Senin, 09 Juli 2012

Baik

Laki-laki itu baik PASTI ada maunya ::lesson learned::
- Fridha K, 2012 (http://twitter.com/fridha1102/status/220140447803248641)

Tulisan dari temanku dari masa SMA ini sedikit banyak menggangguku. Ada hal yang kurasa perlu kutuliskan tentang tulisan di atas. Bahwa pernyataan tersebut secara umum: seseorang baik bila ada maksud tertentu di baliknya. Maksud tertentu, tentu cenderung ke bermakna negatif. Bahwa seseorang berbuat baik hanya demi kepentingan diri orang tersebut.

Bisa jadi benar, memang. Bahkan, pasti benar secara harfiah. Karena seseorang berbuat didasari niat, dengan kata lain maksud atau mau. Ada yang maksudnya berjangka pendek, namun tidak jarang yang didasari keinginan "jangka (amat) panjang". Namun, pernyataan di awal tulisan ini sepertinya tidak membuka ruang untuk kemungkinan kedua. Dengan ditutupnya kemungkinan kedua, maka janganlah heran bila akan datang masa seseorang akan enggan menjadi baik sebab akan disangka memiliki maksud (jangka pendek).

Sungguh, iri aku dengan anak-anak yang bisa berbuat baik tanpa dicurigai memiliki maksud tersembunyi. Bahwa perbuatan baik mereka itu, karena mereka telah diajarkan untuk berbuat demikian.

Kira-kira demikianlah.

--
F  I  N
written on 09. Jul 2012, 00.30 WIB (UTC +7)
Will anyone ever believed if I say I do these good (and "good") deeds because it's the only thing I know I can do?

Senin, 18 Juni 2012

Tanpa judul

"Don't put off 'til tomorrow what you can do today"
atau terjemahan bebasnya,
"Jangan menunda apa yang bisa kamu kerjakan ini hari hingga esok hari"

Entahlah, tetapi rasanya tidak berlaku secara umum. Misalnya saja, bila kita pikirkan semua yang menjadi jatah esok pada hari ini, maka jadilah itu beban pikiran yang mestinya tidak perlu. Lagipula, sudah cukup banyak problema untuk hari ini yang tidak perlu kita tambahkan lagi dengan problema esok hari, bukan? Kembali lagi seperti dulu pernah kubilang, semua pada proporsinya.


--
F  I  N
written on 18. Juni 2012, 21.45 WIB (UTC +7)

Sabtu, 26 Mei 2012

September 2012

Tenang saja, saat tulisan ini mulai digarap, kalender masih menunjukkan akhir bulan Mai 2012 dan bukan September 2012. Hanya saja, aku rasa perlu menuliskan rencana yang akan kami jalani empat bulan kurang sedikit yang akan datang segera.

Jadi, merujuk pada kalender resmi yang dikeluarkan organisator Formula 1, sebuah gelaran balap mobil paling bergengsi di dunia akan diadakan di negeri jiran - Singapura. Hajat balap malam hari satu-satunya di kalender F1 ini juga akan membawa serta pertunjukan sampingannya, yang paling utama adalah balap Seri GP2. Boleh dikata, ini adalah sebuah impian yang akan jadi kenyataan buatku.

Jadi, tujuan utama kami berlima sepertinya akan berbeda-beda. Yang bisa kukonfirmasi tentu hanya maksud dari keinginanku yang besar untuk hadir di sana. Rencananya, aku akan mengambil foto sebanyak-banyaknya, apa saja, terkait dengan balap mobil tersebut. Anggap saja sebagai langkah awal yang besar untuk mulai menjejaki mimpi sebagai juru potret olahraga.

Selain itu ... adalah tujuan yang muncul seiring dengan fakta ikut berlaganya seorang pemuda Indonesia di ajang balap Seri GP2: Rio Haryanto. Ini musim pertamanya di seri ini, setelah musim lalu penampilannya cukup baik di ajang Seri GP3 Eropa. Pembalap ini, tidak seperti beberapa pembalap Indonesia yang sempat mengemuka sebelumnya (yang baiknya tidak disebutkan namanya), memiliki prestasi yang cukup gemilang meskipun tidak cukup banyak mendapat perhatian media massa di negerinya sendiri, salah satunya juara seri Formula BMW Pasifik 2009.

