Tampilkan postingan dengan label Kampus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kampus. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Januari 2011

Setahun bersama (7): Jul - Aug

Setelah Mai dan Juni yang penuh warna dari berbagai tempat, Juli dan August - kalau boleh aku berikan gelar - layak ditahbiskan sebagai bulan eksperimen dan reuni. Eksperimen di kamar, dan eksperimen di lab tentu saja.

Dari bulan Juli tak banyak yang bisa kuperlihatkan, hanya dua foto ini. Foto hasil 'pindaian' dari film yang pertama, dan yang kedua adalah foto makro hasil eksperimen dengan menumpuk dua lensa yang aku miliki. Obyeknya, berhubung gabungan lensanya hanya diperkuat isolasi plastik dan sangat rawan lepas, maka dipilih yang mudah (relatif): tutup lensa. Ha ha.

Yak, Juli terbukti bukan bulan produktif bersama Twendy, meskipun (mestinya) langit biru cerah (tambahkan sedikit awan untuk aksen) dan suasana liburan. Ah, soal liburan, ini jangan dibahas. Membuat iri saja. Baiklah, mari beranjak meninggalkan Juli dan menyambut August. Bulan ini mestinya spesial, selain karena bertepatan dengan bulan Ramadhan, di akhir bulan juga ada acara Wisuda dua orang yang berarti buatku: Santi W, SE dan Ns. Dina NS. Lebih lanjut setelah ini ya, ada tiga prekursor yang kubuat di lab dulu di antrean. He he.

Selain eksperimen dan percobaan, demi keseimbangan maka jalan-jalan tentu sangat disarankan oleh dokter (dokter siapa? He he he). Pertengahan August, kami menyempatkan pelesir ke Bogor. Kami sekeluarga, minus Ifa yang berangkat ke Bandung untuk persiapan perkuliahannya. Ini saat kami di Tajur, sentra produk kerajinan kulit yang *sepertinya* cukup terpandang.

Ya, masih dari 'pelesir' kami, selain Bogor, kami juga melaju ke Ibu Kota Priangan: Bandung. Tujuan utama sebetulnya adalah mengantar barang-barang yang diperlukan Ifa, tetapi tidak lupa berjalan-jalan dan makan-makan toh? Ini saat di rumah makan "Bancakan", dengan nuansa tradisional dan antik direfleksikan penggunaan alat makan dari kaleng. Mungkin juga karena piring kaleng tiada akan pecah tatkala jatuh, entahlah.

Dari Bandung, Ayah, Ibu dan aku melompat lagi ke Sukabumi. Di daerah Cibadak sebetulnya. Berhubung diniatkan untuk berburu foto di pagi hari, maka aku bisa terbangun di dinginnya udara pegunungan di rumah peristirahatan adik ayahku. Ini salah satu oleh-oleh dari sana, pemandangan pagi hari gunung Gede [entahlah, asal sebut saja].

Nah, mengakhiri August, ada Wisuda yang tadi aku sebutkan sedikit. Yang pertama sebetulnya Wisuda si Santi, "adik asuh" saat aku Paskib di SMA dulu. Aku sudah berjanji sebenarnya, tetapi sayangnya, waktu itu ada rapat menjelang kedatangan tim untuk memberikan penilaian ke Jurusan, dan sayangnya lagi, Wisuda si Santi berlangsung di pertengahan pekan. Kamis kalau tak salah. Ah. Minta maaf sekali ya, San. :(

Oh, Wisuda di kampus kami sendiri memakan waktu tiga hari dalam satu (akhir) pekan. Hari pertama, itu tadi, Wisuda Sarjana, hari kedua program ekstensi (kalau tak salah), dan hari ketiga untuk program pascasarjana dan profesi. Nah, yang terakhir ini aku berkesempatan hadir. Untuk Mbakku Ners Dina yang sudah menempuh program profesi dengan segala seluk-beluknya. Ternyata selain dengan Mbak Dina dan Bang Benny yang sudah entah berapa tahun berpacaran, ada juga teman-teman lamaku Putri alias Phuce dan Hanifa. Yang terakhir ini malah spesial didatangkan dari Jepang. He he he. Maksudnya, Hanifa ini sedang berkuliah di Jepang, dan sedang liburan ke RI ketika itu. Ini mereka, Phuce, Hani, wisudawati Ns. Dina, dan karib mereka Riesca (atau Chekka).

Dan penutup manis di bulan August sebelum aku mengistirahatkan Twendy selama 10 hari terakhir Ramadhan adalah... REUNI SD! Oh, kalau setahun sebelumnya di Anyer hanya beberapa gelintir yang hadir, kali kemarin adalah yang terbesar yang dapat kami kumpulkan. Setidaknya 20 orang dari 96 orang pada angkatan kami hadir di Resto "Rumah Solo" di pusat makanan Joglo @ Kemang. Tentu saja fotonya ada cukup banyak di, um.. Di sini. Yang jelas, ini salah satunya.

Juli, August, banyak kenangan terbangkitkan, dan kreatifitas (baca: keisengan) tergelitik. Tapi tetap saja, selama delapan bulan bersama Twendy, masih belum ditemukan juga yang betul-betul menggembirakan hati saat bersamanya. Tenanglah, perlahan tetapi pasti akan ditemukan. :)


--
BERSAMBUNG
written on 04. Jan 2011, 19.08 WIB (UTC +7), 20.08 WITa (UTC +8)

Sabtu, 01 Januari 2011

Setahun bersama (2)

30. Dez 2009, saat itu ayah dan ibu malah belum tahu keberadaan "Twendy". Soal nama itu, agak norak dan kekanakan sesungguhnya. Kamera tersebut diberi nama oleh pabrikannya EOS 20D, agar mudah dan bisa lebih disayang, maka jadilah aku beri nama "Twendy" itu. Twenty D(ee). Dan aku tidak ingat persis kapan aku memberinya nama tersebut. Ah, biar saja nama tersebut norak, yang penting mudah kuingat.

Baiklah, pada hari itu, Twendy kubawa ke kampus, 'kuperkenalkan' ke teman-temanku, dan beruntung ada dua orang yang akan sidang skripsi pada hari itu: Ilham (kiri) dan Udin alis Zaki (kanan). Jadilah mereka "korban" berikutnya dari Twendy. He he.


Ada juga Odi dan Reza, yang bersama aku dan Fian sedang disekolahkan. Ini mereka, Reza di tengah, Odi di kanan.


Lalu ada juga satu dari genre "potret" generasi awal karyaku yang kuanggap cukup baik - dan sebagai bonus, dipakai Odi sebagai avatar di akun Y!M-nya. Alhamdulillah.


Itu sedikit cerita dari hari pertamaku bersama Twendy. Masih dengan lingkungan dekat saja, tetapi belum sampai beritanya ke ayah dan ibuku. Ah, rahasia, rahasia. Hi hi hi...


--
BERSAMBUNG
Written on 01. Jan 2011, 19.10 WIB (UTC +7), 20.10 WITa (UTC +8)
This will be long series. But I love it! :))

Jumat, 31 Desember 2010

5 hal dari M. UI Jum'at ini

Jum'at ini, seperti biasa dua kaki ini melangkah cepat ke salah satu tempat paling teduh di kampus: Masjid Ukhuwah Islamiyyah (M. UI). Masjid yang dirancang terbuka di tiga sisinya ini memang tempat langgananku menunaikan Shalat Jum'at bila tengah di kampus. Lantai pualamnya dingin, dan udara Jum'at yang selalu cerah berangin membuat M. UI semakin nyaman saja.

Baiklah, langsung saja. Setelah tiba di dalam, khutbah belum dimulai. Beberapa pengumuman diberikan, dan adzan pun dikumandangkan. Sebagai Khatib adalah Pak M. Salman dari Teknik Komputer FTUI, dan isi khutbah beliau secara ringkas adalah tentang lima hal yang (mudah-mudahan tidak salah) perlu ditanamkan agar menjadi manusia yang lebih baik.

Baiklah, langsung saja. Lima hal tersebut adalah:
  • Muhasabah (menghitung diri) dan mengambil hikmah
  • Mengingat janji dan utang pada Allah
  • Mujahadah (bersungguh-sungguh) dalam setiap perbuatan untukNya
  • Merasa selalu diawasi oleh Allah, dan
  • Memecut diri untuk lebih baik dari hari kemarin.
Terus terang saja, pada awal khutbah aku terkantuk-kantuk karena suara beliau yang lembut (ditambah tiga hari ini terasa lelah berlebihan). Meski demikian, pada akhir khutbah pertama, aku terbangun dan bertahan seterusnya, alhamdulillah.

Jadi mari kita lihat, dari kelima poin tersebut, yang masih berat terasa ada di poin pertama, kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Hmm.. Semuanya kalau begitu.

Yang pertama, berhitung diri serta mengambil hikmah. Selama ini, aku tidak berhitung. Aku takut kalau yang aku perbuat kurang. Kalau terlalu banyak menyakiti hati orang, tapi tanpa terasa. *Ampuni aku, Allah...* Dan mengambil hikmah, sejauh ini belum berhasil. Boleh dibilang terjebak di masa lalu. Padahal, teman baikku berkata untuk mengambil hikmah dan melangkah. Mulai sekarang harus bisa mengambil hikmah dan terus melangkah. Tidak boleh membiarkan diri larut dalam masa lalu. Biar yang telah lalu jadi kenangan, dan letakkan di tempat yang sepantasnya: Masa lampau.

Yang kedua, tentang janji dan hutang pada Allah. Khatib mengingatkan bahwa kita banyak berjanji padaNya. Setiap saat, setiap waktu. Setiap shalat kita, setiap doa kita. Janji itu, kalau boleh disebutkan sedikit yang masyhur di antaranya adalah, "Bahwa sesunguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, sesembahan semesta. Penuhilah, jangan dilupakan.

Ketiga, tentang bersungguh-sungguh dalam perbuatan untukNya. Ini berat, tetapi dapat dilakukan. Harus dimulai, kalau tidak ingin terlambat. Ilustrasi dari Khatib adalah seperti perumpamaan bahwa setiap shalat itu yang terakhir, tiada yang tahu apakah waktu shalat berikut masih dapat kita temui Allah dalam keadaan bernyawa. Sungguh-sungguh.

Lalu empat, selalu merasa diawasi Allah. Untuk ini beliau mengisahkan kisah seorang gembala yang kambingnya ditawar Khalifah Umar. Ketika terus didesak, dan diyakinkan bahwa tidak ada yang tahu, anak gembala tersebut menjawab, "Lalu, di mana Allah? Allah senantiasa Melihat apa-apa yang dikerjakan manusia." (atau kira-kira demikian ucapannya). Ya, kira-kira seperti itulah semestinya. Ada (manusia) yang melihat ataupun tidak, semestinya kadar kebaikan seorang tidak berkurang, dan malah bertambah. Selalu diawasi Allah.

Dan terakhir, memecut diri untuk menjadi lebih baik. Bahwa hari ini belum menyentuh Qur'an sama sekali, atau shalat di akhir waktu, atau hal lainnya harus terus diperbaiki. Beri sanksi sendiri dan beri motivasi untuk terus menjadi lebih baik. Memecut diri.

Juga beliau tekankan bahwa ladang amal itu terbentang luas di muka bumi. Bahkan di jalan, sekadar memperlambat laju kendaraan untuk memberi jalan ke penyeberang, atau lain-lain hal sederhana dapat menjadi ladang amal. Mudah-mudahan kamu dan aku semakin didekatkan padaNya. Mudah-mudahan.


--
F I N
written on 31. Dez 2010, 20:20 WIB (UTC +7), 21:20 WITa (UTC +8)
Dear my very Owner, I humbly ask you to shine your light upon my path, so that the path I take leads to You only, Amin.

Selasa, 18 Mei 2010

Ujian

Dalam pekan-pekan ini, ada beberapa ujian yang aku harus jalani.

Pertama, soal urusan hatiku dengan beliau. Kalau ini, aku memutuskan akan menempuh cara 'curang'. Akan kudekati Dia dulu, lagi. Yah, lama sudah aku jauh dari Dia, padahal telah diterangkan padaku kalau Dia selalu di kedudukanNya. Dan kalau kudekati dengan berjalan, maka Dia akan mendekatiku berlari.

Dan urusanku dengan beliau tentu Dia yang paling tahu kelanjutan dan akhirnya. Mudah-mudahan. Berdoa dan berusaha saja yang bisa kuperbuat.

Kemudian ujian dengan peranti lunak pengolah 3D (yang ternyata tetap berat ampun-ampunan di komputer tua kami yang telah ditingkatkan kapasitas RAM-nya).

