Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Februari 2011

Lensa baru (tapi lama)

3. Februar 2011. Hari itu tanggal merah, hari libur. Entah untuk apa ya? Yang jelas, dari malam sebelumnya, kawanku Nagy memberi informasi yang berharga - sangat. Dia memberitahukan bahwa di sebuah forum internet ada yang menjual lensa kamera yang lama kuidamkan. Nama lengkap lensa itu: Canon EF 200 mm 1:2.8L II USM. Lensa tele (sudut pandang lebih sempit dari sudut pandang mata manusia), prime (bukan vario, hanya memiliki satu panjang fokus nominal) ini masuk dalam daftar peranti yang diperlukan untuk menunjang keperluanku di fotografi olahraga.

Pada pagi harinya, aku berangkat ke rumah orang yang menjual lensa tersebut. Sedikit kabar bahwa ternyata istrinya belum lama jatuh sakit. Entah berhubungan dengan niatnya menjual beberapa lensa miliknya atau tidak. Satu hal bahwa beliau adalah seorang fotografer yang berspesialisasi di fotografi produk. Studionya ada di sebelah rumahnya di sebuah perumahan di bilangan Cibubur. Meski demikian, beliau sendiri 'terpaksa' terjebak di macetnya Jakarta meskipun memiliki studio sendiri. Kendalanya adalah, klien yang terkadang tidak memiliki kesempatan untuk menyambangi studionya.

Satu hal lagi, beliau mempunyai anjing. Entah anjing apa jenisnya, seingatku dinamai Tego. Anjingnya BESAR. Tadinya saat aku tiba, anjing tersebut 'disekap' di kamarnya, tetapi entah siapa yang membukakan pintu, anjing tersebut turun langsung dan 'menyerbu' pemiliknya. Alamak jang! Sontak aku terlompat dan komat-kamit. Memang beliau meminta maaf dan aku maafkan, tetapi tetap saja. Anjing. *bergidik*

Ya cukup tentang latar belakang pemilik sebelumnya, kita langsung ke lensanya saja. Jadi lensa tersebut dalam keadaan baik - sangat baik malah. Bahkan dus, bukti pembelian, serta kelengkapan-kelengkapan lainnya ada tersimpan sangat rapi. Setelah beberapa menit melihat dan mengetes lensa tersebut dengan Twendy (kameraku), aku tidak mendapati adanya malafungsi ataupun kerusakan. Jadilah sejumlah uang berpindah tangan ke Mas Seno (pemilik lama lensa tersebut), dan lensa pun kurapikan dan kubawa pulang.

Sampai di rumah, langsung saja lensa diabadikan dulu dengan saudara kecilnya. Sekaligus mengobati penasaranmu mungkin, ini lensa yang kutebus waktu itu.



Ya, kemudian keesokan harinya adalah hari gladi bersih wisuda, dua kawanku Putri dan Reza (sebetulnya Reza saja) menghadiri gladi bersih wisuda pada hari itu. Reza (juga Putri) memintaku mengambil gambarnya, jadi ya tidak mengapalah. Ini yang kuambil dengan lensa baru tersebut.



Kemudian, pekan depannya, ada kesempatan emas uji lapangan (secara harfiah). Kesempatan tersebut hadir pada pertandingan NBL Indonesia Seri V Jakarta di Hall A Senayan. Jadilah aku mengajak adikku Icha untuk ikut serta. Dari informasi yang kudapat, HTM pertandingan tersebut adalah 20 ribu rupiah, tetapi dengan semacam voucher mendapat korting setengah harga. Kenyataannya? Tanpa voucher pun HTM pertandingan tersebut tetap sepuluh ribu rupiah. Ha ha..

Pertandingan yang kami tonton adalah antara Dell Aspac Jakarta melawan Satria Muda Britama Jakarta (yang saat itu disiarkan langsung oleh salah satu televisi swasta juga). Berhubung sudah lama sekali sejak terakhir mengikuti perkembangan olahraga basket tanah air, jadilah agak-agak ada kehilangan informasi mengenai siapa saja pemain yang ikut serta, dan kira-kira tingkat 'kebintangan' pemain tersebut. Jadi, hajar saja lah. Ini beberapa di antaranya. Lebih lengkap lagi ada di album di akunku di situs jejaring sosial biru tua (klik).



Dan sebelum kita akhiri tulisan ini... Dewi malam.


Lalu terakhir, rencana ke depan: Setiap pertandingan timnas sepakbola Republik Indonesia, kejuaraan badminton seri super Indonesia Terbuka, ... Dan masih banyak lagi sebanyak informasi yang mudah-mudahan kudapat. Sudikah membantuku? Terima kasih, ya!


