Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 April 2012

Pensil

Ya, pensil. Siapa dari kamu yang tidak mengenal alat tulis satu ini. Bersama krayon, mungkin pensil adalah alat tulis pertama yang diperkenalkan orang tuamu dan orang tuaku dulu. Selain kertas buku tulis dan gambar, mungkin saja kreativitas kamu atau aku dahulu sempat tersalurkan ke dinding-dinding rumah, atau tempat-tempat lain.

Rasanya, dari dulu hingga sekarang, pensil itu, ya begitu-begitu saja bentuknya. Batang kayu lurus kira-kira sejengkal, melapisi karbon di dalamnya yang akan tertinggal di media tulis.

Seiring bertambah usia, mulailah masuk dalam kehidupanmu dan aku sebentuk benda yang serupa pensil, namun tak lagi berupa kayu sederhana saja. Benda ini, pensil mekanik, lebih seperti selongsong plastik yang di dalamnya ada mekanisme yang bisa menggerakkan dan menahan batang karbon tipis pada lubang kecil di ujungnya.

Hari ini aku mendapat suatu hal yang menggelitik di ruang ujian. Seluruh peserta ujian di ruang tersebut, terkecuali aku, mempergunakan pensil kayu untuk menghitamkan lembar jawaban (membuang waktu, menurutku). Ditambah tema bacaan-bacaan ujian yang menyinggung soal lingkungan hidup, makin lengkap penasaranku.

Pertama, aku tidak memiliki data "usia" pakai rata-rata sebatang pensil kayu. Namun demikian, pada saat penggunaannya ada cukup banyak karbon yang dikikis dari pensil. Pun saat menajamkan pensil tersebut (dengan peranti penyerut, bukan dengan pisau), selain karbon yang ikut terkikis, ada juga remah kayu yang dipisahkan dari pensil.



Perkenalkan rekanku, pekerjaku, dan senjataku setiap ujian seperti itu: Sebatang pensil yang terbeli entah 2 SMA atau 3 SMA (2004 atau 2005 - ya, aku tua -,-). Beberapa kali sempat raib, namun syukurlah masih kembali. Kalau kita ambil perkiraan aman, usia pensil ini sudah lebih kurang 7 tahun. Selama 7 tahun, sekadar jatuh tersenggol sudah biasa. Syukurlah dengan konstruksi plastik keras dan sedikit logam di beberapa titik, pensil masih berfungsi baik hingga kini. Untuk suplai karbon isi pensil, adanya standardisasi diameter lead (isi pensil) menolong kehidupan pensil ini.

Kini coba bayangkan selama 7 tahun; dengan penggunaan normal, berapa banyak pensil kayu yang terpakai? Berapa banyak kayu yang diperlukan? Berapa banyak karbon yang dibutuhkan? Memang tidak semua pensil mekanik setangguh contoh yang kuberikan -- dan tidak semua orang serakus itu juga dengan pensil kayu -- tetapi setidaknya dapat memberikan gambaran.

Kalau boleh memberikan saran untuk ikut serta 'menjaga' keberlangsungan hutan (ini dibesar-besarkan, tetapi mungkin saja), dariku mendukung penggunaan pensil mekanik. Yang konstruksinya baik tentunya, yang diharapkan dapat awet terjaga sampai, entahlah, mungkin bisa diwariskan ke cucumu kelak?

--
F  I  N
written on 15. April 2012, 20:06 WIB (GMT +7)
You know, I always want to leave some legacy behind me.

Jumat, 18 September 2009

Facebook Lite

11 September 2009 kemarin dapat ditandai sebagai suatu sejarah di dunia Internet. Bukan, ini bukan tentang peringatan kecelakaan dua pesawat yang menumbangkan dua gedung tinggi itu. Ini tentang sebuah situs jaringan sosial/pertemanan yang cukup besar yang diberi nama facebook.

Seperti diberitakan di PCWorld, juga BBC, pengelola situs tersebut akhirnya merilis versi ringan dari situs yang selama ini dikenal berat --sangat berat bahkan untuk pengguna dengan sambungan internet pas-pasan. Versi ringan tersebut --dinamai Facebook Lite-- dapat diakses dengan mengetikkan http://lite.facebook.com. Untuk memberimu sedikit gambaran tentang seperti apa FB --demikian facebook di sini biasa disebut singkat-- Lite ini, berikut kutampilkan tangkapan-layar dari halaman muka FB lite.



