Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Juli 2014

Mati

Bismillah, walhamdulillah. Shalawat dan salam untuk Rasul-Nya yang terakhir dan untuk keluarganya, dan untuk Sahabatnya, dan pengikutnya.


Mati. Sebuah kata yang sangat bersahabat di telinga. Bisa dibilang akrab, tetapi tidak juga. Tidak perlu tahu ayat, pun, semua mengetahui bahwa setiap yang berjiwa pasti akan mati. Pasti. Suatu kepastian yang tidak terbantahkan lagi. Belum pernah ada catatan sejarah menuliskan bahwa, jangankan manusia, makhluk hidup apapun berhasil mengatasi mati.

Pernah mendengar istilah "fountain of youth" (mata air awet muda)? Istilah ini lebih dikenal di kebudayaan "Barat" daripada di bawah kebudayaan Islam atau yang dipengaruhi Islam. Dahulu, konon dikirimkan ekspedisi ke tempat-tempat yang jauh, demi mengambil air yang akan mengembalikan kemudaan peminumnya. Kebudayaan terus berkembang, dan pencarian mata air itu pun surut sudah. Atau setidaknya pencarian pada mata air dalam bentuk sebenarnya yang diakhiri.

Tidak dapat dipungkiri, pada masa ini, konsep mata air awet muda ini masih terus bertahan. Bentuknya, tentu menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman. Kita barangkali pernah mendengar penelitian/riset tentang penuaan (ageing). Mengenai hasilnya, entahlah. Paling tidak ada berbagai "krim anti penuaan" yang didapuk dapat menunda penuaan (meskipun pada hakikatnya hanya tampak fisik saja yang bisa disamarkan). Adapun untuk penuaan sendiri, nampaknya penelitian-penelitian itu sia-sia belaka.

Akar yang tidak kuat
Kalau ditelusuri lebih mendalam, apa sebenarnya yang menjadi landasan pelbagai penelitian mendalam tentang penuaan ini?

Barangkali hipotesisnya adalah bahwa "penuaan dapat dicegah" — sebuah hipotesis yang hingga saat ini belum terbukti.

Tapi kita masih bisa menggali lebih dalam lagi, bagaimana bisa hipotesis tersebut bisa muncul? Apa yang menjadi motivasi mereka?

Ini yang bisa aku pikirkan: Kecintaan yang besar pada kehidupan (dan dengan demikian, ketakutan yang sangat pada Maut).

Takut akan kematian
Ketakutan akan kematian, yakni berakhirnya kehidupan di dunia, adalah sesuatu yang wajar. Adalah sesuatu yang aneh bila, misalnya, seseorang terus saja berjalan melintasi jalur kereta setelah datang kepadanya peringatan (dan tanda yang jelas) akan kedatangan kereta di jalur yang akan ia lintasi. Tentu wajar seorang manusia takut akan kematian.

Perbedaannya adalah, bagaimana reaksi seseorang terhadap kematian. Seorang muslim tentu mengenal bahwa segala perbuatan di dunia akan ditanyai kelak, dan hasilnya dapat memengaruhi "rapor"-nya kelak. Semakin kuat kepercayaannya pada Allah dan Hari Akhir, maka ia akan berusaha berbuat sebaik-baiknya semasa hidup. Di sisi lain, seorang yang bukan/belum muslim menghadapi kematian dengan berbagai cara. Akan dipaparkan beberapa reaksi menghadapi kematian yang mungkin dari orang yang belum/tidak muslim.

Reaksi pertama adalah, tidak mempercayai sama sekali tentang adanya kehidupan setelah kematian. Jenis manusia seperti ini memercayai bahwa kehidupan hanya sekali ini, sesudah itu berakhir sebagai debu saja.

Reaksi selanjutnya adalah keyakinan bahwa setelah kematian, akan ada kehidupan lagi yang sama fananya dengan kehidupan sekarang. Seolah-olah kehidupan hanya berputar di dunia saja, tidak ada neraka apalagi surga. Kehidupan selanjutnya itu, bisa jadi atau bisa juga tidak terpengaruh oleh kehidupan saat ini.