Awal Mai ini, setelah dikonfirmasi mendapatkan tiket di Bay Grandstand September mendatang, aku mencoba menanyakan pihak Seri GP2 melalui akun twitter resmi mereka @GP2_official perihal waktu penyelenggaraan balap Seri GP2 untuk Singapura. Mereka pada saat itu belum bisa memberikan jawaban dan memberikan perkiraan bahwa waktu penyelenggaraan baru bisa diestimasi pada September awal. Masalah jadwal ini penting juga untuk bisa mencuri waktu Rio yang berharga (syukur bila diizinkan tim Marussia-Carlin).

Jadi, pertanyaan yang akan coba diajukan bila berhasil menemui Rio antara lain sebagai berikut:
1) Bagaimana musim perdana di GP2 bagi Rio (sampai tulisan ini dikerjakan, sudah mendapat 16 poin dan posisi finis terbaik di Bahrain standalone di posisi 6 pada feature dan sprint race)
2) Perbedaan signifikan antara kendaraan GP3 dan GP2, dan apa saja kesulitan yang dialami
3) Prospek musim 2013, setelah musim pertama sebagai pematangan
4) Hubungan dengan Max Chilton ('pembalap pertama' tim Marussia-Carlin) dan tim secara keseluruhan
5) Hubungan dengan keluarga dan 'orang-orang teristimewa' lainnya, bagaimana menghadapi kenyataan harus hidup amat jauh dari tanah air (cf. pengunduran diri Casey Stoner dari MotoGP 2013)
=== update 11. Jul 2012
6) Seri balap mana yang paling berkesan di GP2
7) Kesan-kesan Rio saat uji coba F1 bersama tim Marussia di Silverstone
=== 
8) Apakah persaingan di garis depan (baca: Valencia, saat memperebutkan P1) lebih menegangkan dibandingkan persaingan untuk poin (baca: Hungaroring, merebut P7 dengan melewati Nasr & Coletti di T1 lap terakhir)
9) Bagaimana puasa Ramadhan di tengah musim (Silverstone & Hungaroring)
10) dst

Daftar pertanyaan tersebut tentu saja belum selesai. Masih ada waktu 120 hari hingga akhir pekan yang dinanti tersebut tiba. Masih banyak pertanyaan yang mungkin muncul. Atau, mungkin kamu punya pertanyaan untuk Rio bila ada kesempatan kami bertemu? Doakan kami bisa bertemu Rio Haryanto cs. di Singapura.

--
F  I  N
written on 26. Mai 2012, 20.50 WIB (UTC +7)
So help me, Lord...

Kamis, 19 April 2012

Kalian minta malaikat rupanya?

K'lian kendara melawan itu arus.
K'lian stop jauh tinggalkan itu garis henti.
K'lian tantang itu palang sepur.
K'lian labrak merahnya itu lampu.
K'lian melaju lampaui itu penyeberang di tempatnya menyeberang.
Tapi,
k'lian teriak-teriak "turunkan pemimpin korup"?
K'lian menyeberang 20 meter jauhnya dari itu belang zebra cross
K'lian menyeberang tepat di dasar itu jembatan.
K'lian yang buat itu jembatan berkarat, lalu diangkat.
K'lian padati itu gang bertiga-tiga di depan si terburu.
K'lian lubangi itu pagar median jalan.
K'lian mau cepat, peduli setan itu aturan kesepakatan .
Tapi,
k'lian memaki pemerintah yang k'lian pilih dari k'lian-k'lian juga?

Kalian minta malaikat, rupanya?

--
F  I  N
written on 19. April 2012, 19.50 WIB (GMT +7)
when right things considered wrong, and wrong things get even worse.

Minggu, 15 April 2012

Pensil

Ya, pensil. Siapa dari kamu yang tidak mengenal alat tulis satu ini. Bersama krayon, mungkin pensil adalah alat tulis pertama yang diperkenalkan orang tuamu dan orang tuaku dulu. Selain kertas buku tulis dan gambar, mungkin saja kreativitas kamu atau aku dahulu sempat tersalurkan ke dinding-dinding rumah, atau tempat-tempat lain.

