan bertambahnya pengetahuan (dan realisasi), lambat laun cita itu berganti. Mungkin tidak padam; hanya memudar menghadapi kenyataan yang ada. Atau dapat jadi pula tujuan yang ingin dicapai semakin sederhana.

Apa tujuan (hidup)mu?

Kalau ada yang ingin berbagi, silakan lho. Tetapi dengan lontaran pertanyaan sebelum ini, terbit 'keharusan' padaku untuk membagi sedikit apa yang kupandang sebagai tujuanku pada saat tulisan ini digarap. Jadi mari kita mulai.

Dalam satu kalimat, tujuanku adalah untuk berumah kecil dengan halaman yang luas, dengan hubungan antar-penghuni yang hangat. Umm... Sudah terpenuhi kah unsur-unsur kalimatnya? Semoga sudah ya.

Nah, sederhana kedengarannya, sebagaimana banyak hal lain di dunia yang juga sederhana. Pun demikian, sebagaimana hal-hal yang kedengaran, kelihatan, atau terasa sederhana lainnya, 'there are more than meets the eye'. Pada hal-hal sederhana tersimpan kejutan-kejutan yang menggelitik.

Kalau ada kesempatan, ini ada bagian pertama dari lima seri video yang menginspirasi yang ditunjukkan temanku Nisa. Tentang seorang profesor matematika, Sir Andrew Wiles, dan 'pertarungannya' dengan teorema terakhir Pierre de Fermat, seorang ahli matematika Perancis dari 3 abad sebelum ini. Kalau subyeknya tidak kamu mengerti, jangan khawatir. Nisa, yang nota bene perempuan siswa paling cerdas semasa kami sekolah dulu pun tidak. He he..

Prof. Wiles mungkin satu dari sedikit orang yang beruntung yang dapat 'seumur hidup' mengejar impian masa kecilnya. Sebagian dari kamu dan aku, pemimpi astronot misalnya, tidak. Kenyataan bahwa lembaga peberbangan dan antariksa negeri kelahiran Ir. Soekarno ini lebih aktif pada bidang penerbangan daripada antariksa jadi dinding tebal bagi mimpi mereka.

Pun dengan impian berada di balik peliknya kemudi mobil formula satu, di negeri yang sirkuit internasionalnya terkebiri hanya menyelenggarakan seri balap motor tingkat Asia (tenggara) saja. Patut disyukuri juga, sebetulnya, daripada hanya mengadakan balap 'bebek' yang 'termehek-mehek' di lintasan mulus berliku itu.

Maaf, aku melantur. Jadi, Prof. Wiles akhirnya berhasil mengurai teorema Fermat yang dengannya dinyatakan bahwa [ X^n + Y^n != Z^n ] untuk nilai "n" lebih dari 2. Teorema yang sederhana sebenarnya, dengan bila "n" adalah 2, kamu akan mendapati sesuatu yang jamak ditemui berupa teorema Phytagoras. Sesederhananya pernyataan Fermat tersebut pada kenyataannya telah memakan lebih 7 tahun masa kerja Prof. Wiles. Harga yang dibayar untuk mencapai suatu tujuan yang sederhana, namun dengan kepuasan tak ada taranya menjadi kompensasinya. Kelegaan seakan beban berat telah lepas pada akhirnya.

Kira-kira demikianlah, minta maaf telah membawakanmu subyek yang berat dini hari begini. Tetapi beberapa yang bisa ditarik dari karya beliau adalah bahwa untuk mencapai tujuan, mutlak diperlukan keteguhan dan ketekunan. Juga, tentang kesederhanaan... Seringkali ia melenakan.

Sungguh, kawan, dari sekejap aku tinggal di bumi, hal-hal paling indah di dunia dijadikan sederhana. Demikian sederhana hingga hal itu dapat diambil hanya untuk dilupakan untuk hal lain yang lebih besar, lebih rumit (kelihatannya), dan lebih menantang. Namun jauh di dalam, masih tetap kesederhanaanlah yang sungguh dicari.

Jadi, kurasa baik untukku menetapkan tujuan-tujuan sederhana bagiku. Biar tetap ada tujuan tersebut sampai Ia-tahu-kapan,
--
F  I  N
written on 09. Nov 2011, 02.10 CET (UTC +1), 08.10 WIB (UTC +7)
would you not be the inhabitant of said little house within the garden? Ours? No?

Senin, 31 Oktober 2011

Sajak Melati

Setahun ke belakang ini aku mulai menanam sebatang perdu melati. Ya, sebetulnya aku ingin memelihara kucing. Berhubung kucing akan perlu perhatian ekstra, sementara (calon) tuan/temannya ada kecenderungan berada di rumah hanya 10 -- 14 jam sehari, maka jadilah tanaman yang jadi 'pilihan'-ku.
Tetapi mengapa melati? Biar kujabarkan dalam beberapa bait sajak berikut ini ya?

**

Melati, bunga mungil putih sejati
Sedap mewangi mengharumi hari

Bukan ia kembang terindah
bukan pula yang tersemarak

Namun untuk hamba, bunga melati
ada tempat sempurna dalam hati
**
Ha ha ha.. Agak payah ya? Kira-kira begitulah.
Ambil saja contoh lain semisal mengapa ada seseorang yang, um, memilih soto ayam daripada sup ayam, begitulah. Ada alasan-alasan yang kadang tak bisa diterima logika, tetapi terjadi. Dan seperti itulah, namanya hati sering tak bisa dimengerti.
Juga dari serumpun perdu melati itu, selain kembang yang rutin kupotong setiap kali merekah, ada pelajaran untuk dipetik. Tentang singkatnya kehidupan, dan hal-hal lainnya yang mudah-mudahan akan dibukakan untukku ilmunya.

--
F  I  N
written on 31. Oktober 2011, 21.15 WIB (UTC +7), 15.15 CET (UTC +1)
refusal is too familiar of a word for me, really. But I sincerely hope you don't. For those lines on jasmine flowers, are analogy for you.

Sabtu, 01 Mei 2010

Saudara

Jum'at, 30. Apr 2010, Masjid Ukhuwah Islamiyyah (M.UI), Depok.

Seperti Jum'at-Jum'at yang normal, aku 'memaksakan' kaki-kakiku melangkah, kali ini cepat, ke M.UI. Satu hal yang tak biasa adalah, aku membawa tas kecil yang kuisi dengan 'twendy' kameraku. Rencananya, selepas dari M.UI dan Shalat Jum'at, aku langsung ke Balai Sidang BNI, untuk peluncuran tim Shell Eco-Marathon UI yang dijadwalkan setengah dua siang. Meskipun pada akhirnya, setelah Shalat Jum'at dilangsungkan dan aku berjalan ke sana dan memutuskan kembali. Sebabnya? Sepinya aktivitas dan kurangnya publikasi yang menunjukkan ada acara besar di gedung itu. (-_-)

Dua belas kurang seperempat atau sepuluh, aku sudah sampai, dan selepas berwudhu', aku mencari tempat. Seperti biasa, di sisi kanan (kalau menghadap arah kiblat) dan agak keluar. Biasa. Cari angin di Jum'at yang selalu panas. Hehe.