Kemudian, ada juga manusia yang meyakini adanya surga dan neraka, namun keyakinannya rusak. Menurut manusia seperti ini, surga itu hanya bagi sekelompok orang tertentu saja — baik itu golongan mereka sendiri, atau malah untuk semua orang. Bagi mereka, neraka itu hampir seperti tidak ada saja. Konsep yang sama rusaknya adalah bahwa dosa-dosa manusia itu sudah "ditebus". Rusaknya konsep ini adalah, bahwa seandainya mereka disuruh untuk mati saja — karena toh dunia hanya sementara dan tidak sempurna — mereka malah enggan. Dan orang-orang seperti ini yang biasanya malah paling kuat mencari cara supaya tidak sampai mati. Sungguh aneh.

Terpengaruhnya muslim
Di atas telah disebutkan bahwa adalah wajar bagi seorang muslim untuk takut kepada kematian. Namun, bentuk ketakutannya bukanlah dengan memeluk, bahkan menggigit dunia erat-erat melainkan dengan berbuat sebaik yang ia sanggup untuk berbekal menuju kematian dan setelahnya. Pada kenyataannya, kita akan mendapati ada saja muslim yang amat takut dengan kematian hingga ia pun mati-matian mengejar dunia yang fana dan melalaikan bagiannya di Hari Kemudian.

Beberapa hal yang barangkali kita anggap wajar, tetapi sebenarnya berbahaya, dapat kita lihat pada kehidupan sehari-hari. Tidak jarang seorang muslim menyebut pekuburan/pemakaman, tempat berkumpulnya jasad-jasad yang telah mati, sebagai "tempat perisirahatan terakhir". Penyebutan seperti ini menyimpan bahaya bahwa dengan adanya makna beristirahat sebagai berlibur/mengaso, bisa timbul di pikiran bahwa kehidupan berakhir di dunia saja. Tentu ini tidaklah benar.

Kemudian juga, betapa banyak di antara muslimin yang berangan-angan untuk hidup selamanya di dunia. Jelas menyerupai keinginan orang-orang yang membenci kematian dengan kebencian yang sangat.

Wahai muslimin, kembalilah!
Dengan tulisan ini, penulis memanggil dirinya sendiri dan saudara-saudaranya yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir untuk kembali. Untuk merencanakan ulang tujuannya di dunia ini. Bahwa, barangkali, tujuan jangka panjang yang sudah payah disusun ternyata masih kurang panjang. Karena sehijau dan semanis apapun dunia ini, semua akan ada akhirnya bagi kita, dan kepada Allah-lah kita akan dikembalikan.

Bukanlah maksud penulis untuk mencegah, apalagi melarang, muslimin dari mendapatkan dunia. Tetapi, sebuah wasiat yang penulis dengar dan penulis ingin sampaikan adalah, bahwa bagian setiap anak-cucu Adam di dunia ini sudah ditentukan; tidaklah seseorang akan mati kecuali bila telah sempurna rezekinya.

Dunia ini, kumpulkanlah, tetapi jadikan dunia ini sebagai tabungan di akhirat. Harta yang kita kumpulkan — pun dua tiga gunung emas tingginya — bukanlah milik kita bila kita mati. Siapa yang menyangkal bila harta tersebut akan beralih kepemilikan ke ahli waris kita. Bagian kita, adalah apa yang kita makan. Bagian kita adalah apa yang kita jadikan sedekah untuk Hari Akhir kelak. Karena tidak seorang manusia pun yang tahu ke mana kaki akan menjejak setelah kematian menjemput.

Oleh karena itu, kembalilah!

Tujuan kita jauh, dan perbekalan kita sedikit. Dan sebaik perbekalan, menurut Yang Menciptakan kita adalah ketaqwaan. Dan bagaimana kita mengetahui taqwa itu apa kalau tidak kita cari ilmunya.

Dan terakhir, takutlah pada kematian. Ia akan menjemput tepat pada waktunya, tidak kurang semenit atau lebih sedetikpun, di manapun berada. Takutlah dengan bersiap-siap apabila ia datang. Mudah-mudahan ia menjemput kita pada keadaan terbaik kita. Dan kembali kita di antara orang-orang yang beruntung.