Bayangkan saja, menjelajahi satu hutan, dengan peta yang telah pudar oleh hujan, dengan lilin di tangan, satu orang saja. Nah, kira-kira begitu urusanku dengan peranti Sol**Wor*s itu. Hiiiy.. Alhamdulillah berhasil mengatasinya, tetapi laporan Pembuatan Cetakannya jelek. Sangat. Mudah-mudahan saja.

Lalu pekan ini dan pekan depan, ada Ujian Akhir Semester.

Ya, tanpa terasa siklus perkuliahan telah berputar kembali ke tiga kata yang sedikit banyak membuat bulu roma berdiri itu. Apalagi persiapanku semester ini, jujur saja, kurang. Pelatihan WI di Maret-April kemarin mengacaukan UTS, dan terbawa sampai ke UAS. Tapi dengan mengulangi kuliah-kuliah yang diberikan dan berdoa, yah, mudah-mudahan.

Alhamdulillah, akhir pekan depan akan berangkat ke Jogjakarta (lagi). Hei, aku suka Jogjakarta, kota di mana pengendara dan penumpang sepeda motor berhelm, berhenti di belakang garis di persimpangan, dan keluar gang dengan lebih "wow" dari Jakarta (:D). Sepupuku (agak jauh) akan menikah Jum'at 27. Mai mendatang.

Yah, kali ini semoga si Twendy (kamera digitalku) berguna. Dan mungkin aku akan mengisi Neopan yang teronggok di kedai fotokopi tak jauh dari rumah ke kamera peninggalan ayahku. :)

Sedikit dulu kali ini. Tidak baik mengeluh. Tidak Dia sukai orang-orang yang tidak bersyukur itu.


--
F I N
written on 18. Mai 2010, 20.23 WIB (UTC +7)
Aku sayang Dia (lagi). Ke mana saja aku selama ini ya? (-_-")

Senin, 26 April 2010

Memulai Kembali

Jadi, hari ini diawali dengan agak off. Bangun lagi setelah subuh lumayan jauh. Bermotor (sudah dicoba hati²), masih diklakson orang buru-buru. Padahal di jalan kampung. Mau ke mana sih pengemudi Honda Freed entah nopol berapa itu. Alhamdulillah menghindari seorang yang menyeberang membawa balok kayu. Huff.. Ah, lupakan saja. Anggap saja sedikit tumpahan kopi di koran pagi, ya? Yah, intinya, aku selamat sampai di kampus, dengan segala keanehan jalan Jakarta-Depok di hari Senin... Eh, setiap hari dan lebih parah di hari-hari libur deh.

Nah, sampai di kampus, tak biasanya Fian sudah hadir dan absen mendahuluiku. Sehari-hari sih, dia juaranya, juara datang terakhir. Hehe. Tapi dia tak hadir di ruangan kami di pojok jurusan. Menurut Reza, dia sudah ke lantai 3, bersama Pak Herman. Yah, baiklah, sekali lagi aku tidak diminta untuk hadir, maka aku tidak hadir di sana. Agak gerah sih, mengingat aku juga dimasukkan sebagai bagian tim riset beliau, tapi biar kutunggu waktunya sajalah.

Dan waktunya ternyata pada hari tadi juga. Setelah makan siang, kuputuskan bahwa kalau aku tidak segera memulai, sekarang, maka niscaya tidak akan ada waktu bersantai-santai kelak di belakang hari. Mengapa demikian? Ternyata alasannya sederhana, dan sering melatarbelakangi pelbagai sikapku: Iri.

Iri? Ya, begitulah. Kawanku Nisa belum lama ini mendapat kabar gembira. Beliau akan (di)berangkat(kan) ke Eropa, Malta dan Belanda tepatnya, untuk bersekolah di sana. Senang sih, tapi tetap saja sebagai laki-laki ada tebersit iri juga, bagaimana ceritanya aku kalah dari beliau?

Jadilah aku sekali lagi mencari informasi tentang beasiswa serupa, tentang bidang ilmu yang sedikit-sedikit aku coba pahami. Ternyata ada, dan universitas yang menyediakan program tersebut ada di dua Negeri yang, sungguh, ingin aku menyinggahi atau meninggalinya: Jerman dan Spanyol. Aduh! Mereka mensyaratkan gelar magister untuk bisa masuk. Hm...

Maka aku kemudian memberanikan diri naik ke lantai 3, sedikit menyapa Pak Herman dan Fian, sebelum melihat-lihat lemari peralatan dan perlengkapan. Kubuat catatan-catatan, dan akhirnya aku pamit ke beliau dan Fian, belum shalat! *malu*

Maka setelahnya, aku mulai-mulai membaca jurnal digital yang kupengang lagi, dan mencoba mengira-ngira peralatan apa-apa yang diperlukan dan masih kurang di lab. Yah, hal-hal kecil yang kadang terlupakan itu siapa tahu perlu.

Melihat-lihat jurnal, baru teringat aku kalau ada jurnal yang belum kupegang salinan digitalnya. Kebetulan beberapa waktu lalu aku pernah meminta tolong Mbak Idham untuk mengunduhkan artikel jurnal tersebut. Hmm.. Saat hendak menulis surat elektronik untuk meminta tolong lagi, tiba-tiba saja terlintas pikiran untuk menyalakan internet messenger Yahoo! Messenger. Entah mengapa.

Setelahnya baru aku mengerti. Mbak Idham sedang tidak terhubung. Tetapi beruntung, ada Jordan teman kami yang juga diberi anugerah belajar ke Negeri Ginseng. Jadilah kuminta tolong dia, dan sedikit bincang-bincang. Sedikit mengobati kangen juga dengannya. Padahal saat dia masih di sini, aku tidak terlalu akrab juga dengannya. Jadi malu. Kadang jarak malah membantu meningkatkan kualitas hubungan ya? Hehe.

Setelah jurnal didapat, maka saatnya membaca dan membuat catatan-catatan. Bismillah, permisi dulu ya, ceritanya ku akhiri di sini. Hendak memaksa diri membaca untuk masa depanku. Semoga.


--
F I N
written on 26. April 2010, 20.20 WIB (UTC +7)
And today, the Sun seems like shining a bit brighter, and my saving is finally stuffed again.
Alhamdulillah.


Jumat, 30 Januari 2009

Satu Sore Satu Simpanan

Ehm.. Izinkan aku memulai dengan serangkaian terima kasih untuk kawan-kawanku tersayang untuk hari kemarin, Kamis 29. Januar 2009, yang akan selalu kusimpan. Dimulai dari Fian, yang masih setia denganku mengurus laporan KP yang.... Ah, begitulah. Amin? Entahlah, ke Ghazza mungkin dia, setiap dihubungi selalu "berada di luar jangkauan" dan semacamnya. Kemarin, insya Allah jadi yang terakhir kami mengubah isi laporan ter... Ehm, begitulah. Juga terima kasih untuk sukses tepat pada waktunya mencapai kampus. 'makasih banyak, An... ^_^

Kemudian, untuk 15 orang kawanku seperjuangan juga, yang sama-sama mengikuti Gladi Resik Wisuda. Mari kita mulai dari namanya, karena orang bilang tak kenal nanti tak sayang. Ke-15 orang itu ialah Martha -- yang jadi satu dari dua yang mewakili fakultas kami, Mbak Idham, Mbak Nurma, Cicis, Dian, Dini -- rekan labku, Bunga, Ida, Uthy, Desta, Himsky, Panji, Lulus, Komar, dan Rian. Semua 15 orang itu tampil luar biasa, terutama sepuluh puteri yang pertama kusebut tentunya. :-D

Gladi resik? Biasa lah, tak ada yang istimewa. Bahkan sekadar berjabat sekenanya dengan rektor dan dekan tak seberapa istimewa. Karena tak ada yang seistimewa yang kami alami setelahnya, tentu.

Jadi, acara itu selesai sekitar 16.30. Setelah itu? Foto-foto tentunya. Lokasinya masih di seputar Balairung UI, terutama dekat danau, um.. Entahlah apa nama danau antara Balairung dan Masjid UI. Foto-fotonya? Ehm, nanti saja. Belum lengkap dikumpulkannya, sedangkan dari kamera yang kupegang, belum dicuci negatif filmnya, hehe..

Mbak Idham, Cicis dan Himsky...... Sebelum sesi UI-wood. Aku? Di belakang kamera dong.. hehe

Nah, selepas sesi foto tepi danau itu, beranjaklah kami -- tidak semuanya -- ke Masjid UI, untuk menunaikan Shalat Ashar (terlambat sebetulnya.. -_-), kemudian berangkat menuju lokasi selanjutnya. Tempat itu jamak disebut UI-wood, entah kenapa kecuali kalau fakta bahwa ada tulisan besar-besar nama universitas kami di tepi danau (lainnya) di seberang jalan dan sebaris rumput yang dibentuk menyerupai logonya di bawahnya.

Indah memang, dari kejauhan, tetapi seperti banyak hal cantik di dunia, jalan menuju ke sana tak ada mudah-mudahnya. Untuk mencapai tempat itu, ada sebuah jalan. Mungkin malah satu-satunya jalan, kecuali nanti aku bisa temukan yang lain dengan sepedaku, hahaha.. Jalan setapak itu
(dalam artian dapat dilalui satu mobil saja) berpintu dari sisi halaman parkir FISIP, masih berupa tanah di antara rimbun pepohonan, yang berubah menjadi semi-lumpur setelah hujan menimpa. Jalan itulah yang kemarin kami lalui -- minus Komar dan Desta, tapi plus Ari dan Nagy -- dengan dua mobil yang dikemudikan Himsky dan Dini.

Jalan masuk? Relatif tidak ada kesulitan berarti, kecuali roda kemudi yang bergerak tak terkendali kala melalui lumpur yang cukup tebal. Lima menit mengendara -- atau sekitar itu lah-- sampai kami di belakang papan nama itu. Langsung saja, sesi kedua foto dimulai, dengan berbagai gaya yang, aneh-aneh, lucu-lucu, imut-imut, amit-amit, keren-keren, gendheng-gendheng, dan banyak lagi yang tak terkatakan.

Jelang Maghrib, kami memutuskan sudah saatnya kembali, dengan masing-masing personil ada janji tersendiri. Karena Adzan Maghrib telah berkumandang di radio, maka meski kami semua sudah tersebar merata dan duduk manis dalam masing-masing mobil pun menunggu dulu. Lepas Adzan, meluncurlah kami -- secara harfiah -- keluar dan kembali ke 'peradaban'.

Di sinilah masalah muncul. Di tengah kegelapan hutan UI, (itu juga mungkin sebabnya disebut UI-wood; Hutan UI), penumpang mobil yang aku tumpangi -- dikemudikan Himsky -- yang berjalan lebih dulu dikejutkan dengan klakson dari mobil belakang. Ternyata mobil satu lagi, yang dikemudikan Dini, terjebak lumpur sehingga tidak mau diajak maju. Jadilah semua laki-laki pun turun tangan mencoba membantu Dini yang sudah berusaha memundur-majukan kendaraannya itu. Sedangkan perempuan di mobil itu, dipindah sementara ke dekat mobil depan, menunggu Dini bisa mengeluarkan mobilnya dari lumpur.

Aksi dorong-mendorong -- untuk hal yang lebih baik daripada dorong-mendorong dengan polisi di depan Istana Negara atau semacamnya -- pun terjadilah. Nagy bahkan sampai terperosok setelah kehilangan pegangan pada mobil yang sudah maju. Andaikan Dini tak terus menekan pedal gas, bisa jadi hal buruk terjadi, tapi syukurlah Nagy masih diberi keselamatan. Kejadian itu berlangsung lebih kurang 15 menit, menyisakan kami bermandi lumpur, Nagy yang paling parah. Aku sendiri hanya kebagian lumpur di bagian kaki sampai di antara betis dan mata kaki.

Akhirnya, setelah lewat dari semua itu, kami semua menyempatkan diri berfoto dengan kaki penuh tanah, dan beberapa juga di tangan di depan mobil perjuangan itu -- sebuah Innova Hitam. Kemudian, karena waktu Maghrib memang sempit, jadilah kami kemudian meluncur -- arti konotatif -- ke Masjid UI lagi. Karena kaki kami penuh tanah, semua laki-laki kecuali Himsky naik di bagian belakang kedua mobil itu, dengan pintu bagasi terbuka. Aku bersama Rian dan Panji di Kijang perak Himsky, dan Ari serta Nagy di bagasi Dini. Sepanjang perjalanan ke M.UI (seolah jauh saja) tak lepas tawa dari kami, mengingat kejadian tadi, juga membuat olok-olok dengan pengendara di belakang kami sebagai subjek maupun objeknya.