Saat pengumuman-pengumuman, ada satu hal yang tak selalu terjadi setiap Jum'at. Pengumuman pertama adalah mengenai permintaan Shalat Ghaib untuk dua orang almarhum, entah siapa aku lupa (maaf). Tapi pengumuman kedua menggelitik hatiku.

"Setelah Shalat Jum'at ini, insya Allah akan ada pengucapan dua kalimat syahadat dari seorang saudara kita. Apabila berkenan, jama'ah diharapkan hadir dan menyaksikan."

Kira-kira demikian pengumuman tersebut. Ini yang kedua kalinya aku menyaksikan seorang insan mengucap kesaksian tersebut, dan kedua kalinya pula di Masjid yang sama: M.UI.

Oh iya, sebelum kulanjutkan, sedikit yang bisa kusarikan dari Khutbah Jum'at kemarin adalah pesan dari khatib mengenai 22 hal yang menjadi imbas dari perbuatan Maksiat.

Tidak semuanya kuingat memang (bukan karena ketiduran, lho ;) ). Yang paling kuingat terutama sekali yang di awal, lebih kurang adalah bahwa maksiat itu, kalau dibuat jembatan keledainya, menjauhkan dari AIROb (Allah, iImu, rizqi, dan orang baik). Selain itu bahwa perbuatan demikian mendekatkan pada kesulitan, dan perbuatan maksiat lain. (wah, hit rate-nya rendah amat... -_-").

Nah, saat khutbah dibacakan, mataku dan pikiranku yang sering kurang fokus menyempatkan diri memandang menyapu M.UI. Seperti biasa, ada yang tertidur, ada yang menyimak serius, ada yang terkantuk-kantuk dibuai angin yang kebetulan agak kencang, dan macam-macam lagi. Tapi satu hal yang agak menarikku adalah seorang pemuda yang berbaju krem (merah muda? Maafkan persepsi warnaku yang buruk) dan bercelana denim panjang terlihat agak-agak celingukan, mirip aku juga, tapi pandangannya seperti takjub melihat berbagai kelakuan anak manusia di bawah atap M.UI. Entahlah, sepertinya ada yang berbeda saja dari beliau.

Khutbah berakhir, Shalat Jum'at berakhir, dan tiba saatnya yang bersejarah bagi beliau. Beliau, belakangan kuketahui bernama Ronal(-d?) Y(ohanes) Wattimena, duduk bersila menghadap imam M.UI, Pak M. Fitrullah, yang kebetulan pernah satu lab dengan kami. Ternyata benar, beliau yang menghadapi Pak Fitrullah itu adalah yang tadi aku sempat perhatikan. Betapa intuisiku kadang menyaingi perempuan. Hihihi.

Mulanya beliau sepertinya enggan menggunakan lagi nama tengahnya, sehingga enggan pula memberitahukan nama tengahnya. Tetapi Pak Fitrullah sukses meyakinkan beliau bahwa itu tak mengapa. Dan setelahnya, pembimbingan itu pun berjalanlah. Satu kalimat, dan kalimat berikutnya. Bahasa aslinya dan dalam bahasa Indonesia menyusul. Takbir menggema segera setelah Mas Ronald menyelesaikan dua kalimat tersebut. Kami yang menyaksikan pun menyalami beliau, bahkan ada seorang dari jama'ah yang memberikan tanda mata berupa satu mushaf al-qur'an. Beberapa menjabat tangan beliau dan kemudian merangkul erat beliau. Meyakinkan bahwa kami memang bersaudara sekarang.

Jujur, dalam hati aku iri, sebesar-besarnya iri. Beliau yang berasal entah dari keyakinan apa, bisa Dia beri petunjuk agar menjadi saudara kami. Tidak seperti aku yang kebetulan dilahirkan dari sepasang orang tua yang muslim, sehingga mengaku-aku muslim. Iri, karena masih banyak yang belum kulakukan. Iri, tapi rasa iri tersebut menggetarkan dan mengentak kepalaku.

Dan bulir-bulir air mata pun membasahi pipiku.


--
F I N
written on 1. Mai 2010, 19.40 WIB (UTC +7)
Yes, I envy him. For now, will You please remind me everytime my way swerved? Thank You.

Kamis, 15 Januari 2009

Sang Pencukur

Kemarin; 14. Januar 2009; lima sore; Lenteng Agung. Seorang bocah tergesa-gesa mendaki jalan di terminal/pasar Lenteng Agung, resah mencari tempat untuk mencukur rambutnya, demi beberapa helai foto dengan syarat: "enam bulan terakhir".

Tak sepuluh menit kemudian, ditemukannya tempat itu. Tempat yang saban hari dilewatinya, dilihatnya selalu, tapi diperhatikannya tidak. "PANGKAS RAMBUT (baris baru) ANDA (baris baru) {huruf hilang} AN {huruf hilang}", begitu yang tertera di kaca (kaca, bukan cermin!) besar bagian depan 'kamar' kecil itu.

Hijau catnya, dan hanya satu itu kaca jendela untuk memandang keluar. Perlahan bocah itu memasuki ranah yang tak dikenalnya sama sekali itu. Ada seorang bapak membawa dua anaknya -- yang satu telah duduk di 'singgasana' bagi orang yang dicukur.

Tukang cukur itu gemar bicara, begitu kesan bocah yang baru datang itu saat melihat dan mendengar derai guyon pencukur berambut dan berjanggut hitam itu. Luwes sekali, yang tak mungkin bocah itu sanggup menandingi kelancaran berbicara pencukur itu. Tak lima menit kemudian, tangannya yang menari-nari mengitari kepala anak itu pun selesailah.

Satu pencukuran satu pemuda tanggung -- yang juga dengan santainya beliau ajak bercanda -- pun berlalu tak sampai sepuluh menit. Anak yang beranjak itu pun membayarlah, sayangnya dengan nominal yang tak sesuai dengan yang tertera pada selembar kertas yang ditempelkan di dinding. Berkata beliau, "Mana nih, emang ada tarif Rp X.000,00 ?". Si remaja itu pun nampak sedikit takut-takut, dan kemudian memilih berkata "adanya cuma segitu, Bang". Mengagumkannya, beliau menerima lembaran-lembaran uang itu dan tersenyum, kemudian berkata pada bocah itu, yang kali itu mendapat giliran menduduki takhta, "Biasa emang gitu dik..". Tersenyum saja yang bisa dibuat bocah itu.

"Mau diapain dik? Digundulin aja, apa?", lanjutnya sambil terkekeh geli. Berkata bocah itu, "Wah, jangan, Bang. Biasa aja, dipendekin". Selesai ia berucap demikian, mulailah tangan-tangan terampil itu menari, memainkan irama rancak sisir dan gunting, serta sesekali mesin pemotong rambut (clipper, kalau tak salah).

Sepanjang ritus pemendekan rambut itu, tak segan beliau berkata dan bertanya pada bocah itu. Mulai dari cuaca ("hujan terus beberapa hari ini, cucian jadi apak. Apalagi udah punya anak"). Lalu, apa yang bocah itu kerjakan ("Kerja apa kuliah, dik? Ooh.. Kuliah. Semester berapa? Wah, dikit lagi lulus dong?", dan seterusnya). Kemudian tentang filosofi rambut pendek yang -- selain untuk kerapian -- menurutnya meningkatkan kemampuan belajar -- karena lebih nyaman, dan betapa anak-anak selalu dan selalu tidak mengerti tentang itu. Banyak hal lagi yang mereka bicarakan, yang membuat waktu sepuluh menit seolah berlalu selamanya.