--
F I N
written on 19. Feb 2011, 15.45 WIB (UTC +7), 16.45 WITa (UTC +8)
And this lens captured her picture, and It's not exactly what I wanted. :(

Kamis, 10 Februari 2011

Setahun bersama (9/Habis): Nov-Dez

Ah, sampai juga di akhir perjalanan kita setahun. Minta maaf atas keterlambatan yang amat sangat ini. Jadi November dan Dezember kalau boleh aku beri tema adalah bulan hasrat. Di sini aku menemukan hasrat yang bangkit setelah setahun hampir bersama dengan Twendy: Foto olahraga dan lanskap perjalanan. Hmm.. Yang terakhir ini agak meragukan. Nanti kita lihat sama-sama apa yang aku dapatkan. Langsung saja yuk.

November. Di pertengahan November kami berkumpul. Saat itu kami sekeluarga mengantar adikku Ica yang akan kembali ke Jogja selepas 'mengungsi' karena meletusnya Gunung Merapi. Sebelum kereta berangkat (dan menunggu tiket yang diantarkan karena ternyata tertinggal di rumah), kami (Ibu, Ica, aku, dan sepupuku Kak Dilla) menyempatkan berjalan berkeliling tugu kebanggaan warga Jakarta: Monumen Nasional alias Monas. Monas di waktu malam (libur) ternyata ramai. Keramaiannya, ehem, bukan spesialisasiku. Yang kudapat malah foto di bawah ini, diambil dari silang tenggara Monas, dekat pintu terdekat dari Stasiun Gambir.



Mengenai Monas di kala siang hari sendiri, aku ada pernah menuliskannya di sini. Ah, ini dia. Terbagi dalam dua tulisan. Silakan.

Kemudian sepekan-an kemudian saat hari ulang tahun Ayah 22 November, hujan turun dengan derasnya diiringi kilat dan petir menyalak bersahut-sahutan. Ah, setelah foto tetes air yang cukup sukses dibuat secara teknis (secara artistik masih jauh), sebetulnya ada setidaknya satu yang belum kesampaian: Foto kilat. Ya, kilatan cahaya yang mengagumkan menerangi gelap langit di sela-sela hujan itu secara teoretis mudah. Akan tetapi kesempatan yang memang cenderung kecil dan risiko yang terbilang besar menyulitkan mendapatkan foto seperti ini.



Tidak begitu bagus, tapi hei... Aku dapat gambarnya kan? He he. Jadi ini sebetulnya yang kecil. Yang spektakuler, kalau boleh kudeskripsikan ulang, memiliki cabang besar tiga, yang masing-masing terbagi tiga lagi, dan cabang-cabang itu ada lagi cabang yang lebih kecil lagi. Hanya saja, saat kilat itu menyambar. Suara gemuruhnya memekakkan telinga, dan udara seperti bergetar dihela guntur tersebut. Aku yang setengah bersandar di pagar beranda atas rumah kami dengan telunjuk siap di tombol rana justru langsung terpana dan tidak jadi menekan tombol rana. Setelah itu, hujan mulai mereda dan petirnya juga. Barulah foto di atas itu bisa terambil, dengan aku surut, alih-alih bersandar di pagar, malah lebih mendekat ke rumah. Kira-kira itu cerita di balik gambar kilat yang (akhirnya) bisa kudapatkan.

Kemudian, hasrat lain terkait soal perasaan. Ya, ya. Aku terlalu perasa sepertinya. Dan kemarin dulu sudah kutuangkan hampir semua ceritaku di lamanku ini. Kamu tahu siapa kamu. Dan salah satu yang kukira bisa mendekatkan kami adalah, yah, acara malam keakraban tahunan jurusan kami. Aku datang sebagai alumnus kali itu, dan yang ada malah reuni dengan teman-teman Metal 2005. Ini kami. Foto diambil oleh, um, Ardiles J. Sitorus, Metal 2008 (?).



Ah, November kelabu. Meskipun ada satu dari November ini yang termasuk favoritku juga. Foto tumbuhan sih, lumut (kerak?) yang tumbuh di tanah di tepi jalan Cisarua. Mengingatkan bahwa kehidupan juga ada di bawah sana.



Maaf agak filosofis. Tapi kira-kira begitulah November berlalu. Agak sakit juga kalau ada sesuatu yang tidak terungkapkan. Maaf.

Baiklah. Beranjak Desember, bulan yang aktif. Bulan ketika Twendy tepat setahun bersamaku. Kalau dibuat tematik, Desember itu bulan jalan-jalan dan keluarga. Ya, dan kerjaan (dan utang) mencetak foto dan menyalin CD jalan-jalan keluarga Metal belum dilunasi. Ugh. Oke. Di akhir pekan pertama Desember, kami (Udin, Uthy, Aku, Reza, Mbak Esti) mengunjungi Bandung, alias Parijs van Java, dalam rangka survei untuk jalan-jalan keluarga besar Jurusan Metalurgi. Oke. Ditodong, lebih tepatnya. Hasil survei dirahasiakan (supaya terkesan fropesional), tetapi ada dua foto ini yang bisa kubagikan dari Bandung.