Wallahu waliyu-t-taufiq.

––
malam 3 Ramadhan 1435, jelang `Isyaa'
+33 / 56100 / 1RNA 1033

AR

NB:
Sha = ص; Sya = ش

Selasa, 24 Juni 2014

Kritis di Era Informasi

Bismillah, walhamdulillah


Sekarang ini banyak disebut sebagai era informasi, katanya. Atau kadang disebut juga zaman informasi. Begitu banyak sarana tersedia untuk memperoleh informasi, dan lebih banyak lagi informasi yang bisa diperoleh dari sarana yang ada. Berita yang datang dari kolong langit sebelah Afrika, bisa sampai ke nelayan di Natuna lebih cepat dari kedipan mata — tentu apabila ada sarana informasinya. Tentu saja, setiap sarana seperti itu bisa mengandung keburukan atau mengantarkan kebaikan bagi penggunanya.

Ambil contoh, dari 'hobi-terpaksa' yang belakangan ini menghinggapi penulis: Memasak. Sudah bukan zamannya lagi buku-buku memasak karya Rudi Choiruddin, atau Ibu Sisca Soewitomo, atau yang lainnya menghiasi rak-rak yang seadanya. Sekarang, tinggal membuka peramban (perambah ? browser !), masukkan alamat situs pencari terkemuka, lalu cari "Resep nasi uduk enak sedap gurih" atau semisalnya. Ia akan menampilkan hasil pencarian yang (di)sesuai(kan) untukmu.

Nah, permasalahan timbul karena banyak sebab. Sebab yang paling utama dalam kasus ini adalah, capain penulis kemarin dulu yang paling hebat adalah memasak mi instan dengan telur dan sosis. Lalu singkat kata, penulis berkeinginan memasak RENDANG.

Bagi penggemar masakan Padang barangkali akrab dengan makanan ini. Makanan dari daging, santan dan berbagai bumbu rempah ini bisa dikatakan salah satu favorit di restoran masakan Padang — selain ayam pop atau gulai kepala kakap, misalnya. Tapi bagi ibu-ibu di luar sana, niscaya kalau si bapak atau anak-anak meminta rendang, maka boleh dibilang itu medan juang yang berat. Penulis ingat bagaimana Ibu dulu memeras 2 kg santan dengan tangan lalu mengaduk hampir setiap 5 menit sekali untuk menjaga santan tidak 'pecah'. Selama 3-4 jam. Semua untuk menjadi paling banyak 1 kg rendang yang enak lagi sedap. Beruntung bumbu halus sudah dibantu oleh penjual bumbu langganan di pasar.

Baik, penulis terlalu melebar di situ.

Akhir kata, penulis menemukan beberapa resep. Bahan-bahan yang harus digunakan mirip, tapi tidak persis sama. Yang mana yang benar? Penulis memilih menelepon Ibu, untuk memastikan bahan apa saja yang minimal ada pada rendang. Dari situ, bisa nampak, tautan mana yang menulis daftar yang paling mirip, beserta cara memasak yang paling bisa dikerjakan. Singkat cerita (satu jam 'meng-ulek' bumbu dan hampir 3 jam mengaduk), jadilah masakan paling efisien yang pernah penulis hasilkan: 1/4 kg rendang untuk sepekan lebih.

Soal rasa? Jangan ditanya. Jangan ditanya karena memang lain, ajaib, dan hanya fisiknya saja yang rendang. Tapi berhubung ini adalah masakan sendiri, maka kemiripan segitu saja sudah cukup untuk bangga telah bisa memasaknya.

Itu cerita soal rendang.

Lalu bagaimana dengan informasi, misalnya ada warga yang bertikai di mana. Apakah kita telan bulat begitu saja? Tentu semestinya tidak. Harus ditanyakan, kenapa, bagaimana reaksi supaya tidak terulang lagi, siapa yang terlibat, sejak kapan dimulainya, ... dan seterusnya agar kita tidak terbatas hanya pada 'ada warga yang bertikai'. Atau 'ada pelaku korupsi yang ditangkap'. Tahu sebatas itu tidaklah menutup kemungkinan besok, lusa pelaku lainnya ditangkap. Syukur kalau masih orang lain, kalau kita sendiri yang ditangkap? Nah lho!