Tentang yang terakhir -- filosofi rambut pendek, beliau menyatakan baru mendapat ilham tentang hal itu. Satu hal yang diamini bocah itu, karena sampai seusia saat itu, tak pernah ia mengira bahwa kemampuan menerima pelajaran dapat dikaitkan dengan panjang-pendeknya rambut.

Yah.. Begitulah. Tak pernah sekalipun bocah itu membiarkan rambutnya panjang dan dapat tergerai seperti beberapa kawannya. Tak pernah, seperti tak pernahnya ia biarkan dirinya menghirup asap atas kesadarannya sendiri.

Dan.. Di akhir sesi pemotongan rambut kali itu, beliau juga menyinggung soal bakti pada orang tua. Tak enak bocah itu bertanya, apakah orang tua beliau masih ada atau telah tiada. Jadi ia biarkan beliau bertutur tentang anak-anak yang selalu ingin ini dan itu dan harus terpenuhi ("kalau tidak, nanti ngamuk di tengah jalan"), dan kemudian, setelah berusaha mencari nafkah sendiri, semakin besarlah rasanya sesal pernah berbuat sebagaimana anak-anak pada masa kanak-kanaknya dulu.

Terakhir sekali, beliau 'menyindir' bocah tersebut sebagai orang yang "sudah banyak ilmunya. Nggak kayak saya, tukang cukur begini", yang tak bisa dibalas apa-apa selain dengan ucapan "nggak bang, nggak. Ilmu saya mah, masih sedikit", dan wajah yang (seandainya bisa) bersemu merah menahan malu.

"Nah, sekarang udah keliatan gantengnya", pujinya menutup sisiran terakhir di kepala bocah itu, dan diiyakan dengan senyum oleh bocah itu. Selembar uang berpindah tangan, dengan pengembalian beberapa uang pecahan lebih kecil untuk bocah itu.

Sekeluarnya dari situ, ia berjanji pada dirinya sendiri, sembali memburu waktu sebelum studio foto terdekat tutup. Selepas macam-macam hal ini, ia ingin berbagi dengan beliau. Berbagi apa saja, yang jelas hanya satu: ia akan kembali.


*NB: Disunting dari cerita asli/kenyataan yang terjadi saat itu.


--
F I N
written on 15. Jan 2009, 19.10 WIB
"Dan pagi ini, kedai cukur itu terlihat ramai . Semua demi sepuluh menit bersama beliau".

Minggu, 05 Oktober 2008

Lingkaran

Lingkaran, atau boleh juga disebut segi-n dengan n mendekati takhingga. Bentuk serupa lingkaran ini pula yang tidak ditemukan pada sistem angka romawi, tetapi ada pada angka arab berupa angka nol --angka yang amat istimewa, kurasa. Bentuk serupa lingkaran pula orbit bumi pada matahari, bulan pada bumi, dan manusia pada rumahNya yang pertama dibangun.

Kalau ada orang terkena koreng (borok), lalu dia hanya mencari salep, maka koreng itu bisa saja sembuh. Tapi kalau caranya hidup, beraktivitas, dan semuanya tak ia ubah, maka koreng itu hanya tinggal menunggu waktu saja untuk kembali lagi, lagi, lagi, dan lagi. Orang semacam ini tidak berpikir siklis --melingkar-- melainkan hanya linier. Masalah diatasi sebatas selesai masalah itu saja, tetapi tidak pernah dituntaskan seutuhnya.

Padahal, kita mungkin pernah diterangkan kisah tentang Nabi Khidir yang dipertemukan dengan Nabi Musa. Pada pertemuannya, Nabi Musa tidak diperkenankan bertanya oleh Nabi Khidir, tetapi malah dilanggarnya. Kisah itu secara ringkas adalah ketika mereka bepergian, Nabi Khidir malah merusak perahu yang mereka tumpangi, kemudian membunuh seorang anak kecil, dan memperbaiki tembok yang doyong akan runtuh.

Hikayat ini mengajarkan kita berpikir menyeluruh, atau kusebut melingkar. Kisah pertama (perahu) terjadi karena di wilayah itu penguasanya lalim dan gemar merampas perahu, sedangkan pemilik perahu itu orang miskin. Ini mengajarkan bahwa dalam berpikir, mestilah kita menimbang keadaan terkini, yang aktual. Andaikan perahu itu tetap dibiarkan, maka pastilah sang raja akan merampasnya.

Kemudian, tentang anak yang dibunuh itu tentu ada pula sebabnya. Anak itu lahir dari pasangan shalih, tetapi di masa mendatang, si anak akan tumbuh menjadi anak yang kuat, tetapi kafir. Daripada anak ini kelak menjadi orang yang berpengaruh dan mengalihkan banyak orang, tentu lebih baik dimatikan saja sekarang, bukan? Nah. Ini tidak untuk ditiru, yah.. Kita tidak tahu masa depan seseorang, jadi tidak bisa kita memutuskan membunuh orang seperti itu, yah.. Nah, kisah ini menunjukkan bahwa masa depan --atau tujuan-- itu juga mesti dimasukkan dalam pertimbangan pengambilan keputusan.

Lalu kisah terakhir (tembok), mengapa pula tembok yang sudah tinggal menunggu roboh itu perlu ditegakkan kembali? Tidak ada yang filosofis di sini, hanya urusan dunia saja kok. Jadi, menurut hikayat itu, di bawah tembok itu ada harta peninggalan seorang ayah untuk anak-anaknya di negeri itu. Namun, penduduk negeri itu menyembah berhala. Seandainya tembok itu dibiarkan runtuh, maka harta itu akan nampak dan entah apa yang akan diperbuat penduduk itu atas harta anak-anak yatim yang masih kecil itu. Atas dasar itulah, maka tembok itu didirikan kembali, dan biar kelak anak-anak itu yang menemukannya. Hmm... Pada kasus ini, pertimbangannya adalah masa yang telah lampau --sejarah.

Singkat kata, mengambil keputusan kurang baik dilakukan hanya berbasis kekinian, bahwa dengan begini, maka masalah ini akan selesai. Misalnya saja persoalan yang khas negeri ini setiap akhir Ramadhan - awal Syawwal: MUDIK. Apa yang dilakukan Bapak-Ibu pengambil keputusan sekarang? Memperlebar dan memuluskan jalan, menambah jalur, memperbanyak armada angkutan, dan kebijakan-kebijakan serupa lain. Bukan berarti masalah tak selesai. Jelas dengan kebijakan seperti demikian, arus mudik (maupun baliknya) dapat berlangsung lancar, aman, sentosa (ups... ^_^). Tapi.... Ingat masalah koreng di awal tadi? Seperti halnya koreng itu, mudik pun berlangsung dari tahun ke tahun, bertambah banyak dan ruwet pula.

Bagaimana kalau kuberikan pendapat: Pemerataan. Mengapa sih, ada orang mudik? Karena ada perantau, bukan? Mengapa orang merantau? Mencari penghidupan, bukan? (Kecuali kalau memang merantau itu sudah menjadi budaya, ya?). Nah, mengapa tidak membangun pusat-pusat ekonomi di luar Ibu kota negara? Jadi, bangunlah tempat-tempat orang bisa berusaha, berdagang, semuanya, di pelbagai kota, besar maupun kecil, di penjuru negeri. Dengan demikian, sekiranya masih terjadi, mudik lebih tidak terkonsentrasi dan bukan tak mungkin bisa berkurang banyak.