Kemudian, dua pekan berikutnya, adik sepupuku Fauzan (tidak muncul di foto di bawah ini) dan klub sepakbola yang dibelanya berpartisipasi dalam turnamen Piala Garuda. Di sini terbuka kesempatan yang lama belum nampak. Aku punya mimpi, kalau boleh aku ceritakan, untuk duduk di tepi lapangan bola sepak di kejuaraan Piala Dunia, atau di pinggir sirkuit balap mobil Formula 1 atau MotoGP. Ah, masih jauh lah. Yang jelas, foto di bawah ini tim utama SSB GOR Ragunan yang bermain pada 19. Dez 2010 dan 26. Dez 2010. Foto-foto lain bisa dilihat di galeri flickr ini.



Dan terakhir sekali, wisata! Di tanggal merah akhir tahun aku ikut serta bepergian ke Sukabumi, dan kemudian ke Palabuhan Ratu. Lebih tepatnya ke daerah Karang Hawu. Saat di sana, cuaca cerah terik menjelang siang - meskipun akhirnya berganti segera dengan hujan deras di pertengahan hari.

Pantai Karang Hawu adalah pantai berkarang - yang sempurna untuk mengambil foto. Meskipun disayangkan juga karena kami baru tiba menjelang siang, saat mentari telah tinggi karena memutuskan sarapan terlebih dahulu. Ini foto-foto dari kawasan pantai di Palabuhan Ratu.




Yah, kira-kira itu perjalanan setahun kami bersama. Setahun yang penuh warna (dan hitam putih juga). Setahun yang menyenangkan, meskipun tidak begitu menyenangkan kalau "setengah dipaksa" menjadi seksi dokumentasi. Kalau sepenuh hati, apalah yang tidak menyenangkan, toh? :)

**

Dan setelah setahun sebulan lebih, akhirnya Twendy dan si mini 50/1.8 II, serta Siggy 'warisan' ayah mendapat teman baru. Siapa gerangan dia? Ah... Izinkan aku bernapas sebentar. Setelah ini. He he..


--
F I N
Written 'til 10. Feb 2011, 17.45 WIB (UTC +7), 18.45 (UTC +8).
My love to you, Twendy, will not subside -- I hope. Just like mine to, err.. Okay. That Fair Lady from afar. *blush*

Minggu, 09 Januari 2011

Setahun bersama (8): Sep - Okt

September ceria, kalau mengambil satu judul lagi. Ya, pada September itu jatuh juga hari 'Id Fitri. Selain itu, aku menemukan kembali secercah hasrat yang sempat teredam: Bola sepak. Tidak, aku hanya bisa bermain bola seadanya saja. Hanya untuk bersenang-senang saja. Bukan kegiatan kompetitif, bukan juga hal yang rutin. Kali ini dari tepi lapangan. Mengabadikan apa-apa yang terjadi di lapangan, menangkap momen, membekukan emosi. *halah*

Acara yang aku hadiri adalah kejuaraan Liga U-14 yang disponsori oleh Kompas-Gramedia. Kejuaraan ini mengikutsertakan 16 klub (atau 18, aku kurang ingat. Maaf) dengan sistem setengah kompetisi, atau masing-masing tim hanya bertemu satu sama lain hanya satu kali. Pada akhirnya keseluruhan liga yang diselenggarakan AS-IOP APACINTI ini dimenangkan oleh tim tuan rumah, sekaligus menorehkan rekor kebobolan paling sedikit (atau tidak kebobolan sama sekali, aku lupa juga). Hanya satu kali itu memang aku berkesempatan mampir ke Lapangan A kawasan Gelanggang Olahraga Bung Karno, Senayan. Ini salah satu yang terbaik yang aku dapatkan.

Adapun September berlalu tanpa banyak cakap (dan foto) dan masuklah Oktober. Bulan baik mungkin ya? Dibuktikan dengan menikahnya orang-orang yang ada di sekitarku di awal dan akhir bulan itu. Diawali pada hari kedua bulan itu, ada dua undangan yang terpisah jaraknya sekitar 150km. Yang pertama adalah dari Om Deni, dosen kami yang melepas masa lajangnya di bilangan Tanjung Barat. Di sana, seperti biasa, banyak pertemuan dengan kawan-kawan dan ini salah satu fotonya. (NB: foto pengantinnya malah tiada. He he)

Dan 6 jam setelah acara tersebut, undangan kedua berasal dari kawanku masa SMP, Atika yang menikah dengan seorang Polisi. Di mana? Di Bandung. Ya Allah... Syukurlah sekarang telah ada jalur tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang-Bandung-Cileunyi. Jarak 150-an kilometer tersebut bisa ditempuh dalam kurang 3 jam. Dan sesampai di sana, aku berubah modus menjadi pejalan kaki. Betul ada angkutan kota di kota Bandung, namun berhubung sendiri dan tiada paham medan, jadi lebih baik berjalan kaki. Masalahnya, saat aku tiba adalah saat Ashar. Berjalan kaki mencari masjid/mushalla di tepi jalan besar di Bandung ternyata bukan perkara mudah. Berjalan sepanjang jalan Buah Batu & Terusan Buah Batu, akhirnya ditemukan satu di dalam kawasan pemukiman. Dan itu sekitar satu jam berkeliling. Wah....

