Tampilkan postingan dengan label Komputer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komputer. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Juli 2010

Ulasan: Komputer jinjing ASUS K40IJ VX-266

Ini dia yang kujanjikan. Terlambat dari jadwal yang saat itu kutetapkan ya? Eh, kutetapkan dalam hati saja ternyata. Tadinya rencana akan kubuat tulisan ini dalam sepekan sejak pertama kali komputer ini kupergunakan. Ternyata mulur sampai sekarang ini. Aduh, maafkan, maafkan.


Kojing Asus K40IJ-VX266 (mati) terbuka dengan buku petunjuk di depannya

Untuk menyingkat cerita, langsung saja kita mulai. Pertama kali, data dari komputer jinjing (kojing) ini, kira-kira sebagai berikut:

Merk : ASUS
Tipe : K40IJ-VX266
CPU : Intel Pentium Dual Core T4500 2,3GHz
RAM : 2GB DDR2 800
GPU : Intel GMA 4500M
HDD : WD 320GB, 8MiB buffer, 5400rpm
ODD : 8X Super-Multi dual layer
WLAN : 802.11 a/b/g/n (atau draft n ya? Entah)
Monitor : 14" HD (lampu latar: LED)
Baterai : 6 sel
Papan ketik : QWERTY tata letak AS (Amerika Serikat)
OS : Tidak ada

Harga pembelian kojing ini pada saat itu adalah empat juta enam ratus ribu rupiah. Tipe ini (J) adalah yang paling murah dari keluarga ASUS K40I. Berturut-turut dari yang termahal hingga ke yang termurah (kalau tidak salah ingat): K40ID, N, E, J. Spesifikasi lain - bentuk, besaran memori, besaran kandar keras (HDD), WLAN, ODD, layar monitor, dsb - pada dasarnya sama. Mungkin ini yang membuat Asus bisa menekan harga keluarga kojing ini.

Perbedaan utama tipe-tipe ini adalah pada peranti proses grafis (yang secara langsung atau tidak, memengaruhi
chipset/north bridge dan south bridge yang digunakan). Tiap-tiap tipe memiliki subtipe yang dibedakan oleh jenis prosesor yang digunakan. Tipe K40IJ sendiri ada yang ditenagai peranti proses utama dari keluarga "core 2 duo" dan "pentium dual core" dari Intel. Seri dengan prosesor core 2 duo (T6xxx) berharga lebih mahal daripada seri dengan prosesor dual core. Pada kasusku, bedanya cukup lumayan, sekitar lima ratus ribu rupiah.


Kojing dalam keadaan tertutup dan tersambung ke jaringan listrik

Sepintas pandang

Dari pandangan luar, komputer ini terkesan rapi, dan sederhana. Kulit luarnya tidak bertekstur, hanya diberi motif titik-titik, dan cenderung mengilap (glossy). Dari pengalamanku, jenis yang seperti ini mudah mengundang sidik jari untuk menempel.

Tata letak papan ketik juga logis, dengan semua tuts untuk keperluan mengetik berukuran seragam dan serupa dengan papan ketik komputer meja. Meskipun demikian, letak tuts "delete" yang berdekatan dengan "home" bisa menjadi gangguan untuk beberapa orang.


Sisi kanan K40IJ-VX266, kanan ke kiri: lubang pengisi daya, RJ45/LAN, keluaran VGA, dua USB, masukan mikrofon, serta keluaran audio

Komputer ini mempunyai 4 lubang untuk perangkat USB. Dua di sisi kanan, dan dua di kiri. Tidak terlihat ada selot ekspansi lain seperti PCMCIA, "express card" atau semacamnya. Meskipun demikian, lubang USB yang berjumlah 4 sepertinya tergolong cukup 'langka' dan banyak untuk standar kojing masa kini.


Sisi depan dan tata letak papan kunci K40IJ (dan seri K40I umumnya)

Penempatan tombol saklar nyala/mati di pojok kanan atas juga cukup membantu pengguna bertangan kanan, meskipun agak kurang ramah untuk pengguna kidal. Lampu-lampu indikator juga tidak banyak, hanya ada enam (tiga di dekat saklar nyala/mati, tiga di tepi yang nampak meskipun saat kojing dalam keadaan tertutup). Di bawah lampu indikator yang dekat dengan pengguna, ada tonjolan. Tidak, ini bukan semacam kenop untuk membuka kojing. Tonjolan itu berasal dari replika kartu memori SD/MMC yang dimasukkan ke dalam lubang pembaca memori flash. Menurut tulisan di dekat lubang tersebut, kojing ini diklaim dapat membaca kartu memori tipe MMC, SD, dan MS. Sementara di kanan dan kirinya ada lubang pengeras suara.

