:)
Adapun yang sebelum ini, lupakan.
Andaipun teringat, maka luaskan dadamu, lebarkan senyummu.
Karena ingat, "fikrah" dan "firqah" itu ada sedikit kemiripan.
Apalagi bila makharijul huruf-nya jebluk.
Dan sungguh
baru kali ini kami dapati
seorang laksana cermin
dari tempat yang tidak diduga.
Ibu, Ayah, perkenalkan....
15.3.1437
Ikutilah jalan yang satu, yang lurus, jangan ikuti jalan-jalan lainnya -- Laman pribadi Arif R
Tampilkan postingan dengan label Acak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Acak. Tampilkan semua postingan
Minggu, 27 Desember 2015
Minggu, 06 Desember 2015
H -3
Bismillah, walhamdulillah.
Tiga hari lagi.
Tak perlu diungkapkan bagaimana bisa sampai seperti ini. Cukuplah kelak, andaikata ragu melanda, biar aku ingat kembali antusiasmu menyambut kalimat sederhana, jauh dari memikat yang kutuliskan.
Tiga hari lagi, dan yang bisa kulakukan sekarang tak lain menunggu dan bersiap-siap.
25/2/1437
dalam hujan deras menghujam, dengan mata enggan terpejam
Tiga hari lagi.
Tak perlu diungkapkan bagaimana bisa sampai seperti ini. Cukuplah kelak, andaikata ragu melanda, biar aku ingat kembali antusiasmu menyambut kalimat sederhana, jauh dari memikat yang kutuliskan.
Tiga hari lagi, dan yang bisa kulakukan sekarang tak lain menunggu dan bersiap-siap.
25/2/1437
dalam hujan deras menghujam, dengan mata enggan terpejam
Kamis, 10 Juli 2014
Lelah
Bismillah, walhamdulillah. Shalawat dan salam untuk Rasul kita, Muhammad shallallahu `alayhi wa sallam, beserta keluarganya dan Sahabatnya, dan pengikutnya hingga Akhir.
Dalam beberapa kesempatan, Allah memerintahkan (secara urutan dan bergandengan): Tidak menyekutukan Allah sedikit pun, dengan sesuatu apapun. Berbakti kepada orang tua. Kemudian perintah lainnya.
Selanjutnya menimbang juga penggalan pesan Rasul Allah shallallahu `alayhi wa sallam kepada anak pamannya, `Abdullah bin `Abbas radliyAllahu `anhuma untuk "jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu; jagalah Allah, maka Allah akan berada di depanmu; apabila meminta sesuatu, maka mintalah kepada Allah" (atau lafazh sedemikian, dapat ditemukan pada kitab 40-an Hadits Imam al-Nawawi).
Maka setelah ini adalah saatnya berbicara kepada ayah dan ibu.
12/09/1435
AR
Senin, 09 Juli 2012
Baik
Laki-laki itu baik PASTI ada maunya ::lesson learned::
- Fridha K, 2012 (http://twitter.com/fridha1102/status/220140447803248641)
Tulisan dari temanku dari masa SMA ini sedikit banyak menggangguku. Ada hal yang kurasa perlu kutuliskan tentang tulisan di atas. Bahwa pernyataan tersebut secara umum: seseorang baik bila ada maksud tertentu di baliknya. Maksud tertentu, tentu cenderung ke bermakna negatif. Bahwa seseorang berbuat baik hanya demi kepentingan diri orang tersebut.
Bisa jadi benar, memang. Bahkan, pasti benar secara harfiah. Karena seseorang berbuat didasari niat, dengan kata lain maksud atau mau. Ada yang maksudnya berjangka pendek, namun tidak jarang yang didasari keinginan "jangka (amat) panjang". Namun, pernyataan di awal tulisan ini sepertinya tidak membuka ruang untuk kemungkinan kedua. Dengan ditutupnya kemungkinan kedua, maka janganlah heran bila akan datang masa seseorang akan enggan menjadi baik sebab akan disangka memiliki maksud (jangka pendek).
Sungguh, iri aku dengan anak-anak yang bisa berbuat baik tanpa dicurigai memiliki maksud tersembunyi. Bahwa perbuatan baik mereka itu, karena mereka telah diajarkan untuk berbuat demikian.
Kira-kira demikianlah.
--
F I N
written on 09. Jul 2012, 00.30 WIB (UTC +7)
Will anyone ever believed if I say I do these good (and "good") deeds because it's the only thing I know I can do?
Senin, 18 Juni 2012
Tanpa judul
"Don't put off 'til tomorrow what you can do today"atau terjemahan bebasnya,
"Jangan menunda apa yang bisa kamu kerjakan ini hari hingga esok hari"
Entahlah, tetapi rasanya tidak berlaku secara umum. Misalnya saja, bila kita pikirkan semua yang menjadi jatah esok pada hari ini, maka jadilah itu beban pikiran yang mestinya tidak perlu. Lagipula, sudah cukup banyak problema untuk hari ini yang tidak perlu kita tambahkan lagi dengan problema esok hari, bukan? Kembali lagi seperti dulu pernah kubilang, semua pada proporsinya.
--
F I N
written on 18. Juni 2012, 21.45 WIB (UTC +7)
Kamis, 19 April 2012
Kalian minta malaikat rupanya?
K'lian kendara melawan itu arus.
K'lian stop jauh tinggalkan itu garis henti.
K'lian tantang itu palang sepur.
K'lian labrak merahnya itu lampu.
K'lian melaju lampaui itu penyeberang di tempatnya menyeberang.
Tapi,
k'lian teriak-teriak "turunkan pemimpin korup"?
K'lian menyeberang 20 meter jauhnya dari itu belang zebra cross
K'lian menyeberang tepat di dasar itu jembatan.
K'lian yang buat itu jembatan berkarat, lalu diangkat.
K'lian padati itu gang bertiga-tiga di depan si terburu.
K'lian lubangi itu pagar median jalan.
K'lian mau cepat, peduli setan itu aturan kesepakatan .
Tapi,
k'lian memaki pemerintah yang k'lian pilih dari k'lian-k'lian juga?