Sepintas tak ada yang berbeda terlalu jauh dengan situs utamanya. Gambar balon udara lucu-lucu yang menjadi pengganti gambar peta dunia berjaringan di situs utama. Tulisan lite yang ditambahkan di sisi logo FB, dan form masuk yang digeser lebih ke bawah, bisa menjadi pembeda yang tegas dari situs utama FB.

Nah, setelah mengisi form masuk dengan benar, anda akan dibawa masuk ke halaman muka FB lite. Kali ini, perbedaannya sangat --amat-- besar. FB lite menurutku sangat mengingatkanku pada FB mobile (bukalah m.facebook.com di ponselmu). Berikut ini tangkapan layarnya.



Jauh lebih sederhana, bukan? Tidak ada lagi "Seberapa kenal kamu dengan si XXX?", "Siapa karakter yang mewakili kamu di kartun SpongeBob SquarePants?" yang muncul di halaman muka. Meskipun kadang yang seperti itu memancing senyum, tapi lebih banyak mengesalkannya bagi kaum fakir bandwidth sepertiku.

Satu yang disayangkan --tapi tak terelakkan-- adalah keberadaan iklan. Di sisi kanan, nampak ada iklan salah satu aplikasi permainan dalam FB yang sepertinya cukup populer. Mafia Wars judulnya. Pekan lalu, saat awal diluncurkannya, FB lite hanya mengandung satu macam iklan --meskipun gambarnya berbeda-beda-- yang intinya meminta umpan-balik dari pengguna yang sedang menggunakan FB Lite.

Untuk sekarang ini, apabila aku perlu membuka situs tersebut, aku memilih langsung menuju ke FB Lite daripada membuka situs utama FB yang semakin hari semakin berat. Ayolah, sudah seharusnya bentuk ditentukan oleh fungsi, persis seperti sebuah merk kamera Jerman yang fungsinya mengambil gambar dan tidak disibukkan oleh bermacam tombol: Leica (sialnya harganya --sedikit banyak-- tak masuk akal. Hehe).

Bagimu yang mungkin mulai berpikir meninggalkan ranah per'fesbuk'an, bisa pikirkan kembali. Terkadang dari situs seperti ini bisa didapatkan kembali kontak dengan kawan-kawan yang lama tidak pernah bertemu (aku sendiri menemukan dan kontak kembali dengan kawan-kawan SD-ku). Mungkin FB Lite ini bisa menjadi jawaban pengembang FB dari keragu-raguanmu.

--
F I N
written on 18. Sep 2009, 20:10 WIB
Duh, kartu lebaranku... T_T

NB: Penulis tidak terafiliasi dengan Facebook, kecuali sebagai pengguna yang mendapati FB lite dengan pemangkasan fitur di sana-sini merupakan pengembangan yang 'inovatif' dan 'kreatif'.

Jumat, 14 November 2008

Lari

Lelah rasanya. Dengan hantu bernama 'dateline' yang tinggal sebulan kurang lagi (atau harusnya 'deadline'? Sudahlah, sebut tenggat saja lebih mudah). Duh.. 12. Dez 2008 melangkah mendekat saja. Padahal, sedari lepas UTS dua pekan yang lalu (atau entahlah, mungkin tiga pekan?), hampir tak ada tempat yang lebih aku dan Dini singgahi lebih lama dari lab kami. Delapan pagi, Dini sudah di tempat. Aku, ehm, setengah jam kemudian. Tapi rasanya, masih belum dapat juga apa yang kami cari.

Ingin lari rasanya. Ingin mencuri satu hari penuh saja tanpa hantu tenggat skripsi. Ingin melompat ke mana saja, atau ingin berdiam di depan radio kesayangan saja, atau ingin mendinginkan kaki di dingin lantai pualam M. UI, atau apapun, tanpa bayang teks yang harus ditulis itu.

Penat rasanya. Beragam akrobat sudah dibuat, tapi masih juga belum didapat yang kami mau. Sudahlah... Semoga rencana mengupas lapis grafit dari kaca khusus itu hari ini bisa berjalan -- kalau tidak kami harus membuat kaca khusus yang baru lagi. Semoga tak banyak macam data yang dihasilkan dari modul-modul yang kami kerjakan. Semoga...


F I N
written on 14. November 2008, 6.15 WIB
"Dan setidaknya, akhir pekan ini, aku bersama sepeda gunung butut warna hijau warisan ayah akan kembali ke sunyinya hutan kampus kami. Mungkin perlu juga membawa tikar dan makanan kecil, serta buku untuk dinikmati. Sendiri saja..." (n_n)


Rabu, 29 Oktober 2008

Mari Berdendang...