Memang tak mudah, perlu kerja sama semua, sekali lagi semua, pihak, dan pengorbanan (baca: biaya-biaya, dsb) yang tak kecil. Tapi kalau kemauan ada, dan diupayakan, tak ada yang tak mungkin bukan? Demikian pula masalah-masalah lain yang seolah-olah menempel dengan kalender menjadi "musim-musim" (Musim banjir, mudik, seterusnya) di dinding-dinding rumah kita. Ingatlah, pertimbangkan keadaan sekarang, tujuan, dan jangan lupa sejarah dan masa lalu yang pernah terjadi, dan kembalilah ke masa sekarang-tujuan-masa lalu, dan kembalilah..... [perulangan takhingga]

**
Terinspirasi dari tulisan Muhammad Ainun Najib/Emha Ainun Najib/Cak Nun dalam "Kiai Untung, Kiai Bejo, Kiai Hoki", juga dari acara "Nada dan Dakwah" TVRI, 21. Sep 2008 kalau tak salah. Disarikan dari berbagai sumber yang tercantum maupun dari sedikit pemikiran.


F I N
written on 05. Okt 2008, 06.57 WIB
..just do it and forget it..

Kamis, 25 September 2008

Mau ke Monas

Sebuah grup musik asal Bandung (betul yah?) --The Changcuters-- menulis lagu berjudul "Hijrah ke London". Hihihi, seperti beberapa lagunya sebelumnya, liriknya sederhana, musiknya serasa iringan, umm.. Begitulah pokoknya, aku tak mengerti musik. Yang jelas, dalam syairnya, ada baris kata-kata, "London... Ku ingin pergi ke sana...". Yah, terserah deh apa kata kalian, yang jelas sekarang ini, "ku ingin pergi ke Monas".

Hmm... Kenapa Monas? Entahlah, tiba-tiba terlintas saja di kepalaku tugu bertatahkan emas tak jauh dari gedung Istana Negara dan Masjid Istiqlal ini. Kalau dipaksakan mengorek kepala lagi, mungkin ada beberapa alasan yang bisa kukemukakan. Pertama, aku butuh matahari! Ihh... Bukan berarti aku sehari-hari mengendap di tempat tidur atau di atas kursi di belakang layar yah, tapi sekarang-sekarang ini, memang aku lebih banyak ada dalam ruangan. Kuliah, dalam ruangan, TA, dalam laboratorium, selepas jam kuliah, tidur di rumah, he he he..

Kedua, aku ingin menghabiskan rol terakhirku semester ini. Yap, sejak 'menghidupkan kembali' kamera ayah, aku jadi agak-agak terobsesi dengannya. Hanya saja, karena ukuran dan bentuknya yang agak luar biasa, jadilah rasanya canggung mengeluarkan kamera itu untuk jepret sana sini. Salah-salah disangka pewarta foto nanti.. Jadi, menurutku tempat di mana kamera semacam itu tidaklah sedemikian mencolok adalah tempat wisata, dan seperti kubilang sebelumnya, yang terlintas pertama kali adalah: Monas! Lagipula setelah ini, aku juga akan (berusaha) mengurangi jatah ber-CM dan pelbagai keriaan lain demi lekas tuntasnya TA-ku, Amin...

Ketiga, apa yah? Sudah lama aku tak mengunjungi Monas (baca: dan tempat mencari angin lain, sebut saja, um.. Taman Mini, Ragunan --yang cuma sepelemparan batu dari rumah, bahkan Mal-mal dan toko-toko buku). Terakhir itu, duh, aku lupa. Yang jelas saat itu aku ke sana bersama Ibu, juga Ica, Ifa, dan Iqbal sepupuku. Menyenangkan sekali memandang luas dari puncak Nonas. Nyata sekali Jakarta semakin --sesuai keterangan di situs Pemerintah Provinsi DKI Jakarta-- padat dan semrawut. Rasanya seperti, apa ya, mungkin burung yang terbang tinggi, bebas --meskipun terkungkung troposfer tentu saja--, memandang ke mana ia suka.. Loh, kok seperti iklan salah satu partai politik ya? He he.. Semua itu hanya kebetulan belaka dan tidak ada kesengajaan kok.

Yah, jangan heran untuk kamu yang tidak di Jakarta. Jangan mengambil kesimpulan "Setiap warga Jakarta pernah berkunjung ke objek wisata di Jakarta". Tidak secepat itu. Ragunan saja, yang kusebut hanya sepelemparan batu dari rumahku, sudah tak pernah kukunjungi sejak lama. Bahkan terakhir kuingat berkunjung adalah ketika Pusat Primata Schmutzer, yang (kata orang) keren, belum selesai dibangun. Padahal setelah itu, Ragunan seperti menemukan kosmetik yang baru dan tampil lebih menarik menurutku... Dari luar tentu saja. ^_^

Jadi, ada yang mau ke Monas juga? Kutunggu di sana, sekitar akhir pekan (Sabtu-Ahad) atau Senin mendatang... Minta dibayarkan? Hey... Aku saja berencana menunjukkan Kartu Mahasiswaku waktu membayar tiket, kok kamu minta dibayarkan? Huh!! Dasar... Bayar sendiri dong! Kecuali kamu rela mencuci-cetakkan rol film berisi gambar-gambar sekitar Monas dan kemudian memindaikannya biar bisa kuunggah di sini, di halamanku yang tak seberapa ini. He he... (n_n) Selamat berbuka puasa, omong-omong, sebentar lagi...


F I N
written on 25. Sep 2008, 17.37 WIB
Du di dum... Monas, aku datang dengan kamera berbaterai baru. :-)
Sayangnya aku perlu menabung seumur hidup kalau ingin memiliki sebuah unit pemindai di sisi komputerku. Yahh... :-(

Sabtu, 16 Agustus 2008

Nasionalisme Sepanjang Galah

Prakata: Tulisan ini (hampir) sepenuhnya pendapatku sendiri. Maaf.

Pagi ini, Pak RT kami berkeliling dari rumah ke rumah, mengingatkan kepala-kepala keluarga untuk memasang bendera. "Di mana rasa nasionalismenya kalau belum pasang bendera?", begitu beliau ulangi di setiap pintu. Di mana, Pak Haji? Biar coba kujawab: dalam diri, dalam hati, dalam kepala.

Yap, bulan ini Agustus, bulan kemerdekaan Republik Indonesia --juga Malaysia, Pakistan, dan juga India. Kemerdekaan yang, sejauh yang kubaca dan kucoba pahami, diraih dengan kerja keras yang tak kenal henti dari semua pejuang, yang namanya tertuang di buku-buku sejarah ataupun gugur sebagai pahlawan yang tak dikenal.

Negeriku, telah hampir 63 tahun berlalu sejak Bapak Ir. Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, di Jl. Pegangsaan Timur No. 56, sekitar pukul 10.00 WIB. Sudah hampir selama itu pula berlalu sejak pertama kali bendera Merah Putih berkibar secara resmi sebagai lambang negara. Sejak itu pula, setiap tahun kemerdekaan diperingati di berbagai tempat, di wilayah Indonesia di Indonesia, ataupun di wilayah Indonesia di Negeri lain (jangan salah tangkap, maksudku adalah kedutaan besar RI di negara lain (",)).