Kalian minta malaikat, rupanya?
--
F I N
written on 19. April 2012, 19.50 WIB (GMT +7)
when right things considered wrong, and wrong things get even worse.
Sabtu, 31 Desember 2011
Memecah kesunyian...
... dengan sekelumit pernyataan bahwa kali ini, ia tidak lari saat aku mendekat dengan semua kegamangan yang tersirat. Semoga demikian untukku...
F I N
written on 31. Dez 2011, 22.00 WIB (UTC +7)
Did I tell you I'm reverting back to WIB only? Thank you for... everything, dear Mejuffrouw. :)
Minggu, 20 November 2011
Jatuh
Ada masa-masa ketika seseorang bisa jatuh, sejatuh-jatuhnya. Mencapai nadir, bahkan lebih rendah. Sebabnya bermacam-macam, tetapi sekali meluncur ke titik itu, maka sulit, bila tidak mustahil, mengangkat raga kembali ke tataran wajarnya.
Beberapa hal bisa mempercepat kembalinya seseorang ke keseharian biasanya (dan berlaku pula sebaliknya). Teman misalnya, dan teman. Ada mereka yang memiliki kecenderungan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang di sekitar mereka dengan, meminjam istilah persurelan (e-mail, kalau sekiranya kamu belum paham), Auto-reply.
Satu jawaban otomatis yang kerap (ter-)dilontarkan untuk pertanyaan "mengapa?" atau "ada apa?" yang diyakini tidak menuntun pertanyaan lanjutan adalah, "tidak mengapa" atau "tidak apa-apa".
Jawaban tersebut, satu sisi memang tidak membawa 'masalah' lain dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab. Namun sisi lainnya adalah bahwa masalah yang sesungguhnya sedang dihadapi dalam bahaya tidak terpecahkan.
Tapi biarlah, mungkin memang mereka perlu waktu sendiri - atau kawan-kawan yang betul-betul mereka percaya, dipilih sendiri - untuk melewati masa-masa sulit tersebut. Dan mungkin mereka ingin didengarkan. Ya, didengarkan, bukan 'hanya' didengar.
Dan ingin pula mereka mendapat jawab pertanyaan-pertanyaan kecil, tak penting yang mereka tanyakan pada orang-orang di sekitar mereka.
Semoga lekas sehat lagi, ya?
--
F I N
written on 00.33 CET (UTC +1)
Get well soon, dear me. Remember, you'll be fine in no time.
Senin, 07 November 2011
Kemilau rindu
Izinkan aku membagi rindu
lewat baris-baris tiada berlagu
terkhusus buat kamu. Ya, kamu!
Dan bila ini terlupa
tiada berat, tiada mengapa
biasa sudah hamba dengannya.
Andai boleh memintaku
izinkan aku sampaikan rindu
lewat bulir-bulir salju
dan senjakala aku merenda
apa-apa yang sedang dirasa
saban hari terus melanda
Andai dapat menulis "rindu"
dalam belai lembut sang bayu
biar menyapa petang harimu
dan tak dapat ini tiada
ku berharap berbagi rasa
namun bukan milikku segala daya
Andai helai daun nan lugu
gugur bersama resah harapku
menanti rindu mengetuk muka pintumu
dan selalu setiap masa
melulu terbayang paras nan esa
suara indah lalu menyapa, membahana
Andai debur laut nan biru
mengusap pipi basah terharu
biru, tak lain, oi! Karena rindu
dan lewat sudut mata
sungai kecil deras membuka
melarutkan rindu terbawa.
--
F I N
written on 14.30 CET (UTC +1), 20.30 WIB (UTC +7)
please, embrace her, and us all, for ever and beyond.
Rabu, 02 November 2011
For what it's worth, I love you.
When this finally sink underneath the depth of the sand within, would you please, please, please tell me in detail, why?
Think I'll need it to further improve.
..
F I N
written on 02.24 CET (UTC +1)
:'|
Kamis, 20 Oktober 2011
Pengharapan
Sebelumnya, izinkan kutuliskan sebaris kalimat berbahasa lain di sini, yang menjadi dasar pemilihan judul di atas.
"Letting go of what you have never had should be easy"
**
Manusia, sebagai makhluk, dikaruniakan berbagai hal. Tetapi apakah pelbagai karunia tersebut 'diberikan'? Maksudku, apa benar karunia tersebut disahkan menjadi hak milik seseorang? Atau hanya sekadar mampir saja untuk berpindah lagi ke tangan berikutnya, atau bila sudah selesai, kembali ke Pemilik Asalnya?
Pertanyaan ini, dari sedikit pencarianku semestinya dijawab dengan jawaban kedua.
Tapi untuk beberapa hal, hal-hal kecil, yang semestinya mudah untuk dilepaskan menjadi sulit. Dugaanku tentang hal ini adalah karena adanya rasa memiliki, yang datangnya dari pengharapan. Harapan yang (terlihat) nyata, maupun harapan yang tipis, cenderung kosong, dan harapan yang salah tujuannya.
Ada hari ketika seseorang berharap mendapatkan sesuatu dari pertukaran dengan apa yang dia punya. Namun yang dipunyai ternyata belum cukup, jadilah ia mengumpulkan lebih banyak apa yang ia punya, sambil terus berharap penukarnya masih di sana. Di akhir hari, ternyata yang diidamkannya sudah tidak ada, dan apa yang dia punya... Tidak lagi berguna. Dan yang tidak pernah dipunyainya, terbayang selalu, tiada terlupa.
Maafkan racauan tidak bermakna ini. Kalau telanjur terbaca, aku minta maaf, sekali lagi.
--
F I N
written on 20. Okt 2011, 07.00 WIB (UTC +7), 02.00 CEST (UTC +2)
FWIW, good luck for you there!
Sabtu, 15 Oktober 2011
'Tangible'
Sebelum beranjak ke tulisannya, sejenak mari kita tilik dulu definisi dari judul tulisan ini. Minta maaf sebelumnya, karena belum berhasil kutemukan padanannya. Secara harfiah, tangible bisa didefinisikan sebagai sesuatu yang dirasakan dengan sentuhan. Jadi, apa kira-kira padanannya? Bantu aku ya kalau sekiranya kamu tahu...