Rasanya, dari dulu hingga sekarang, pensil itu, ya begitu-begitu saja bentuknya. Batang kayu lurus kira-kira sejengkal, melapisi karbon di dalamnya yang akan tertinggal di media tulis.

Seiring bertambah usia, mulailah masuk dalam kehidupanmu dan aku sebentuk benda yang serupa pensil, namun tak lagi berupa kayu sederhana saja. Benda ini, pensil mekanik, lebih seperti selongsong plastik yang di dalamnya ada mekanisme yang bisa menggerakkan dan menahan batang karbon tipis pada lubang kecil di ujungnya.

Hari ini aku mendapat suatu hal yang menggelitik di ruang ujian. Seluruh peserta ujian di ruang tersebut, terkecuali aku, mempergunakan pensil kayu untuk menghitamkan lembar jawaban (membuang waktu, menurutku). Ditambah tema bacaan-bacaan ujian yang menyinggung soal lingkungan hidup, makin lengkap penasaranku.

Pertama, aku tidak memiliki data "usia" pakai rata-rata sebatang pensil kayu. Namun demikian, pada saat penggunaannya ada cukup banyak karbon yang dikikis dari pensil. Pun saat menajamkan pensil tersebut (dengan peranti penyerut, bukan dengan pisau), selain karbon yang ikut terkikis, ada juga remah kayu yang dipisahkan dari pensil.



Perkenalkan rekanku, pekerjaku, dan senjataku setiap ujian seperti itu: Sebatang pensil yang terbeli entah 2 SMA atau 3 SMA (2004 atau 2005 - ya, aku tua -,-). Beberapa kali sempat raib, namun syukurlah masih kembali. Kalau kita ambil perkiraan aman, usia pensil ini sudah lebih kurang 7 tahun. Selama 7 tahun, sekadar jatuh tersenggol sudah biasa. Syukurlah dengan konstruksi plastik keras dan sedikit logam di beberapa titik, pensil masih berfungsi baik hingga kini. Untuk suplai karbon isi pensil, adanya standardisasi diameter lead (isi pensil) menolong kehidupan pensil ini.

Kini coba bayangkan selama 7 tahun; dengan penggunaan normal, berapa banyak pensil kayu yang terpakai? Berapa banyak kayu yang diperlukan? Berapa banyak karbon yang dibutuhkan? Memang tidak semua pensil mekanik setangguh contoh yang kuberikan -- dan tidak semua orang serakus itu juga dengan pensil kayu -- tetapi setidaknya dapat memberikan gambaran.

Kalau boleh memberikan saran untuk ikut serta 'menjaga' keberlangsungan hutan (ini dibesar-besarkan, tetapi mungkin saja), dariku mendukung penggunaan pensil mekanik. Yang konstruksinya baik tentunya, yang diharapkan dapat awet terjaga sampai, entahlah, mungkin bisa diwariskan ke cucumu kelak?

--
F  I  N
written on 15. April 2012, 20:06 WIB (GMT +7)
You know, I always want to leave some legacy behind me.

Senin, 05 Maret 2012

Mega Bazar Computer & Focus 2012

Pada 29. Feb - 4. Mär 2012 di kompleks Jakarta Convention Centre telah dihelat tiga ajang pameran secara bersamaan: Mega Bazar Computer [sic.], Indonesia Games [sic.] Festival, dan Focus (Jakarta Photo & Digital Imaging) Expo 2012. Awalnya, tidak ada daya dorong yang membawaku ke pameran-pameran tersebut seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Namun, di hari-hari akhir menjelang diselenggarakannya pameran tersebut faktor pendukung pun ternyata datang. Baiklah, aku menyimpang. Kembali ke pameran-pameran tersebut.

Adapun singkat cerita, Reza MU, Panji, dan aku berjanji untuk bertemu di arena pameran, Sabtu, jelang tengah hari. Namun berkat jam karet yang terlalu mengakar, akhirnya jadilah Panji yang tiba paling awal -- jauh. He he he.