Yap... Mari berdendang bersamaku. Mari bersaing dengan kodok dan katak di malam berhujan (tahu bedanya, tak? Kodok itu hampir identik dengan buduk/kulit kasar, katak itu halus kulitnya). Mari kalahkan jangkrik di sunyinya malam. Mari temani sahutan burung hantu di bawah naungan redup cahaya bulan.

Sementara biarkan ujian yang hari ini lewat hari kedua, yang sepertinya banyak didasari keberuntungan dan ingatan yang cukup daripada pengertian. Sementara biarkan penyemprot untuk melapis kaca itu rusak dan mengacau rencana berjuang untuk TA di tengah ujian ini. Sementara biarkan kembang tumbuh lagi dalam hati, yang rencananya akan kuberikan untuk Puteri di seberang ruang kami mengutik proyek kami. Sementara sang Puteri hari ini berkata telah biasa melewatkan makan siangnya.

Yakin deh, tak ada hujan sepanjang tahun sebagaimana panas seluruh kalender. Tak ada bahagia selamanya tapi tak juga ada sedih selamanya. Karena aku tahu Kamu paling mengerti, kapan menundukkan kepala yang semakin tinggi menatap langit, dan mendongakkan kepala yang semakin runduk menembus tanah.

Jadi... Nyanyi sedikit yuk? Tiga pekan terakhir, ingin rasanya bisa melantunkan bait-bait sederhana ini di hadapan yang dimaksud. Soal reaksi, aku tak peduli. Sudahlah.. Yuk...

################
*     Artist: Mocca   *
*   Album: Friends *
################

I Think I'm in Love

If you got an eerie feeling after hanging up the phone
Sort of happy feeling but you’re not sure what it’s called

If you’re haunted by her face whenever you’re asleep at night
And think you hear her silly voice just calling out your name

Reff:
Oh ,no! I think I’m in love with you..
Oh, no! I’m hoping you’ll want me too
So, please..don’t let me down!

Just can’t help but talk about her in every conversation
Till your friends are sick and tired of that same old crap

If you start wearing make up even when you go to bed
Crying like a baby when you hear a mellow song

Reff:..

_________

Oh iya, sebelum menutup halaman ini, perlu diingat kalau aku TIDAK PERNAH memakai make-up, dimengerti? Dan... Neng yang sabar yah. Kelakuan Arif memang begitu, lambat dan kasar memang terlihatnya...


F  I  N
written on 29. Oktober 2008, 19.45 WIB
Dum di dum di dum... Pelangi pelangi... Kapankah kau muncul kembali?

Selasa, 30 September 2008

Lepas Ramadhan Ini...

Tidak. Tidak hendak ku meminta maaf di sini.
Bukan ku egois, bukan ku tak tahu diri.
Tapi bukantah memaafkan itu jauh lebih baik?

Jadi kawanku, sahabatku, temanku, kakak-kakakku, saudara-saudariku, semuanya.
Segala khilafmu insya Allah sudah kumaafkan.
Teriring serta doa sederhana dariku untukmu:

"Semoga diterima apa yang telah aku dan kamu perbuat,
puasaku dan puasamu,
sujudku dan sujudmu,
ruku'mu dan ruku'ku,
semoga diterima olehNya yang Maha Tinggi

Semoga dipertemukan kita dengan bulan ini kembali,
bulan yang padanya kemudahan diberikan untuk manusia
kemudahan berjumpa denganNya
kemudahan melafadzkan berbagai ucapan yang baik
kemudahan-kemudahan seluruhnya.
Semoga, kawanku, sahabatku, temanku, kakakku, saudara-saudariku, semuanya, semoga...

Selamat jalan wahai tamu yang agung,
semoga sepeninggalmu kami bisa ajek,
biar saat kembalimu nanti,
akan kami sambut sama riangnya."

**
Jadi, sudah lunas ya?
Sudah kumaafkan kok..
Apa lagi yang kamu tunggu?
Lekas, muliakan namaNya.
bukantah sudah diperintahkan untuk itu?


F I N
written on 30. September 2008, 17:36 WIB
Selamat berhari raya, semuanya!! Ingat-ingat saudara dan tetangga kita yah? ^_^

Kamis, 04 September 2008

Labil...

Duh......