**
Di masa 'keemasan' peranti digital seperti sekarang ini, tidak banyak bisa kita dapati lagi ada yang melangkahkan kaki menuju kantor pos, lab proses foto, atau tempat-tempat yang sebelum masa digital pernah menikmati kejayaannya. Saat rol seluloid yang terbatasi (24/36 eksposur, ASA, dan semacamnya) bisa digantikan oleh sekeping cip silikon, mengapa repot-repot dengan pelbagai kimia pengembang film, toh? Ketika layar-layar kristal cair dapat menampilkan macam-macam pose keponakanmu, mengapa bersulit-sulit mencetak, toh? Saat surat elektronik dan telefoni internet merajalela dan menjadi pola komunikasi de facto untuk mereka yang terpisah samudera, mengapa harus menempelkan segebung perangko di atas kartu pos, toh? Ketika peranti pembaca buku elektronik semakin besar dan mudah (dibaca, didapat, dst.), mengapa memboroskan kertas pada buku cetakan?
Pernyataan yang tidak salah. Tidak salah sama sekali.
Namun bagi beberapa orang, termasuk aku pun, ada hal-hal yang tidak dapat digantikan oleh semua kemudahan era digital. Salah satu yang penting, menurutku, adalah keberadaan benda yang dapat disentuh itu tadi. Sifat tangible, bagi sebagian orang menjadi demikian penting, meskipun sebagian lain dapat jadi menganggapnya sentimentil (sentimental) belaka.
Coba kutegaskan maksudku. Satu saja ya, seperti biasa. Kamu tentu pernah membaca buku (cetak). Saat membuka pembungkusnya pertama kali, mungkin kamu menuliskan nama dan entah-apa-lagi di halaman pertama buku itu. Atau bisa jadi kamu merasakan tekstur kertasnya. Atau aroma buku baru (hmm....). Kemudian beranjak lebih ke dalam dan ke pinggir: margin, atau tepian kertas. Pembaca yang 'jorok' amatlah cinta ruang kosong ini. Yang sangat 'jorok' bisa jadi sedikit sekali menyisakan tempat di setiap halamannya. Lalu, mungkin terakhir, seperti tulisan Nisa temanku, "Kalo [sic] abis baca buku, berasa kaya antiklimaks[,] ah. Biasanya ada sedikit perasaan mellow saat menutup halaman terakhir". Silakan dibandingkan dengan pembaca buku elektronik. :)
Tentu saja, asas manfaat sebaiknya tetap dikedepankan. Yang paling mengerti manfaat sesuatu untuk seseorang adalah Tuhanmu dan Tuhanku, baru yang berikutnya kemungkinan besar adalah orang tersebut. Adalah baik untuk menimbang mana yang lebih manfaat untuk diri sebelum mengambil putusan. Meski demikian rasanya tidak salah juga mengambil keduanya bersamaan. Tidak masalah, bukan?
--
F I N
written on 15. Okt 2011, 1400 WIB (UTC +7), 0900 CEST (UTC +2)
Is it there already or is it still on its way?
Kamis, 13 Oktober 2011
Laporan Kemajuan
Laporan kemajuan sampai saat ini, Kamis, 13. Oktober 2011:
Tidak (belum) berbalas:
Mudah-mudahan ada kabar baik dalam waktu dekat, biar bisa sampai pula pada ibu-ayahku dan kamu-kamu yang aku sayangi. Semoga...
--
F I N
written on 13. Okt 2011, 20.45 WIB (UTC +7), 15.45 CEST (UTC +2)
How I deeply wished my dream ca. 3 nights ago came from The Cursed One.
Tidak (belum) berbalas:
- Karlsruhe IT
- CAU Kiel
- Uni Bayreuth
- Ox
- Imp
- Cranfield U
- Cam
- Delft
- Vrije U Bruxelles
- Kingston U
- URV Tarragona
Mudah-mudahan ada kabar baik dalam waktu dekat, biar bisa sampai pula pada ibu-ayahku dan kamu-kamu yang aku sayangi. Semoga...
--
F I N
written on 13. Okt 2011, 20.45 WIB (UTC +7), 15.45 CEST (UTC +2)
How I deeply wished my dream ca. 3 nights ago came from The Cursed One.
Rabu, 29 Desember 2010
Monolog tutup buka
Dua pekan lebih berlalu sejak kiriman beliau yang pertama. Sepekan lebih sejak 'sepakan' kedua beliau, dan yang terjadi? Entahlah. Ada hal-hal baru yang aku ketahui tentang beliau. Tidak penting. Lebih penting adalah kenyataan bahwa sampai jangka waktu demikian, rasanya beliau masih terlalu lekat di kepala.
Kenapa? Kalau itu tanyamu, aku pun tiada bisa menjawabnya. Bahwa hal ini pernah terjadi sebelumnya itu benar, tetapi hanya ke seorang yang demikian dekat di hati. Butuh lima tahun lebih untuk meredakannya kemarin itu. Padahal kami bukan apa-apa. Teman, mungkin, tapi yang dulu terasa lebih dari itu. Searah, yang kembali terulang sekarang ini. Ck.
Kalau boleh menilai diri, golongkan aku ke dalam mereka yang melihat dan percaya. Berat untuk merasa. Berat. Dan sekali merasa, tak mau lepas. Tak mau pergi. Menjadi.... Obsesi? Ah, jangan sampai.
Bagaimana kalau berdamai (lagi) dengan diri. Padamkan bara yang masih menyala di dalam. Tidak, tidak melulu bara perasaan itu. Bara yang lain, bara dari masa lalu. Lalu kemudian, tutup mata, biar dibukakan mata yang lain. Mata yang lebih dalam, lebih perasa.
Lalu kalau telah terbuka, maka bukalah mulutmu pula. Kirimkan kata yang tiada menyakiti. Sapaan hangat, dan ucap penyejuk. Dan mudah-mudahan beliau berbahagia.