Kemudian, sesampainya kami di M.UI, dengan kaki berlumur lumpur, kami berjingkat ke tempat wudhu' M.UI. Jadilah, satu pojok tempat wudhu' itu sedikit ternoda lumpur (maaf ya, Pak.. Nagy sudah mencari alat pel, tetapi tidak ditemukannya). Sedikit di sini betul sedikit ya, bukan 'sedikit', hihihihi....

Akhirnya, setelah Shalat Maghrib, berpisahlah kami menuju jurusan masing-masing, dengan satu kenangan yang kuyakin takkan terlupa. Kata orang, satu gambar bercerita seribu kata. Kata kami, andai foto kami hari ini telah disebarkan, maka takkan kami lupa cerita di balik foto itu. Sampai jumpa lagi, kawan. Tak sekali seabad kejadian itu terjadi. Tak semenit juga kejadian itu akan terlupa. Terima kasih untuk petang penuh kenangan itu. Biar kusimpan, seterusnya...


--
F I N
written on 30. Jan 2009, 07.53 WIB
"Hmmm... Saatnya mencuci sandal. ^_^"



Sabtu, 13 Desember 2008

Alea Iacta Est!

Hmm... Mungkin ada yang bertanya-tanya, apa kiranya arti kata-kata di atas itu. Mungkin juga ada yang malah nyengir kuda karena langsung teringat sebuah komik perancis, "Asterix & Obelix". Mungkin akan kuberitahukan saja apa artinya tiga kata itu padamu, yah?

Untuk yang pernah membaca beberapa seri komik Asterix, kalimat di atas mungkin sudah terasa dekat. Ya, Julius Caesar digambarkan sering sekali menyebutkan kalimat tersebut. Artinya, kalau dari sini adalah "The die is cast" -- dadu sudah dilempar. Lalu apa maknanya? Hmm... Masih dari sumber yang sama -- walaupun sebetulnya bisa dideduksi sendiri -- maknanya adalah suatu perbuatan sudah dilakukan, dan tak bisa ditarik kembali.

Dan, untuk kali ini, kurasa seperti itulah yang terjadi. Alea iacta est! Tanggal itu sudah disiapkan. 24. 12 2008, dan aku masih di sini, mengutak-atik difraktogram-difraktogram yang acakadut itu supaya bisa diperhitungkan, dan masih perlu setidaknya satu data lagi agar simpulanku kelak lebih bisa diterima. Yah.. Apa mau dikata. Kata telah terucap, waktu sudah berlalu. Sekarang, mari, kembali ke himpunan data tak berkesudahan itu. 'mat berhitung!


F I N
written on 13. Dez 2008, 07.45 WIB
Dan, untuk semua awal... Kuharap semuanya baik selalu sampai.... Nanti (-_-)

Senin, 08 Desember 2008

'Mat UAS!

Dan setelah enam kali menghadapinya
rasanya yang ketujuh ini sangatlah istimewa
besok
untukku, sepuluh rekan perempuanku, dan tak sedikit rekanku
ini akan jadi yang terakhir... Semoga

Selamat Ujian Akhir Semester (UAS)
semoga tinggal satu lagi yang semacam ini untuk kalian, dan...
Khusus untuk kami
Selamat Ujian Akhir... Semoga


F I N
written on 8. Dezember 2008, 17.15 WIB
dan manisnya... Aku belum siap sama sekali! Oh iya, "'Mat 'Id Ad'ha!" juga... ^_^

Rabu, 03 Desember 2008

Seminar

WAAAAAAAAAAHHHH........... Ups, maaf. Cuma sedikit ekspresi lega saja kok. Lega yang, ehm, sementara sepertinya.

Jadi, hari ini, 3. Dez 2008, satu puncak karier (duilee...) di masa kuliah ini. Nama kegiatannya, um... Seminar. Nah, mulai semester ini, atas inisiatif Pak Herman yang juga koordinator Skripsi, KP, dan Seminar, dihidupkan kembali sistem seminar yang seperti seminar. Bingung? Tunggu sebentar ya, coba kujelaskan.

Selama beberapa waktu, di jurusan kami, mata kuliah seminar itu lebih kepada presentasi kecil --entah skripsi sendiri entah skripsi orang-- di depan dosen pembimbing dan penguji, saja. Nah, terhitung sejak semester ini, diadakan kembalilah seminar berformat seminar "umum" itu. Naahh... Itulah sebabnya baru sekarang bisa turun menulis di sini lagi. Yah, hitung-hitung menghadiahi diri sendiri setelah presentasi yang *cukup* baik tadi.

Sebetulnya, semua dimulai sejak pekan kemarin. Tadinya seminar itu bahkan dijadwalkan Kamis kemarin, tetapi karena satu dan lain hal, jadilah digeser ke hari ini. Yah, begitulah. Hampir sepekan penuh kami berenam -- Aku-Dini-Himsky-Fian-Dian-Mas Ii' -- berkutat dengan slide-slide presentasi (AWAS: BUKAN Slide ppt yah! Tak terstandardisasi itu format...) yang diutak-atik sana-sini, supaya tidak terlalu banyak, tapi tetap informatif. Dan.... Ternyata semua dari kami sepaham hari ini. Slide presentasinya tak ada yang lebih dari angka 30-an slide. Berbobot? Pastinya. *ayo.. Pupuk percaya dirimu sedikit sedikit, Nak... ;p*

Dan, saat jarum jam menunjuk waktu pukul 13.30 WKMT (Waktu Ruang KMT, hehehe), datanglah satu persatu audiens yang ditunggu. Pak Herman sebagai audiens, juga pembimbing skripsi beserta Ibu Sotya sebagai, um... Penguji? Yah, begitulah. Kemudian ada rekan-rekan seperjuangan dari angkatan '04 (Hatta, Rahmat), '05 (Tego yang setia dari awal sampai akhir, Fawwaz, Buged, Falahy yang hari ini sukarela jadi sie.dokumentasi, Tri, Reza Kiswara, Aryo, Icad, Febrian, dan banyak lagi yang belum disebut jangan marah. ^_^), juga '06 (Wening dan Lusi. Sayang si, um, 'Neng tak datang, hihihi). Yah, memang berangsur-angsur sih, tapi 'makasih banyak sudah sempat datang ke seminar kami. Juga datang, beserta beberapa paket penganan dan air minum, ayah dan ibunya Himsky. 'Makasih juga, Om dan Tante, dukungannya luar biasa. Yah, setidaknya aku -- yang lupa memberitahu ayah-ibunya soal seminar ini -- masih dapat pesan singkat dari Ibu, setelah kuberitahu tentunya. Ah.. Seandainya saja Ibu-Ayah di sana tadi... Lepas mungkin belenggu di lidah tadi...

Yah, setelah penonton tiba, mulailah kami -- berturut-turut Dian, Himsky, Fian, Dini, Mas Ii', Aku -- bergantian menyampaikan materi yang diseminarkan. Dian yang tenang, dengan topik besar "Geopolimer". Himsky yang lebih ekspresif, dengan "Sel Bahan Bakar"-nya. Fian yang santai, tapi serius membawakan "Kaca Swabersih". Dini yang lebih 'perempuan' dengan hem (blus? Apalah namanya itu) merah muda dengan "Sel Surya Tersensitisasi Pewarna" -- sama denganku. Mas Ii' kembali dengan "Sel Bahan Bakar", dengan slide penuh dengan tabel-tabel. Aku -- mencoba menyemangati diri sendiri dengan berkata "simpan yang terbaik untuk di akhir" -- menutup hari, dengan slide yang penuh animasi membahas "Sel Surya Tersensitisasi Pewarna".

Ah... Tiga jam setengah berlalu di ruangan yang dingin minta ampun itu. Tapi tetap saja, naluri untaku keluar juga. Tiga minuman gelasan habis dalam rentang waktu itu. Lapar? Sudah lupa tuh. Hahaha. Tidak sehat memang, tapi mau kata apa, karena memang rasa lapar tak seberapa dibanding takut, gugup, dan nama-nama lainnya itulah.

Soal presentasinya, tak perlulah diceritakan. Sering sudah kamu menghadiri seminar ini dan itu, 'kan? Yah, kira-kira begitulah, hanya saja posisi kami hari ini menjadi pemakalahnya -- pinjam istilahnya, ya Fal? Hehehe. Dan, lepas seminar hari ini, rasanya lega meliputi kami berenam. Lega yang, ehm, memabukkan juga sih. Bahkan aku pun lupa mematikan dapur pemanas (oven) selepas seminar --jadilah besok sampelku keluar basah. Tak mengapa, yang jelas mungkin beberapa saat (atau hari) lagi ada yang mengunggah foto-foto kami di situs jaringan sosial yang itu. Nah, semoga saja albumnya dibuka dan nanti kutunjukkan alamatnya biar bisa juga kamu lihat tampan dan cantiknya kami -- narsisis betul, hehehe -- hari ini, dengan senyum mengembang bersama lepasnya sedikit beban tahun terakhir, betul ka'?

Yang jelas..... Luv u all! Bab 2, Bab 4. Tunggu aku yah... He he he


F I N
written on 3. Dez 2008, 22.40; delayed due to the feeling of urgency to say "Hello" or "hi" to many ol' friends. ^_^
Kamu tahu? Tanpa Kamu, lemahku terbuka, kuatku tak ada, tanpa Kamu. 'Makasih ya...

EDIT: Ini dia peserta MK Seminar (Perdana) semester gasal 2008


Kiri-kanan: Himsky-Aku-Dini-Dian-Mas Ii-Alfian. 'Makasih untuk hari yang luar biasa itu!
Kukenang selalu sampai kapan-kapan. ^_^

Makasih, Dian, udah unggah fotonya. Makasih Falahy, udah motretin.

Kamis, 06 November 2008

(Tidak) Sakit Kepala

Pernah merasa pusing, tapi tanpa sakit di kepala? Ya begitulah sepekan ini aku. Setelah UTS, tak ada waktu melepas penat barang sejenak juga. Ada proyek, juga mimpi, yang dipertaruhkan di lab kami. Proyek yang nyaris ditinggalkan (sementara) sebetulnya, sampai Senin dan Selasa kemarin, ada seberkas cahaya diturunkan untuk kami.

Betul, tak lain dan tak bukan, cahaya teman kami. Jadi, pada Senin siang, dengan Dini sebagai aktris utamanya, kami memutuskan menguji coba saja modul yang kami punya, di bawah penerangan lampu OHP. Ternyata (eh ternyata), keluar angka di tampilan voltmeter yang kami pinjam dari Pak Nuddin dan Bang Mamad. Memang sih, hanya 10 millivolt, tapi untuk modul yang semuanya "home-made", menurut kami itu sudah luar biasa. Setelah itu, keesokan harinya pun disusul lagi oleh tampilan yang -jauh- lebih besar. Tiga kali dari angka hari Senin, dengan bahan semikonduktor yang memang berbeda sih. Hari Senin dengan Titanium (IV) Oksida (TiO2), Selasa dengan Seng Oksida (ZnO).

Nah.. Dengan itu resmi sudah topik yang kami pegang sekarang itu sebagai topik Tugas Akhir kami --sebelumnya nyaris batal topik itu. Eh iya, lupa disebut ya topiknya apa. Coba klik di sini dulu deh, supaya ada gambaran yang akan kami kerjakan. Jadi, setelah ketemu bahan apa yang akan kami jadikan bahan semikonduktor utama, selanjutnya kami menentukan variabel yang akan diamati.

Keputusannya adalah aku menggunakan campuran ZnO dengan beberapa bagian bubuk nano TiO2. Bubuk ini dibuat dengan menambahkan bahan awalan (larutan Titanium isopropoksida) dalam air, agar terjadi hidrolisis (pemecahan ikatan oleh air) dan didapat serbuk TiO2. Campurannya tertentu, tentu saja, agar ukuran nanometer yang kami kejar bisa didapat. Dini sendiri, menggunakan ZnO dengan campuran bahan kopolimer blok (?) untuk mengejar pori yang lebih luas pada lapisan ZnO nantinya.

Nah...... Membuat bubuk nano TiO2 itu, betul-betul tidak semudah mendengar Fian menerangkannya. Jadi, kerja membuat bubuk nano itu HARUS dilakukan di depan timbangan, karena rawannya bahan awalan itu bila dibiarkan di udara terbuka. Sebentar saja dipapar udara, bahan itu (kuduga) sudah bereaksi dengan uap air di udara dan menjadi serbuk putih, yang bisa menyumbat pipet untuk meneteskannya.