Kojing ini cukup berbobot, dalam artian berat. Diklaim memiliki berat 2,4 kilogram. Ukuran layar yang besar dan integrasi kandar optik sepertinya merupakan penyumbang utama berat kojing ini.


Sisi kiri (dari pengguna) (dari kiri ke kanan) diisi kandar optik, dan dua lubang USB

Adapun rancangan kojing ini yang juga agak berbeda dari kojing yang banyak dijumpai adalah penempatan baterai. Rancangan lubang buangan panas yang sepenuhnya di belakang layar monitor tidak memungkinkan baterai dengan ukuran yang cukup untuk ditempatkan di sisi yang sama. Baterai yang diklaim memiliki 6 sel ini pun akhirnya diletakkan di bawah palm rest di sisi kanan pengguna. Penempatan baterai pun cukup baik, tersembunyi di bawah penutup, sehingga tidak mengesankan kekosongan saat baterai dicabut.


Sepanjang jalan

Dari pandangan tadi, saatnya mengulas hal-hal terkait kinerja kojing ini. Tidak, tidak. Tak ada tolok ukur kuantitatif di sini, kecuali beberapa yang sederhana yang bisa kuakses. Mengingat awalnya kojing ini tidak dilengkapi sistem operasi (SO), tentu hal pertama yang diperbuat adalah mengisi kojing ini dengan SO. Untuk kepentingan prinsip dan masa mendatang (siapa tahu ada rizki untuk menambah ukuran RAM), aku memilih Linux Mint 9 (nama kode: Isadora) x64 (versi 64-bit).


Stiker yang ditempel di sebelah kanan touchpad menyatakan "IceCool Palm Rest, serta keterangan lain

Oke, kita awali dengan pembuktian klaim 'sedingin es' (biasa lah, bahasa pemasar) dari pabrikan. Menurut Asus, seri K40I ini dioptimasi agar tetap nyaman bagi pengguna. Kenyamanan ini berupa suhu tempat kita meletakkan tangan untuk mengetik (palm rest) yang diklaim 25% lebih rendah dari suhu tubuh. Kalau suhu normal adalah 37 centigrade, maka setidaknya suhu palm rest berada pada kisaran 28 °C. Aku tidak punya termometer, tetapi dari yang kurasakan, setidaknya rasa panas yang kadang timbul di daerah palm rest bisa dibilang tidak ada. Rancangan pembuangan panas keluarga kojing ini yang diletakkan seluruhnya di sisi belakang, dan tidak ada lubang pembuangan di sisi kanan maupun kiri, sepertinya sangat membantu.


Stiker klaim dari pabrikan, touch pad, serta lampu indikator (kiri-kanan) aktivitas HDD (mengedip tidak teratur, warna hijau LED); baterai lemah (jingga mengedip teratur)/mengisi baterai (menyala jingga), dan; keadaan kojing (saat stand-by mengedip)

Sejauh ini, aku belum pernah mengalami suhu yang tinggi (dalam artian panas yang terasa berlebihan) pada komputer ini, baik di sisi palm rest tersebut, maupun sisi lain. Bahkan lubang buangan panas di sisi belakang pun maksimum hanya terasa hangat, tidak ada yang berlebihan. Bahkan setelah waktu berjalan sampai dua hari lewat, tidak terasa panas yang berlebihan - hal yang baik untuk barang elektronik, tentu saja.


Ah, Mark Twain. Kadang jenaka. Eh, maksudku, kojing cukup sering ditinggal dalam modus stand by pada akhir pekan. Misalnya kali itu, dua seperempat hari

Layar bergetar

Adapun mengenai monitor, ada dua hal yang kukeluhkan, meskipun mungkin tidak umum. Yang pertama adalah kontras monitor yang kurasa berlebihan. Saat pengaturan kecerahan melalui kombinasi tombol fungsi (fn+F5 untuk meredupkan, F6 untuk mencerahkan) sudah mencapai titik terendah, monitor ini masih terlalu terang. Putih yang dihasilkan habis (white wash) dan hitam juga. Hal ini mengganggu, terutama saat menyunting foto dengan beda kekontrasan yang keras.

Hal ini bisa diatasi dengan pengaturan kontras melalui peranti lunak (yang selalu kujalankan di awal menyalakan komputer). Untuk sistem GNU/Linux, bisa gunakan peranti "xcalib". 80% dari kekontrasan terendah cukup. Untuk "kalibrasi" yang gratis bisa berkunjung ke photofriday, andalanku.