--
F I N
written on 29. Dez 2010, 17.42 WIB (UTC +7), 18.42 WITa (UTC +8).
Dear miss, I never realise that to say even a thing when I'm before you is corundum-hard.
Kenapa? Kalau itu tanyamu, aku pun tiada bisa menjawabnya. Bahwa hal ini pernah terjadi sebelumnya itu benar, tetapi hanya ke seorang yang demikian dekat di hati. Butuh lima tahun lebih untuk meredakannya kemarin itu. Padahal kami bukan apa-apa. Teman, mungkin, tapi yang dulu terasa lebih dari itu. Searah, yang kembali terulang sekarang ini. Ck.
Kalau boleh menilai diri, golongkan aku ke dalam mereka yang melihat dan percaya. Berat untuk merasa. Berat. Dan sekali merasa, tak mau lepas. Tak mau pergi. Menjadi.... Obsesi? Ah, jangan sampai.
Bagaimana kalau berdamai (lagi) dengan diri. Padamkan bara yang masih menyala di dalam. Tidak, tidak melulu bara perasaan itu. Bara yang lain, bara dari masa lalu. Lalu kemudian, tutup mata, biar dibukakan mata yang lain. Mata yang lebih dalam, lebih perasa.
Allah, bukakan hatiku, lapangkan dadaku, beri keringanan dan jalan pada problemaku.
Lalu kalau telah terbuka, maka bukalah mulutmu pula. Kirimkan kata yang tiada menyakiti. Sapaan hangat, dan ucap penyejuk. Dan mudah-mudahan beliau berbahagia.
--
F I N
written on 29. Dez 2010, 17.42 WIB (UTC +7), 18.42 WITa (UTC +8).
Dear miss, I never realise that to say even a thing when I'm before you is corundum-hard.
Kamis, 16 Desember 2010
Traktiran patah hati
Ha ha.. Maaf judulnya provokatif. Tapi kira-kira begitulah. Petang ini, setelah kemarin mendapatkan hadiah hiburan dari rekreasi jurusan - dan tetap utuh isinya karena merangkap jadi seksi dokumentasi, aku diberi kesempatan mentraktir kawan karibku Alfian, Reza dan Odi di sebuah rumah makan di suatu mal tak berapa jauh dari Terminal Depok. Adapun, selain amplop itu masih utuh, juga ada sesuatu yang perlu aku luruskan di antara kami. Tidak jauh, masih tentang beliau yang itu.
Kebetulan juga kami berempat tadi berpuasa, seperti kebiasaan kami tiap Kamis dan Senin. Untuk Kamis ini, bertepatan dengan tanggal 10 bulan pertama Hijriyah yang diriwayatkan memiliki banyak keistimewaan. Yah, jadi ambillah ini traktiran buka puasa untuk kami berempat.
Setelah berputar-putar -- pusat perbelanjaan itu seperti labirin, kalau mengutip Reza -- akhirnya kami mendapati tempat makan yang konon murah dan mengenyangkan itu. Mencari tempat duduk, membiarkan Fian yang memilih tempat tak jauh dari kumpulan "stabilo" (istilahnya untuk perempuan berhijab yang warnanya mengingatkan pada pena warna itu), kemudian memesan dengan gegas. Tinggal kurang dari 15 menit sebelum waktu Maghrib tadi.
Syukurlah pelayanan di resto tersebut tergolong cepat. Tak 10 menit, empat gelas teh manis dingin telah tersaji, dan menyusul kemudian nasi dan menu pesanan kami. Tunggu punya tunggu, waktu Maghrib pun tiba, ditandai berkumandangnya adzan maya dari ponsel Fian. Mudah-mudahannya jamnya tidak salah. Haha.
Nah, di tengah lahapnya mereka makan, aku meminta waktu sebentar. Singkat cerita, mengalirlah cerita tentang beliau, dan bahwa beliau menyatakan bahwa untuk saat ini.... Belum saatnya
Aku beruntung mendapati mereka bertiga -- yang mungkin tidak mampir dan membaca tulisan ini -- sebagai sahabatku. Aku beruntung. Itu saja. Dan nama yang kemudian mereka 'rekomendasikan' untuk menggantikan beliau, aku sanggah. Sementara tidak dulu. Terus terang aku masih meletakkan harap. Kosong, memang, tapi peluang kejadian nol apabila kejadian belum terjadi tidaklah nol. Tapi ya, entahlah. Mudah-mudahan beliau bahagia. Itu saja.
--
F I N
written on 16. Dez 2010, 22.15 WIB (UTC +7), 23.15 WITa (UTC +8)
Really, miss. It crossed my mind that you deliberately didn't want to see me. But I take it as you were taking your lunch. Just that. I'm sorry.
Kebetulan juga kami berempat tadi berpuasa, seperti kebiasaan kami tiap Kamis dan Senin. Untuk Kamis ini, bertepatan dengan tanggal 10 bulan pertama Hijriyah yang diriwayatkan memiliki banyak keistimewaan. Yah, jadi ambillah ini traktiran buka puasa untuk kami berempat.
Setelah berputar-putar -- pusat perbelanjaan itu seperti labirin, kalau mengutip Reza -- akhirnya kami mendapati tempat makan yang konon murah dan mengenyangkan itu. Mencari tempat duduk, membiarkan Fian yang memilih tempat tak jauh dari kumpulan "stabilo" (istilahnya untuk perempuan berhijab yang warnanya mengingatkan pada pena warna itu), kemudian memesan dengan gegas. Tinggal kurang dari 15 menit sebelum waktu Maghrib tadi.
Syukurlah pelayanan di resto tersebut tergolong cepat. Tak 10 menit, empat gelas teh manis dingin telah tersaji, dan menyusul kemudian nasi dan menu pesanan kami. Tunggu punya tunggu, waktu Maghrib pun tiba, ditandai berkumandangnya adzan maya dari ponsel Fian. Mudah-mudahannya jamnya tidak salah. Haha.