Kenapa jadi ruwet semuanya yah? Semua dimulai dari bulan lalu, akhir bulan tepatnya, waktu hitung-hitungan SKS. Dihitung-hitung, ternyata ada (sedikit) peluang masa pendidikan sarjanaku berakhir semester ini. Jadilah, dengan PD-nya kulunasi sisa SKS itu --biarpun Pak Dedi sempat berkata juga, "Kamu yakin ambil segini?"...

Awal semester, selepas KP, sebelum mulai perkuliahan Senin (1. Sep) kemarin, rasanya semua demikian mulus. Bahan-bahan untuk memulai tugas akhir sudah ada yang tersedia, dan ada yang sudah akan datang. Kemudian soal laporan KP, hm.. Biar si Amin yang urus. :p

Tapi....

Waktu yang sangat singkat bisa membalik semuanya. Sekarang, setelah jurnal-jurnal dan artikel-artikel kubaca kembali, ada bahan tambahan yang perlu dicari --dan tidak murah... *keluh*. Kemudian, ada pula soal presentasi KP. Ditambah banyak lagi urusan penting-tidak penting --macam rencana merakit tempat lilin model baru, menulis kartu ucapan 'Id Fitri untuk kemudian kukirimkan via pos ke..... ada deh, mau-tau-aja... (",), dan banyak lagi.

Jangan lupa, tambahkan pula jadwal kuliah yang... Ah... menyebalkan... Selasa-Rabu, terutama. Bukan apa-apa, tetapi jadwal terakhir dua hari itu berakhir pada, coba tebak, 17.00 dan 17.30 WIB. Memang kalau pada bulan lain, itu tak masalah. Yang jadi masalah, jam-jam itu, pada bulan ini, bukan jam yang tepat untuk berada di jalan menjelang saat berbuka puasa. Semua orang, kalau boleh kukatakan demikian, berada di jalan, entah untuk mencari hidangan berbuka, juga untuk "absen" di rumah saat Adzan Maghrib menjelang. Yang jelas, kemarin di beberapa persimpangan jalan kemarin, aku yang bermotor hampir sebanyak itu pulalah terjebak di tengah keruwetan lalu lintas, di mana lema "mengalah" dan "memberi jalan" sudah dicoret dari kamus kebanyakan orang.

Uhh.... Sekian lama isi pikiranku tak pernah terasa demikian rumit. Biasanya, semua berlalu tanpa berisik, dalam diam. Sekarang, macam-macam isi kepala ini membuat seolah kepalaku hendak dipecah jadi banyak bagian. Mungkin kalau bisa demikian lebih baik, membuat masing-masing kepala bisa berpikir untuk urusannya masing-masing, tidak sekacau sekarang.

Ahh, sedikit yang bisa melegakan adalah, orang-orang tercinta di sekitarku masih bisa menatap dunia, menghirup sedapnya embun pagi, tersenyum, terbahak, tergelak. Biarlah, biar aku tersenyum bersama mereka. Tak perlu tahu mereka, apa yang sedang bergejolak di kepala, juga di hatiku --di mana kurasa ada sebutir benih tengah terkembang di padang tandus tak terurus...

Waktu.. Waktu... Tak bisakah kuputar kembali, biar bisa kulalui banyak jalan yang berbeda dari yang telah kujalani? Yah, biarpun tak tahu pula aku ke mana jalan-jalan itu menuju, tapi pastilah hasilnya lain dengan yang kuterima sekarang, kan? Uff....

F I N
written on 4. Sep 2008, 12.58 WIB

Tahukah, Kak? Senyummu bahagiaku.

Rabu, 13 Agustus 2008

Ragu

Ragu, adalah terjemahan dari yeast, digunakan pada adonan roti dan kue untuk membuat roti dan kue mengembang. Ups, maaf. Itu seharusnya digunakan untuk mendefinisikan ragi, bukan ragu. Maaf sekali lagi (",). Seharusnya, "ragu" adalah "dalam keadaan tidak tetap hati (dalam mengambil keputusan, menentukan pilihan, dsb); bimbang" (KBBI, ada tautan menuju ke sana di sebelah kiri, silakan...)

Jadi, pernahkah terlintas keraguan dalam benakmu? Saat kendaraan yang kita tumpangi berada di persimpangan, waktu kita diharuskan memutuskan ke mana kita melangkah, kala tombol "kirim" tinggal satu klik jaraknya. Sejauh yang kutahu tak ada insan yang tidak pernah ragu-ragu sepanjang hayatnya. Hanya besarannya saja, mungkin, yang berbeda-beda, dan kemampuan insan itu menyingkirkan keraguannya untuk kemudian mengambil keputusan yang mantap.