Karena itu, penulis berwasiat untuk diri penulis sendiri. Bila ada informasi datang, maka selalu tanyakan apakah ada sumber yang sahih tentang cerita itu. Bagaimana misal kalau ada seorang dari pedalaman Toraja (sebagai contoh), mengatakan bahwa Masjid Istiqlal di Jakarta itu ada megah dengan 7 tingkat. Sementara pergi ke Makassar saja dia tidak pernah !

Bila ada informasi datang, maka periksalah asal-muasal datangnya berita. Bukan menghakimi orang tersebut tidak jujur. Tetapi namanya manusia sangat berpotensi salah. Bisa jadi seseorang baru setengah terbangun, lalu diminta korek api, tiba-tiba langsung berlari keluar ketakutan – karena salah memahami pertanyaan, "ada api?".

Apalagi kalau menyangkut agama, Islam terutama. Bagaimana menurutmu tentang orang yang mengajarkan Qur'an, hadits, sementara alif ba ta tsa saja tertukar-tukar?

Semoga keterbukaan informasi ini, dan kemudahan mendapatkannya, mempertajam pola pikir kita semua.


25 Sya`ban 1435
+33 / 56100 / 1RNA 1033

AR

Selasa, 20 Mei 2014

Perbankan-Asuransi. Perlukah?


Bismillah, alhamdulillah. Shalawat dan salam kita sampaikan untuk Rasul-Nya (s.a.w*), begitu juga untuk keluarganya dan Sahabatnya.
Baiklah, tulisan berikut tidaklah merupakan tulisan ilmiah, melainkan sebagian besarnya merupakan pendapat penulis.

Perbankan. Asuransi. Dua kata yang jamak terdengar pada kehidupan 'modern' atau masa kini. Dua kata yang sepertinya tidak bisa lepas dari keseharian. Tapi apa benar demikian?

Perbankan, berdasarkan yang penulis pahami, merupakan suatu institusi yang menjadi perantara keuangan yang 'dipercaya'. Uang yang ada pada bank, umumnya dari simpanan nasabah nantinya disalurkan kepada orang yang memintanya. Penyaluran dan penyimpanan tersebut lazim dilakukan dengan pertambahan, baik pada besar simpanan ataupun pinjaman.

Di lain pihak, asuransi -- juga sesuai yang penulis pahami -- merupakan lembaga yang 'menjamin' adanya pendanaan untuk kejadian-kejadian yang tidak diinginkan (kecelakaan, sakit, meninggal dunia, kecurian, ...) pada diri pelanggannya. Pelanggan membayar uang sedemikian dan sedemikian, dan berhak meng-'klaim'  sejumlah uang yang diperlukan untuk kejadian tersebut.

Dari pemahaman tersebut, dan dengan pengalaman penulis terkait kedua lembaga tersebut, penulis memandang bahwa kedua institusi ini cenderung 'redundant' (berlebihan). Barangkali muncul dan berkembangnya kedua jenis lembaga ini bermula dari lunturnya semangat saling menolong di tengah-tengah masyarakat. Penulis akan coba membahas keduanya satu persatu.

PERBANKAN
Sebagai seorang muslim (penganut agama Islam), penulis mengetahui bahwa "riba" merupakan hal yang diharamkan, alias dilarang, atau tidak boleh dikerjakan. Dan di antara definisi riba yang sampai kepada penulis adalah adanya tambahan pada pengembalian pinjaman. Definisi ini masuk langsung kepada praktik yang lazim pada perbankan. Pelanggan (nasabah ? ) menyimpan (meminjamkan) uang kepada bank, dan bank memberikan tambahan, yang dikenal sebagai bunga, pada jangka waktu tertentu. Begitupun pada praktik pinjaman dari bank. Dengan demikian, maka praktik tersebut tidak boleh dikerjakan sama sekali. Dari sini maka semestinya perbankan tersebut ditinggalkan.