Nah, di tengah lahapnya mereka makan, aku meminta waktu sebentar. Singkat cerita, mengalirlah cerita tentang beliau, dan bahwa beliau menyatakan bahwa untuk saat ini.... Belum saatnya
Aku beruntung mendapati mereka bertiga -- yang mungkin tidak mampir dan membaca tulisan ini -- sebagai sahabatku. Aku beruntung. Itu saja. Dan nama yang kemudian mereka 'rekomendasikan' untuk menggantikan beliau, aku sanggah. Sementara tidak dulu. Terus terang aku masih meletakkan harap. Kosong, memang, tapi peluang kejadian nol apabila kejadian belum terjadi tidaklah nol. Tapi ya, entahlah. Mudah-mudahan beliau bahagia. Itu saja.
--
F I N
written on 16. Dez 2010, 22.15 WIB (UTC +7), 23.15 WITa (UTC +8)
Really, miss. It crossed my mind that you deliberately didn't want to see me. But I take it as you were taking your lunch. Just that. I'm sorry.
Minggu, 12 Desember 2010
Didengar, dan dijawab
Kamu tahu sifatNya yang Maha Mendengar. Aku percaya tentu saja, tetapi selama ini aku belum mendapati secara langsung. Sampai dini hari tadi, ternyata.
Entahlah apakah beliau masih sempat membaca tulisan ini, tetapi izinkan aku menulis sekali lagi tentang beliau.
Jadi tadi malam, lepas Isya', masih di atas sajadah aku terbaring. Tertidur. Sampai tiba waktu dini hari setengah dua aku terbangun. Di layar telepon selulerku ada penanda bahwa ada beberapa pesan teks masuk. Itu pembaruan dari beliau, dikirimkan melalui fasilitas twitter text. Sebentar menyempatkan diri membaca apa yang terjadi selama aku tertidur, menonton pertandingan Magpies - Anfield gang dan cukup senang juga Newcastle menang lagi - serta Andy Carroll mencetak gol yang bagus.
Kemudian aku pamit tidur (lagi), meskipun sebenarnya tidak langsung tidur juga. Kuambil waktu sedikit untuk menyapaNya. Aku sisipkan pertanyaan, bukan lagi permintaan untuk menjadikan beliau penyempurna separo din-ku. Pertanyaanku sederhana, apakah memang beliau? Iya maupun tidak, aku memintaNya memberikan jawaban yang jelas, yang sederhana, yang nampak dan dimengerti oleh manusia biasa sepertiku. Tidak berupa tanda yang tak bisa aku pecahkan.
Dan dalam rentang waktu itu, beliau memutuskan untuk mengirimiku pesan.
Sebuah pesan yang baru aku dapati pagi harinya, saat aku bersiap memulai perjalanan bersama keluarga besar jurusan kami. Pesan itu akhirnya aku buka juga di tengah perjalanan. Tapi baru dapat kubalaskan di akhir harinya.
Pesan yang jujur, sungguh. Aku hargai itu. Reaksiku? Seperti prosedur kerja standar: 1) menyandarkan kepala ke jendela bus, memandang keluar 2) berpura-pura tertidur dalam bus, 3) mengirim sinyal kepada Lacrimal apparatus untuk bekerja. 4) kembali ke kenyataan seolah tidak terjadi apa-apa. Ah, penyembunyi.
Maafkan hawa negatif yang menyelubungiku tadi ya, semuanya. Mengenai hasil foto, mudah-mudahan tidak terpengaruh. Saat memegang kamera dan tangan di tombol rana, aku bisa lupa banyak hal. Mudah-mudahan aman.
Terus terang saja, saat menulis balasan kiriman beliau, kepalaku serasa berpusing. Entah pengaruh perjalanan jauh atau memang perasaan saja, entahlah. Yang jelas, untuk saat ini, aku berharap beliau dengan yang tengah beliau taksir ini memang yang terbaik. Soal aku, biar saja lah. Aku masih perlu berkenalan lagi lebih baik dengan aku. Juga tentang bagaimana menyukai perempuan.
Bayangkan, sekitar 6-7 tahun yang lampau, temanku pernah berkata bahwa r5 (nama kode kesayangan yang aku berikan pada perempuan itu) berkata bahwa "Ini anak [aku, pen.] sebetulnya suka atau gimana sih?" terkait ketidakpahamanku mengenai hal itu.
Ah, terjadi lagi. Mengenaskan bahwa caraku menakuti beliau dan r5. Entahlah. Aku perlu banyak sekali belajar. Mungkin jawaban langsung ini mengarahkanku untuk kembali ke penelitian yang setengah terbengkelai itu. Mudah-mudahan.
--
F I N
written on 12. Dez 2010, 23.48 WIB (UTC +7), 13. Dez 2010, 00.48 WITa (UTC +8)
How can I thank You enough. Endlessly kind, You are. Endlessly loving, You are. Thank You.
Entahlah apakah beliau masih sempat membaca tulisan ini, tetapi izinkan aku menulis sekali lagi tentang beliau.
Jadi tadi malam, lepas Isya', masih di atas sajadah aku terbaring. Tertidur. Sampai tiba waktu dini hari setengah dua aku terbangun. Di layar telepon selulerku ada penanda bahwa ada beberapa pesan teks masuk. Itu pembaruan dari beliau, dikirimkan melalui fasilitas twitter text. Sebentar menyempatkan diri membaca apa yang terjadi selama aku tertidur, menonton pertandingan Magpies - Anfield gang dan cukup senang juga Newcastle menang lagi - serta Andy Carroll mencetak gol yang bagus.
Kemudian aku pamit tidur (lagi), meskipun sebenarnya tidak langsung tidur juga. Kuambil waktu sedikit untuk menyapaNya. Aku sisipkan pertanyaan, bukan lagi permintaan untuk menjadikan beliau penyempurna separo din-ku. Pertanyaanku sederhana, apakah memang beliau? Iya maupun tidak, aku memintaNya memberikan jawaban yang jelas, yang sederhana, yang nampak dan dimengerti oleh manusia biasa sepertiku. Tidak berupa tanda yang tak bisa aku pecahkan.
Dan dalam rentang waktu itu, beliau memutuskan untuk mengirimiku pesan.