Bazar Komputer

Singkat cerita, kesan pertama yang kudapatkan dari ranah Mega Bazar Komputer 2012 (MBK '12) adalah: Lengang! Hal ini paling terasa di sisi belakang, kalau tidak salah Hall B, yang paling jauh dari Lobi. Ada satu pojok yang tidak terisi peserta pameran dan malah diisi kursi-kursi untuk duduk pengunjung. Dan setelah diamati lebih lanjut, di sisi lain lokasi pameran MBK '12 pun menunjukkan gejala yang serupa. Stan-stan merk besar seperti Canon, Samsung, Fujitsu, HP, dan Sony terlihat banyak menyediakan ruang untuk duduk pengunjung. Sangat berbeda dengan pameran sebelumnya yang aku kunjungi, di waktu yang hampir sama.

Seperti kecenderungan di tahun-tahun belakangan ini, produsen banyak memajang produk-produk berharga terjangkau untuk konsumen di pameran-pameran yang mematok harga tiket masuk sebesar Rp 5.000,00 untuk hari Kamis & Jum'at dan Rp 15.000,00 di akhir pekan ini. Produk yang dipajang pun lebih banyak berupa peranti portabel seperti komputer jinjing dan aksesoris pendukungnya. Komputer-komputer meja dan server, misalnya, nampak lebih tersisihkan. Memang dari namanya pun dapat ditarik kesimpulan awal bahwa pameran ini lebih berorientasi penjualan, dan penjualan ke konsumen berarti mempertimbangkan selera pasar, tentu saja.

Meskipun demikian, segmen usaha dan bisnis masih terlayani dengan cukup baik dengan dihadirkannya berbagai solusi bisnis dalam bentuk peranti lunak, maupun peranti keras. Mesin-mesin cetak berukuran besar yang dapat mencetak lebih dari ukuran A3, proyektor-proyektor LCD, dan masih banyak lagi mendapat tempat yang layak pada pameran kali ini. Sementara, untuk aksesoris yang ditawarkan banyak dan bermacam-macam. Mulai dari peranti audio (pengeras suara, earphone), tablet (untuk antarmuka tulisan/gambar tangan dengan komputer), tetikus, dan masih banyak lagi tersedia dalam rentang harga yang luas.

Focus

Sebelum beranjak ke pameran berikutnya (Focus), perlu kunyatakan bahwa kami tidak singgah di Indonesia Games Festival pada kesempatan kali itu. Pameran tersebut ditempatkan di Plennary Hall diapit oleh dua pameran lain yang nampak jauh lebih besar.

Focus sendiri mengambil tempat di Assembly Hall JCC, di sisi paling timur dari gedung pertemuan besar tersebut. Di luar terlihat adanya panggung untuk acara-acara yang diselenggarakan panitia maupun peserta pameran. Panggung ini sangat ramai saat kami beranjak pulang menjelang senja. Tepat setelah pintu masuk, ada dinding untuk pengunjung dapat berfoto (difotokan?) bak aktris Hollywood pada penghargaan Oscar atau semacamnya.

Profil peserta pameran sangat berwarna, selain perusahaan-perusahaan pemegang merk yang telah besar di Indonesia seperti Canon, Fujifilm Nikon, Sigma, Sony, dan Olympus, ada pula pelbagai toko-toko yang sehari-harinya berbisnis jual-beli alat fotografi, juga dari kalangan media cetak fotografi, bahkan komunitas-komunitas fotografi yang belakangan semakin menjamur pun membuka stan-stan pada pameran ini.

Nah, fokus dari tulisan ini sebenarnya di sini, pameran Focus. :-D

Sebelum berkeliling lebih jauh, setelah kedatangan Reza yang telah diceritakan di awal, kami hinggap di stan Canon yang setiap pameran rutin mengadakan kegiatan servis gratis. Kesempatan yang selalu aku manfaatkan, tentu saja. He he.. Terima kasih DataScrip!