Sebelum kita memasuki pintu Bank Syari'ah, yang diklaim merupakan 'solusi' bagi perbankan -- yang penulis sendiri belum memahami cara kerjanya, penulis akan mencoba menawarkan sebuah solusi yang bukan perbankan sama sekali. Sebab bagaimanapun 'Syari'ah' namanya, bila ternyata praktiknya tidak sesuai dengan yang disyari'atkan, maka syari'ah lama kelamaan bisa jadi hanya sekadar tempelan. Dan lebih ngeri lagi bila tempelan tersebut ternyata digunakan untuk upaya melegalkan sesuatu yang tidak boleh dilegalkan. Solusi tersebut akan penulis sampaikan di akhir pembahasan, bersama dengan sub pembahasan berikut.

ASURANSI
Asuransi, seperti pengertian di atas, memberikan 'solusi' kebutuhan dana pada keperluan mendesak. Tapi kenyataan yang penulis ketahui, solusi tersebut kadang tidaklah "ada kebutuhan = ada dana", karena kaitannya dengan prosedur atau aturan yang berbelit-belit-belit dari penyedia asuransi. Belum lagi, sebagai contohnya 'asuransi pendidikan', apabila ternyata si anak tidak pernah mencapai usia pendidikan (karena keburu dipanggil Allah Yang Maha Kuasa), maka gugurlah asuransi tersebut tanpa pernah orang tua mendapat manfaat yang diinginkan. Dari itu, dan dari yang penulis pahami, ada unsur 'perjudian' pada asuransi. Sementara, Allah telah mengharamkan judi untuk hamba-Nya. Lalu harus bagaimana?

TETANGGA
Inilah yang ingin penulis sampaikan. Ada yang mengatakan bahwa "tetangga itu saudara yang tinggal dekat dengan kita" atau semacam demikian. Tentu kita yang hidup bertetangga merasakan berapa seringnya bila suatu ketika kita ingin mengganti lampu namun tidak ada tangga, kita datang ke tetangga yang mempunyainya. Atau, apabila tetangga hendak mengadakan acara besar, kita bersedia urun membantu memasakkan makanannya. Lalu seandainya ada penghuni rumah sebelah yang mengalami serangan penyakit berat, dan tidak memiliki kendaraan, kita bersukarela mengantarkan ke rumah sakit.

Sebagai muslim, kita barangkali pernah mendengar bagaimana akhlaq (budi pekerti) Rasul kita (s.a.w) kepada tetangganya. Dari situ, disarikan berbagai hak (dan kewajiban) tetangga yang semestinya dipenuhi. Silakan merujuk ke tautan ini. Di antaranya adalah semangat berbagi kepada tetangga.

Penulis ingin sekali mengulangi gagasan bahwa dengan kehidupan bertetangga yang baik, maka kedua institusi di atas tidak diperlukan. Bahkan, penulis akan mengatakan, kebutuhan kedua lembaga tersebut lebih merupakan khayalan belaka (selain keinginan untuk memakan harta orang lain dengan cara yang tidak benar).

Dalam lingkungan bertetangga yang baik, seseorang dapat menyimpan hartanya di rumah. Kekhawatiran terhadap pencurian tentu ada, namun akan lebih berkurang. Apabila seorang memiliki kebutuhan mendesak, tetangganya akan datang memberikan pinjaman (yang harus tidak bertambah pengembaliannya), atau malah memberikan bantuan/sedekah bila memang musibah itu berat. Dan kebaikan lainnya, apabila setiap muslim menyadari dan melaksanakan hak-hak orang lain.

Terdengar seperti mimpi, ya? Kehidupan sedemikian pernah terjadi pada masa Rasulullah (s.a.w) dan para Sahabatnya. Apa lagi yang menghalangi hal tersebut terjadi lagi, selain jauhnya muslim dari mengilmui Islam dengan sebenar-benarnya?

Wallahu A'lam bisshawab

--
20/7/1435 = 19/5/2014; 20.29 CEST
+33 | 56100 | 1RNA 1033
Saudara seimanmu,
'Arif


*) = shallallahu 'alaihi wa sallam, mohon dibaca lengkap setiap penanda ini. Singkatan hanya untuk meringkas penulisan.