Tetapi pantaskah kalau mengibarkan bendera menjadi tolok ukur utama nasionalisme, rasa cinta pada negeri? Bagaimana bila anda berada di negeri orang, dan mengibarkan bendera kebanggaan negaranya? Bendera negaranya sendiri, hanya saja, di negeri orang?

Memang bagi kita yang masih tinggal di teritorial negara Republik Indonesia, alangkah baiknya bila bendera itu dikibarkan. Setidaknya menjadi kebanggaan dari warga negara yang telah merdeka -- tidak seperti beberapa negara yang masih terjajah -- selama 63 tahun ini. Memang mungkin dalam beberapa hal, kemerdekaan itu belum sepenuhnya diraih. Tapi setidaknya kita tengah berusaha, bukan?

Sayangnya, setelah pemasangan bendera itu, terkadang -- termasuk di keluarga kami juga -- banyak yang acuh saja dengan bendera yang telah dipasang itu. Mengapa kamu kira pada setiap upacara penaikan bendera pada peringatan kemerdekaan di Istana Negara, selalu ada upacara penurunan bendera? Masalah 'penghormatan' pada lambang negara, sejauh yang kuingat dari sedikit tahun bersama paskibra di tiga tahun masa sekolah dulu, adalah dasarnya. Tahukah kamu bahwa bendera itu juga diturunkan saat hujan turun? Baguslah kalau kamu tahu, karena itu juga berkaitan dengan masalah penghormatan itu tadi. Tapi apa yang terjadi di kebanyakan rumah? bendera yang pada siang hari berkibar dengan gagahnya, dibiarkan menghadapi hujan andaikan turun, dan dibiarkan di tempatnya, menuju alam mimpi kala malam.

Jadi, itu kecintaan terhadap tanah air? Terlalu pendek kukira, di saat hampir setiap hari orang-orang -- termasuk aku juga --mengeluh tentang apa saja yang bisa dikeluhkan. Di saat kepala-kepala dengan pemikiran cemerlang --tidak semuanya, tentu -- tidak mengingat negeri leluhur mereka yang dulu diperjuangkan sepenuh hati dan jiwa, untuk berjuang demi negeri antah berantah.

Semoga proyek kecil Pak Herman tentang 'memanen' energi dari matahari dengan bahan-bahan yang relatif murah -- yang dipercayakan padaku ('Makasih, Pak. ^_^) -- bisa kukerjakan dengan baik, dan pengembangan selanjutnya bisa terus berlanjut. Semoga saja proyek itu dapat berjalan sesuai rencana. Hanya sepotong kecil bagian puzzle yang bisa kuberikan, menyusun gambar besar negeri yang cantik, beradab, dan maju. Amin. \(-_-)/

Semoga nasionalisme kita, tidak hanya sepanjang galah. Ingatlah, kasih Ibu Pertiwi, seperti halnya kasih Ibu, sepanjang jalan..

F I N
written on 16. Aug 2008, 09.06 WIB

Ada yang tahu ke mana aku harus mencari, bila aku mencari Sb2O3 (Antimoni trioksida) dan SnCl4.5H2O (Air kristal timah (IV) klorida)? Mohon bantuannya.

Jumat, 15 Agustus 2008

Istri Kok Dijual?

Petang ini, sebuah majalah investigasi televisi -- "FAKTA" -- mengupas seorang suami yang tega menjual istrinya menjadi pelacur. Pasangan itu, berasal dari Deli Serdang, tengah merantau ke Batam, Kepulauan Riau. Ternyata, sang suami justru berubah pikiran dan malah menjual istrinya sebagai pelacur. Dalam narasinya bahkan disebutkan kalau sang suami, Bambang, dengan senang hati menandatangani kontrak, dan memaksa sang istri, Rita, menandatangani kontrak itu. Dari kontrak itu, sang suami mendapatkan uang senilai 2.000.000,00 rupiah. Ya benar, hanya demi dua juta rupiah sang suami -- yang kalau aku tak salah dengar sedang dalam keadaan terdesak -- tega menjual istrinya seolah istrinya itu miliknya yang tiada berharga.

Hmm... Masygul hatiku mendengar kejadian itu. Tidak pernahkah sang suami itu mendengar bahwa tidak satu binatang melata pun di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya? (11:6) Atau mungkin beranggapan dia bahwa itu adalah perniagaan yang menguntungkan, mungkin karena pada saat menikah dahulu dia hanya memberikan sedikit untuk menghalalkan istrinya padanya? Entahlah, tak ingin ku berprasangka terlalu jauh. Bukan urusanku.

Mungkin sering kamu mendengar "pengalaman memberi pelajaran yang amat banyak". Mohon maaf, tetapi aku lebih suka menambahkannya menjadi "pengalaman memberi pelajaran yang amat banyak. Apalagi bila pengalaman itu milik orang lain". Betulkah? Menurutku demikian, sebab diciptakan manusia kebanyakan dengan dua mata dan dua telinga, untuk mendengar dan melihat lebih banyak, serta sebuah mulut beserta lidahnya, tentu untuk bicara.Jadi, lebih banyak kita diberikan fasilitas untuk memahami sekeliling, bukan?

Kasus di awal tadi mungkin bukan yang pertama terjadi. Tak pula ada yang tahu apakah itu juga yang terakhir. Entahlah apa yang terlintas di benak pria itu ketika berbuat demikian. Terdesak, mungkin dikemukakan sebagai alasan di tempat pertama. Tetapi tak adakah yang lain yang diperbuat? Bukantah sang istri selama ini menemani saat senang dan susah -- dan bukantah didampingi seorang istri, yang setia di kala kesulitan, amatlah membahagiakan?

Entahlah, jelas selalu ada pelajaran yang dapat dipetik dari semua kejadian. Apa ya? Hm... Salah satunya mungkin jangan cepat menyerah pada keadaan, ya? Solusi yang (terlihat) cepat, mudah, dan menguntungkan memang selalu menarik, tetapi tentunya akal pemikiran tidak diberikan percuma, bukan? Ah, semoga itu tidak sampai terjadi padaku kelak. Semoga juga tidak terjadi padamu.

NB: (calon) istriku, di manapun berada, sebut berapa yang kamu minta, semoga bisa kuberikan. Jangan minta sedikit, karena itu untuk menjadikan kita halal bagi masing-masing. Selain juga karena aku khawatir akan tergoda andaikata disodorkan tawaran yang nilai uang bersihnya lebih besar daripada yang kuberikan padamu, ups... :p

F I N

written on 15. Aug 2008, 19.10 WIB - 20.10 WITa - 21.10 WIT - 12.10 GMT he he he...
Untuk istriku kelak, apa ya baiknya? Rumah? Tanah? Sekolah? E90? 1098 Tricolore? Apa ya??? Hm... Waktu kan menjawab... (",)

Rabu, 13 Agustus 2008

Ragu

Ragu, adalah terjemahan dari yeast, digunakan pada adonan roti dan kue untuk membuat roti dan kue mengembang. Ups, maaf. Itu seharusnya digunakan untuk mendefinisikan ragi, bukan ragu. Maaf sekali lagi (",). Seharusnya, "ragu" adalah "dalam keadaan tidak tetap hati (dalam mengambil keputusan, menentukan pilihan, dsb); bimbang" (KBBI, ada tautan menuju ke sana di sebelah kiri, silakan...)