Pembersihan memakan waktu satu hingga dua jam, dan kami kembali ke Focus untuk mengambil kameraku selepas mengitari MBK '12. Berhubung yang menitipkan komputer jinjing pada Reza belum membuat keputusan tentang mana yang hendak ditebus, jadilah aku mengajak dua sahabatku mengitari stan-stan yang ada di Focus. Pilihan pertama jatuh ke stan Fujifilm yang Januari lalu memperkenalkan kamera sistem yang dilabeli Fujifilm X-pro 1.

Fujifilm X-pro 1

X-pro 1 adalah sebuah kamera bergaya retro, klasik seolah datang dari era analog/film dahulu. Namun jangan terburu-buru menilai! Kamera ini cukup besar bila dibandingkan kamera saku yang umum. Seorang gadis yang ditugaskan mempromosikan kamera ini berbaik hati meminjamkan kamera ini, lengkap dengan lensa 35mm yang terpasang, kepadaku untuk ku 'bermain-main'.

Saat kupegang, mungkin beratnya lebih setengah daripada kamera yang sering kupakai. Rasanya seperti setengah kilogram di tanganku. Penempatan switch ON/OFF pun logis di sekeliling tombol rana yang sedikit menonjol. Tombol rana pun, kalau aku tidak salah melihat, memiliki ulir untuk menerima pelepas rana via kabel. Rupanya tema retrogarde tidak main-main diambil Fujifilm untuk kamera ini.

Penampakan kulit luarnya memang seolah 'kuno', namun saat kamera mulai digunakan "sebagaimana mestinya" (diangkat setinggi mata, dan diintip melalui pembidik), barulah terlihat jendela bidik hibrida yang diunggulkan Fujifilm. Jendela bidik ini bila kamu pernah mempergunakan kamera jenis rangefinder akan terasa tidak asing. Satu hal yang terasa berbeda adalah adanya tampilan digital di sana, sepert konfirmasi fokus, dan pengukur kemiringan. Pembidik pun jadi terasa terang, meskipun di bawah keadaan pencahayaan ruang pamer yang temaram.

Ada satu-dua gambar yang kubidik, dan hasilnya... Berantakan! Ha ha ha! Syukurlah gambar tidak bisa kubawa pulang karena media penyimpanan yang digunakan adalah milik Fujifilm.

Kesalahan bukan pada kamera, tetapi pada penggunanya yang lupa bila pada kamera semacam itu, apa yang terlihat di jendela bidik bukanlah yang akan menjadi gambar. Sedangkan gambar yang akan muncul dibatasi oleh garis bingkai. Ini perlu jadi perhatian bila kamu berminat pada kamera yang di AS dibanderol sekitar USD 1700. Lensa yang ada untuk sistem kamera ini sementara baru ada tiga macam, "normal" 35mm, "tele" 60mm, dan "sudut-lebar" 18mm. Dari perbincanganku dengan perwakilan Fuji, X-pro 1 masih belum hadir di pasaran Indonesia.

Lensa-lensa monster

Lepas dari itu, dua sahabatku memutuskan beranjak mencari makan dan minum, sementara aku -- yang masih dilanda euforia 'bercanda' dengan X-pro 1 -- berjingkat-jingkat di antara pengunjung lain sebelum berhenti di sebuah stan yang terlihat terpencil bertuliskan besar: SIGMA. Ada kenangan yang bangkit mengingat ini merk lensa yang dahulu ayah beli untuk menemani EOS 500N miliknya. Dan dari situ pula aku pertama kali mempelajari sisi teknis fotografi.

Saat masuk ke dalam ruang semi-tertutup tersebut, aku mendapati ada beberapa lensa (besar) yang didudukkan di atas kaki-tiga. Saat mendapat lampu hijau untuk mencoba lensa-lensa tersebut, rasanya seperti mau melompat. Berhubung lantai stan terasa rapuh, maka niat itu urung dilakukan dan langsung aku membongkar Twendy untuk dipasangkan dengan lensa-lensa tersebut. Lensa-lensa yang aku coba ada tiga, 120-300mm/2.8 OS, 70-200mm/2.8 OS, dan 150-500mm/4.5-6.3 OS. Selain lensa kedua, tidak ada lensa EF dari Canon yang bisa diadu (pun belum pernah aku coba, he he).