Oke, setelah kemudian berjalan ke arah lokasi resepsi, waktu Maghrib pun menjelang. Berhubung tempat acara di tengah pemukiman, maka cenderung lebih mudah mencari masjid di sana di Batununggal. Caranya, ikuti saja langkah bapak-bapak bersarung rapi. He he.

Lepas Maghrib dan berganti kostum, berjalan lagi aku ke dalam - yang ternyata cukup jauh juga, kira-kira dari gerbang utama UI sampai ke Fakultas Teknik kalau lewat Stasiun UI. Nah sesampai di depan lokasi, terkesima aku mendapati megahnya gedung, banyaknya tamu bermobil, dan jumlah polisi yang mengawal dan mengatur lalu lintas ke lokasi. Lebih hairan lagi ketika melihat sebuah Benz SLK perak di dekat penjaga tamu yang telah dihias dan diparkir pada posisi siaga. Itu? Mobil pengantin? Untung tiada pingsan di tempat.

Belum sirna keterkejutanku, saat aku masuk ke gedung tersebut, apa yang aku lihat? Juru kamera bertebaran di mana-mana. Kalau sekedar juru kamera mungkin tidak membuat terkesiap, tetapi mendapati belalai kamera (yang lebih umum terlihat di belakang gawang pada pertandingan sepakbola) dalam gedung itu membuatku tercekat dan baru mulai berpikir. Siapa sebetulnya mempelai pria ini. Apalagi, setelah acara benar-benar dimulai, ada Dewi Yull, Ermi Kullit, dan Kang Ebet Kadarusman sebagai pengisi acara, dan wakil kepala polisi Nanan Sukarna. Semakin lengkap saja rasa penasaranku. Supaya kamu tak ikut penasaran, ini mereka: [pangkat aku tidak begitu ingat] Aulia Mulyana Abdul Jabar & Atika Rachimi Wijayanti.

Selidik punya selidik, setelah tiba di rumah tengah malam itu, ternyata ayah mertua Atika adalah Irjen Pol. Dikdik Mulyana. Oh, pantas saja. He he.

Lalu ada acara besar, semacam "Hunting Wajib Besar" kalau di kelompok pelajar pecinta fotografi (KPPF) SMAku dulu yang digelar pertengahan Oktober. Aduh, sebelum disebut mencatut, aku bukan anggota kelompok tersebut, aku ada di seberangnya kok di kubu Paskibra. Meskipun dulu sebetulnya ingin. Ah, baiklah. Acara tersebut bertajuk "Jakarta Street Hunting (JaSH) VI". Acara ini digelar oleh fotografer.net, sebuah laman berbahasa Indonesia (pada umumnya) yang mewadahi pecinta fotografi dari seluruh dunia.

Rute tahun kemarin masih seputaran kawasan Kota Tua Jakarta, dan tahun ini aku pergi bersama kawanku SMA, Nugroho yang belum lama sebelum acara tersebut baru membeli kamera RLT digital. Welcome aboard! Ini salah satu yang kudapatkan dari perjalanan setengah hari tersebut.

Lalu di bulan Oktober diakhiri dengan pernikahan lagi. Kali ini rekanita seangkatanku, Dian, menikah. Seperti biasa, selain makan dan mengobrol, acara resepsi juga menjadi acara reuni terselubung. Kawanku yang bertugas jauh-jauh di Batam, Palembang, Kalimantan pun dapat disatukan di acara itu. Ini mereka, angkatan 2005 dan angkatan lainnya.

Dan ini Martha, prodigy dari angkatan kami, dalam foto potretku yang cenderung tidak disengaja tetapi berakhir cukup baik.

Kira-kira itu yang berlalu di September-Oktober. Tanpa terasa sudah 10 bulan sejak akuisisi Twendy di senjakala akhir Desember itu. Sedikit demi sedikit, hasrat pun mulai timbul kembali. Dan makin jelas juga genre apa yang tidak disukai Twendy (baca: yang punya Twendy). Nantikan edisi terakhir "Setahun Bersama", beberapa saat lagi. He he...


--
BERSAMBUNG
written on 9. Jan 2010, 08.15 WIB (UTC +7), 09.15 WITa (UTC +8)

Selasa, 04 Januari 2011

Setahun bersama (7): Jul - Aug

Setelah Mai dan Juni yang penuh warna dari berbagai tempat, Juli dan August - kalau boleh aku berikan gelar - layak ditahbiskan sebagai bulan eksperimen dan reuni. Eksperimen di kamar, dan eksperimen di lab tentu saja.