Aku sendiri, syukurlah, masih diberikan keraguan yang cukup besar. Mungkin karena terlalu banyak pemikiran berkecamuk di kepala, sering tanpa penerapan, sampai ide tinggal menjadi ide saja. Mengganggu? Tentu saja. Seorang teman memiliki kutipan favorit: "yesterday is history, tomorrow is mystery, but today is a gift. That's why they call it present.". Menarik, buatku, karena hampir setiap aku menatap ke depan, aku merasa takut. Padahal aku sendiri yang berkata (atau mengutip? Entahlah..) "ketakutan membuat semuanya jadi rumit."

Betul, bahwa masa depan itu belum terjadi. Namun, mengingat kutipan dari temanku tadi: "esok itu sebuah misteri", dan sudah kodrat setiap misteri untuk selalu memancing keingintahuan, ditambah lekatnya manusia dengan sifat ingin tahu, jadilah aku sering menduga-duga, meraba-raba, mengira-ngira, apa yang ada di balik tirai pembatas esok dan saat ini.

Tapi apa yang terjadi? Yang ada adalah ketakutan menghampiri. Ketakutan kalau seandainya aku tidak bisa menyelesaikan Tugas Akhir pada waktunya; kalau seandainya aku tidak lulus pada waktunya; kalau misal aku lulus, akan ke mana aku; kalau sekiranya aku tidak mendapati seseorang untuk menyempurnakan setengah tuntunan Beliau; kalau nantinya kawan-kawan karibku tak mengingatku; kalau....

Ah, kumpulan pengandaian itu menyiksaku. Membuat seolah-olah aku mustahil menapaki masa depan di bawah cahaya, dan hanya gelap yang ada. Wahai Penciptaku, ingat aku engkau menyatakan akan mengamankanku dan yang mengikutiMu, sang Pemilik Rumah Itu, dari ketakutan. Sungguh Engkau tak pernah ingkar --tak sepertiku.

Mungkin yang baik buatku sekarang, nikmati hari ini, siapkan bekal untuk esok, dan tidak perlu mereka-reka apa yang ada di balik tabir pemisah kini dan esok. Karena fajar esok akan datang, bersama matahari yang menerangi dan memperjelas apa yang tak terlihat sebelumnya di balik selubung kini dan esok.

F I N
written on: 13. Aug 2008, 15. 24 WIB
** ...sabar... **

Jumat, 11 April 2008

Bingung Shoutmix

Jujur, aku bingung bagaimana cara kerja Shoutbox dari shoutmix (ups, pertanyaan insinyur: "bagaimana sesuatu bekerja?" :p). Aku memasukkan kode yang diberikan, sedikit modifikasi untuk kesenangan, tetapi yang ada malah tidak ada yang bisa berteriak-teriak, ups, menulis pesan di situ. Ketika aku masuk ke panel pengaturannya, aku mendapati beberapa pesan, termasuk pertama kali aku menguji coba, dan kedua kali, yang di antaranya ada beberapa pesan tertinggal tanpa terbaca. Duh, ada yang bisa membantu bagaimana cara membuat Shoutbox di blog ini? Terima kasih bantuannya. :)

PERBARUAN (?)
Ternyata menurut admin yang bersangkutan (Mr. Tan), aku seharusnya hanya perlu mengubah templat. Sebelumnya aku menggunakan templat melebar, sehingga tidak nampaklah itu pesan-pesan. Sekarang, setelah diganti templat kompak, baru tampillah para narsisis yang berteriak-teriak di situ. :D

Oh iya, cara menggantinya adalah:
1 Masuk ke panel pengaturan (dengan kata lain, log-in ke situs shoutmix)
2 Cari pengaturan gaya dan warna (style & color), terletak agak ke tengah kanan bila halaman baru
terbuka.
3 Ubah templat dengan yang diinginkan/diperlukan, lihat contohnya di halaman bawah tempat kamu
mengganti templat
4 Salinkan kode yang dihasilkan ke pengaturan blog
5 Simpan blog, lalu lihat hasilnya
x Bersiap menerima serangan spam, hehehe amit-amit deh. :D

Semoga berguna. ^_^

Senin, 14 Januari 2008

Air Raksa?

Maaf, hanya ingin bertanya bagi yang tahu dan mengerti. Yang betul "Air Raksa" atau "Raksa" saja?