Hasilnya? Ini silakan... (data teknis masih tersimpan di foto tersebut, kalau berminat)
120-300/2.8 @ 300mm f/2.8

120-300/2.8 @ 161mm f/2.8
70-200/2.8 @ 70mm f/2.8
70-200/2.8 @ 200mm f/2.8
150-500/4.5-6.3 @ 500mm f/6.3
150-500/4.5-6.3 @ 150 mm f/5.0
Fungsi fokus otomatis ketiga lensa bekerja baik, meskipun untuk 70-200mm terasa sulit mengunci di kameraku. Mungkin karena target fokus kurang mendapat cahaya, atau faktor lainnya. Selebihnya sangat baik, halus, dan cukup cepat. Ring fokus ketiga lensa yang dilengkapi penggerak HSM ('Hyper-Sonic Motor') tidak bergerak ketika sedang mencari fokus terasa memberikan perlawanan yang cukup (cf. EF 50mm/1.8 II). Detil, seperti gambar yang ada sebelumnya, cukup baik pada ASA tinggi. Kendala terutama ada di berat yang luar biasa, bahkan di atas kaki-tiga dengan kecepatan rendah pun masih cukup rentan guncangan. Mungkin dipengaruhi juga pemegang kameranya yang masih dilanda euforia mencicip lensa-lensa yang kalau ditotal berharga lebih dari sebuah sepeda motor sport yang laris di jalanan di Jakarta.

Selain dua stan yang kukunjungi cukup lama tersebut, stan-stan lain juga mendapatkan kunjungan meskipun tak cukup lama. Sempat dicoba juga kamera video Sony 'E-Mount' (mungkin seri NEX, tetapi tidak sempat kuperiksa). Satu hal yang sangat berkesan adalah lensa vario/zoom yang disandangnya memiliki putaran yang berat, sangat berat malah. Hasilnya adalah transisi zoom yang halus tidak seperti bila mempergunakan lensa untuk gambar tak bergerak. Ring fokus lensa tersebut juga memiliki tahanan yang sama kuatnya, memunculkan transisi fokus yang indah seperti sering kita lihat di film di bioskop maupun televisi.

Sementara stan lain, berhubung antrian yang cukup panjang untuk melihat dan mencoba (bila ada unit demonstrasi) atau tidak memunculkan produk yang menarik minatku hanya mendapatkan selintas kunjungan saja.

Yang agak disayangkan adalah, tidak terlihatnya dua kamera teranyar Canon: EOS 1D-X dan EOS 5D Mark III. Padahal, bila ada satu unit pra produksi saja dari masing-masing kamera, aku yakin stan Canon akan jauh, jauh lebih ramai daripada saat kunjungan kemarin.

Demikian laporan kami dari MBK '12 & Focus: Jakarta Photo & Digital Imaging Expo 2012. Semoga ada manfaatnya.
 
Addendum: Gambar-gambar tambahan
Camcorder Sony E-mount
Salah satu sudut stan Nikon. Hadir juga Nikon 1, kamera dengan ukuran sensor yang "unik"
Ini orangnya yang sudi meminjamkan X-pro 1 di stan Fujifilm. Terima kasih~~ :D
F  I  N
written on 4. Mär 2012, until 19.56 WIB (UTC +7), 21.56 KST (UTC +9)
I have to do what I love more ... or vice versa

Senin, 13 Februari 2012

23

Ada satu hal yang (kurasa) besar yang terlewat dalam sekian tahun yang berlalu ini. Tentang hal yang sepertinya bagi kawan-kawan merupakan hal yang biasa saja. Tentang, erm, memberi dan menerima cinta (hal itu) lebih tepatnya.

Padahal kalau mau berhitung, sudah berapa banyak orang memberikan hal itu padaku. Rekan-rekan, teman-teman, juga kawan-kawan tidak berhenti memberikan hal itu. Sementara dariku, apa yang aku berikan tidak seberapa dibanding yang aku terima.

Selama ini, aku mengira kalau hal itu bisa diukur dengan materi. Bodohnya.