Kamis, 19 April 2012

Kalian minta malaikat rupanya?

K'lian kendara melawan itu arus.
K'lian stop jauh tinggalkan itu garis henti.
K'lian tantang itu palang sepur.
K'lian labrak merahnya itu lampu.
K'lian melaju lampaui itu penyeberang di tempatnya menyeberang.
Tapi,
k'lian teriak-teriak "turunkan pemimpin korup"?
K'lian menyeberang 20 meter jauhnya dari itu belang zebra cross
K'lian menyeberang tepat di dasar itu jembatan.
K'lian yang buat itu jembatan berkarat, lalu diangkat.
K'lian padati itu gang bertiga-tiga di depan si terburu.
K'lian lubangi itu pagar median jalan.
K'lian mau cepat, peduli setan itu aturan kesepakatan .
Tapi,
k'lian memaki pemerintah yang k'lian pilih dari k'lian-k'lian juga?

Kalian minta malaikat, rupanya?

--
F  I  N
written on 19. April 2012, 19.50 WIB (GMT +7)
when right things considered wrong, and wrong things get even worse.

Rabu, 09 November 2011

Masyarakat yang sakit

Ya, judul itu yang aku pilih. Tetapi sebelum melangkah lebih jauh, mari batasi ruang lingkup pembahasanku kali ini pada daerah sekitar kode pos Indonesia 12620 dan 16424, dengan kedua area ini merupakan tempatku bergentayangan sehari-hari. Dan sebelum memulai... Gambar!


Sebuah gambaran pagi hari yang umum di salah satu perlintasan kereta listrik dan jalan raya. Yah, tidak mutlak pagi hari juga. Lebih tepat mungkin bila mengambil istilah round-the-clock. Tidak sedikit pengendara sepeda motor memilih 'antre' (kalau memang demikian) di melampaui palang perlintasan. Bahwa dapat jadi itu mendatangkan bahaya bagi mereka tidak lagi menjadi pertimbangan, apalagi memikirkan bahaya bagi orang lain.

Tidak hanya di perlintasan rel -- jalan raya, pada persimpangan berlampu lalu lintas (maupun tidak) pun berlaku hal serupa. Pengendara sepeda motor maupun mobil yang berhenti sebelum garis dapat dihitung dengan jari sebelah tangan. Alasan yang mendasari mereka melampaui batas sedemikian? Entahlah hanya mereka yang tahu.

Kalau boleh berasumsi, mereka ingin lebih cepat mencapai tujuan. Apa iya?

Pada perlintasan kereta api, kecenderungan kontur jalan adalah sedikit menanjak untuk meminimalkan selisih rel dengan muka jalan. Dengan demikian, diharapkan kenyamanan berkendara tetap terpelihara. Bila terlalu dekat dengan rel? Jarak untuk mendapatkan 'tarikan' awal (torsi) kendaraan terlalu minim, dan akhirnya tetap saja lambat keluar dari perlintasan.

Perempatan lampu lalu lintas? Pengantre-lewat-garis yang kutemui pada umumnya lamban memulai lagi. Belum lagi ditambah mata yang alih-alih mengawasi lampu lalu lintas berubah hijau justru memandang lalu lintas dari jalur lain sebagai patokan. Hasil akhir: lamban. Tidak berbeda.

Itu baru lalu lintas...

Contoh kecil lain: sampah. Entah sehari berapa kali wadah bekas pembungkus makanan-minuman bisa ditemukan ditinggalkan begitu saja di meja, kursi duduk, dan lain-lain tempat umum. Yang berat adalah bahwa hanya tak lebih empat meter dari lokasi tersebut ada tersedia tempat pembuangan sampah menganga.

Mari sejenak membayangkan. Bagaimana perasaanmu, pikirmu bila sedang berjalan dengan kawan karibmu, lalu saat hendak menduduki kursi, kamu mendapati gelas plastik berisi air sedikit yang tak memadai untuk diminum? Dan tak jauh dari situ ada bak sampah. Kalau hati dan otak tidak tergelitik rasanya aneh ya? Atau mungkin karena sudah terlalu terbiasa dan jadi kebas? Itu yang aku khawatirkan.