Yang kedua mengenai monitor adalah, bahwa monitor terkadang seperti mengedip atau bergetar. Sebab pastinya belum kuketahui, mengingat kemunculannya yang tiba-tiba dan tak terduga. Yang jelas, gambar seperti bergetar/beriak selama kurang dari sedetik sebelum kembali normal. Sejauh ini tidak terlalu sering, tetapi kalau sekiranya nanti menjadi-jadi, tentu ini harus kukonsultasikan dengan penyedia layanan perbaikan.

Lanjut ke bagian kedua ya? Daya tahan baterai, sampai kesimpulan. Maaf terpaksa diputus. :)

--
Bersambung
written on 21. Jul 2010

NB: Semua merk dagang adalah milik pemiliknya yang sah, dan dipergunakan hanya untuk kepentingan penerangan.

Ulasan: Komputer jinjing ASUS K40IJ VX-266 (bagian II)

Daya tahan

Oke, dari bagian pertama, kita sampai pada layar monitor. Pada bagian kedua ulasan pribadi saya tentang kojing ASUS K40IJ VX266 ini kumulai dari daya tahan baterai. Baterai kojing ini sendiri diklaim memiliki enam sel. Tidak kutemukan klaim daya tahan baterai untuk kojing ini, tetapi dari pabrikan lain mengklaim kojing dengan baterai sejenis dapat bertahan selama 3 jam.

Uji cobanya sederhana saja. Kojing dipergunakan dulu sampai Isadora (Linux Mint 9) memperingatkan bahwa daya hampir habis dan akan segera berhibernasi. Keadaan baterai menurut indikator/applet baterai berada pada posisi tersisa lima menit. Kemudian, pengisi daya disambungkan ke jala-jala listrik PLN. Lampu indikator baterai berwarna oranye pun menyala menunjukkan pengisian tengah berlangsung. Pengisian selesai ditandai dengan lampu indikator yang mati

Kemudian, kojing dinyalakan, sistem operasi dimuat, dan digunakan seperti biasa. Definisi biasa di sini adalah: pengetikan dokumen dengan OpenOffice.org writer 3.2, perambahan internet dengan Mozilla Firefox 3.6, WLAN aktif, pembaruan/update otomatis berjalan di latar belakang, tidak menyetel musik maupun video, serta aplikasi IM (pidgin) pun siaga.

Hasilnya? Bervariasi. Kadang saat sedang merambah, aku pun iseng menjalankan permainan online (zuma, inca balls, bejeweled). Saat itu, baterai hanya bertahan mungkin sekitar 1 jam 30 menit hingga 2 jam. Tetapi saat murni bekerja (dan merambah internet), fungsi uptime menunjukkan peringatan untuk mengisi ulang daya baterai tiba saat SO telah berjalan sekitar 2 jam 45 menit hingga 3 jam kurang beberapa menit dengan rerata beban antara 0,6 (60%) hingga 90%. Menawan. Peran lampu latar LED sepertinya cukup besar di sini.

PEMBARUAN: Penggunaan tanpa WLAN memperpanjang waktu komputer dapat berjalan, tanpa penambahan panas buangan. Perpanjangan sampai dengan 45 menit untuk penggunaan ringan, atau total 3 jam 45 menit untuk membaca buku elektronik dan mengetik/membuat dokumen.

Tombol-tombol cepat

Ketiadaan kenop-kenop ataupun tombol kendali luar selain tombol daya membuat komputer ini banyak mengandalkan kombinasi tombol untuk mengatur peranti kerasnya. Tombol fungsi (Fn) yang dikombinasi tombol lain menmegang peran di sini. Tombol berwarna biru (maaf untuk kamu yang tidak membedakan warna) yang diapit tombol 'Ctrl' dan tombol jendela/bendera berkibar (logo windows) ini dapat mengaktifkan 19 fungsi berbeda (dibagi dalam 11 kelompok fungsi).

Fungsi tersebut tersebar di deret atas (F1, F2, F5-F12, serta Insert dan Delete di pojok kanan atas) untuk memerintahkan pelbagai fungsi terkait komputer: sleep, mengaktifkan WLAN, touchpad, volume suara (mati, naik ,turun), pengaturan kecerahan layar, pemilihan keluaran tampilan (monitor atau layar/presentasi), serta dua kunci papan angka dan pergeseran (Num. Lk dan Scroll. Lk).