Yang dulu pernah aku dengar dari guru-guruku (semoga guru-guru pelajaran Bahasa Indonesia tenang di tempat mereka masing-masing, tetapi maaf, aku tidak pernah bisa mengerti Bahasa yang satu itu) dan juga dari sedikit membaca, yang lebih tepat adalah "Raksa". Mengapa "Raksa" jangan kamu tanyakan aku. Tetapi bagaimana sehingga zat kimia berlambang Hg itu sebaiknya (atau seharusnya) disebut "raksa", adalah karena memang zat itu bukan air.

Dari yang kubaca ini dan ini, disebutkan asal nama unsur ini (Hg adalah bentuk pendek dari bahasa latin Hydragyrum) adalah Υδραργυρος, hydragyros. Nama ini adalah gabungan dari air (karena bentuknya pada suhu ruang adalah cair), dan perak (karena warnanya yang keperakan). Nama lainnya adalah Mercury (di sini mungkin diterjemahkan sebagai merkuri, ya?), didasari atas nama dewa dalam mitologi Romawi bernama sama yang terkenal cepat dan lincah. Mungkin karena bentuknya cair sehingga raksa dikatakan lincah dan cepat. Mungkin ini juga yang mendasari nama lain raksa pada bahasa Inggris, yaitu quicksilver (quick=cepat, dan silver=perak). Yak, cukup dulu untuk perak, lebih lanjut silakan baca sendiri, ya?

Sekarang, mari bermain air. Air -murni- yang kutahu disimbolkan sebagai H2O (H-O-H). Dari sini bisa dilihat, bahwa air dan raksa adalah dua zat yang berbeda. Air adalah um, apa namanya? Molekul, ya? Iya betul, dan raksa adalah unsur. Memang tidak menutup kemungkinan bila dalam air yang ditemukan sehari-hari mengandung raksa, juga tidak menutup kemungkinan dalam raksa yang ditambang ada kadar air dalam jumlah tertentu, tetapi bukankah yang lebih utama yang dikedepankan untuk disebut?

Ah, sudahlah. Lagipula mengapa aku pusing-pusing memikirkan raksa dan air raksa, kalau ternyata salah seorang dokter yang sekarang ini sering sekali muncul di televisi pun menyebutnya air raksa. Sampai-sampai, sejauh yang kudengar, semua mengucapkannya dengan fasih: "Air Raksa"

--
F I N
written on 13. Jan 2008
TODO: moto4lin-C650-Celena. Ayo, dong! 'kan gambar-gambar pendukung sudah siap...

Sabtu, 20 Oktober 2007

Idul Fitri Nan Dangkal

DISCLAIMER: Penulis adalah sangat membenci Rokok, perokok yang sedang merokok di sisi penulis, dan juga asap rokok itu sendiri. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk obyektif, tetapi mewakili keprihatinan penulis akan penetrasi rokok di Indonesia, dan diusahakan sebias (baca: bias, tidak obyektif, tendensius) mungkin. Apabila ada pihak yang merasa dirugikan, penulis tidak dapat dikenai tuntutan apa-apa. Apabila anda tidak setuju, segera tinggalkan halaman ini!

Ada tulisan menarik yang kutemui di sini. Menggelitik mengingat Ibu Hanum Salsabila(yang sudah cukup lama tak nampak di layar kaca, kembali ke ruang praktik, mungkin?) juga memberi tekanan di baris ini:
Waduuh.. apalagi ininih... iklan [red]rokok[/red] yang satu ini.. yang tiap tahun di 17an selalu berganti ganti versi iklan dengan menampilkan semangat patriotisme yang luar biasa dan lagu backsound yang menggetarkan hati...
Yap, produk ini menuai masalah lagi, setidaknya untukku. Selain masalah rutin yang loyal ditulis (dalam huruf kecil-kecil sekali), ditampilkan di televisi (tak sampai 10 detik di ujung promosinya yang luar biasa): "MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN". Kali ini masalahnya benar-benar menggelitik jari jemariku untuk menulis ini.

Aku teringat sebuah dialog di radio swasta (maaf aku lupa tanggal, narasumber dan waktunya. Tapi aku ingat radio mana-mana saja itu), antara penyiar, dokter spesialis paru, dan pendengar. Sang dokter mengeluh bahwa pasiennya yang divonis radang paru, ketika ditanya apakah sang pasien merokok, justru marah-marah dan bertanya-tanya apa hubungan rokok dan penyakitnya (maaf, ini seingat aku). Juga seingatku, dokter tersebut menyatakan bahwa rokok bukanlah produk yang perlu dipromosikan.