Jadi, pernahkah terlintas keraguan dalam benakmu? Saat kendaraan yang kita tumpangi berada di persimpangan, waktu kita diharuskan memutuskan ke mana kita melangkah, kala tombol "kirim" tinggal satu klik jaraknya. Sejauh yang kutahu tak ada insan yang tidak pernah ragu-ragu sepanjang hayatnya. Hanya besarannya saja, mungkin, yang berbeda-beda, dan kemampuan insan itu menyingkirkan keraguannya untuk kemudian mengambil keputusan yang mantap.

Aku sendiri, syukurlah, masih diberikan keraguan yang cukup besar. Mungkin karena terlalu banyak pemikiran berkecamuk di kepala, sering tanpa penerapan, sampai ide tinggal menjadi ide saja. Mengganggu? Tentu saja. Seorang teman memiliki kutipan favorit: "yesterday is history, tomorrow is mystery, but today is a gift. That's why they call it present.". Menarik, buatku, karena hampir setiap aku menatap ke depan, aku merasa takut. Padahal aku sendiri yang berkata (atau mengutip? Entahlah..) "ketakutan membuat semuanya jadi rumit."

Betul, bahwa masa depan itu belum terjadi. Namun, mengingat kutipan dari temanku tadi: "esok itu sebuah misteri", dan sudah kodrat setiap misteri untuk selalu memancing keingintahuan, ditambah lekatnya manusia dengan sifat ingin tahu, jadilah aku sering menduga-duga, meraba-raba, mengira-ngira, apa yang ada di balik tirai pembatas esok dan saat ini.

Tapi apa yang terjadi? Yang ada adalah ketakutan menghampiri. Ketakutan kalau seandainya aku tidak bisa menyelesaikan Tugas Akhir pada waktunya; kalau seandainya aku tidak lulus pada waktunya; kalau misal aku lulus, akan ke mana aku; kalau sekiranya aku tidak mendapati seseorang untuk menyempurnakan setengah tuntunan Beliau; kalau nantinya kawan-kawan karibku tak mengingatku; kalau....

Ah, kumpulan pengandaian itu menyiksaku. Membuat seolah-olah aku mustahil menapaki masa depan di bawah cahaya, dan hanya gelap yang ada. Wahai Penciptaku, ingat aku engkau menyatakan akan mengamankanku dan yang mengikutiMu, sang Pemilik Rumah Itu, dari ketakutan. Sungguh Engkau tak pernah ingkar --tak sepertiku.

Mungkin yang baik buatku sekarang, nikmati hari ini, siapkan bekal untuk esok, dan tidak perlu mereka-reka apa yang ada di balik tabir pemisah kini dan esok. Karena fajar esok akan datang, bersama matahari yang menerangi dan memperjelas apa yang tak terlihat sebelumnya di balik selubung kini dan esok.

F I N
written on: 13. Aug 2008, 15. 24 WIB
** ...sabar... **

Jumat, 04 April 2008

Pencarian Cepat di Firefox

Pendahuluan

Perambah internet keluaran Yayasan Mozilla, Firefox, merupakan perambah internet paling banyak digunakan untuk mengakses blog-ku yang *ehm* sederhana ini. Kalau dilihat dari statistik blog ini (yang disediakan oleh Google Analytics), dari tanggal 13. März sampai 3. April kemarin, maka perambah berlogo rubah api yang melingkupi bola bumi ini menempati posisi pertama dengan limapuluh dua kali kunjungan. Tigapuluh enam di antaranya berasal dari sistem operasi Windows, lima dari GNU/Linux, dan satu dari MacOS. Tidak penting yah? Maaf kalau begitu. Jadi, sekarang kita lanjutkankah?

Baik, selama perkenalanku dengan dunia komputer dan internet, aku telah menggunakan berbagai perambah. Meskipun mungkin belum semua perambah pernah aku cicipi, tetapi itu cukup memberiku pengalaman yang tak ternilai.

Aku dulu mengenal internet pertama kali dengan Internet Explorer, perambah bawaan sistem operasi Windows. Yah, cukup merepotkan perambah yang satu ini. Jika hendak membuka situs baru, maka harus membuka jendela yang baru lagi. Dan setelah sekarang sudah sangat-amat lama tidak menggunakannya, aku tahu bahwa perambah ini merupakan salah satu yang paling lemah keamanannya, sehingga rawan ditunggangi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab (seperti blogger? Oh, please...) untuk mengganggu komputer kita.

Kemudian aku mengenal yang lain, Netscape (tidak sempat kugunakan karena dulu untuk meng-install-nya harus terhubung dengan internet), Mozilla Firefox (sampai sekarang masih kuggunakan, karena beragamnya tambahan-tambahan program kecil yang bisa mengoptimalkan perambahan di internet), Opera (yang bisa membuka situs WAP dengan mudah. ^_^), Links (perambah berbasis teks. Begini coba bayangkan command prompt di Windows atau terminal di Linux. Nah, kita bisa merambah internet dari situ, ternyata), Lynx (yang aku tidak mengerti cara menggunakannya), juga Konqueror (bawaan lingkungan kerja KDE, sehingga sangat jarang kugunakan).


Menambah fungsi pencarian cepat

Baiklah, sekarang mari kita masuk ke inti permasalahan. Bagi yang sudah terbiasa menggunakan perambah Opera, mungkin mengetahui fungsi ini. Baris alamat (tempat kita mengetik http://arifmaman.blogspot.com, ^_^), bisa digunakan untuk pencarian cepat di situs pencari semisal Google, Yahoo!, juga answers.com. Caranya mudah, ketikkan saja huruf pengenal situs pencari, misal g untuk Google, y untuk Yahoo!, dan a untuk answers.com, lalu diikuti dengan kata kunci yang akan kita cari. Misal kita akan mencari arifmaman di Google, maka kita bisa mengetikkan "g arifmaman" di baris alamat, dan setelah kita memijit tombol "Enter", maka akan muncul hasil pencarian Google tentang arifmaman.

Yah, karena perambah utamaku adalah Mozilla Firefox, dan perambah ini tidak membawa fitur ini dari sananya, aku merasa cukup kehilangan fungsi yang cukup membantu ini. Kemudian, cari mencari ternyata ada dua cara menambah pencarian cepat di Mozilla Firefox.

Pertama dengan ekstensi yang bernama, duh, maaf aku lupa namanya, tetapi yang jelas fungsinya untuk menambah situs di baris pencarian di sisi baris alamat. Mengapa aku lupa? Karena setelah aku memasang tambahan program itu, Mozilla Firefox kesayanganku sering mati mendadak, jadilah kuputuskan untuk tidak menggunakannya lagi dan memutuskan menggunakan cara lain, yang berikut ini.