Adapun emulasi tombol angka seperti pada papan ketik komputer meja ada di sebagian deret angka dan huruf di papan kunci yang akan aktif bila menekan Fn+Insert (Num. Lk). Fungsi Scr. Lk belum berhasil aku jalankan di Isadora, juga di beberapa versi Linux Mint yang sebelumnya di komputer meja.

Berikutnya pengendali multimedia. Suara/musik lebih tepatnya. Tombol panah dapat beralih fungsi menjadi tombol mainkan, hentikan, lagu selanjutnya, maupun lagu sebelumnya.

Meski demikian, ada 3 fungsi lagi yang tidak berhasil bekerja di lingkungan Isadora yang kupegang. Ada gambar monitor komputer meja bertuliskan huruf S, kamera (kamera web sepertinya), dan tombol "ASUS 4 Power Gear" (pengaturan manajemen daya, kalau tidak salah mengartikan). Sepertinya itu terkhusus untuk SO berlogo bendera berkibar itu.

Sejauh ini, respon tiap-tiap tombol yang beroperasi cukup baik, kecuali pengaturan kecerahan layar. Tapi itu tidak masalah untukku, kecerahan kuatur di posisi terendah (yang ternyata terlihat terlalu terang juga), kemudian kecerahan lebih rendah didapat melalui peranti lunak. xcalib nama peranti itu, kecil ringan dan berbasis baris perintah. Tetapi tetap efektif.

Multimedia

Dari stiker (ee.. Sablonan?) yang ada di pojok kiri atas papan ketik, keluaran suara dipegang oleh Altec, salah satu merk yang jamak ditemui, meskipun bukan merk papan atas seperti HK, JBL, atau yang lainnya (kata @panji sih begitu :D). Suara yang dihasilkan jernih, cukup jelas untuk mendengar pembicaraan atau percakapan, dari film misalnya. Akan tetapi, begitu beralih ke musik, baru terasa suaranya ternyata datar. Frekuensi rendah (bass) tidak keluar, dan frekuensi tinggi rasanya masih agak kurang (jangan tanya kurang apa. Kurang, kalau dibanding suara dari pelantang yang menengah yang diturunkan dari ayahku). Penempatan lubang pengeras suara di dekat tempat meletakkan tangan dan menghadap ke bawah sepertinya memengaruhi keluaran suara. Sebab permukaan yang berbeda menghasilkan suara yang lain pula.

Mengenai kamera 1,3 megapiksel yang tersedia di atas tengah layar monitor, pendapatku masih cukup baik. Pada keadaan cahaya yang cukup. Menggunakan aplikasi 'cheese', dalam temaram lampu 11W CFL di ruanganku hasilnya penuh noise (pasir). Tetapi, di ruang yang sama pada siang hari, hasilnya cukup lah untuk sensor kecil. Berikut gambar-gambar yang pernah diambil di berbagai pencahayaan. Klik untuk versi lebih besar. Dari kiri searah jarum jam: lampu CFL ~20W ruangan luas, cahaya matahari, beberapa lampu TL 40/60W di lab.





Simpulan

Sejauh aku menggunakan kojing ini, aku masih puas. Poin plus untuk daya tahan baterai dan touchpad yang mengenali sentuhan beberapa jari (satu untuk geser juga klik, dua jari menggulung, tiga jari klik kanan) merupakan fitur yang sangat berguna untuk kegunaan sehari-hari. Meskipun penggunaan tablet/digitiser lebih disarankan saat mengolah foto. Tombol kombinasi multimedia juga berguna, saat tiba-tiba ada keperluan, musik bisa ditahan dulu dengan dua sentuhan saja. Tidak repot.

Meski demikian, hal yang menjadi kendala adalah struktur papan ketik. Pengetik buta seperti aku (maksudnya, tidak melihat papan ketik saat mengetik) sering salah menekan tombol delete menjadi home (lalu terhapus dari depan), atau panah kanan dengan end, juga panah atas alih-alih enter/return. Pada kojing yang kupakai, tombol backspace terkadang menghapus banyak huruf sekaligus, meskipun hanya mendapat sentuhan ringan. Ini cukup mengganggu, meskipun bisa diatasi dengan menekan tombol tersebut dengan mantap.

Mengingat ini kojing pertamaku dan ulasan pertamaku, kurasa tidak patut ku mengkuantifikasi penilaian tadi. Mudah-mudahan bermanfaat.


--
F I N
written until 15. Okt 2010, 20.54 WIB (GMT+7), 21.54 WITa (GMT+8)
Mengulas lagi atau tidak ya? Hmm.. :D

Sabtu, 03 Juli 2010

Rough guide to twitter (part 1)

Part 1 of I don't even know how much this will be.