Dari bulan Juli tak banyak yang bisa kuperlihatkan, hanya dua foto ini. Foto hasil 'pindaian' dari film yang pertama, dan yang kedua adalah foto makro hasil eksperimen dengan menumpuk dua lensa yang aku miliki. Obyeknya, berhubung gabungan lensanya hanya diperkuat isolasi plastik dan sangat rawan lepas, maka dipilih yang mudah (relatif): tutup lensa. Ha ha.

Yak, Juli terbukti bukan bulan produktif bersama Twendy, meskipun (mestinya) langit biru cerah (tambahkan sedikit awan untuk aksen) dan suasana liburan. Ah, soal liburan, ini jangan dibahas. Membuat iri saja. Baiklah, mari beranjak meninggalkan Juli dan menyambut August. Bulan ini mestinya spesial, selain karena bertepatan dengan bulan Ramadhan, di akhir bulan juga ada acara Wisuda dua orang yang berarti buatku: Santi W, SE dan Ns. Dina NS. Lebih lanjut setelah ini ya, ada tiga prekursor yang kubuat di lab dulu di antrean. He he.

Selain eksperimen dan percobaan, demi keseimbangan maka jalan-jalan tentu sangat disarankan oleh dokter (dokter siapa? He he he). Pertengahan August, kami menyempatkan pelesir ke Bogor. Kami sekeluarga, minus Ifa yang berangkat ke Bandung untuk persiapan perkuliahannya. Ini saat kami di Tajur, sentra produk kerajinan kulit yang *sepertinya* cukup terpandang.

Ya, masih dari 'pelesir' kami, selain Bogor, kami juga melaju ke Ibu Kota Priangan: Bandung. Tujuan utama sebetulnya adalah mengantar barang-barang yang diperlukan Ifa, tetapi tidak lupa berjalan-jalan dan makan-makan toh? Ini saat di rumah makan "Bancakan", dengan nuansa tradisional dan antik direfleksikan penggunaan alat makan dari kaleng. Mungkin juga karena piring kaleng tiada akan pecah tatkala jatuh, entahlah.

Dari Bandung, Ayah, Ibu dan aku melompat lagi ke Sukabumi. Di daerah Cibadak sebetulnya. Berhubung diniatkan untuk berburu foto di pagi hari, maka aku bisa terbangun di dinginnya udara pegunungan di rumah peristirahatan adik ayahku. Ini salah satu oleh-oleh dari sana, pemandangan pagi hari gunung Gede [entahlah, asal sebut saja].

Nah, mengakhiri August, ada Wisuda yang tadi aku sebutkan sedikit. Yang pertama sebetulnya Wisuda si Santi, "adik asuh" saat aku Paskib di SMA dulu. Aku sudah berjanji sebenarnya, tetapi sayangnya, waktu itu ada rapat menjelang kedatangan tim untuk memberikan penilaian ke Jurusan, dan sayangnya lagi, Wisuda si Santi berlangsung di pertengahan pekan. Kamis kalau tak salah. Ah. Minta maaf sekali ya, San. :(

Oh, Wisuda di kampus kami sendiri memakan waktu tiga hari dalam satu (akhir) pekan. Hari pertama, itu tadi, Wisuda Sarjana, hari kedua program ekstensi (kalau tak salah), dan hari ketiga untuk program pascasarjana dan profesi. Nah, yang terakhir ini aku berkesempatan hadir. Untuk Mbakku Ners Dina yang sudah menempuh program profesi dengan segala seluk-beluknya. Ternyata selain dengan Mbak Dina dan Bang Benny yang sudah entah berapa tahun berpacaran, ada juga teman-teman lamaku Putri alias Phuce dan Hanifa. Yang terakhir ini malah spesial didatangkan dari Jepang. He he he. Maksudnya, Hanifa ini sedang berkuliah di Jepang, dan sedang liburan ke RI ketika itu. Ini mereka, Phuce, Hani, wisudawati Ns. Dina, dan karib mereka Riesca (atau Chekka).

Dan penutup manis di bulan August sebelum aku mengistirahatkan Twendy selama 10 hari terakhir Ramadhan adalah... REUNI SD! Oh, kalau setahun sebelumnya di Anyer hanya beberapa gelintir yang hadir, kali kemarin adalah yang terbesar yang dapat kami kumpulkan. Setidaknya 20 orang dari 96 orang pada angkatan kami hadir di Resto "Rumah Solo" di pusat makanan Joglo @ Kemang. Tentu saja fotonya ada cukup banyak di, um.. Di sini. Yang jelas, ini salah satunya.

Juli, August, banyak kenangan terbangkitkan, dan kreatifitas (baca: keisengan) tergelitik. Tapi tetap saja, selama delapan bulan bersama Twendy, masih belum ditemukan juga yang betul-betul menggembirakan hati saat bersamanya. Tenanglah, perlahan tetapi pasti akan ditemukan. :)


--
BERSAMBUNG
written on 04. Jan 2011, 19.08 WIB (UTC +7), 20.08 WITa (UTC +8)

Senin, 03 Januari 2011

Setahun bersama (6): Mai - Jun

Ah, maaf penundaannya. Sekarang, mari berlanjut menilik apa yang terjadi selama setahun Twendy bersamaku. Coba kuingat dulu, bulan Mai kemarin berwarna-warni. Secara harfiah. Diawali eksperimen sekadar membuktikan kalau foto tetesan air bisa dibuat dengan peralatan seminimal kamera dan lampu kilat saja (telah dibahas berseri di sini dan di sana). Yuk, kita tilik lagi foto aslinya.