Sebuah pesan yang baru aku dapati pagi harinya, saat aku bersiap memulai perjalanan bersama keluarga besar jurusan kami. Pesan itu akhirnya aku buka juga di tengah perjalanan. Tapi baru dapat kubalaskan di akhir harinya.
Pesan yang jujur, sungguh. Aku hargai itu. Reaksiku? Seperti prosedur kerja standar: 1) menyandarkan kepala ke jendela bus, memandang keluar 2) berpura-pura tertidur dalam bus, 3) mengirim sinyal kepada Lacrimal apparatus untuk bekerja. 4) kembali ke kenyataan seolah tidak terjadi apa-apa. Ah, penyembunyi.
Maafkan hawa negatif yang menyelubungiku tadi ya, semuanya. Mengenai hasil foto, mudah-mudahan tidak terpengaruh. Saat memegang kamera dan tangan di tombol rana, aku bisa lupa banyak hal. Mudah-mudahan aman.
Terus terang saja, saat menulis balasan kiriman beliau, kepalaku serasa berpusing. Entah pengaruh perjalanan jauh atau memang perasaan saja, entahlah. Yang jelas, untuk saat ini, aku berharap beliau dengan yang tengah beliau taksir ini memang yang terbaik. Soal aku, biar saja lah. Aku masih perlu berkenalan lagi lebih baik dengan aku. Juga tentang bagaimana menyukai perempuan.
Bayangkan, sekitar 6-7 tahun yang lampau, temanku pernah berkata bahwa r5 (nama kode kesayangan yang aku berikan pada perempuan itu) berkata bahwa "Ini anak [aku, pen.] sebetulnya suka atau gimana sih?" terkait ketidakpahamanku mengenai hal itu.
Ah, terjadi lagi. Mengenaskan bahwa caraku menakuti beliau dan r5. Entahlah. Aku perlu banyak sekali belajar. Mungkin jawaban langsung ini mengarahkanku untuk kembali ke penelitian yang setengah terbengkelai itu. Mudah-mudahan.
--
F I N
written on 12. Dez 2010, 23.48 WIB (UTC +7), 13. Dez 2010, 00.48 WITa (UTC +8)
How can I thank You enough. Endlessly kind, You are. Endlessly loving, You are. Thank You.
Jumat, 10 Desember 2010
Sudah hampir lima hari
Ya, sudah hampir lima hari akunku di situs jejaring sosial yang didominasi warna biru itu aku non-aktifkan. Lima hari yang, yah, normal. Mengingat situs itu kemarin dulu sempat menjadi candu. Tapi tidak sepenuhnya normal. Masih ada lagi laman-laman candu yang lain. Dari satu candu ke candu lain, kalau boleh kubilang. Ha ha.
Selama lima hari ini, sepertinya tidak ada yang aneh. Tidak ada yang berkirim e-mail juga. Tidak ada yang mengirim pesan pendek juga. Tidak ada keluhan kehilangan foto, tidak ada. Tudak ada masalah.
Mungkin besok akan kuaktifkan kembali. Tidak. Tidak untuk mengintai lagi. Kamu tahu, pengintaian itu menguras tenaga. Membangkitkan pikiran-pikiran yang tidak perlu. Terus menahanku. Menyiksa.
Mudah-mudahan semua baik, kamu baik, beliau baik. Ada yang ingin aku tanyakan. Sederhana sih. Nomor telepon saja kok. Mungkin akun Y!M. Siapa tahu.
--
F I N
written on 10. Dez 2010, 21.01 WIB (UTC +7), 22.01 WITa (UTC +8)
Persistence, is what I should bear in mind, should do, must do. Persistent affection. Must do.
Selama lima hari ini, sepertinya tidak ada yang aneh. Tidak ada yang berkirim e-mail juga. Tidak ada yang mengirim pesan pendek juga. Tidak ada keluhan kehilangan foto, tidak ada. Tudak ada masalah.
Mungkin besok akan kuaktifkan kembali. Tidak. Tidak untuk mengintai lagi. Kamu tahu, pengintaian itu menguras tenaga. Membangkitkan pikiran-pikiran yang tidak perlu. Terus menahanku. Menyiksa.
Mudah-mudahan semua baik, kamu baik, beliau baik. Ada yang ingin aku tanyakan. Sederhana sih. Nomor telepon saja kok. Mungkin akun Y!M. Siapa tahu.
--
F I N
written on 10. Dez 2010, 21.01 WIB (UTC +7), 22.01 WITa (UTC +8)
Persistence, is what I should bear in mind, should do, must do. Persistent affection. Must do.
Senin, 06 Desember 2010
Jarak aman
Teriring maaf untuk kawan-kawan yang sementara 'kehilangan' foto-foto kamu semua di situs jejaring sosial yang itu, aku pamit sementara dari laman-laman itu. Saat ini, terlalu banyak, terlalu banyak, hal tak baik yang kujaring di sana. Jauh lebih banyak dari menghidupkan kembali jalinan perkawanan yang lama terbenam.
Sementara ini, biarkan aku menjaga jarak yang aman dari situs tersebut, juga jarak aman dari beliau, perempuan yang (masih tetap) aku doakan di siang dan malam itu. Mudah-mudahan dengan begini lebih ringan lisanku menyapanya. Mudah-mudahan permintaanku dikabulkan. Mudah-mudahan.
Untuk saat ini, semoga jarak aman ini membahagiakan beliau. Aku sendiri, ya, tidak masalah.
--
F I N
written on 6. Dez 2010, 17.32 WIB (UTC +7) 18.32 WITa (UTC +8)
I'm lucky, in many aspects of life but that, that, that... Lov*.
Sementara ini, biarkan aku menjaga jarak yang aman dari situs tersebut, juga jarak aman dari beliau, perempuan yang (masih tetap) aku doakan di siang dan malam itu. Mudah-mudahan dengan begini lebih ringan lisanku menyapanya. Mudah-mudahan permintaanku dikabulkan. Mudah-mudahan.
Untuk saat ini, semoga jarak aman ini membahagiakan beliau. Aku sendiri, ya, tidak masalah.