Jelas, perusahaan-perusahaan tersebut mungkin sering lupa mencantumkan organ-organ yang justru dapat langsung terimbas asap -panas- rokok tersebut pada kemasan produk mereka. Jelas pula bahwa mereka sangat peduli pada keuntungan yang mereka peroleh -sehingga tak henti berpromosi. Tapi bukan itu yang ingin kubahas. Ini kubaca dari dua situs berita:

Pembagian sedekah ini adalah program rutin PT G (baca tautan). Setiap orang mendapat uang Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu. Tahun ini, perusahaan itu menyiapkan dana sebesar Rp 180 juta. Angka ini meningkat dibanding tahun lalu yakni Rp 120 juta (tautan)
dan
Dewasa mendapat Rp 20 ribu sedangkan anak-anak Rp 10 ribu. (tautan)

Lalu aku melihat iklan dari (perusahaan) rokok tersebut, yang (sekali lagi mungkin) memanfaatkan kesamaan nama produk dan perusahaannya untuk mencuri waktu iklan di siang hari. Iklannya, seperti halnya iklan menyambut 17 Agustus yang ditulis Ibu Hanum, iklan itu berkesan megah, meriah, lucu, dan menyenangkan. Sayangnya aku selalu antipati dengan iklan apapun yang berlama-lama seperti itu (entahlah, aku tak pernah berhitung, mungkin sekitar 120"?). Sebab hampir dipastikan iklan itu berasal dari perusahaan rokok.

Iklan semacam itu -dengan koreografi yang indah, pemain yang banyak, musik yang meriah- tentu memakan biaya tak sedikit. Jangan dibandingkan dengan biaya yang mereka keluarkan untuk "memberi sedekah" kepada fakir miskin. Tentu biaya "memberi sedekah" itu hanya seujung kuku dibanding promo yang memakan 4 spot iklan (seingatku 1 spot = 30 detik, maaf bila salah) dan tayang rutin (dan sering) di semua stasiun televisi yang ada di bumi Indonesia ini. Dengan kemampuan seperti itu -dan banyaknya orang yang sudah mereka racuni- entah mengapa mereka "hanya" mampu menyisihkan 200 juta rupiah kurang untuk orang yang tidak mampu.

Mungkin uang mereka tidak sepenuhnya habis untuk promosi, mungkin mereka mengemban "misi mulia" dengan mempekerjakan pekerja yang teramat banyak -dan sering menjadi alasan mereka menolak pelarangan rokok. Mereka juga membayar cukai yang tinggi. Tapi tidakkah ironis, di saat perusahaan tersebut sudah cukup mapan, mereka tak henti-henti mempromosikan diri, dan kemudian meninggalkan orang-orang miskin. Bukankah amanat konstitusi negara ini begitu mulia menyatakan: "Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara negara" -dengan negara selalu kutafsirkan sebagai "pemerintah, dan seluruh warga negara". Amat disayangkan bila nurani dikesampingkan hanya untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya -yang sebetulnya sudah besar.

Mungkin karena aku tidak merasakan "nikmatnya" menghirup asap? Mungkin karena aku tidak pernah mencoba? Tidak! Aku sudah berjanji pada diriku (dan pada "kakakku"), sebuah janji yang dalam dan sepenuh hati: Lebih baik mati daripada batang tercela itu pernah terselip di bibirku.

Jadi, semoga semangat perusahaan itu "ber'Idul Fitri" ( yang mungkin dengan maksud-maksud tertentu) tidak menjangkiti (setidaknya) aku. Semoga Ramadhan yang berlalu memberi jejak yang dalam di hati kita, mendorong kita berbagi, menyunggingkan senyum di wajah orang lain, dan semoga kita dapat dipertemukan dengan Ramadhan selanjutnya, Amin.

DISCLAIMER: Penulis adalah sangat membenci Rokok, perokok yang sedang merokok di sisi penulis, dan juga asap rokok itu sendiri. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk obyektif, tetapi mewakili keprihatinan penulis akan penetrasi rokok di Indonesia, dan diusahakan sebias (baca: bias, tidak obyektif, tendensius) mungkin. Apabila ada pihak yang merasa dirugikan, penulis tidak dapat dikenai tuntutan apa-apa. Apabila anda tidak setuju, segera tinggalkan halaman ini!

F I N
Finished this writing on early hours of 20. Okt 2007

Senin, 30 Juli 2007

Server 2 Shoutmix Berulah...