Nah, cara kedua inilah yang akan membantu memiripkan baris alamat di Mozilla Firefox dengan sejawatnya di Opera. Kunjungi situs yang menyediakan pencarian, misalnya untuk mencari di ftp menggunakan metaftp. Cobalah klik-kanan pada blanko pencarian. Pilihlah "Add a Keyword for this Search". Akan muncul jendela kecil berjudul "Add Bookmark". Berilah nama, lalu pastikan blanko kata kunci diisi. Blanko kata kunci ini bisa diisi sesukamu, tetapi pada contoh kita ini, anggaplah kita beri nama "metaftp FTP search", dan kita beri kata kunci "m". Lalu, saranku adalah buatlah direktori untuk meletakkan yang semacam ini kelak, misalnya "Quick Search", lalu tutuplah jendela ini dengan meng-klik tombol "add". Kemudian, uji cobalah. Ketikkan "m tarzan" pada baris alamat untuk mencari berkas yang mengandung kata tarzan di ftp. VoilĂ ! Kita akan dibawa ke situs metaftp yang sudah sekaligus memunculkan yang kita cari.

Penutup

Pada dasarnya, trik ini bisa dipergunakan untuk banyak situs yang menyediakan pencarian sederhana (entah dengan yang menyediakan pencarian khusus), termasuk juga Perpustakaan UI, hore! Bila ada beberapa situs yang tidak bisa diakali dengan cara ini, mungkin kamu bisa bertanya langsung ke pengelola situsnya (:p). Alasan yang lebih logis menurutku adalah karena kamu harus memasukkan parameter-parameter tertentu pada pencarian itu. Yah, semoga sedikit dariku ini bisa membantu.

F I N
dunno, why it's just today. I think the word above rhymes perfectly with
F U N

^_^

Rabu, 31 Oktober 2007

Tulisan Spontan

Entah berapa lama sudah aku menulis di blog. Baik di sini, di sini, maupun di sini. Selama itu pula (sampai tulisan ini ditulis, kecuali di tempat terakhir -kalau kamu bisa menemukannya :p) aku tidak pernah menulis on-line. Yang selalu kuperbuat adalah, membuat draf di waktu senggang, kemudian mengunggahnya ketika sudah terkoneksi.

Pertama masalah memakan waktu. Dulu, ketika masih terhubung ke internet dengan koneksi dial-up, waktu terlalu berharga untuk menghadapi penyunting teks di masing-masing situs. Memang lebih mudah mengerjakan berbagai macam perubahan format di penyunting teks yang tersedia, tetapi sekali lagi masalah waktu, dan alasan berikutnya.

Kedua, aku menyukai tantangan, dan tantangan dalam menyunting tulisan secara off-line adalah bagaimana agar dari (sedikit) kode-kode yang kuingat, bisa tampil lumayan di blog-ku. Memang sedikit aneh pada mulanya, melihat dari kode-kode , dan lainnya bisa "menghilang" dan digantikan dengan format-format seperti tulisan miring, tebal, tautan, dan lainnya.

Ketiga, ide tak datang setiap saat, tetapi setiap saat, ide bisa datang. Jadi, kupilih "jaring penangkap ide"-ku adalah penyunting teks bawaan sistem operasi (bisa notepad, atau gedit).

Tapi sekarang, hm... Mungkin bisa kunafikan masalah waktu koneksi dengan adanya koneksi tidak tak terbatas di kampus (senangnya jadi mahasiswa :D). Jadi, (kalau ada yang mau) nantikan tulisan (spontan) selanjutnya dariku ya?

Ditulis setelah 'dicambuk' iLm@n cs dengan gerakan yang banner-nya kupasang di samping itu.

F I N
written on 31. Okt 2007
Almost 1. Nov 2007.

Kamis, 12 Juli 2007

Post Pertama (di Blog yang Kedua), Mohon Bantuannya!

Iya, maaf belum ada tulisan sendiri, dalam beberapa waktu ke depan aku mulai nulis sendiri deh...

Ini artikel (atau post ya?) dari Bapak I Made Wiryana, salah satu "aktivis" (kalau boleh dibilang begitu) Linux dan FOSS (Free and Open Source Software) yang tinggal di Bielefeld, Jerman (maaf kalau data sudah berubah). Mungkin sebagai perbandingan dengan keadaan di sini saja, ya? Selamat membaca!

############################################################################

Banyak jalan menuju Roma, banyak jalan menuju Uni

Suatu hari saya dan Anthi ke rumah mbak Nanik, salah seorang kenalan saya. Mbak Nanik ini baik sekali, sering menghibahkan peralatan, wajarlah sebagai mahasiswa di rantau, harus bisa mengirit. Rupanya salah satu anak gadisnya sedang ada di rumah. Dia baru saja selesai ujian akhir SMA (Abitur dalam istilah Jerman-nya). Sembari makan siang, kami ngobrolin apa yang akan dilakukan si Tina ini, setelah ujian SMA-nya.

Tina yang tergolong manis tapi "sehat" ini (tampang seperti Tina ini mungkin bisa jadi pemeran sinetron kalau di Indonesia), memutuskan tidak langsung kuliah, baik ke Fachhochschule - FH (semacam Politeknik) atau ke Universitas. Karena dia ingin mencari pengalaman kerja terlebih dahulu. Istilahnya dia mau mengambil jalur "Ausbildung" terlebih dahulu. Hal ini lazim dilakukan oleh orang Jerman. Langkah ini lazim dilakukan bila seseorang ingin memastikan di bidang apakah dia ingin kuliah dan bekerja nantinya.

Di Jerman anak lulusan SMA sudah dianggap bisa memutuskan masa depan mereka sendiri. Mereka akan menentukan sendiri apa yang paling baik bagi mereka. Bila mereka rasa ingin langsung kuliah di Universitas, mereka akan memilih jalur itu. Tetapi bila mereka tidak ingin jadi "researcher, atau akademisi", tetapi ingin terjun ke industri, mereka akan mengambil jalur Fachhocshule. Begitu juga bagi mereka yang ingin ambil pengalaman dunia kerja (dunia nyata) terlebih dahulu, mereka akan melakukan Ausbildung. Jadi tidak perlu merasa kehilangan gengsi bila selesai SMA tidak melanjutkan kuliah. Dan masa depan juga tidak akan menjadi suram.

Tina ingin mencari pengalaman di bidang teknologi dan disain media. Kebetulan bidang ini tergolong baru, jadi perusahaan yang mengkhususkan diri di bidang ini masih sedikit di daerah saya. Memang ada perusahaan Bartelsmann (perusahaan media International) berpusat di dekat kota saya (di kota Guttersloh). Tetapi perusahaan kecil lainnya masih sedikit. Untuk itu Tina harus aktif mencari tempat dan kesempatan Ausbildung di perusahaan-perusahaan sekitar Bielefeld.

Langkah pertama adalah ke Arbeitsamt (Departemen Tenaga Kerja). Di sana diberikan daftar perusahaan di bidang yang diminati dan berada di sekitar Bielefeld. Setelah itu, Tina langsung mengirimkan surat "lamaran" ke perusahaan tersebut. Karena program Ausbildung di perusahaan-perusahaan ini adalah bertujuan untuk memberikan ketrampilan kepada masyarakat, maka tentu saja tidak disyaratkan bahwa calon pelamar harus sudah memiliki ketrampilan tertentu. Program Ausbildung ini dimanfaatkan bagi siswa SMA atau lulusan SMA untuk memperoleh skill bekerja.