--
F I N
written on 6. Dez 2010, 17.32 WIB (UTC +7) 18.32 WITa (UTC +8)
I'm lucky, in many aspects of life but that, that, that... Lov*.
Sabtu, 04 Desember 2010
Kerjakan yang kamu cintai
Tak terasa sudah lebih setahun diberikan kepercayaan membantu-bantu di jurusan. Hampir dua untuk mengerjakan tema penelitian yang - tadinya - pilihanku sendiri. Dan yang paling panjang? Hampir 22 tahun menjadi anak dari ibu dan ayahku.
Oh iya! Tulisan ini (sepertinya) akan ada kecenderungan negatif, masih ada kesempatan pergi dari laman ini dan mencari sesuatu yang lain kalau kamu sedang tidak ingin.
Selama tahun-tahun itu, ada tawa, ada air mata. Ada keriaan, ada tekanan. Berganti-ganti sesuai keperluan, sesuai waktu yang digariskan. Hanya saja, ada kecenderungan kalau keriaan dan tawa itu cepat menguap. Cepat terganti dan terlupa. Ah.
Selama tahun-tahun itu, ada keinginan yang terkendala, tetapi kadang terlepas tak terkendali. Misalnya saja kemarin dulu hingga sekarang, saat waktu ada dan dana tiada, anak ini justru rajin memperbarui informasi tentang perkomputeran dan teknologi informasi. Majalah dwi-mingguan tak pernah lepas dibelinya. Kartu grafis dibelinya dari tabungan sekitar setengah tahun "untuk meringankan beban kartu memori". Masalahnya saat itu, ternyata sumber daya si komputer yang tak mumpuni. Kartu grafis pun menganggur setengah tahun lagi sampai tabungannya cukup menebus sumber daya yang memadai. Terkendala memang, tetapi kendala-kendala itu yang membuat keinginan itu jadi keluar dari kendali.
Kemudian fotografi. Aku bukan dari kalangan seni, memang. Tetapi fotografi ini satu dari sedikit seni yang teknis. Yang masih bisa kugapai, dibandingkan seni yang lain. Dahulu sempat ingin mempergunakan kamera film milik ayah - yang tak pernah terpakai dan teronggok menganggur begitu saja. Usut punya usut, ternyata lensa berjamur. Keinginan tertunda lagi, cukup lama, menanti tabungan cukup untuk 'mencuci' lensa dan bisa mempergunakan kamera itu. Setelah kamera siap, masalah belum selesai. Kamera itu perlu sumber daya, batu baterai. Ah, bagaimana pula baterai yang dipergunakan bisa langka. Dua puluh lima ribu rupiah sekeping? Belum lagi seluloid yang dipergunakan. Ah. (~_~).
Tapi toh pada saat itu, aku lebih sering berjalan keluar dan memotret, apa saja yang aku sendangi, dibandingkan sejak Desember lalu saat pertama kali aku bersentuhan dengan kamera digital, saat semestinya kesempatan lebih terbuka.
Jangan sampai aku bercerita menyenangkannya memindahkan sepeda ke garasi, dan sekadar mengencangkan baut-baut dan mengatur mekanisme pemindahan gir. Juga tentang kelistrikan yang sepekan sekali kusentuh. Menyenangkan. Cinta.
Tapi begitulah, terkadang yang dicinta tak dapat dikejar. Dulu, berapa banyak mimpi terkait penelitian yang sekarang kubantu itu menjejali otak dan menumbuhkan semangat. Setelah mengenal tenggat, dan betapa prosesnya jauh dari mudah, ah...
Mungkin benar kalau semakin sedikit seseorang tahu, semakin baik. Dan semakin dekat seseorang, bisa jadi semakin besar takutnya karena semakin tahu ia. Aku khawatir.
--
F I N
written on 4. Dez 2010, 04.52 WIB (UTC +7), 05.52 WITa (UTC +8)
I am concerned, that I will only care for you, fall for you when I'm standing from far away from you, not yours.
Oh iya! Tulisan ini (sepertinya) akan ada kecenderungan negatif, masih ada kesempatan pergi dari laman ini dan mencari sesuatu yang lain kalau kamu sedang tidak ingin.
Selama tahun-tahun itu, ada tawa, ada air mata. Ada keriaan, ada tekanan. Berganti-ganti sesuai keperluan, sesuai waktu yang digariskan. Hanya saja, ada kecenderungan kalau keriaan dan tawa itu cepat menguap. Cepat terganti dan terlupa. Ah.
Selama tahun-tahun itu, ada keinginan yang terkendala, tetapi kadang terlepas tak terkendali. Misalnya saja kemarin dulu hingga sekarang, saat waktu ada dan dana tiada, anak ini justru rajin memperbarui informasi tentang perkomputeran dan teknologi informasi. Majalah dwi-mingguan tak pernah lepas dibelinya. Kartu grafis dibelinya dari tabungan sekitar setengah tahun "untuk meringankan beban kartu memori". Masalahnya saat itu, ternyata sumber daya si komputer yang tak mumpuni. Kartu grafis pun menganggur setengah tahun lagi sampai tabungannya cukup menebus sumber daya yang memadai. Terkendala memang, tetapi kendala-kendala itu yang membuat keinginan itu jadi keluar dari kendali.
Kemudian fotografi. Aku bukan dari kalangan seni, memang. Tetapi fotografi ini satu dari sedikit seni yang teknis. Yang masih bisa kugapai, dibandingkan seni yang lain. Dahulu sempat ingin mempergunakan kamera film milik ayah - yang tak pernah terpakai dan teronggok menganggur begitu saja. Usut punya usut, ternyata lensa berjamur. Keinginan tertunda lagi, cukup lama, menanti tabungan cukup untuk 'mencuci' lensa dan bisa mempergunakan kamera itu. Setelah kamera siap, masalah belum selesai. Kamera itu perlu sumber daya, batu baterai. Ah, bagaimana pula baterai yang dipergunakan bisa langka. Dua puluh lima ribu rupiah sekeping? Belum lagi seluloid yang dipergunakan. Ah. (~_~).