Ayolah, apa yang kamu makan sambil duduk berbincang, tidak bisakah dibawa bersamaan dengan kamu mengangkat kaki dari tempat itu? Sekitar enam langkah saja untuk melaksanakan falsafah pembersihan: memindahkan kekotoran ke tempat yang tidak terlihat.

Tidak, tidak perlu jauh-jauh memikirkan orang lain. Pada dasarnya manusia ingin menyelamatkan dirinya sendiri dulu itu wajar. Jadi pikirkan keadaan kalau suatu ketika yang kamu kerjakan itu yang kembali padamu. Mau?

Kalau tidak, mulailah dari kamu dan aku masing-masing. Sedapat mungkin tidak meninggalkan jejak sampah di mana-mana berpijak, bisa? Mari diusahakan.

--
F  I  N
written on 15.30 CET (UTC +1), 21.30 WIB (UTC +7)
sorry about the rant. Now I see why you don't seem to be coming back. :(

Senin, 31 Oktober 2011

Yang tidak terucapkan

Berapa kali ini terjadi padamu? Bahwa seringkali kalimat, opini, pendapat, pandangan, dan seterusnya berakhir hanya berputar di kepala, tanpa terlontar keluar lewat lisan.
"Mas, itu coba rokoknya dimatikan, bisa ya? Kami tidak kuat dengan asapnya."
"Mbak, ini antrean jangan dipotong lah! Kita juga sudah dari tadi kok, menunggunya."
"Kamu manis. Tidak terperikan bahagiaku kalau misalnya, um, bagaimana mengatakannya ya? Um..."
Mungkin kalimat-kalimat di atas mewakili cuplikan kalimat sehari-hari yang berakhir di pikiran saja dan tidak terlontar. Memang ada orang yang dengan mudah mengungkap kalimat-kalimat di atas, tetapi tidak sedikit pula yang berhenti tepat sebelum kalimat tersebut mencapai lidah karena berbagai alasan.

Takut, bisa diambil sebagai argumen pertama. Misalkan saja pada contoh kalimat pertama. Pengalaman memberikan contoh betapa orang-orang perokok bisa sangat arogan dan tidak bisa menerima fakta bahwa ada orang-orang yang juga memiliki hak untuk menghirup udara yang bersih. Dan bukantah hak orang lain adalah batas bagi hak seseorang? Arogansi ini sering ditampilkan sebagai hardikan, delikan, atau apalah yang menjejak di benak pengucap kalimat pertama di atas. Jadilah kalimat tersebut, yang semestinya mudah, mandek dan gagal mengalir dari benak menuju lisan pengucapnya.

Argumentasi lainnya yang bisa dikemukakan: malu. Inhibisi semacam ini umumnya menghambat kalimat-kalimat yang senada kalimat ketiga. Padahal semestinya tidak perlu ada yang dimalui, toh? Ini mungkin bisa ditarik lebih jauh ke pendidikan masa kecil, atau mungkin hanya karena yang terendap dalam benak calon pengucap kalimat tersebut yang menganggap hal-hal seperti itu bukan sesuatu yang pantas. Mengatasinya? Entahlah, aku termasuk golongan yang terakhir ini. Mungkin sesekali 'mencuci otak' dan akhirnya keluar dan mengatakannya bisa membantu. Mungkin.

Setidaknya baru dua alasan ini yang dapat kukenali sebagai musabab adanya kalimat-kalimat yang tertahan, yang tak terucapkan. Mudah-mudahan mencukupi, tetapi kalau memang belum, tentu saja karena aku yang belum diberi pengetahuan tentang ini.

NB: Kalimat terakhir pun masih rumpang sepertinya. Bahkan pikiran pun macet untuk hal ini. (-_-")
--
F I N
written on 31. Okt 2011, 07.20 WIB (UTC +7), 01.20 CET (UTC +1)
I've stated my case. I rest my case upon Thee. I rest my case upon Thee. I rest my case upon Thee...