Karena Allah Maha Adil, setelah semua keriangan karena angka yang besarannya beberapa millivolt itu, maka roda pun berputarlah. Coba tebak, untuk membuat tiga perbandingan air dan bahan awalan itu, berapa lama waktu yang kami berdua perlukan untuk mengerjakannya? Coba kita hitung. Sebelas seperempat siang WIB, sampai setengah satu seperempat WIB untuk labu pertama. Dijeda makan siang dan shalat dan istirahat, lanjut lagi dari jam satu seperempat siang sampai...... Setengah empat petang! Fuh... Tiga tigaperempat jam habis.

Lelah? Pastinya. Itu baru kerja hari tadi. Belum termasuk kerja hari Senin-Selasa kemarin (Rabu istirahat dulu), sampai-sampai Senin-Selasa itu kami berdua pulang sampai waktu beranjak Maghrib. Hari Rabu, biarpun disebut istirahat, tapi dengan ada tugas mengawasi ujian akhir praktikum juga, jadilah aku baru pulang lepas Isya'..

Belum seberapa itu semua dibanding beban di hati. Yah, sebulanan ini juga, rasa-rasanya hati ini ingin mengetuk hati seorang. Tapi entah mengapa ragu menyerang lagi. Dia, aslab juga, yang jadi rujukan pertamaku bila hendak meminjam timbangan di lab seberang. Dia yang tak tahan debu, dan bisa sesak karenanya. Dia juga yang lebih menyukai susu kaleng bergambar dua ekor beruang daripada susu kotak itu (uh, memang harga tak bisa bohong...). Dia juga, perempuan yang bibir ini hendak mengutarakan maksud dari hati pemiliknya, tapi tak pernah bisa. Karena setiap pertemuan, selalu aku yang tak bicara. Karena terkadang, tercetus pula ide bahwa kamu tak jarang memanfaatkan hati-hati yang rawan ini.

Maaf, Non, kalau kaleng kemarin itu tak betul-betul untukmu saja. Juga maaf, kalau kaleng itu bukan hanya karena siang harinya telah terbantu aku karenamu. Maaf, karena dari kaleng itu, kuharap bisa kukalengkan pula kata-kataku yang belum bisa tersampaikan, yang belum juga tersusun rapi dan manis, dan malah kusembunyikan di belakang sebarang kata-kata yang kuucap kemarin-kemarin. Maaf...

Yang jelas, kamu --dan semua masalah lain yang mengisi sebulanan ini-- menyusutkan waktu tidurku, menghapuskan rasa di setiap butir nasi yang masuk ke kerongkonganku, meluluhkan batu di hati. Yap, sekeras apapun batu, di bawah terpaan air dan dibantu lumut kerak (?), pasti halus jua. Yang jelas, andaipun waktuku yang singkat ini tak cukup untuk mengenalmu jauh lebih jauh lagi, terima kasihku untukmu yang memberi sedikit sentuhan hati di sempit waktu ini.


F I N
written on 6. November 2008, 19.42 WIB
Ya Allah, bukan ku tak percaya telah Engkau gariskan siapa yang akan kudampingi, bukan ku ragu dengan apa kataMu, tapi setidaknya, berilah tanda padaku, tanda-tanda yang jelas karena aku mulai khawatir...

Jumat, 31 Oktober 2008

Oleh-oleh dari UTS

"Evaluasi". Kalau mendengar kata ini, apa yang mungkin tebersit di kepalamu? Takut? Mungkin. Ngeri? Bisa jadi. Was-was? Siapa tahu. Tapi, untuk sekarang, pinggirkan dulu prasangka jelek soal evaluasi. Anggap saja cermin. Kalau rambut berantakan, tentu bukan cermin yang kita ganti bukan? Yah, kira-kira seperti itulah evaluasi kalau dipandang sebagai perangkat saja.

Lalu, apa sih yang akan kamu evaluasi? Ya, coba lihat judulnya lagi deh. Itu, tuh.. Singkatan terakhir itu. Tiga huruf "maut" buat kami mahasiswa, bersama dengan pasangan sejatinya, "UAS". Jadi memang, pekan ini kami menghadap pekan ujian. Karena waktunya pada pertengahan semester, jadilah namanya ujian tengah semester. Yuk kita mulai, perlahan-lahan saja, tentunya.

Senin (27. 08):
Kosong, tak ada ujian (buatku).

Selasa (28. 08):
Standardisasi Material (10.00-12.00 WIB). Penilaian: Beruntung! Coba saja kalau yang muncul alih-alih mengenai struktur organisasi ISO, malah penomoran paduan NikeL (yang terlewatkan karena praktikum itu)? Wah.. Sudah pasti, segera kutulisi lengkap isian di sampul buku ujian dan segera kukembalikan ke Dosen.

Material Mutakhir (15.30-17.00). Penilaian: Sekali lagi, beruntung! Keluarkan segala hal tentang material cerdas (paduan pengingat-bentuk) dan aku akan mengecewakan Pak Herman lagi. Biar demikian, soal analisis penyusunan-diri dipengaruhi-penguapan itu cukup mengerikan juga dengan bobot 35 poin dari total 100. Fuh...

Rabu (29. 08)
Kesehatan & Keselamatan Kerja; Lindung Lingkungan/K3LL (08.00-10.00). Tiga soal, analisis risiko, juga soal analisis grafik dan analisis lainnya. Syukur ada PR yang kukerjakan, terkait analisis risiko itu. Jadi, bisa dikata cukup aman lah.

Baja Paduan Khusus dan Paduan Super (15.30-17.00). Ini dia. Katastrofi, kalau kata orang. Soal hanya enam, lebih berupa isian daripada analisis, tapi itu dia masalahnya. Tanpa analisis, yang bisa diisi sepanjang-panjangnya asal setidaknya menyinggung inti jawaban, habislah aku...

Kamis (30. 08)
Mesin-mesin Pengolahan Plastik (08.00-10.00). Ampun deh.. Berangkat dari rumah delapan kurang seperempat karena mencetak tugas kelompok (yang akhirnya kukerjakan sendiri juga... Huh...) dengan pencetak yang amburadul. Tapi, biar terlambat tak boleh panik. Napas tersengal masuk kelas, tapi pikiran tetap jernih, jadi tak terlalu masalah deh.

Jum'at (31. 08), hari terakhir....
Statistika dan Probabilitas (07.30-09.00). Nah, ini dia suguhan penutup yang memusingkan. Coba bayangkan 100 data acak, disajikan dalam tabel, dengan perintah yang singkat: "Buat histogram, lalu hitung deviasi standar dan persentase kesalahan." Bagus sekali. Empatpuluh lima menit habis hanya untuk menyusun ulang (mengelompokkan) data itu jadi tabel yang manis. Kemudian limabelas-duapuluh menit untuk menggambarkan histogram (yang kusebut tegas: "JELEK"). Lalu sisanya untuk berhitung deviasi standar yang tak pernah kudapat... Jelek...

Mekanika Perpatahan dan Analisis Kegagalan (13.30-15.00). Lumayan. Untuk mata kuliah yang tidak bisa kumengerti samasekali ini, ini luar biasa. Sembilan soal dan hanya lewat satu saja. Setidaknya bisa dapat nilai pas, kuduga.

Kesimpulan akhir: Belajar lebih keras di Statistik, Baja paduan, dan Mekanika Perpatahan. Itu saja.

Yah, begitulah... Bahkan di sela-sela UTS kemarin (Rabu siang, dan Kamis lepas ujian) masih memaksa diri mengejar mimpi di TA. Menimbang, memanggang, menyemprot larutan asam kuat pekat, begitulah. Syukur ada Dini, biar masih belum banyak bercerita kami. Padahal rekan mestinya berbagi yah?

Duh... Besok bebersih lab, kemudian melanjut TA sebanyak waktu mengizinkan, lalu ada rencana datang ke pekan raya pendidikan Eropah, kemudian Ahad mengetik ulang statistik, kemudian Senin... Mungkin tidur lagi? :p


F  I  N
written on 31. Okt 2008, 20.30 WIB
.h.e.c.t.i.c. Tapi tergila-gila lembutnya lagu berbahasa Italia yang dinyanyikan pula di kartun favoritku
Tom and Jerry, "Santa Lucia".

Jumat, 24 Oktober 2008

Mendengar(kan)

Yah... Apa mau di kata. Saat merasa ingin bicara, dan butuh seorang untuk mendengar(kan), yang ada malah si Himsky yang ujug-ujug masuk ke lab polimer dan memulai. Oh iya, sebelum kita sedikit intip apa yang kami bicarakan tadi, yuk kita lihat dulu apa sih bedanya mendengar dan mendengarkan.

Kalau Pak Komaruddin Hidayat mengartikannya dengan menyetarakannya dengan kata bahasa Inggrisnya "Hearing" dan "listening". Kemudian beliau menerangkan kalau mendengar adalah aktivitas yang lebih pasif daripada mendengarkan. Kamu bisa saja berada di depan khatib Jum'at, mendengarkan dengan segenap hatimu --membuatmu "berada di sana"-- dan kemudian mendengar ada deru kereta listrik di kejauhan, dering telepon seluler orang-orang sibuk yang bahkan di tengah kuliah agama setengah sampai satu jam saja tak bisa 'membunuh' sementara kesibukan lainnya. Dimengerti kan? Mendengar hanya memerlukan telinga, mendengarkan perlu lebih dari sekadar telinga --perlu segenap hati dan pemikiran juga. Hmm.. Tulisan itu bisa dijumpai di kolom tetapnya setiap Jum'at (menggantikan M. Ainun Nadjib/Cak Nun sebelumnya) di koran dari jaringan MNC yang ayah langgan di rumah. Koran yang, maaf-maaf, betul-betul inspiratif --sesuai tagline-nya, "Sussah cari inspirassi?"-- dalam hal luputnya penyuntingan di berbagai sisi. Uh, aku lebih suka koran yang lebih kecil itu, yang kawan-kawanku sering membelinya eceran di stasiun kereta.

Jadi, mari kita lanjut. Apa yang ia ceritakan, dan apa yang aku dengarkan? Sebetulnya tak jauh dari soal "semester/tahun terakhir" kami. Begini, dia itu asisten Lab Kimia --berseberangan dengan Lab Polimer, kebetulan. Yah, jujur saja dulu aku melamar ke lab tersebut juga, tetapi hasil wawancaraku sangat-amat jauh di bawahnya. Syukur masih ada kesempatan lain dan akhirnya CV-ku bisa kuisi satu baris lagi. ^_^

Yah, kembali ke pokok masalahnya. Jadi Lab kimia ini baru saja menyelesaikan setengah semester yang... Wuihh.. Sibuk! Sibuk dengan praktikum kimia dasar untuk mahasiswa tingkat pertama (iya, iya.. Mahasiswa baru), juga beberapa "sisa" dari angkatan sebelumnya yang entah-bagaimana-caranya belum/tidak lulus praktikum itu. Nah, untuk praktikum ini, Hims jadi salah seorang --dari tiga-- PJ-nya. Agak berat juga sebetulnya, mengingat ia tengah menjalani TA juga sepertiku. Karena itulah ada semacam "perjanjian" bahwa Hims tidak akan bertanggung jawab penuh atas praktikum kali ini, karena soal TA dan rencana lulus semester ini.

Apa yang terjadi? Sayang seribu sayang. Hanya Hims, seorang sesama PJ, dan seorang asisten lain yang betul-betul "banting tulang peras keringat" untuk praktikum ini. Malahan, praktikum yang semestinya lebih banyak dijaga oleh asisten dari angkatan 2006 malah ditangani (lagi) oleh asisten dari angkatan 2005. Yah, begitulah, Hims jadi merasa... Bagaimana yah, semestinya 'kan memang 2006 yang lebih menangani, tapi kok malah jadi 2005 (lagi) yang turun. Sedangkan hampir semua asisten dari angkatan 2005 --Panji, Cicis, Nurma, Martha, Mba Idham-- sedang fokus kepada skripsi/TA masing-masing. 2006? Entah ke mana saja mereka, Hims tak pernah tahu. Padahal tahun kemarin, untuk praktikum angkatan 2007, yang turun tangan pun asisten 2005, dengan asisten 2004 lebih memegang pengawasan saja. Duh...

Lebih parah lagi, rasa-rasanya --menurut Hims, tentu saja-- asisten 2007 pun malah mengikuti jejak 2006 yang tidak ketentuan ke mana perginya. Kalau mengutip Hims, "Mau dikemanain Lab Kimia?". Nah, terkait arah itu juga, ada ketakutan menggelayut di benak Hims, bahwa 2008 nanti asisten akan seperti apa. Sebabnya jelas, citra praktikum kimia dasar pada angkatan 2008 ini yang Hims coba bangun adalah, "Asisten nggak bisa dimainin". Tetapi, dengan (akan) perginya asisten 2005, dan praktikum kimia analitik kuantitatif dan kualitatif akan dipegang penuh oleh 2006? Yah, masih tanda tanya kalau betul yang kudengarkan dari Hims tadi.