As a beginning, I apologise for using English in this (series of) post. I pledged myself to write in Bahasa Indonesia for this blog, but now I just have to. Really sorry. But I'll try my best to write in plainest English I know. Come aboard and let us begin!

**

Web has evolved during these years. Several years back - when the most widely available way to access the Internet was 56k modem and further back - almost all content is one-sided. That is to say from the content provider, and Internet user has little to do with the content. Now, we have a term of "social network", with the likes of "facebook.com" (facebook or FB), "twitter.com" (twitter) and many more, which expect more involvement from the Internet users - us, if you prefer. This, I believe, is called Web 2.0.

One popular service is twitter. Signing up is easy (I forgot where did I got this line). You need to provide a valid e-mail (for verification use, and notifications later). You can pick any user name as long as it has not been chosen, and you are required to create a password that only you can use the account. After the verification process, you can start posting. The post is officially called 'tweet', and all update must stay under 140 characters. I heard that this limitation was deliberately applied because twitter was originally designed to be used by text message/SMS - which is limited to 160 character per page itself.

Who will read it? By default, it will be read by everyone, or more specifically, everyone who is reading 'public timeline' at that time. "What in the world is timeline" I can hear you questioning. 'Timeline' can be defined as the list of tweets on twitter. In real-time. There is another term, 'home timeline', which roughly defined as list of tweets of people you 'follow'.

"Wait. You follow what? People?"

Yes, dear. The term 'following' is most easily related to subscribing. You subscribe to other persons updates (tweets, remember?). You can directly follow people who let their update be public, or you may need consent from the owner of the 'protected account' (symbolised by padlock). Either way, if you see their tweet on your 'home timeline', then you have successfully follow that soul.

"Shouldn't that other user follow me, too?"

No, silly. This is one distinction twitter has in comparison to other soc-net sites, e.g facebook. In most other sites, mutual agreement must be reached that one can follow/"befriend" other. Twitter doesn't require it. At all. You just have to click on [follow] button on that user page (usually twitter.com/username). If that user or other user sees your tweets as "follow-worthy', they will follow you anyway (and pro'lly they're your friends anyway. Ha ha!). If you, at some point find some people's update are offensive, or annoys you beyond limit, unfollowing is also as easy. The [follow] button on that user twitter page will turn into [unfollow] once you have that person followed. You just need to click it, and that person's tweets will never show up on your home timeline.

"Now I have follow some persons, what's next?"

You can still post tweet after tweet if you like, but if you at some moment see an interesting tweet from one you follow, you can post reply to their tweet. The reply link is located on bottom-right of the aforementioned tweet. Click it and you will be taken to top of the page to the field you can fill to tweet. Instead of empty box, you can now see @user already typed. You can begin typing after that "@user ". For example (no quote marks, for sure): "@user yeah, I think that movie rocks, too!". That user will see the reply on their timeline (if that user follows you) or see the reply on his '@user' page. You have yours, too. Check it out sometimes. It's on the right side of the page.

Aside of replying to a certain tweet, you can also 'mention' other user. For example, you tweet "I have a wonderful day, thanks to @user" although this is not a rigid rule. The mention comes when you hand-written the "@user" part. So no matter where you put the "@" symbol. The user will still be informed anyway.

**

Okay. Let us proceed to a somehow sensitive part in twitter jungle. A function called "ReTweet", or "RT" in short. This can be analogued to Forward or "FW" in e-mail realm. You can see that the act of forwarding is a no-brainer. You forward an interesting (or important) mail to other people, put some comment line on or under it, but NO. You don't chat by forwarding. The same goes to RT. You pass important (or interesting) information by re-tweet-ing that tweet, add some info or comment if you wish, but you don't chat/reply to that tweet message.

You can either retype (or rather, copy and paste) a tweet so it'll look like: "RT @user Hey Timbuktu! Are you ready to rock?!" or some 3rd party client has the ability to do it for you, one click away. You can put your comment either before or after the tweet you are re-tweet-ing.

"So it's that easy, how come that become a sensitive issue in twitter world?"

It's because some get lost and confused with RT. They think (or rather, see) RT as Reply To. As I mentioned earlier. RT = Fw. When you could simply click "reply" (and get the conversation tracked better), why do you flood the timeline with RT as Reply To? Here are two example:

"Ha ha! That's not funny! RT @user0: how many lawyers does it take to change a light bulb? None. Lawyers only screw people."