Lalu tak sepekan setelah 'eksperimen' tersebut, keponakanku (oke, anak sepupuku yang lain) berulang tahun. Najwa namanya, dan dua tahun usianya 7 Mai lalu. Sepertinya aku masih berutang CD 'liputan' foto acara tersebut atau tidak ya? Wah.. Ini dia Najwa dan Ibunya (sepupuku) Uni Ayu.

Dan keesokan harinya, 'ditodong' (lagi) untuk liputan. Kali ini tetanggaku. Mas Wawan dan Mbak Fitri. Jujur saja, aku tidak menemukan kegembiraan dalam memotret liputan (pernikahan, ulang tahun, acara seminar dan lainnya). Dan rasa senang biasanya linear dengan gambar yang dihasilkan. Kira-kira seperti inilah yang baru bisa kuhasilkan, dengan alat seadanya (dan lampu kilat 'warisan' ayah yang setengah berfungsi).

Meskipun demikian, Mai terus bergerak dan tibalah hari-hari akhir bulan lima masehi tersebut. Sekali lagi, aku ditodong mengabadikan sedikit porsi pernikahan. Kali ini sepupu jauhku (secara harfiah maupun konotatif) di Jogjakarta. Mbak Nunung itu anak dari sepupu ibuku, kalau aku tidak salah menelusuri garisnya. Ini ada satu dari persiapan beliau sebelum menjalani prosesi suci pernikahan.

Oh, kesempatan ke Jogja tentu saja tak lewat begitu saja. Berhubung ini juga merupakan jalan-jalan keluarga, jadilah kami menyempatkan waktu ke tempat-tempat wisata yang konon indah. Pertama kami ke Kaliurang. Daerah wisata pegunungan yang sejuk ini menyimpan pesona yang tertutup kabut dan gelap malam. Oke, tarik kembali kata sejuk itu. Yang kami rasakan justru dingin, karena telah terlampau malam saat kami tiba (sekitar waktu Maghrib). Bahkan warung makan dan oleh-oleh khas Kaliurang yang ini pun hampir tutup. Walah, walah...

Ya, akhirnya warung 'jadah' (makanan serupa uli/ketan) ini pun tutup setelah kami menyelesaikan mengemil di sana. Ha ha.. Baiklah. Jogjakarta, apa yang lebih terkenal dari Malioboro dan warung lesehan dan angkringannya? Setelah persinggahan singkat di Kaliurang, kami pun turun lagi ke sekitar jalan Malioboro. Di sisi stasiun Tugu Jogjakarta tepatnya. Kami singgah di salah satu warung makan angkringan berlabel "Kopi Joss Lek Man". Berhubung ngeri dengan reputasi minuman 'Kopi Joss' yang konon dicelupkan bara ke dalamnya, jadilah kami memesan minuman apapun selain kopi tersebut. Aku sendiri wedang jahe, untuk menghangatkan tubuh. Ini sedikit oleh-oleh dari sana.


Pada saat menikmati minuman dan makanan itu, kami 'berkonsultasi' dengan Mas Anto (bukan yang ada di foto di atas), kakak Ipar Mbak Nunung, tentang obyek wisata pantai yang menarik, dan beliau menyarankan tiga pantai yang bersisian: Pantai Sundak, Kukup, dan Baron. Jadilah keesokan paginya kami berangkat menelusuri tiga pantai tersebut, satu demi satu. Saat itu, aku memegang kamera film ayah, dan Twendy dipegang berganti-ganti dari Ayah, Ica, juga Aku kadang-kadang. Yang jelas, foto Ifa di bawah ini diambil oleh Ayah.

[Foto: M. Rochmadi (alias Ayah)]

Komposisi dan pewaktuan (timing) yang pas dari ayah. Masih terlihat sisa-sisa alasan mengapa dulu ayah jauh-jauh dari Singapura saat perjalanan dinas kantor lamanya dan pulang membawa EOS 500N itu.

Ah, baiklah Mai pun lalu berakhir, dan Juni menjelang. Satu lagi peranti penolong keseharianku hadir, dalam bentuk sebuah komputer jinjing (kojing). Kojing baru warna hitam keluaran ASUS ini kutebus dengan harga setara dengan jumlah yang berpindah tangan saat Twendy berpindah ke tanganku. Aku sudah mengulasnya ya, di sini dan di sini. Ini sekali lagi kumunculkan si Oji (jangan tanya namanya dari mana, he he).