Kemudian... Tunggu dulu, ini belum selesai? Yap, betul. Soal TA berikutnya. TA Hims dan tiga rekan kami --temanya fuel cell, sel bahan bakar-- memerlukan peralatan yang tidak ada di lab-lab jurusan. Untuk itu mereka perlu meminjam (baca: menyewa) alat di tempat lain. Nah, ternyata tarif alat itu berdasarkan waktu. Pengerjaan mereka berempat, itu justru lebih lama daripada Hims bekerja sendiri. Jadilah sewa alat itu mahal, lebih dikarenakan kelambatan kerja kawan-kawan kami itu. Yah, dengan itu kesimpulan yang ia tarik ialah, "kalau ada yang bisa gue kerjain sendiri, gue kerjain sendiri dulu deh".

Apa yang mau kukata? Cuma sedikit tanggapan di sela-sela menjejak ulang langkah yang kami lakukan untuk proyek kami ini. Sulit rasanya memang. Saat aku sendiri rasa butuh kawan yang bisa kuajak bicara entah ke mana saja, malah entah bagaimana caranya aku diturunkan kawan untuk kudengarkan. Kudengarkan karena bisa kutuliskan kembali sebagian besar detailnya. Syukur juga aku bisa sedikit berbagi pusingnya mensintesis TiO2 yang bisa menyerap pewarna dengan baik agar proyek kami bisa lekas kelar.

Dan... Senin esok (27. Okt), kami resmi memulai ujian tengah semester --aku sendiri sih, mulai hari Selasa. Hari Jum'at ini pun, ada ujian pendahuluan praktikum korosi bagi sebagian besar kami, tidak termasuk aku dan semua peminat Polimer lainnya ^_^. Jadi, dengan ini kuucapkan selamat ujian. Orang bilang, "no pain no gain", "bersusah dahulu, bersenang kemudian", intinya selamat mengulangi kuliah-kuliah kemarin. Besok kita diuji sedikit. Tak usahlah tergoda jalan mudah. Dapat nilai itu mudah, dapat ilmu itu susah, 'key..

'Mat ujian, semuanya, dan untuk ujian korosinya... Semoga hasilnya baik. (n_n).


F I N
written on 24. Oktober 2008, 21.33
Makasih ya, Allah. Kamu memang paling bisa berbuat adil. Saat kepala tunduk, kau angkat kembali. Saat kepala pongah, kau tundukkan lagi. :)



Minggu, 19 Oktober 2008

Sabtu... Sabtu...

Dan... Setelah sepekan --yah, sebetulnya empat hari-- praktikum berjalan, akhirnya hari Sabtu (18. Oktober) kemarin selesailah sudah praktikum itu. Hari terakhir ini, lebih santai --mungkin pengaruh hari Sabtu juga, atau karena Jum'atnya ada jeda praktikum yang bisa kuambil untuk sedikit belajar ulang. Eh? Tentu saja, masa' asisten sampai tidak bisa menjawab kalau ada praktikan mengajukan pertanyaan?

Jadi, modul terakhir yang kupegang adalah modul uji kekerasan. Tahu kekerasan, kan? Tidak? Baik, baik. Coba ambil lembar aluminium untuk membungkus wadah makanan, kemudian ambil pisau pemotong. Mana yang lebih keras? Pisau bukan? Untuk melihatnya sih, cara mudahnya (tapi sangat kualitatif), gosokkan saja pisau ke lembar aluminium, dan sebaliknya. Mana yang tidak tergores berarti lebih keras. Sebagai tambahan saja, material (mineral) yang banyak di alam yang paling keras adalah intan. Padahal intan hanya tersusun dari karbon, sama dengan yang ada di pensil-pensil, tetapi kerasnya luar biasa. Yang membedakannya adalah susunannya. Carilah, banyak bacaan di luar sana kalau memang kamu tertarik.

Ah, sudah dulu. Sekarang bagaimana praktikum hari terakhir? Campur aduk deh. Kelompok pertama, kelompok Nike kemarin itu, menyenangkan. Menyenangkan dalam artian apa yang kami (aku, eM-yU dan Didi) tanyakan, dijawab. Jadi... Bisalah kami putar-putar sedikit untuk menguji sejauh mana mereka mengerti modul ini. Dan, dari situ kami berikan beberapa tugas tambahan juga, yang kami yakin dengan cara mereka menyikapi praktikum ini, mereka kupercaya bisa mengerjakannya. Sipp! Keep up the great job, dude! And lady, too... :-D

Lalu, kelompok kedua. Ah, busuk. Ups, maksudnya, bagaimana bisa paper yang mereka (semestinya) tulis sendiri tak bisa dipertahankan? Dan pertanyaan-pertanyaan, terjawab dalam waktu yang lammaaaa...... Sebal! Jadi kehilangan semangat bertanya-tanya juga. Lagipula sudah dekat jam makan siang jadi Didi memutus praktikum di pertengahan agar kami bisa makan dan berpikir lagi. Ufff...

Lepas makan siang,
Dan lepas kelompok kedua, ternyata.... Weh? Kok nggak ada yang datang? Ternyata modul kami diakhirkan... Jadi, hari terakhir ini ada tiga kelompok --biasanya empat-- dan empat modul. Modulku ada di lantai teratas (empat), huh... Ya sudah, jadi aku dan Didi iseng-iseng melihat presentasi anak 2008, praktikan juga, tetapi praktikan lab kimia. Biasa deh, sekalian bisa dibilang 'cuci mata'. Kenapa 'cuci mata'? Hehehe, kumat deh si Arif ini penyakitnya sama makhluk ciptaan Allah yang lebih sempurna dari sekadar manusia: Perempuan... Jadi, tanya punya tanya pada Wening, aslab kimia yang Kamis kemarin jadi praktikan labku juga, soal "yang itu 2008 ya? Siapa tuh?" Eh, malah dia keluar jahilnya. Dipanggil keluarlah praktikan satu itu (yang lainnya sedang shalat Dzuhur).

"Mau tahu 'kan? Kenalan dong?" Begitu kata si Wening. Ya sudah, kejadian lagi yang begini buatku. Dulu dengan Riesa, waktu masa sekolah dulu. Sekarang, yah.. Lebih baik deh, mungkin karena memang tak melibatkan unsur rasa ya? Jadi namanya Latifah, dan aku memperkenalkan diri sebagai Arif, Didi sebagai Didi (tentu saja, masa' kami bertukar peran? Heheh). Lumayan deh, anggaplah menjalin silaturrahim, yah? :p

Yah, begitulah. Kelompok terakhir kami akhirnya datang juga, dan lebih menyenangkan dari kelompok kedua --sama saja, dalam konotasi seperti kelompok pertama tadi. Tapi masalahnya... Wah, Pak Nuddin hendak pulang! Berarti praktikum harus dipercepat, dan tes pendahuluan modul pun diakhirkan. Wah, pulang Maghrib lagi deh... Tak apalah, setidaknya apapun yang dijalani, diawali dengan baik atau tidak, harus diakhiri dengan baik, betul? Dan akhir praktikum kemarin memang menyenangkan. Bisa sedikit berbagi apa yang kami tahu dengan para praktikan. Aku sendiri dapat tambahan bagaimana menurunkan rumus nilai kekerasan dari skala Brinell, dan untuk itu tak segan aku mengganjar 85 di laporan awal si Ici, eh, Alfarisi. Semangat yah, buat laporan akhir. Kami tak membebani kok. :)

Hmm... Soal beban itu, hampir semua praktikan (juga aslab rekanku) mengeluh dengan keputusan aslab korosi (atau oknum aslab korosi?) yang mengharuskan laporan seluruhnya ditulis tangan. Yah, karena aku tak mengambil praktikum itu, jadi... Semangat yah, semuanya. Jangan ikuti agitasi Didi untuk 'memboikot' dan mengetik laporan dengan komputer yah. Kalau mau dianggap mengerjai, ingat saja kami aslab DT yang mudah-mudahan menjalankan peran sebagai asisten --pembimbing, secara harfiah-- untuk kamu. Semangat! Senyum! S.... Sudahlah. (n_n)


F I N
written on 19. Oktober 2008, 07.45 WIB.
Well.. When you'll come again, rain? It's getting hot out there, and in here, too!


Jumat, 17 Oktober 2008

Bulan, Hujan, dan.... Sariawan!

Wuih... Pekan ini berat. Sungguh, belum pernah sepekan sepanjang zaman, eh, maksudnya seumurku hidup ada pekan semacam ini. Pekan yang lengkap menguras fisik dan otak. Jadi ceritanya begini, terhitung Selasa (14. Okt 2008) kemarin, praktikum Karakterisasi Material I (1 SKS, dulunya praktikum Metalurgi Fisik) sampai Sabtu (18. Okt 2008) besok dilangsungkan. Praktikumnya sih, untuk mahasiswa angkatan masuk 2006, biarpun ada juga sih sesama 2005 dan bahkan 2004, tapi jumlahnya tak banyak. Kalau menurut teknik statistik malah "bisa diabaikan", he he he...

Yang jelas, yang kerepotan bukan hanya para praktikan --yang diharuskan membuat paper dengan berbagai tema, juga laporan awal-- melainkan juga kami, sepuluh orang asisten lab (aslab) DT (Destructive Test). Yah, bermula dari urusan paper --sebelumnya tidak ada. Dari situ Bang Agung alias Julung menitahkan pada kami untuk mencari tema paper dari setiap modul. Tidak tanggung, enam setiap modul! Wahh... Tapi karena titah paduka Julung (he he) adalah kewajiban, jadilah dibagi-bagi tugas itu ke (hampir) semua aslab.

Kemudian, ujian pendahuluan. Setidaknya untuk mengukur kemampuan dasar praktikan sebelum masuk lab, dong... Pemilihan jamnya ternyata tidak bagus. Masa' ujian dilaksanakan jam 5 petang sampai setengah tujuh malam? Duhh... Untung ada sogokan sebatang cokelat untuk aslab yang mengawasi. Kalau untuk praktikan sih, itu urusan masing-masing deh. :p

Yah, akhirnya hari Selasa tiba juga. Aku dan Didi T (Tampan, eh, Tegal {^_^}v) menangani modul pengujian keausan. Jadi intinya material diuji ketahanannya terhadap gerusan material lain yang keras, begitu.
Gelombang pertama lancar, meskipun ada juga hambatan besarnya di pengujian impak --dulu favoritku-- untuk suhu minus. Nitrogen cair belum tiba! Ampun... Jadilah gelombang pertama (4 kelompok) diberi jadwal hari berikutnya.

Kemudian, hari Rabu, hari kedua, hari yang pada hari itu kartu kirimanku diterima di sana (kupikir tidak akan sampai karena aku memaksa mengirim dengan perangko Rp 2500, loh!). Ups, jadi hari kedua itu hari impak. Battering time! Pernah menonton film-film masa perang zaman romawi dan semacamnya? Atau Lord of The Rings, ketika gerbang Minas Tirith dihantam dengan berbagai-bagai battering ram? Nah, pengujian impak kira-kira ilustrasinya sedemikian. Jadi, material diberikan beban besar dalam waktu yang singkat dan diamati ketahanannya, yang ternyata berbeda tiap material, dan pada material yang sama, berbeda di berbagai suhu. Kelompok pertama dan kedua sih, tak masalah. Dengan ada Odie yang menangani pembukaan dan pertanyaan untuk praktikan, sedang aku... Menilai laporan dan paper saja. He he, dasar!

Masalahnya... Tiada angin tiada hujan (belum turun sampai hari itu, hiks.. Payah..) gelombang pertama ternyata disuruh datang hari Rabu itu, jam 12 siang --jam makan siang, bukan? "Kruu...k", kalau kata perutku. Jadi deh, 'lembur' sesiangan itu, dan baru selesai beberapa menit jelang pukul 13.00 WIB. Ampun... Terpaksa melewatkan makan siang, demi mengejar kelompok-kelompok selanjutnya. Kasihan mereka kalau mereka harus menunggu kami aslab yang sering-sering telat, kan?