Sayang sekali. Shoutbox yang belum pernah dijajah terpaksa tutup dulu. Si Rubah Api berkata, "The connection to www2.shoutmix.com has timed out". Ketika diperiksa ke shoutmix-nya, eh, ternyata ada berita kecil di sisi kiri:

Recent News (2007.07.30)

We're working on bringing server 2 back online. Sorry for the inconvenience caused.


Terserahlah...

Jumat, 13 Juli 2007

Membuka 14-digit 'Rahasia' Voucher Prabayar Tanpa Menggosoknya, Mungkinkah?

Pernahkah mengalami kejadian seperti, telepon yang terputus di tengah pembicaraan, pesan singkat (sankat) yang tidak terkirim, dan GPRS yang tiba-tiba tidur? Mungkin masalahnya ada pada... 'PULSA' kamu.

Kemudian, perkenalkan FreeMat 2.0, sebuah program yang -apa ya- begini, mungkin sebagian dari kita lebih kenal dengan program MATLAB. Nah, FreeMat 2.0 ini bisa dikatakan sebagai pengganti dari program tersebut. Program ini, sebagaimana MATLAB menggunakan matriks sebagai basis untuk melakukan perhitungan. Kenapa aku sebut pengganti, karena padanya terdapat banyak fungsi yang bersesuaian dengan fungsi pada MATLAB.

Kelebihannya, antara lain waktu mulai program yang (jauh) lebih cepat,
lisensinya yang murni GPL (GNU Public License, bukan Glodok Punya Lisensi) yang menjamin ketersediaan kode sumbernya, dan menu bantuan yang sederhana tetapi mudah dimengerti.

Salah satu fungsi yang menggelitikku adalah fungsi randi. Penjelasan pada menu bantuannya seperti ini:

"Generates an array of uniformly distributed integers between the two supplied limits", kira-kira terjemahannya, "Memunculkan angka-angka bilangan bulat yang tersebar merata antara dua batasan yang diberikan."

Dari fungsi itu, kemudian terpikir olehku -oke, tidak sepenuhnya dariku, tetapi ada sedikit 'tantangan' dari temanku, puas?-, mungkinkah aku mendapat 'pulsa' tanpa mengirit uang makan sehari-hari atau sebagainya? Sedikit membaca manual FreeMat 2.0, dan kemudian improvisasi, dan jadilah script seperti di bawah ini:

voucher=randi(zeros(1,14),9*ones(1,14)); //Menghasilkan matriks 1 baris 14 kolom dengan isi yang berupa bilangan bulat acak

disp(voucher) //Menampilkan isi dari matriks bernama voucher

clear all; //Membersihkan variabel pada script ini dari memori


disimpan sebagai voucher.m pada folder yang ditentukan, dan dapat dipangggil sewaktu-waktu, cukup dengan mengetikkan "voucher" (tanpa tanda kutip), dan, voilá, muncullah angka, di antaranya seperti ini:

0 6 7 8 0 5 8 4 9 6 2 6 8 5
1 1 4 7 5 4 2 9 3 1 3 1 7 4
3 2 6 4 5 9 7 6 7 3 0 5 2 5

Hanya saja, kekurangannya -yang baru saja kuperhatikan- adalah, angka pertama yang dimunculkan -setiap FreeMat 2.0 pertama kali dijalankan dan kemudian menjalankan voucher- selalu sama, 3 7 9 2 1 4 9 1 7 3 9 6 2 0, dan tidak menutup kemungkinan angka-angka selanjutnya juga berulang setiap program dijalankkan ulang.

Jadi, pertanyaan terakhir, kembali ke judul artikel ini: Mungkinkah?


---
Penyangkalan: Artikel ini ditulis tanpa niat (um, mungkin sedikit ya? :-P) merugikan pihak manapun. Penulis tidak pernah menggunakan cara tersebut untuk mendapatkan keuntungan. Apabila dalam pelaksanaannya ada pihak-pihak yang merasa dirugikan, penulis dibebaskan dari segala tanggung jawab berkaitan kerugian tersebut.

MATLAB, FreeMat 2.0 dan apapun yang berkaitan dengan merk dagang atau merk terdaftar ditulis hanya sebagai penjelas.

Selalu gunakan software asli, terutama bila mampu. Bila tidak mampu? Selalu ada Free and Open Source Software di sisimu, sayang!

FreeMat 2.0 dan versi terbarunya dapat ditemukan dengan meng-klik di sini.