"I'll meet you at Times Square RT @user0: where shd I meet u? RT @user1: Off I go. RT @user0: Nine o'clock, rite?"

The first is sample of a better use of RT. User1 add comment to user0's tweet, and wants to share it to public. The latter is, well, a mess to say the least. Human in most countries read left to right, but yet in the second example, you must read RTL to see the coherence in that message. Phew, that's confusing.

Imagine if you have your timeline that way, some unknown people (probably they're your friends' friends) talking things you don't understand even a little bit. That can be annoying, and many good information or data or whatever might lost among those failed use of RT. Please, use it wisely.

**

Another basic feature in twitter is favourite (fav). Basic it might be, but I don't know many persons use this feature. With RT, you can spread an info about - say - a fire in your neighbourhood at instant. One downside of this is that it'll be lost within hours. You tweet things, people you follow tweet things, some poor tweeter failed to use RT wisely, and your tweet will be lost. With fav, you can mark one's tweet as "Favourite", and twitter will save it for you. To read later, or to RT later, or whatever, it's yours to decide. This' especially good if you're tweeting on the go. The fav-ed tweet will be saved and can be viewed later through "Favourite" link on the right-hand bar. It'll never lost, unless twitter do messy things.

So. That's that. All I can write at the meantime. I hope this helps.
Feel free to object, comment, or tell your friends. Thank you for reading. I'm glad to have you.

Happy tweeting!


--
F I N
written 'til 3. Jul 2010
@arfrahman

Jumat, 16 Oktober 2009

Twhirl: Peranti Klien Twitter Berbasis AIR

Bagi sebagian golongan, situs jaringan sosial/pertemanan facebook mungkin telah menjadi ritus yang menjemukan. Beberapa temanku bahkan sampai menonaktifkan sementara halaman mereka di sana. Memang, untukku sendiri situs tersebut masih cukup berguna. Malam ini saja, seorang temanku semasa SD - yang lama betul tak bertemu - meminta ditambahkan ke daftar temanku.

Tapi mungkin dasar sudah tidak bisa terlepas dari dunia maya, sebagian lagi temanku ternyata sudah/baru membuat akun di situs "SMS maya" yang terbatasi 140 karakter setiap kalinya: twitter. Untuk twitter ini sendiri, baca sendiri ya! Ayo, jangan malas.. Mungkin bisa dimulai di sini, sana, juga di situ.

Aku sendiri? Yah, masih hijau lah di sana, dan jarang-jarang memperbarui status. Mungkin karena sebelumnya, di sistem operasi Wind*, ruang sisa di cakram keras (ehm, "hard disk" kalau kamu bingung) tinggal tersisa sedikit membuatku malas menambah aplikasi lain lagi.

Nah, setelah ada penambahan secara besar-besaran (secara harfiah) ruang sisa cakram keras, barulah aku terpikir untuk... Bukan, bukan menambah aplikasi lain. Yang benar adalah memasang Linux Mint 7: Gloria. Bukan edisi utamanya, tetapi edisi komunitas dengan pengatur tampilan muka XFCE. Maklum, memori juga telah mengalami penambahan yang cukup.

Ups, daripada semakin kacau dan melebar, mari kita mulai membahas sedikit tentang aplikasi klien twitter yang kusebutkan di judul: Twhirl.

Kalau boleh sedikit bercerita, tadinya aku berniat menggunakan pengaya untuk perambah firefox yang dinamakan echofon. Namun entah kenapa pengaya ini tidak menyimpan nama penggunaku di twitter. Mengerikan rasanya mengisi lagi dan lagi dan lagi nama pengguna setiap kali menyalakan echofon.

Kemudian, aku mendapati sebuah laman (maaf lupa sama sekali alamatnya) yang membahas beberapa aplikasi yang dipergunakan untuk mengakses twitter di sistem GNU/Linux. Salah satunya ya, twhirl ini.


Tangkapan layar twhirl: Sederhana, tapi lengkap

Penempatan tombol-tombol mungkin perlu pembiasaan pada awalnya. Sedikit kujelaskan bahwa di bagian bawah tersedia tombol-tombol (berturut-turut) untuk memunculkan/menyembunyikan kolom pembaruan status, halaman muka ("home"), balasan tweet(s), pesan yang langsung ditujukan ke pengguna, tweet(s) favorit, daftar kontak, pencarian pengguna, dan pencarian tweet.