Jadilah, seharian itu perut pusing, kepala lapar, yang untungnya bisa sedikit diganjal kue yang kubawa dalam rangka "lebaran asisten". Tetap saja, rasanya tak biasa. Sepulangku di rumah, tak sempat belajar, baca-baca supaya setidaknya jangan sampai aku lebih tidak tahu dari praktikan. Masalah citraan, tentu saja. Sebab komputer sudah dipegang Ica, kemudian Ifa, kemudian Ibu. Duh, tak tega mengganggu jadilah aku naik ke kamarku. Sekeluarnya ke beranda.... Ah, purnama! Tentu saja, tanggal 14 sudah masuk pertengahan bulan, dan tentu saja bulannya penuh. Kali itu, sang Purnama terlihat cantik, bersinar kekuningan, dengan cahaya lembut, tetapi cukup terang untuk sedikit menerangi kebun (milik orang) di belakang pagar rumahku. Cukup menenangkan melihatnya, rasanya seperti teringat orang-orang yang masih bisa berlembut hati di tengah badai masalah hari-hari ini. Aku tidak termasuk, sepertinya, padahal sudah janji akan meliputi hati dengan senyum. Uff... Yah, jadilah malam itu tidur dengan hasil membaca yang minim, meskipun sempat membuat 'contekan' untuk dipertanyakan keesokan harinya.

Lalu, pagi hari berikutnya, Kamis 16. Okt 2008, ada satu pengumuman yang menyita perhatianku --yang terlambat datang ke lab. "Briefing Praktikum Korosi, Kamis 16. Okt 2008, Ruang K 301". Hah? Berarti ini akan menyisakan aku dan Dini --partner TA-ku-- di lab? Kemudian tak sedikit praktikan yang mengambil praktikum korosi juga. Ditambah lagi pertemuan dengan Pak Bambang --Kepala Jurusan-- di akhir hari ini. Kemudian Odie yang izin jam 3 sore. Alamat kacau praktikum hari ini.

Benar saja, di dalam ruang aslab, sekaligus tempat tes awal pengujian tarik yang kutangani bersama Riko hari itu, konsentrasi kami buyar. Praktikum hari itu berjalan sama-sekali-tak-sesuai-rencana. Praktikum yang dimulai sangat-amat terlambat (08.30), kemudian alokasi waktu yang berantakan (kelompok kedua datang pukul 10.45 ke ruangan). Kemudian karena waktu briefing itu tadi sudah tiba, jadilah semua pengujian ditunda sampai selesai briefing, menyisakan aku dan Dini di ruang aslab. Sekembalinya, wajah-wajah Reza MU, Didi, Riko, Julung, semuanya deh, malah muram. Yang benar saja, menulis laporan (5 modul) harus dilakukan dengan tangan? Hey, ini zaman komputer, Bung? Ada-ada saja kalian aslab korosi berniat mengerjai para praktikan!

Tapi siang itu, setelah setengah hari di dalam ruangan aslab tanpa jendela, saat ku keluar, ada pemandangan yang lama kurindu. Hujan! Ah, perjalanan menuju mushalla rasanya nyaman sekali, setelah hari-hari panas tak berkesudahan, hujan itu seolah melenyapkan panas dalam kepala dan hatiku juga. Inikah kiriman balasan dari kirimanku? Pikirkan lagi, Arif. Yang jelas, setelah itu praktikum malah baru dimulai lagi 20 menit jelang pukul 2 siang. Jadilah sisa praktikum hari kemarin itu seolah tanpa manfaat. Pertanyaan yang bisa kami ajukan terpaksa dipangkas, dikurangi untuk akrobat dengan terbatasnya waktu. Sampai jam 5 bahkan praktikum belum selesai. Riko, Julung, eM-yU sudah meninggalkan Aku, Dini, Didi, dan Ryan di modul masing-masing --tarik, impak, kekerasan, dan keausan. Aku sendiri, sudah menguap semangatnya, mengajukan pertanyaan jadi sekenanya. Maaf ya, gelombang III, bukan maksudku tidak memberi cukup ilmu, tetapi jadwal hari itu memang luar biasa kacau. Ditambah Pak Herman yang meminta perkiraan kebutuhan bahan untuk proyek kami. Kupikir bisa kutunda keesokan harinya, ternyata Pak Herman meminta hari itu juga.. Makin kacaulah gelombang ketiga itu yang berakhir lewat Maghrib.

Sepulangnya, aku yang sudah janji menjemput Ica di tempat lesnya, berpikir bolak-balik. Pulang berarti hanya sedikit waktu di rumah, kemudian langsung berangkat lagi. Tidak pulang berarti menunggu *cukup* lama di tempat bimbelnya di bilangan Rawa Bambu, Pasar Minggu. Belum lagi perjalanan bermotor Depok-Pasar Minggu bisa jadi sangat melelahkan dengan ketidakrataan jalannya. Jadilah aku putuskan untuk jalan saja, kemudian berhenti di satu Masjid, menunaikan Shalat 'Isya di sana, kemudian berputar ke rumah mengambil helm untuk adikku, kemudian melaju ke tempat bimbel adikku. Alhamdulillah, tidak terlalu lama ku menunggu. Sesampainya di rumah, duh, badanku rasa rontok. Langsung saja aku merebahkan badan, dengan masih berpakaian sama dengan seharian itu plus jaket sehabis bermotor, dan......

** Pukul 3.00 WIB. Duh... Lapar, belum makan. Merambah meja makan, makan, kemudian merebahkan diri lagi.

** Pukul 4.30 WIB. Duh... Kram lutut kiri, eh, turun ke betis.. Harus-memaksa-berdiri... Shubuh, kemudian tergeletak seperti tak bernyawa lagi dan lupa membangunkan Ayah-Ibu-Ica-Ifa.

** Pukul 6.10 WIB. "Mas, nganter aku nggak?". Oh, iya. Adikku harus kuantar ke sekolah.

** Pukul 7.00 WIB. Ah, bisa sedikit mengerjakan PR Statistik, entah dikumpulkan entah tidak, terserah. Itu pun sekadarnya saja kukerjakan.

Yap, hari Jum'at (17. Okt) ini tidak ada praktikum. Terpotong waktu Jum'at. Jadi rencananya hari ini aku dan Dini berencana meng-oven kaca-kaca modul surya kami, dengan terlebih dulu menambah asam klorida pekat ke larutan TCO (Transparent Conducting Oxide) yang ternyata kekurangan HCl itu. Apa nyana, Beni yang juga sedang TA membawa pulang seluruh sediaan HCl di lab ke rumahnya! Jadilah Dini, setengah emosi, memarahi Beni via SMS, menyuruhnya segera memulangkan HCl itu, dan mengambil seperlunya. Huff..

Ah, pekan ini, roda kehidupan berjalan cepat sekali. Keriangan berganti kesulitan dalam waktu sesingkat lima-sepuluh menit saja. Cepat sekali sampai aku harus berkali-kali mengingatkan kalau, "waktu terus berjalan. Yang membedakannya cara menjalaninya. Kalau dibawa (baca:dipaksa) senang, dan senyum, tentu lebih nikmat daripada dibawa ngedumel, dan ngomel-ngomel". Yang jelas, pekan ini juga pekan yang kurang baik untuk rongga mulutku. Sebab semua hal di atas terjadi dengan SARIAWAN menyerang dua kali. Tidak di posisi yang tepat, syukurnya, hanya di gusi atas agak ke kiri depan, dan di pipi kiri. Tapi cukup mengganggu suasana hati juga sih.

Sudahlah, daripada banyak mengeluh, lebih baik besok banyak tanya pada praktikan saja. Ada Nike 'kan? He he he... Jangan salah sangka. Nike ini mahasiswi 2006, kadang dijuluki 'Ibu beasiswa', sebab beasiswanya dengar punya dengar ada setidaknya dua. Wah, hebat.. Tapi biar besok kita uji seberapa baik logika dan ingatannya, juga kawan-kawannya tentu saja.. Ha ha ha.. ** Tertawa kejam ** ;)


F I N
written on 17. Oktober 2008, 23.47 WIB
Thanks for the compliment, but sorry, cause my card wasn't the best of the pack... Sorry. But surely It felt like having a family that lives quite afar. :)


Jumat, 10 Oktober 2008

D -112: Kelebihan Tenaga

Ups, jangan salah... Jangan langsung panggil aku untuk berbenah kamarmu, atau memindahkan lemarimu, atau mendorongkan mobil ayahmu, atau menggalikan kubur kucingmu, atau.... Ah, bukan begitulah!

Kelebihan tenaga di sini --sepertinya-- karena ada kelebihan adrenalin dalam darah. Duh? Apa hubungannya toh? Begini... Adrenalin, atau Epinefrin, adalah hormon yang disekresikan ke aliran darah dari kelenjar adrenal dalam bahasa latin, atau epinefrin dalam bahasa yunani (artinya sama-sama "dekat ginjal"). Biasanya dilepaskan dalam keadaan darurat, atau dalam bahaya mengancam. Pemicu lain bisa berupa ancaman, kegembiraan (berlebihan), suara keras, lampu yang terang, atau suhu yang tinggi.

Nahh.... Sepertinya yang melandaku itu kegembiraan (berlebihan), ya? Bagaimana tidak, bahan kimia --air kristal timah (IV) klorida-- yang lama dinanti "akhirnya datang juga". Hari Kamis, lepas Dzuhur, utusan dari importir rekanan kami tiba, dengan satu toples (eh?) kaca berisi bahan kimia yang sepintas nampak serupa gula batu yang sering menemani acara minum teh poci ayah dan kawan-kawan di teras. Yahh, lebih sebulan kami menunggu bahan itu agar proyek "Dye-Sensitised Solar Cell" untuk TA kami --aku dan Dini-- bisa dimulai. (Untuk bacaan awalan, kurekomendasikan dari sini).

Untuk apa sih gula batu, eh, bahan entah-apa-namanya itu? Begini, untuk membuat setiap sel itu, kita perlu yang namanya kaca konduktif. Dari jurnal yang kubaca, kaca konduktif itu --selain diperoleh sebagai benda jadi-- bisa juga dibuat dengan melapisi kaca biasa dengan bahan-bahan tertentu, salah satunya timah klorida itu tadi, dicampur resep rahasia lain, tentunya. :P

Bercanda... Tidak ada yang namanya resep rahasia itu. Yang diperlukan adalah metanol (metil alkohol. AWAS! beracun terutama pada mata. Kuduga minuman-minuman beralkohol yang beberapa waktu lalu menghias program berita di televisi itu berasal dari keluarga alkohol ini, atau alkohol biasa/etanol/etil alkohol yang diracun metanol --alkohol teknis), dan antimoni trioksida sebagai dopan dicampur asam klorida pekat (AWAS! korosif).

Prosedurnya bisa dilihat di halaman ini. Mengapa jalan sulit ini yang dipilih? Demi kemajuan ilmu pengetahuan.. Ah, mengarang saja kau. Tinggal bilang tidak menemukan produsen kaca konduktif lokal saja malah menutupinya dengan berlagak. Dasar... Jadi melantur ke mana-mana 'kan.

Baik, jadi apa hubungan bahan ini dengan kadar adrenalin yang meningkat? Hmm.. Masih dari sumber yang sama dengan di atas, kadar adrenalin yang meningkat akan dengan cepat mempersiapkan tubuh untuk beraksi dalam keadaan darurat. Caranya dengan meningkatkan pasokan oksigen dan glukosa (gula darah) ke otak dan otot dan menekan proses yang tidak-darurat dalam tubuh, salah satunya pencernaan. Selain itu, peningkatan adrenalin berarti meningkatnya detak jantung, dan mengecilkan pupil mata (benarkah? Harus kutanya Dini, sepertinya). Kadar gula darah ditingkatkan di hati dan di otot. Pada hati, glikogen (gula simpanan tubuh) akan diubah jadi glukosa, dan di otot, pada sel lemak, akan memecah lemak. Kedengarannya masuk akal ya, dengan tingkat stres yang meningkat bisa menguruskan badan. :P

Nahh... Datangnya bahan tadi melengkapi bahan yang kami butuhkan, dan sesuai janjiku ke Pak Herman, "Kalau bahannya datang, kita bisa langsung mulai, Pak!" kataku waktu itu. Benar saja, rasanya aku terpacu ingin menyelesaikan proyek ini. Tanggal penyerahan skripsi, 12. Dezember 2008, sudah tak ada di benakku melainkan tinggal tanggal-tanggal 'keramat' yang kutentukan sendiri sebagai batu penanda jarak, eh, milestone. ^_^

Perlu dijelaskan, kalau ada sesuatu yang menarik hatiku (dan pikiranku juga, tentu), aku sering agak 'larut'. Hari Kamis saja, waktu Dzuhur sudah lebih condong ke 'Ashar dan 'Ashar condong ke Maghrib ketika aku menunaikannya. Tadi? Wah, saat asyik menimbang di lab kimia --setelah kemarinnya gagal karena kunci lab tak ditemukan. Padahal sudah bolak-balik lantai 1, 2, 3, 4... Uff....-- ternyata jam sudah menunjukkan pukul 11.41 WIB. Duh gawat! Jurusan Metalurgi & Material - Masjid UI sulit ditempuh 5 menit. Jadilah bisa dibilang terbang aku sampai ke M.UI itu. Fuh... Terengah, tapi tersejukkan suasana M.UI, tiba aku --terlambat-- ketika Khatib sudah naik mimbar.