Tapi toh pada saat itu, aku lebih sering berjalan keluar dan memotret, apa saja yang aku sendangi, dibandingkan sejak Desember lalu saat pertama kali aku bersentuhan dengan kamera digital, saat semestinya kesempatan lebih terbuka.
Jangan sampai aku bercerita menyenangkannya memindahkan sepeda ke garasi, dan sekadar mengencangkan baut-baut dan mengatur mekanisme pemindahan gir. Juga tentang kelistrikan yang sepekan sekali kusentuh. Menyenangkan. Cinta.
Tapi begitulah, terkadang yang dicinta tak dapat dikejar. Dulu, berapa banyak mimpi terkait penelitian yang sekarang kubantu itu menjejali otak dan menumbuhkan semangat. Setelah mengenal tenggat, dan betapa prosesnya jauh dari mudah, ah...
Mungkin benar kalau semakin sedikit seseorang tahu, semakin baik. Dan semakin dekat seseorang, bisa jadi semakin besar takutnya karena semakin tahu ia. Aku khawatir.
--
F I N
written on 4. Dez 2010, 04.52 WIB (UTC +7), 05.52 WITa (UTC +8)
I am concerned, that I will only care for you, fall for you when I'm standing from far away from you, not yours.
Kamis, 02 Desember 2010
Berdamai dengan diri sendiri
Sepekan kemarin, entah mengapa rasanya gelap saja. Prospek mengenal beliau yang menarik itu rasanya makin mengecil dan mengecil. Sampai rasanya wajah ini ingin kutekuk saja selalu. Ah, memalukan rasanya kalau mengingatnya lagi. Padahal baru pekan kemarin.
Begini, pernahkah kamu mengalami hal kecil, misalnya sedikit senyum dari yang kamu rasa menarik di tengah-tengah hari yang keterlaluan sibuknya? Nah, kira-kira seperti itu rasanya kala ada surat elektronik berjudul "[Nama beliau di sini] confirmed you as a friend on [situs jejaring sosial yang itu]" saat sedang rehat di tengah mengurusi lokakarya. Ah.
Telah kembali senyumku dengan kejadian kecil itu. Kecil, tetapi berarti. Seperti banyak hal di dunia ini. Kecil, ringan, tak begitu terasa - awalnya, tetapi ternyata begitu berarti.
Yah, artinya juga sedikit agak aku lebihkan sih. Sebab sungguh itu hanya satu langkah kecil dari laman yang akan aku tulis, yang aku pintakan setiap siang, setiap malam padaNya. Kalau ini betul, bersama permintaan perlindungan untuk Ibu dan Ayahku, serta adik-adikku, dan permohonan ketetapan hati di jalannya, tentu.
Hadapilah. Si "Aku yang sempurna" itu mungkin memang sempurna, dan dia tinggal di dunia ideal, dunia yang sempurna. Sedangkan aku? Kamu? Tiada aku dan kamu yang sempurna. Tapi begitu juga dunia yang kamu dan aku pijak ini.
Biarkan sajalah si "Aku yang sempurna" berjalan, melompat, jungkir balik, menonton film, diambil gambarnya, makan siang bersama beliau. Itu kan di dunianya. Aku? Kamu? Jangan khawatir. Hidup ini indah dengan segala kurangnya kok.
Jadi, biarkan tulisan tanganku berubah dari "a" ketik menjadi "a" tanpa kepala, dan biarkan senyumku kembali. Izinkan aku berdamai dengan diriku, dan melangkah, tertatih, mencoba menggapai beliau. Dan bila memang tak disampaikan, setidaknya aku belum pernah seriang ini.
--
F I N
written on 2. Dez 2010, 20.24 WIB (UTC +7), 21.24 (UTC +8)
Dear miss, maybe we can have a little time together, to cinema or some lunchtime talk, or whatever? I will look forward to having that time with you. *blush*
Begini, pernahkah kamu mengalami hal kecil, misalnya sedikit senyum dari yang kamu rasa menarik di tengah-tengah hari yang keterlaluan sibuknya? Nah, kira-kira seperti itu rasanya kala ada surat elektronik berjudul "[Nama beliau di sini] confirmed you as a friend on [situs jejaring sosial yang itu]" saat sedang rehat di tengah mengurusi lokakarya. Ah.
Telah kembali senyumku dengan kejadian kecil itu. Kecil, tetapi berarti. Seperti banyak hal di dunia ini. Kecil, ringan, tak begitu terasa - awalnya, tetapi ternyata begitu berarti.
Yah, artinya juga sedikit agak aku lebihkan sih. Sebab sungguh itu hanya satu langkah kecil dari laman yang akan aku tulis, yang aku pintakan setiap siang, setiap malam padaNya. Kalau ini betul, bersama permintaan perlindungan untuk Ibu dan Ayahku, serta adik-adikku, dan permohonan ketetapan hati di jalannya, tentu.
Hadapilah. Si "Aku yang sempurna" itu mungkin memang sempurna, dan dia tinggal di dunia ideal, dunia yang sempurna. Sedangkan aku? Kamu? Tiada aku dan kamu yang sempurna. Tapi begitu juga dunia yang kamu dan aku pijak ini.
Biarkan sajalah si "Aku yang sempurna" berjalan, melompat, jungkir balik, menonton film, diambil gambarnya, makan siang bersama beliau. Itu kan di dunianya. Aku? Kamu? Jangan khawatir. Hidup ini indah dengan segala kurangnya kok.
Jadi, biarkan tulisan tanganku berubah dari "a" ketik menjadi "a" tanpa kepala, dan biarkan senyumku kembali. Izinkan aku berdamai dengan diriku, dan melangkah, tertatih, mencoba menggapai beliau. Dan bila memang tak disampaikan, setidaknya aku belum pernah seriang ini.
--
F I N
written on 2. Dez 2010, 20.24 WIB (UTC +7), 21.24 (UTC +8)
Dear miss, maybe we can have a little time together, to cinema or some lunchtime talk, or whatever? I will look forward to having that time with you. *blush*
Langganan:
Postingan (Atom)