Setelah dia mendapatkan surat panggilan dari perusahaan, dia datangi perusahaan itu. Wah dia senang sekali dengan suasana kerjanya, walau di tempat kecil, bukan di tengah kota. Tetapi suasana kerjanya menyenangkan, dan yang paling penting, dia bisa belajar banyak. Setelah menyelesaikan Ausbildung maka dia akan ujian dan memperoleh sertifikat yang diakui di perusahaan sejenis. Ujian sertifikat ini dilakukan di perusahaan tersebut, tetapi jelas tidak semua perusahaan boleh menyediakan tempat untuk Ausbildung. Hanya mereka yang memiliki Meister yang boleh. Perusahaan ini kecil pegawainya cuma enam, tetapi sudah mau "menyediakan" tempat dan dana untuk Ausbildung. Selama Ausbildung maka peserta Ausbildung akan memperoleh semacam "gaji" yang cukup untuk satu bulan. Tentu saja gaji ini tidak sejumlah gaji pegawai tetap. Tina tampaknya menyukai bidang media dan dia makin yakin untuk kuliah di bidang ini nantinya.

Ruly, salah seorang anak Indonesia lain lagi jalur hidupnya. Dua tahun sebelum dia menyelesaikan sekolah SMA (biasanya diakhiri dengan Abitur). Dia memutuskan untuk menunda sekolah SMA-nya dulu. Lalu dia mengikuti Ausbildung di perusahaan mesin Bullhof, karena dia ingin bekerja di bidang mesin nantinya. Setelah kurang lebih 2 tahun dia sudah menyelesaikan Ausbildungnya, dan telah mengantongi sertifikat. Ketika ujian Rully ini mendapat tempat terbaik di negara bagian NRW, dan mendapat hadiah boleh ikut pelatihan extra, seharga beberapa ribu DM per tahun.

Setelah menyelesaikan Ausbildung, dia memilih bekerja di Bullhof. Biasanya setelah Ausbildung, orang bebas menentukan apakah dia akan bekerja di persh itu atau tidak. Walau dia sudah mendapat gaji selama Ausbildung (jadi mirip "beasiswa") tetapi tanpa ikatan dinas. Jadi setelah menyelesaikan Ausbildung di perusahaan tersebut, orang boleh memilih untuk tetap bekerja di perusahaan itu atau mencari perusahaan lain. Dengan tetap bekerja tetap di Bullhof, Ruly meneruskan sekolahnya. Karena bekerja pagi hari hingga siang, dia memilih meneruskan di Abendgymnasium (sekolah malam). Setelah kurang lebih 2 tahun dia kini telah mengantongi ijazah Abitur, dengan kata lain dia sekarang berhak untuk masuk ke Universitas. Tetapi hal itu tidak dilakukan karena dia ingin melakukan beberapa hal sebelum masuk ke Uni.

Tahun depan, karena dia pernah mendapat hadiah untuk ikut pelatihan gratis tersebut, Ruly memilih untuk mengambil kursus bahasa Inggris di luar negeri. Pilihannya mungkin di USA. Melihat negeri lain ini lazim dilakukan siswa/mahasiswa Jerman, biasanya mereka memilih kesempatan untuk melakukan Auslandstudium (belajar 1 atau 2 semester di luar negeri) ataupun Auslandpraxis (praktek kerja di luar negeri). Hal ini mereka lakukan sendiri, dan harus dibiayai sendiri (bukan kewajiban sih, tetapi seperti menjadi keharusan). Kadang demi menangguk pengalaman Auslandstudium ini, para mahasiswa harus mengencangkan ikat pinggang, bekerja paruh waktu dan lain sebagainya. Yang namanya mengirit demi bisa ke luar negeri, sangat mengirit sekali. Dari pagi sampai malam hanya makan roti gelap yang murah. Tetapi mereka sadar bahwa ini semua untuk masa depan mereka, maka mereka rela melakukannya.

Di samping karena ingin mengikuti kursus, Ruly juga perlu menunggu agar bisa memperoleh Bafog. Bafog adalah salah satu bantuan dana dari pemerintah untuk orang di Jerman agar dapat melanjutkan kuliah. Bafog ini dapat diperoleh dengan dua cara, misal dengan melihat penghasilan orang tua. Sehingga hanya mereka yang memiliki orang tua penghasilan pas-pasan (ukuran Jerman) saja, yang akan memperoleh Bafog. Tetapi Bafog ini juga bisa diperoleh tanpa terkait dengan penghasilan orang tua yaitu setelah orang tersebut bekerja minimal 6 tahun.

Setelah memperoleh BaFog maka dia bisa kuliah dengan lebih tenang, karena setiap bulan akan memperoleh dana untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Sedangkan untuk uang kuliah tidaklah menjadi masalah, karena di Jerman uang kuliah adalah gratis, baik untuk warga negara Jerman ataupun bukan. Tetapi ini bersifat pinjaman, yang harus dikembalikan ke pemerintah setelah mahasiswa tersebut bekerja. Mahasiswa juga ada batasan, selama berapa lama dapat memperoleh dana Bafog ini.

Jadi dalam benak seorang "lulusan SMA" di Jerman ini, tidak hanya ada jalur yang tunggal, yaitu selesai SMA, lalu kuliah. Sehingga timbul kesan pokoknya kuliah, nggak tahu kuliah apa, yang penting nggak malu dengan tetangga. Mau berangkat kuliah terus di kampus cuma he. he. he. di lapangan parkir itu nggak penting, yang penting harus kuliah setelah lulus SMA. Titik... karena kuliah penting.. untuk pergaulan.

Ausbildung ini salah satu model pendidikan yang "khas" di Jerman. Merupakan salah satu pola kerjasama "win-win" baik bagi perusahaan ataupun tenaga kerja. Tampak bahwa, pengembangan pendidikan di Jerman ini bebannya dibagi, tidak saja menjadi tugas lembaga pendidikan, tetapi juga masyarakat dan industri. Masyarakat (mahasiswa) dalam hal ini sudah bertanggung jawab untuk memperkaya pengetahuannya misal dengan berinisiatif mencari kesempatan Auslandpraktikum ataupun Auslandsemester.

Industri merasa bertanggung-jawab dengan menyediakan bantuan untuk pendidikan, tempat untuk Ausbildung, dan sebagainya. Jadi industri tidak hanya "teriak-teriak" lulusan Universitas tidak siap pakai, tetapi juga aktif membantu lembaga pendidkan (Uni atau FH), membantu masyarakat agar bisa jadi siap pakai. Memang terasa seperti mau enaknya sendiri, kalau industri tinggal enaknya saja menerima tenaga siap pakai, tetapi sedikit memberikan bantuan ke lembaga pendidikan untuk mempersiapkan anak didik. Bukan berarti Industri itu "panti asuhan", tetapi memang mereka menganggap semua itu adalah investasi masa depan. Sedangkan pemerintah relatif hanya menyediakan peraturan yang memayungi dan memfasilitas agar proses ini dapat berjalan dengan mulus.

Mungkin itu disebabkan Jerman memiliki model relasi industri-tenaga kerja yang berbeda dengan negara lain. Kali lain mungkin saya akan melamunkan masalah perbedaan ini.

Bielefeld, 21 Juni 2002
I M W

dari http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/~made/

############################################################################

Jadi agak malu kalau melihat paragraf keempat dari belakang, semoga aku bukan salah satu yang beliau maksud, ya?

--
komentar atau apapun selalu dinanti...