Aduh, Rif... Jangan hilang arah begitu, dong... Dua hal itu --Ilmu dan Iman-- harusnya tidak terpisahkan, bukan? Kenapa sekarang bukannya makin banyak berterima kasih pada Pemilik Ilmu, ini malah mau melarikan diri. Ayuh, yang betul. Besok-besok TIDAK BOLEH diulangi lagi. Kalau sampai diulangi lagi... Kudoakan gagal proyek ini buatmu!

Parah, deh. Bahkan hari Selasa yang bersepeda ke kampus pun, aku malah lebih capek daripada dua hari ini. Bolak-balik tangga, mencari Pak Herman, Bu Rini, minta tanda tangan. Mencari Pak Udin dan kunci lab kimia. Mencuci gelas beker, gelas ukur, alu, lumpang, pipet, labu erlenmeyer. Setengah berlari Jurusan-M.UI dan kembali lagi, semua dalam keadaan menahan makan sampai Maghrib, itu tidak terasa lelah saat menjalaninya. Oh iya, dari Senin ini aku tidak makan kala surya meraja, ceritanya lanjutan bulan lalu, he he.. Tapi setelah hari berakhir dan tikar sudah muncul... Hmph.... Rasanya ingin segera membanting badan ke sana, menyelubungi diri dengan selimut --tebal tipis sama saja-- kemudian memejamkan mata tanpa mimpi sampai pagi menjelang. Yah, apa yang bisa kukerjakan di rumah, maksudku, terkait proyek kami ini kan?



F I N
written on 10. Oktober 2008, 23.26 WIB
** bolehkah kutulis namamu di ucapan terima kasihku nanti, Kak? Boleh ya? n_n**

Sabtu, 13 September 2008

Trilogi BuBar Bagian Kedua: BUBAR Metal 2005!

Setelah Kamis (11. September) kemarin berbuka dengan keluarga nenekku yang kecil tapi besar itu, pada Jum'atnya (12. September) kami ber-66 orang (secara teoretis, tapi yang datang tak kurang dari 45 orang kuduga. Maaf tak sempat berhitung) berkumpul di rumahnya Himsky (yang juga menuliskannya dengan singkat, padat dan jelas di sini).

Jadi, cerita dimulai pada hari Selasa, 9. September kemarin dalam kelas Mekanika Perpatahan bersama Prof. Anne yang, hm....... (diisi sendiri deh, takut salah menyebutnya). Di situ, Himsky dan Ida (setidaknya) yang memulai pembahasan tentang acara ini. Ya, jadi acara kemarin itu bisa dibilang mendadak, dan semacamnya lah. Sayangnya rasa pesimis sempat muncul kala hari Rabu dan Kamis-nya. Masalah klasik sih: Banyak yang belum bayar.. Duh, mahasiswa, mahasiswa... (Padahal sama juga, aku juga nunda-nunda kok. Maaf ya, Kak Ida..).

Tapi ternyata eh ternyata, Jum'at sore, selepas kuliah (lagi-lagi) Prof. Anne, di tempat kami biasa berkerumun di bawah kanopi baru dan di gasebo itu, banyak juga yang berangkat. Belum semuanya sih, tapi setidaknya yang tidak ada kuliah selepas 'Ashar pun berangkatlah dengan bermobil beramai dan bermotor berdua-berdua. Di pasukan motor, aku kebagian mengangkut si Panji, ada Amin dan Aci, Alfian dan Dharma, Irwan dan Edu, Lulus dan Alid, banyak deh. Di barisan sopir (he he...) ada Himsky, Falahy, Riko, dan juga Agung alias Julung.

Kalau jalannya sih, tidak perlu diceritakan lah. Lagu lama dari Jakarta yang ada: MACET! Di Uni Pancasila, TB Simatupang, juga setelah berputar menuju rumah Himsky. Yang paling mengesalkan ya si berisik beroda tiga alias Bajaj. Sang pengemudi seolah tak sadar kalau ukuran kendaraannya tidak mencukupi untuk menyelip-nyelip di antara kemacetan. Huh!!

Ah, sudahlah yang jelas di rombongan motor yang berangkat dari kampus bersama selepas 'Ashar (sebab ada Abang Alfari yang dari rumah langsung), aku dan Panji jadi yang terbelakang, he he... Dasar Bajaj! Tapi.... sesampai di sana malah Himsky belum sampai, tidak mengambil jalan tol rupanya, jadilah dia dan penumpangnya datang setelah adzan Maghrib berkumandang. Ckckckck...

Baiklah, sekarang di inti acaranya, berbuka puasa bersama. Setelah semua yang hadir tiba dan berkumpul, kami shalat Maghrib terlebih dulu, untuk kemudian menuju halaman untuk icip-icip masakan dari Ibunya Hims. Wah, ada spaghetti.... Tapi sial, tak kebagian aku pada giliran pertama. Ternyata biar puasa, tenaga banyak di antara kami memang disimpan untuk makan! He he... Yah, jadilah meja di halaman itu medan tempur, di mana hampir semua anak (laki-laki) metal rusuh demi sepiring spaghetti untuk masing-masing.

Jadilah aku, juga Panji, Reza eMyU, kak Ida, dan kebanyakan anak perempuan Metal kebagian es buah saja.. Weleh.. Memang sih, kemudian Ibunya Hims memasakkan lagi pasta itu, dan aku juga masih kebagian sepiring (makasih banyak, Tante. Maaf kami semua rusuh. Sudah bawaan lahir, mungkin). Memang dasar kami-kami ini, tante meleng sedikit sudah langsung ludes beragam makanan-minuman itu.

Dan, setelah makanan 'kecil' --memang tidak kecil juga, sih-- tandas, kami pun makan berat di dalam, berkumpul dalam satu lingkaran besar di ruang tamu/ruang keluarga/ruang .... (maaf ya, Hims. Aku tak tahu ruang apa itu. :p). Sekotak nasi + ayam + sayur segar + sambal (yang ini tak kusentuh, he he...) habis dalam waktu yang berbeda-beda, ada juga yang membawanya pulang saja macam Edu, Uthy, dan banyak lagi deh. Yang cepat ada Mas Didi, sampai dikatakan padanya, "lho, nggak makan, Di?". Ah, anak-anak memang gila (baca: gila-gilaan. Kalau gila betul, alih-alih ke Depok, kami malah berangkat ke Grogol dong..). Yah, jadi kalau menurut filosofi Jawa, "Mangan ora mangan, sing penting ngumpul" (betul ya?). Nikmat memang, kami masih bisa berkumpul. Makan ataupun tidak, bersama-sama membuatnya jadi indah.

Selepas makan, ada usul dari Amin, Pak Ketua Angkatan 2005, kalau ada yang ingin dibicarakan yang masih mengganjal dalam 3 menjelang 4 tahun kami bersama, ungkapkanlah. Jadilah, waktu satu jam setengah itu kami bergantian, meskipun tak semuanya, mengungkapkan banyak hal. Ada Irul, "Kita yang berencana, Allah yang menentukan" terkait rencananya dulu pada semester 7 akan menikah. Amin sendiri, "Buat yang kuliah Daur Ulang Plastik, gw masih nyimpen duitnya kalau ada yang kurang", juga, "Kebiasaan jelek, misal nge'ceng'in (baca: mengolok-olok) orang, tinggalkanlah. Mungkin ada yang tidak bisa menerima tapi tak bisa diungkapkan".

Lalu ada banyak lagi, Agung dengan taklimat singkatnya, Panji dengan ucapan terima kasih atas penerimaan kami, Dian yang sampai tersedu-sedu terbawa emosi, Arya alias JaMet yang meminta maaf tentang barang-barang yang belum dikembalikan, sampai "si Mbah" 'Aliq yang mengingatkan supaya kami semua bukan sekedar bersama dan dekat antar sesama, tapi juga kepada dosen, dan semuanya, juga agar kami lebih peka pada masa depan bangsa --'makasih pengingatannya, Mbah. Aku sendiri? Hm.. Tak ada kata yang bisa terlontar selain ucapan maaf dan terima kasih, serta minta dukungan dan akan mendukung yang akan lulus, terbata-bata semuanya. Duh... Kenapa lidahku seolah bertulang, dan tak bisa mengungkap banyak hal karena terlalu berat ya... Uhh... Terima kasih kawan atas bantuannya, dan maaf kalau banyak hal yang tersembunyi dariku pada kalian.

Dan... Setiap pertemuan ada perpisahan. Setengah sembilan malam jam di dinding ruang itu, foto-foto bersama (aku tidak bawa kamera.. Berat dan belum ada film-nya), lalu kami pamit dan pulanglah. Aku membonceng Suryadi alias Odie sampai Tj. Barat, untuk dia menyambung dengan angkot ke Depok. Maaf Di, tidak bisa mengantar ke Depok. Hati-hati, semoga selamat selalu. Kami pulang paling awal, sepertinya. Maaf ya, kawan-kawan, aku sayang semuanya kok, dengan beberapa kekecualian (maksudnya, ada beberapa yang lebih kusayangi.. Maaf ya. :p).

Ahh... Momen-momen semacam ini. Kenangan yang tercatat dalam halaman-halaman hidupku yang sedang menuju tahun keduapuluh. Semoga pada halaman-halaman akhir hidupku, masih bisa kita berkumpul bersama, mengenang X tahun silam, di rumah Himsky, Mas Ii' (sayang tidak hadir kemarin...), juga Dini dulu dengan dibuka oleh kata-kata, "Eh, ingat nggak dulu di .........". Semoga kawanku, bukankah Bang Ikhsan alias Roy semalam mengatakan "Gue yakin, sepuluh (atau demikian yang kudengar) tahun yang akan datang, kita semua bakal sukses"?

Semoga, kawan.. Semoga...


F I N
written on 13. September 2008, 'til 11.41 WIB
....Harus.banyak.bicara.di.depan.audiens.lebih.luas.Riff....

Selasa, 02 September 2008

Obituari: Ir. Bustanul Arifin, M.Phil.Eng (4. Aug 1946 - 25. Aug 2008)

25. Agustus 2008, 21:00 WIB, Rumah Sakit Islam Pondok Kopi, Jakarta Timur. Saat itulah terakhir kali dosenku tercinta, ayah dari anak-anak beliau, suami dari istri beliau, Bapak Ir. Bustanul Arifin, M.Phil.Eng, atau lebih banyak dikenal sebagai Pak Bus, menghembuskan nafas terakhir beliau di atas bumi ini. Pak Bus, izinkan aku menulis sedikit tentangmu, dosen yang luar biasa yang mencintai jurusan Metalurgi ini dengan kecintaan yang besar. Dosen yang berpulang setelah berjuang melawan kanker paru yang merongrong kekuatan, kehangatan, dan keceriaan beliau.

Pertama kali aku menemui beliau adalah pada saat PPAM (Proses Pembekalan Anggota Muda, mungkin serupa ospek di tempat lain) yang berjalan melewati masa kuliah. Saat itu, kami yang lelah dengan tugas-tugas segala macam dari senior yang membuat kami 60-an orang (minus beberapa yang sakit) kumpul bersama dan terjaga semalam suntuk (meskipun aku tidur cepat juga, maaf ya semuanya, Cicis, Lulus, Bonex, semuanya deh). Lelah betul, karena sebelum masuk kuliah kami dibariskan, disemprot omelan senior, ditanya "berapa jumlah kalian, Dik?!" yang kalau dijawab sebanyak jumlah kami yang hadir, kami disemprot, kalau disebut satu maka kami pun disemprot pula.

Ah, lupakan itu, tak ikut aku --memenuhi ucapanku selepas acara itu-- pada tahun-tahun berikutnya. Yang jelas, hari itu, Rabu kalau tak salah, kelas Pengenalan Material Teknik (PMT) di ruang GK 302 saat itu, kami disambut dua orang dosen, seorang Ibu --Bu Bondan Tiara Sofyan, dan Pak Bus sendiri. Saat itu, cukup khawatir juga aku dengan pembawaan beliau yang terkesan "angker", keras, dan semacamnya. Demikianlah, kadang memang terlalu mudah menilai buku dari sampulnya.