Di sisi atas ke kanan lalu ke bawah dari kolom pembaruan status adalah untuk mengaktifkan/tidak penyaring (berbasis kata), penanda "terbaca" pada semua tweets yang masuk, muat ulang, pilihan untuk mengunggah gambar, pemendekan URL, penanda karakter tersisa (ingat, terbatas di 140 ya!), dan tombol pembaruan status.

Antarmukanya, terutama tema warnanya dapat diubah sesuai keinginan. Selain itu, aplikasi ini juga bisa mengirim pembaruan status ke ping.fm dan Jaiku. Sehingga, kalau boleh menilai aplikasi ini dalam satu kata, yang terlintas adalah "sederhana".

Satu hal yang cukup mengganjal (dan memberatkan mungkin untuk kamu-kamu yang tergolong fakir/kikir bandwidth) adalah bahwa aplikasi ini berjalan di atas runtime Adobe AIR. Mengapa demikian? Perhatikan. Untuk GNU/Linux, berkas biner yang harus diunduh sebesar 13,11 MiB. Untuk SO Wind*, 15,4 MiB. Sedangkan MacOSX - tak tanggung-tanggung - 21,5 MiB. Wow...

Tapi, kalau melihat potensi dari AIR ini, yang berusaha memacu para pengembang aplikasi mengembangkan aplikasi internet kaya (rich internet application, RIA), dan semakin dalamnya internet masuk di negeri ini, rasanya besarnya unduhan tersebut (kelak) akan sebanding dengan kegunaannya.


F I N
written on 16. Okt 2009, 21.15 WIB, 22.10 WITA
Please Mr. Postman, send it to her. Quick that she'll be glad I wish.. *blush*


Link

Rabu, 11 Februari 2009

L-C-D

Ya... L-C-D di sini adalah kependekan dari kata bahasa Inggris "Liquid Crystal Display". Agak bertolak belakang memang, karena dari pembelajaran dasar material dulu, kristal adalah suatu keteraturan dalam jangka panjang dari atom-atom -- yang notabene sulit dicapai pada material yang bersifat cair karena derajat kebebasan yang lebih tinggi. Tapi bolehlah kita sebut bahwa dengan kemajuan yang dicapai manusia -- meskipun bukan manusia berkebangsaan negeri berkode +62 ini -- dapat dihasilkan pada material berwujud cair.

Nah.. Cukup cerita tentang L-C-D! Kalau masih tertarik, silakan tuju blanko alamat di bagian atas perambah, kemudian ketikkan alamat situs pencarian favoritmu, kemudian ketikkan L-C-D atau Liquid Crystal Display. :-D

Oke, beralih ke pokok ceritaku. Kemarin sore, Ayah menelepon saat aku tengah berada di mobil angkutan menuju rumah selepas pengambilan gambar (ehm, pas foto tentu saja. Atau ada yang perlu peraga? :-P). Tidak ada hujan, tetapi banyak angin -- karena jendela mobil Kijang lawas itu terbuka lebar, Ayah bertanya tentang beberapa spesifikasi monitor L-C-D untuk komputer.

Wah, ilmuku masih sedikit, tapi tak mengapa kucoba saja sejauh yang kuketahui. Jadilah kulayani pertanyaan ayah tentang sesuatu yang bersatuan ms (kuduga ini milisekon/milidetik, jadi kuduga ini adalah waktu respon), terkait waktu (respon) tentu saja kuduga lebih cepat lebih baik. Kemudian pertanyaan berikut tentang sebuah perbandingan. Hmm.. Kurasa sih, angka 7000:1 dan 6500:1 itu terkait rasio kontras. Jadi, ambil yang lebih tinggi saja. Haha.. Ups.. :p

Kemudian soal resolusi. Setidaknya ada dua pilihan, resolusi biasa (atau kemudian baru kukenal dengan resolusi persegi/square) 4:3 dan semacamnya, dan resolusi lebar/wide 16:9 atau 16:10 dan semacamnya. Dari yang pernah kubaca sebelumnya, kumengerti bahwa angka itu adalah kelipatan persekutuan yang paling kecil dari resolusi yang didukung. Jadi kalau misal resolusinya 1024x768 (pixel:pixel; PixEl= Picture (pix) Element/elemen gambar/titik), maka KPK (ehm, kelipatan persekutuan tadi, bukan KPK yang berkantor di Kuningan itu lho..) alias perbandingan resolusinya tinggal dibagi dengan 256, maka hasilnya 4x3, sehingga perbandingan sisi panjang : sisi lebarnya 4:3, begitu seterusnya. Pembahasan berlanjut sepanjang Jalan Jatipadang, dan akhirnya menurut Ayah dan aku, lebih baik monitor dengan perbandingan biasa.