Warna lain dari Juni adalah: Memancing. Tidak, aku tidak memancing. Kesabaranku terlalu pendek untuk memancing. Aku hanya ikut ayah dan paman dan teman ayahku pergi memancing, ke laut lepas. Perlu udara segar saat itu. Ha ha. Yang jelas, target utamanya sebetulnya burung-burung laut. Namun, berhubung lensa 'warisan' ayah saat itu hanya bisa fokus manual pada posisi tele (dan ditambah tidak bisa stop down) jadilah foto burungnya tiada yang bagus. Sama sekali. Tapi setidaknya, ini ada beberapa ekor dari cukup banyak ikan yang ayah (dan pamanku & sepupuku) peroleh. Lumayan besar. Syukurlah.

Selain kumpul keluarga, hal lain yang juga didapatkan di Juni kemarin adalah spontanitas. Saat itu salah satu dosenku, Ibu Myrna, mendapat gelar doktor. Ada banyak karangan bunga pastinya, dan sekuntum di antaranya aku sempatkan ambil. Hitung-hitung latihan komposisi. :)

Dan yang ini adalah gumpalan awan kelabu menjelang badai. Oke, menjelang hujan saja. Kalau dilihat-lihat, bentuknya seperti seekor badak yang ditunggangi di punggungnya ya? Tidak? Oh, terima sajalah, ini lamanku, ingat? Bagus. Ini fotonya. ;D

Oh, akhir Juni saat itu benar-benar kutunggu. Kejuaraan Badminton Seri Super Indonesia Terbuka! Setelah tahun sebelumnya kami (baca: Aku dan Ica) menonton dari tribun atas di hari-hari awal untuk beberapa alasan (murah, pertandingan banyak), pada kejuaraan terakhir ini aku membelikan Ica dan Ifa tiket VIP *duilee*. Duduk di belakang lapangan, sebetulnya agak kurang enak juga pemandangannya, tetapi terbayar dengan lewatnya atlet-atlet yang akan bertanding di hadapan kami persis. Memang, karena pertandingan telah memasuki tahap semifinal saat itu, tak banyak yang melintas, tetapi senang melihat adikku senang.

Mengenai foto di lapangan, berhubung ada kendala di lensa (telah disebutkan di atas), maka hasil gambarnya sangat sedikit yang layak tampil. Oke, lupakan. Setelah selesai seluruh rangkaian pertandingan, kami pun keluar dan mencoba peruntungan di dekat pintu keluar-masuk pemain. Lihat siapa yang pulang terakhir....

Taufik Hidayat! Wah.. Taufik Hidayat yang terkenal dengan backhand smash-nya itu, lho! Beliau menyempatkan diri menyapa penggemar yang entah bagaimana membludak memenuhi seputaran pintu keluar-masuk pelatih-pemain-ofisial. Selain menyapa, beliau juga memberikan tanda tangan pada beberapa benda yang disodorkan kepadanya: kertas, kaus, dan semuanya. Kebetulan buku yang sebelumnya telah bertanda tangan Pak Chris(tian Hadinata), dan Rachel van Cutsen (Belanda) tertinggal di rumah, jadi kami tak meminta tanda tangan. Ah, sayang sekali. Mudah-mudahan kesempatan lainnya, ya?

Yah, kira-kira itu sebagian kecil dari apa yang dilihat Twendy sepanjang Mai-Juni. Lebih banyak lagi sebetulnya, mengingat saat memotret olahraga kebanyakan digunakan modus berondong (burst) agar bisa didapat lebih banyak momen. Selain itu di Jogjakarta pun banyak sebenarnya yang dilihat Twendy, tetapi berhubung untuk koleksi pribadi Mbak Nunung dan keluarga, jadilah tidak kami munculkan di sini.

Akhir Juni pun berarti sudah setengah tahun Twendy bersamaku, menemani melihat dunia. Tanpa terasa. Tapi perjalanan masih (cukup) panjang. Tetaplah bersamaku. :)


--
BERSAMBUNG
written on 03. Jan 2011, 17.32 WIB (UTC +7), 18.32 WITa (UTC +8)

Minggu, 02 Januari 2011

Setahun bersama (5): Mär - Apr

Bulan Maret, bulan pameran, pelatihan, dan lainnya.

Oke. Dimulai dari pameran komputer (Mega Bazar Komputer) dan peralatan fotografi *kecil* di sebelahnya di awal
März
, dengan kemudian kami (baca: Fian, aku, Reza, dan Odi) diplot menjadi 'panitia' pelatihan inspektor pengelasan di kampus Tengah März sampai tengah April. Untuk yang terakhir ini, bahkan aku ditodong mengambil pas foto untuk peserta. Wah, dengan alat sekenanya, sebut saja dengan gulungan karton putih untuk mengarahkan, memantulkan, dan memperhalus jatuhnya lampu kilat bawaan kamera, atau kain panjang merah yang entah didapat dari mana di Jurusan, dan syukurlah hasilnya tidak begitu mengecewakan.