Padahal ada banyak, dan banyak hal lain di luar materi yang menunjukkan tanda-tanda hal itu, Rif! Jabat erat, canda tawa, linangan air mata, bahkan tamparan di wajah; kesemuanya, di masa yang tepat, jauh lebih berarti dari sekadar materi.

Aku telah salah, dan sekali lagi teoriku tentang hal yang sederhana itu (sebenarnya) yang paling rumit mendapatkan pembenaran.

Bantu aku belajar dari ini semua. Bahwa pada setiap hal yang manis ada pelajaran. Bahwa dalam kepahitan, ada lebih banyak lagi pembelajaran. Bahwa pelajaran itu, ada di mana-mana tempat. Bantulah, dengan menunjukkan salahku. Jangan hujaniku dengan pujian yang semakin jauh membutakanku. Terima kasih untuk semuanya, selama ini.

23. Sebuah angka. Sebuah rencana. Semoga...


F  I  N

Minggu, 05 Februari 2012

Kikuk

Jadi, 4. Februar 2012 malam (WIB/UTC +7), tiba-tiba saja seorang kawan memanggil lewat jendela perbincangan Yahoo! Messenger. Tanpa tedeng aling-aling, ia bertanya sesuatu, sesuatu yang dapat jadi membuatku menyemburkan teh yang kuminum -- bila aku sedang menghirup teh hangat, tentu. Pertanyaannya, "Do you think I'm socially awkward?"

Pertanyaan tiba tepat saat jendela peramban yang tengah terbuka tiba-tiba berhenti beroperasi. Yah, sedikit jeda untuk waktu tambahan berpikir, he he. Jawaban yang tadinya ingin kuutarakan adalah bahwa ia bertanya pada orang yang mempunyai pertanyaan yang sama. Meskipun jawaban yang akhirnya keluar tidaklah persis begitu, namun ada kesimpulan awal yang kami sepakati bahwa kecenderungan kami serupa: kami adalah (cenderung) introver.

Pemicu pertanyaan ini, menurut kisahnya, adalah kehadirannya di sebuah acara atas undangan rekannya. Nah, sesuai pengertian rekan ini, si pengundang tidaklah cukup akrab dengan yang terundang. Ditambah lagi dengan undangan-undangan lain yang tidak (belum?) dikenal, maka makin lengkaplah sudah.

Bagi beberapa orang, amat mudah untuk menghampiri orang yang belum dikenal untuk sekadar menyapa, dan berlanjut dengan obrolan panjang lebar tentang... Praktis tentang apa saja. Namun untuk kawanku ini, fakta tersebut tidak membantu dan malah memantik pikiran tentang sulitnya bersosialisasi. Kasus ini, terus terang, terjadi juga padaku -- belum lama berselang, malah.

Sebenarnya bagaimana mendefinisikan introver? Definisi per KBBI pada lema introver (sesuai konteks pembicaraan kami) memberikan penjelasan ini: (a) bersifat suka memendam rasa dan pikiran sendiri dan tidak mengutarakannya kpd orang lain; bersifat tertutup. Mungkin benar, tetapi mungkin tidak sepenuhnya.

Pengertian yang diberikan tersebut menurutku adalah pengertian introver dari kaca mata seorang ekstrover, sebab seorang introver dapat jadi ibarat sebuah buku terbuka bagi orang-orang di lingkar terdekatnya. Tapi itu tadi, 'dapat jadi'.

Nah, kembali ke pertanyaan awal, kurasa tidak akan bisa aku temukan jawabannya. Kami berkawan pada masa sekolah menengah atas dan, dari yang kucari tahu, kecenderungan para introver adalah mawas diri yang lebih dari umumnya. Perasaan ini dapat membuat introver seolah lepas dari lingkungannya. Maka jawabanku yang semestinya aku utarakan adalah, "Aku tidak memperhatikan; terlalu sibuk memikirkan jawaban untuk pertanyaan yang sama."

--
F I N
written on 5. Feb 2012, 13:15 WIB (UTC +7)
This is utterly unrelated: A slap on the face is sometimes a good treatment to depression