Petang harinya, saat sedang membenahi kamar yang hancur lebur berantakan tak terurus karena kalah prioritas dengan Si Krispi, Ayah pun pulanglah. Di tengah-tengah pembenahan itu, yang disambi mendengarkan radio KISFM karena topik -- ehm, maaf. Maksudku bintang tamunya (seorang reporter/presenter stasiun televisi swasta) yang menarik -- Ibu memanggilku turun, meminta bantuanku.

Ternyata eh ternyata. Waw... Sebentuk kardus cokelat yang tidak begitu besar menanti di dekat meja komputer kami. Dari etiketnya, terbaca bahwa itu adalah monitor L-C-D berukuran 43 cm (17") dari pabrikan Korea berseri SyncMaster 743 NX. Aw aw... Saat kardus dibuka.. Aw aw.. Licin (baca: cantik, eh salah, maksudnya bagus, hehehe... :p).

Jadilah, duapuluh menit kemudian aku mengangkat monitor yang usianya jauh lebih tua dari keponakanku ke gudang/kamarku, kemudian memasang monitor itu untuk pertama kalinya.


Kesan, Pujian, dan Ujian

Kesan pertama... Duh, tombol untuk menyalakannya di mana yah?? Yah, bisa dibilang ini bagus, karena secara tidak langsung memaksa pembeli lain untuk membaca petunjuk pemasangannya
(aku jangan diikutsertakan yah, aku memegang pedoman itu di tangan kanan selagi membetulkan letak monitor itu kok).

Kemudian, kesan berikutnya adalah kagum. Kagum karena tombol-tombol di panel depan monitor ini tidak ada.. Tidak ada??? Maksudnya tidak ada yang timbul. Satu sisi, dengan tombol yang seolah menyatu dengan badan monitor, timbul kesan anggun. Jadi kesan rapi yang monitor ini miliki meninggalkan monitor-monitor yang pernah singgah di rumah kami pada jaman batu *berlebihan*.

Sisi gelapnya -- secara harfiah memang gelap -- adalah bahwa tombolnya tidak nampak. Lain dengan etiket merknya yang berwarna abu-abu cenderung putih, warna 'tombol'-'tombol' yang ada pada sisi kanan tulisan merknya itu berwarna abu-abu cenderung gelap. Agak keemasan mungkin, tetapi dengan cahaya dari monitor, dan juga dari lampu di ruangan, tulisan pada 'tombol' itu seolah hilang ditelan cahaya. Hal yang bisa dilakukan untuk mengatasinya? Lampu senter, tentu saja. Mudah saja, tinggal sorotkan lampu senter ke sisi kanan bawah monitor apabila perlu menyalakan, juga mengatur ulang monitor ini. Hey, tak ada larangan bukan? Toh ini milik kami. Weekkk... :-P

Jelek yang satu lagi -- tapi ini bisa mempersalahkan keadaan rumah kami juga -- warna yang dibawanya adalah hitam.. Warna hitam + Debu = Kusam.. Kumal.. Tak terawat.. Huhuhu.... Yang bisa kami lakukan mungkin mencari kain untuk menutup monitor ini bila tidak digunakan.

Selanjutnya pengujian.. Tak sahih rasanya kalau tidak dilakukan pengujian -- dasar makhluk skeptis! Pengujian paling umum untuk layar monitor L-C-D adalah pengujian pixel mati (dead pixel). Dari pengujian di salah satu tempat [di sini] (lainnya cari sendiri yah, kata kuncinya "dead pixel test"). Sepertinya tidak ada yang dimaksud dead pixel dan kawan-kawannya itu. Jadi, ceritanya, dead pixel itu adalah pixel yang, yah, sudah mati. Jadi dia tidak bisa berubah warna meskipun sekitarnya kita ganti. Misal, satu titik selalu berwarna hitam meskipun kita mengganti gambar. Nah, dapat jadi itu adalah pixel mati itu.

Yah.. Bagaimanapun, alhamdulillah telah tiba juga monitor ini. Monitor yang menurut pengakuan ayah, hadiah. Hadiah untuk... Apa ya? Kelulusan atau untuk ulang tahun? Entahlah. Tak ada cerita hadiah barang dari orang tuaku setelah lama.. Tapi buatku, dengan Ibu-Ayah tetap bersama kami itu sudah lebih dari cukup. Makasih Ayah, makasih Ibu.. (^^,)


--
F I N
written on 11. Februar 2009, 09:19 WIB
Semoga bisa bermanfaat... (^^,)