Oh iya, pada pameran komputer itu, aku bersama kawanku, Panji. Datang pameran di hari terakhir (7. März) tidak pernah termasuk kategori ide bagus, tetapi dengan keterbatasan waktu dan segalanya, kami baru bisa mampir ke sana pada hari itu. Benar saja, ruang pamer dipadati manusia segala usia. Meski demikian, kami masih bisa berkeliling sedikit, mencoba beberapa produk, dan tentu saja, ngiler melihat segala teknologi yang pada saat itu masih jauh dari jangkauan finansial kami. Oke, sampai sekarang juga, deh. He he. Ini Panji dengan komputer jinjing (kojing) keluaran pabrikan Apple.

Dan ini bonus yang sangat-amat mahal luar biasa, hasil kreativitas salah pedagang di salah satu stan...

He he he. Mahal bukan. Memang tidak banyak yang bisa kudapatkan, gambar dan barang-barang. Satu: ruangan sangat penuh; dan dua: Twendy kumasukkan stan pabrikannya yang mengadakan pembersihan sensor secara gratis sekitar 3 jam. Hidup gratis! :D

Cukup dari pameran, sekarang ke pelatihan inspektor pengelasan. Oleh-oleh dari pelatihannya ini saja ya, merk baterai Edan (secara harfiah) dari kamera video milik jurusan. Oh, kami saat itu berganti-ganti mendokumentasi, akan tetapi berhubung berkasnya milik jurusan, jadi tidak bisa ditampilkan di sini. Minta maaf sekali. Tapi ini dia, baterai bermerk unik itu.

Kegiatan 'gila' akhir pekanku kali ini kudokumentasikan juga. Berupa keinginan membuat kamera lubang jarum (pin hole), aku mencari tahu sedikit banyak tentang benda ini. Keputusanku saat itu adalah membuat 'kamera' yang bentuknya menyerupai kamera konvensional dengan film, tetapi dengan 'lensa' lubang jarum yang dapat diganti. Kenyataannya aku cuma memakainya sekali (dan mengorbankan satu gulung film) dengan 'lensa' sudut sangat lebar (diperhitungkan 15mm), dan gagal plus 'kamera'nya hancur. Lebur. Ha ha. Perhitungan kurang matang dan pembuatan kurang sabar sepertinya. Yang di bawah ini adalah film back dari 'kamera' tersebut. Hmm.. Mungkin masih bisa dipakai dengan perbaikan? Entahlah.

Oh iya! Temui juga sepupuku dan anaknya, Mbak Lia & Syamil - yang mengidap cerebral palsy (kalau tak salah) - yang pada saat itu masih kesulitan berjalan *kalau tak salah ingat*. Sekarang, alhamdulillah, Syamil sudah bisa berlari, tetapi hobinya tetap. Berjalan mundur dengan kecepatan mengagumkan. He he. Ini mereka.

Dan April awal, aku 'mengajar' dasar-dasar fotografi ke Adit alias "Rohim". Ya, sambil belajar, sambil memberitahu apa yang aku punya. Saat itu aku memegang kamera dan lensa 'warisan' ayah, dan Adit aku biarkan "bermain" bersama Twendy. Ini salah satu foto yang diambil si Adit ketika itu. Bagus, ya?

[Foto oleh Aditya Nugraha]

Masih dari kampus, bulan itu adalah waktu ujian akhir Sprachenkurs. Oh, aku pernah mengambil kursus itu, kamu tahu. Dan selesai ujian akhir, aku perkenalkan Twendy kepada mereka, dan mereka juga mengajak kami berkaraoke di sebuah pusat perbelanjaan di bilangan Margonda. Oh, foto pertama ini formasi lengkap, termasuk Reza juga; kemudian berikutnya formasi yang tersisa yang ikut berkaraoke.

Mbak Deborah/Debby yang sekarang sudah ke Jerman ikut suami, Ranggi, Desi, Myrna, Putri, dan Fr. Ade; sang novelis Mahir, Reza, dan Herr Diaz.

Dan menutup April adalah titipan dari Panji, berupa foto headphone untuk artikel ulasan blog-nya (kalau tak salah, di sini), serta obyek favoritku: bulan. Tenang, yang lain bukan obyek. Yang lain adalah subyek di setiap fotoku. He he. *ngeles*



Adapun, selain dari itu, März-April sepertinya berlangsung rutin saja. Pelajaran yang bisa dipetik dengan melihat data teknis foto-foto di atas, aku bertambah bijak sedikit untuk tidak memaksakan bukaan diafragma terbesar,pada lensa, kecuali bila mempergunakan lensa warisan ayah yang memang tidak bisa ditutup lebih kecil. Pembelajaran itu, datangnya bisa satu persatu atau banyak sekaligus. Semua tergantung kepada pembelajar tersebut, sudah siapkah menerima pelajaran yang datang, satu, dua, atau banyak sekaligus.


--
BERSAMBUNG
Written on 02. Jan 2011, 10.20 WIB (UTC +7), 11.20 WITa (UTC +8)