Yang terjadi saat kelas dimulai, memang sedikit banyak membenarkan apa yang ada di kepalaku. Gaya bicara beliau tegas, juga agak keras. Tetapi yang terjadi kemudian, dengan semakin cairnya suasana, dan semuanya, nampaklah sisi lain beliau yang tak nampak pada pandangan pertama. Beliau ternyata gemar melemparkan guyonan segar, dan tak terduga. Banyak di antaranya memang mempermudah pemahaman kami terhadap apa yang beliau dan Bu Bondan ajarkan.

Sedikit yang kukenang di antaranya saat membahas tentang, um, ketahanan impak (benturan). Beliau mengambil contoh dari film "Titanic" (1998), dengan mengatakan. "Inget nggak lu (beliau banyak menggunakan lu-gue dalam keseharian dengan mahasiswa) film "Titanic"?". Tentu saja, mengingat populernya film itu dulu, kami menjawab dalam koor "Ingat, Pak..". Lalu apa yang beliau katakan? "Inget yang mana lu, bukan yang bagian begini" (sembari menirukan gerakan tangan tokoh Rose di dalam mobil itu). Kontan saja kami terbahak bersama, dan beliau pun kemudian menerangkan bahwa baja --bahan kapal HMS Titanic-- yang ulet pada suhu ruang bisa demikian getas (rapuh/mudah patah) pada suhu yang rendah.

Kemudian satu lagi terkait impak juga. "Lu kalau nggak tau soal begini (impak), bisa-bisa 'ngirim (kick-) starter Vespa ke Rusia, pas musim dingin. Lu genjot itu Vespa, nyala kagak, biji (ehm, maaf ini ucapan beliau menurut si Odie) Lu pecah yang ada." lebih kurang demikian ucapan beliau, maaf kalau redaksinya ada yang salah.

Sayang sekali jalan kami berbeda, karena peminatan Polimer yang kuambil tidak mewajibkan mata kuliah Logam (yang beberapa di antaranya beliau ajarkan), jadilah jarang kami bertemu di kelas, dan jarang pula kami bertemu di jalan. Tetapi sikap hangat beliau kepada kami tetap ada selalu. Saat hendak menuju mobilnya di belakang gedung jurusan, kami --yang sedang berkumpul di gazebo metalurgi-- selalu sempat bercanda dengan beliau. Ada saja yang bisa dijadikan bahan candaan, mulai dari, "Ngapain Lu di sini", "kapan Lu traktir Gue", dan banyak lagi.

Banyak cerita tentang beliau, karena beliau sendiri termasuk pionir bagi jurusan kami. Beliau adalah mahasiswa angkatan pertama (1965) dan termasuk lulusan awal jurusan kami ini. Beliau juga, menurut cerita yang kudengar, membantu Pak Topo, dosen kami yang lain --yang memberi si :-D buatku, uh...-- melamarkan (atau seperti itulah yang kudengar) istri beliau. Juga banyak cerita lain yang takkan cukup halaman ini membahasnya.

Yah, sayang beribu sayang, kini beliau telah pergi. Pun demikian, tetap hidup beliau dalam kenangan kami. Padahal semester ini, rencananya aku akan mengambil mata kuliah yang beliau ajar (kalau tak salah ingat) bersama Pak Bambang atau Pak Sri (maaf, aku lupa.. Ups..), tetapi kini sepertinya takkan kami temukan lagi dosen yang setaraf beliau.

Kini, tanah merah di pekuburan Tanah Merah, Pondok Kelapa telah menutupi jasad beliau. Kembali beliau kepada Sang Pencipta, dengan diiringi doa keluarga beliau, rekan-rekan dosen dan staf UI, dan terutama jurusan Metalurgi, dan juga kami, Mahasiswa beliau yang akan merindukan beliau --setidaknya aku. Air mata telah kering, tetapi mulut kami, semoga, tak henti basah dengan doa agar amal, ibadah, juga ilmu yang telah beliau berikan sepanjang hayatnya berguna bagi yang menerimanya, dan diterima di sisiNya, juga agar kelapangan yang beliau rasakan di alam setelah kehidupan ini. Selamat jalan, Pak Bus. Semoga tenang engkau dalam perjalanan panjang ini, dan semoga kembali engkau kepadaNya. Selamat jalan.


F I N
Maaf, Pak. Hanya C yang aku bisa raih di mata kuliah satu-satunya yang kita pernah engkau usahakan ajarkan pada kami. Maaf...

Rabu, 27 Agustus 2008

D -157: Sudah Datang...

-- sekaligus meralat jumlah hari yang ditargetkan sebelumnya. (n_n)

Iya, salah tulis... Seharusnya D -161 pada post yang terakhir. Ah, sudahlah. Hari ini, cukup menyenangkan. Pertama, aku bersepeda (lagi) ke Kampus, demi Ducati 1098 Tricolore yang diidamkan, dan melalui jalan yang relatif sepi. Kedua, bahan yang kami perlukan datang sebuah, dan satu lagi dalam dua-tiga pekan ke depan. Ketiga, mahasiswa baru (banyak, euy!) tur laboratorium. Keempat, sudah mengisi rol film ke dalam kamera 'peninggalan' ayah.

Hm... Bersepeda? Apa asyiknya sih, selain bisa mengatur waktu sendiri untuk sampai ke kampus, tanpa biaya sepeserpun (kecuali untuk segelas es teh manis sesampai di kampus, he he...). Sebetulnya dulu aku bersepeda juga, pada semester-semester awal kuliah dulu, sebelum diberikan SIM. Nah, setelah SIM didapat, jadilah aku bergantian dengan adikku berkendara dengan itu motor pinjaman dari Bulek Eti. Tapi... Selama masa itu, jadilah aku malas bersepeda lagi, terutama --karena kurang perawatan-- Fed hijau itu juga rusak di sana-sini, dan gaya mengayuhku masih norak (cepat sekali sampai lambat sekali). Tapi kemarin(-an), karena dari sekolah adikku --juga sekolahku dulu-- ada acara "Shaking Wheels", mengendarai sepeda dari sekolah ke Bundaran Hotel Indonesia, jadilah Fed itu diurus kembali, dan semangatku bersepeda kembali pula.

Yang jelas, andaikan aku tidak bermotor dan memilih jalan-angkot-kereta api-jalan lagi, waktunya bisa cukup lama, terutama setelah setrip kedua itu. Jadi ingat lagu dari Bang Iwan Fals, "... Duduk aku menunggu tanya loket dan penjaga, "Kereta tiba pukul berapa?"". Yap, KRL jurusan Jakarta-Kota/Manggarai/Tanah Abang menuju Bogor/Depok memang sulit diprediksi datangnya. Apalagi duduk pun belum tentu di kereta itu. Ditambah jalan cepat melintasi FISIP-FIB-Jembatan? Fiuh.. Keringat bisa membanjir. Bandingkan dengan bersepeda, waktu tempuh lebih kurang sama, bisa lebih cepat dengan kayuhan yang lebih kuat tentunya (^_^). Belum termasuk angin sepanjang jalan yang menimbulkan konveksi paksa keringat. Belum lagi kalau di jalan ada.... Ups, jangan disebutkan deh, rizki Tuhan yang satu itu. :-D

Yah, sebetulnya si Agung --alias Julung-- menyebut jam 10.00 WIB (atau WIR, Waktu Indonesia Raya? (",)) sebagai jadwal tur laboratorium untuk mahasiswa baru. Tapi sesampainya di kampus, jam 10 lewat, menuju lab, masih kosong saudara-saudara. Yang ada baru Enriko dan Edu yang juga menunggu si Julung. Selidik punya selidik, ternyata jadwal tur lab itu baru dimulai sekitar pukul 2-3(-an) petang, duh... Setidaknya ada yang kutunggu, sebetulnya. Kedatangan bahan antimoni(III) oksida, beserta kepastian akan datangnya timah untuk pelapisan kaca itu melegakan, dan itu juga yang kutunggu siang tadi.

Sekitar pukul 11 Pak Herman memanggil. Mencari mesin pencetak untuk lab kesayangan kami, lab polimer/nanoteknologi. Bujet, rahasia ya... (n_n). Yang jelas rencananya sore tadi kami akan mencari itu pencetak. Makan siang, biasa saja. Sepi sendiri lagi (-_-'). Selepas Dzuhur ternyata, pak entah-siapa (maaf ya, Pak?), kurir kiriman Pak Nur yang mengantar bahan kimia itu datangnya. Pak Herman menyelesaikan masalah finansialnya, dan berpindahlah zat itu ke lab kami. PR buatku: "Tolong cari MSDS (Material Safety Data Sheet) material ini ya, Rif?" begitu pesan Pak Herman. Yah, lega sedikit hatiku, nanti akan kuberitahu Dini.

Ya, pada akhirnya --setengah empat sore, dan belum 'Ashar... (-_-)-- tur lab pun dimulailah, begitupun ritual membuat "hitung-hitungan". Yah, sederhana sih, Jurusan kami --juga jamaknya jurusan di Fakultas Teknik, kecuali Arsitek, mungkin-- tergolong "kering" untuk urusan perempuan. Jadi ya, begitulah... Syukur di lab ada Ryan (non-Jombang tentu saja. ^_^), kemudian Edu untuk lebih membangkitkan minat adik-adik kami. Jadi... Hasil hitunganku sebagai berikut: Minimal mahasiswa perempuan ada 16 (setidaknya yang hadir pada tur lab hari ini), dan ada setidaknya 4 yang, ehm, spotted-on. Jadi berpikir juga mengapa tidak mengambil mata kuliah Pengenalan Material Teknik itu ya, memperbaiki nilai C sekaligus... :p. Hey, kalau kamu berani kubayarkan semua tabunganku di muka. Ups...

Yah, begitulah. Tur lab awalnya sedikit membosankan --baru Ryan dan aku yang memegang kendali. Maklum, kurang baik komunikasiku --jadi malu. Setidaknya ada Ryan, "Anak Komunikasi yang Nyasar di Metal". Aku ambil spesialisasi menerangkan mesin-mesin saja deh, sembari menatap ke satu titik di belakang gerombolan adik-adik kami laki dan perempuan (n_n). Baru setelah dua kelompok, hadirlah Edu alias Pepi yang, aku curiga dia baru habis makan gulai ikan (menurut versi Ryan: Mie) Aceh yang konon diramu dengan ganja (hehe... bercanda, insya Allah korps AsLab Metalurgi Fisik bersih, kok), menyambut adik-adik kami yang cantik-cantik dan laki-laki (he he...) dengan semangat '45. Menerangkan segala tentang "core competence", "ini kelebihan kita", dan semuanya yang disambut meriah adik-adik kami. Duh, sedikit iri jadinya, mengapa aku tak bisa seperti itu ya. Ada satu anak yang kuingat pernah muncul di lab yang sama sebelumnya, berseragam SMA dalam acara Metallurgical and Material's (MnM's) week sebelumnya. Berarti.... Kami SUKSES meracun adik-adik kami untuk masuk jurusan tercinta ini, he he...

Yah, hari beranjak petang, sepeda tak berlampu, tapi kaki belum lelah. Jadi, pulanglah akhirnya kami (aku dan korps pengunduh Metal, he he), mereka bersepeda motor, aku bersepeda minus motor saja. Di jalan pulang, masih dalam kompleks kampus, tepatnya di antara Gerbang Utama (Gerbatama) dan "Hollywood UI", aku, masih di atas si Fed, diberi acungan jempol oleh seorang ibu yang membonceng sepeda motor bersama (kuduga) suami dan anaknya, sambil beliau berkata "Yang semangat, Mas!". He he, jadi malu. Jadilah senyum saja yang bisa kulayangkan pada mereka. Oh iya, jadi, yang dimaksud Hollywood UI ini adalah papan nama, atau semacamnyalah, yang ada di tepi danau dekat Gerbatama. Pernah masuk FAKTA loh, sebagai latar bagi pemandu acaranya di episode pembunuhan mahasiswi UI bernama Anita Rahmat. Ups...

Hm... Entahlah, bersepeda sepertinya memang mengasyikkan. Sepanjang jalan bisa memandang kanan-kiri, melihat langit biru-kelabu (entah, kuduga asap yang kelabu itu), kereta yang melaju cepat, angkot yang ngetem sembarangan, diklakson oleh pengendara sepeda motor (hei, aku juga mau pulang cepat... Sabar sedikitmi!), dan banyak lagi. Semuanya itu, cuma bisa kusimpulkan dalam seulas senyum, sembari bersyukur atas banyak hal yang terjadi padaku. Persis seperti kalau aku menggoda Ida --dan delapan korps perempuan Metal lainnya: Senyum dong! (",)

F I N
written on 27. Aug 2008, 22.38 WIB
Senyum dong!

DITUNGGU: Obituari Pak Bus(tanul Arifin), Dosen/Alumnus Metal (1946-2008). Belum siap menulis lagi... *keluh*