Tampilkan postingan dengan label Linux. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Linux. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Oktober 2009

Twhirl: Peranti Klien Twitter Berbasis AIR

Bagi sebagian golongan, situs jaringan sosial/pertemanan facebook mungkin telah menjadi ritus yang menjemukan. Beberapa temanku bahkan sampai menonaktifkan sementara halaman mereka di sana. Memang, untukku sendiri situs tersebut masih cukup berguna. Malam ini saja, seorang temanku semasa SD - yang lama betul tak bertemu - meminta ditambahkan ke daftar temanku.

Tapi mungkin dasar sudah tidak bisa terlepas dari dunia maya, sebagian lagi temanku ternyata sudah/baru membuat akun di situs "SMS maya" yang terbatasi 140 karakter setiap kalinya: twitter. Untuk twitter ini sendiri, baca sendiri ya! Ayo, jangan malas.. Mungkin bisa dimulai di sini, sana, juga di situ.

Aku sendiri? Yah, masih hijau lah di sana, dan jarang-jarang memperbarui status. Mungkin karena sebelumnya, di sistem operasi Wind*, ruang sisa di cakram keras (ehm, "hard disk" kalau kamu bingung) tinggal tersisa sedikit membuatku malas menambah aplikasi lain lagi.

Nah, setelah ada penambahan secara besar-besaran (secara harfiah) ruang sisa cakram keras, barulah aku terpikir untuk... Bukan, bukan menambah aplikasi lain. Yang benar adalah memasang Linux Mint 7: Gloria. Bukan edisi utamanya, tetapi edisi komunitas dengan pengatur tampilan muka XFCE. Maklum, memori juga telah mengalami penambahan yang cukup.

Ups, daripada semakin kacau dan melebar, mari kita mulai membahas sedikit tentang aplikasi klien twitter yang kusebutkan di judul: Twhirl.

Kalau boleh sedikit bercerita, tadinya aku berniat menggunakan pengaya untuk perambah firefox yang dinamakan echofon. Namun entah kenapa pengaya ini tidak menyimpan nama penggunaku di twitter. Mengerikan rasanya mengisi lagi dan lagi dan lagi nama pengguna setiap kali menyalakan echofon.

Kemudian, aku mendapati sebuah laman (maaf lupa sama sekali alamatnya) yang membahas beberapa aplikasi yang dipergunakan untuk mengakses twitter di sistem GNU/Linux. Salah satunya ya, twhirl ini.


Tangkapan layar twhirl: Sederhana, tapi lengkap

Penempatan tombol-tombol mungkin perlu pembiasaan pada awalnya. Sedikit kujelaskan bahwa di bagian bawah tersedia tombol-tombol (berturut-turut) untuk memunculkan/menyembunyikan kolom pembaruan status, halaman muka ("home"), balasan tweet(s), pesan yang langsung ditujukan ke pengguna, tweet(s) favorit, daftar kontak, pencarian pengguna, dan pencarian tweet.

Di sisi atas ke kanan lalu ke bawah dari kolom pembaruan status adalah untuk mengaktifkan/tidak penyaring (berbasis kata), penanda "terbaca" pada semua tweets yang masuk, muat ulang, pilihan untuk mengunggah gambar, pemendekan URL, penanda karakter tersisa (ingat, terbatas di 140 ya!), dan tombol pembaruan status.

Antarmukanya, terutama tema warnanya dapat diubah sesuai keinginan. Selain itu, aplikasi ini juga bisa mengirim pembaruan status ke ping.fm dan Jaiku. Sehingga, kalau boleh menilai aplikasi ini dalam satu kata, yang terlintas adalah "sederhana".

Satu hal yang cukup mengganjal (dan memberatkan mungkin untuk kamu-kamu yang tergolong fakir/kikir bandwidth) adalah bahwa aplikasi ini berjalan di atas runtime Adobe AIR. Mengapa demikian? Perhatikan. Untuk GNU/Linux, berkas biner yang harus diunduh sebesar 13,11 MiB. Untuk SO Wind*, 15,4 MiB. Sedangkan MacOSX - tak tanggung-tanggung - 21,5 MiB. Wow...

Tapi, kalau melihat potensi dari AIR ini, yang berusaha memacu para pengembang aplikasi mengembangkan aplikasi internet kaya (rich internet application, RIA), dan semakin dalamnya internet masuk di negeri ini, rasanya besarnya unduhan tersebut (kelak) akan sebanding dengan kegunaannya.


F I N
written on 16. Okt 2009, 21.15 WIB, 22.10 WITA
Please Mr. Postman, send it to her. Quick that she'll be glad I wish.. *blush*


Link

Rabu, 19 Maret 2008

Manajemen File Motorola C650 di Linux Mint 3.1 Celena

Keterangan: Untuk melihat gambar ukuran normal (besar), klik pada gambar yang bersangkutan. Maaf karena sebelumnya tidak nampak jelas. Terima kasih. (15. April 2008)

Jadi, utangku setelah lama akan kubayar sekarang. Setelah beberapa lama menjadi TODO, sekarang saatnya aku mencoba menerangkan bagaimana menghubungkan ponsel (motorola) dengan linux, dengan menggunakan moto4lin (moto4lin.sourceforge.net/wiki/Main_Page)


Gambaran Umum
Ponselku sendiri, sudah jauh sekali dari aslinya. Aslinya, ponsel ini adalah Motorola C650, tetapi dulu sekali ketika aku masih gila mengutak-atik ponsel (dan masih belum sadar perlunya menyimpan data), ponsel ini telah menjadi korbannya. Dulunya untuk memotret, cukup menekan tombol 5 arah yang ada di tengah-tengahnya, tetapi sekarang sudah tidak bisa lagi. Sudahlah, kali lain aku mungkin bisa membahas masalah "modding" C650 di sini.

Kemudian, kabel penghubung komputer dan ponsel. Ini penting, bisa diibaratkan tanpa kabel ini ponselku tidak bisa berkomunikasi dengan komputerku. Kabel yang kugunakan, temanku menyebutnya kabel "mini usb A to B", sedangkan aku sendiri menyebutnya kabel USB N-Gage, karena aslinya kabel ini milik adikku. Tetapi dalam praktiknya, aku lebih sering menjadi penggunanya. Bila tidak ada, dan kebetulan kamu punya kartu memori semisal kartu SD atau MMC, saranku belilah pembaca kartu USB (eksternal), yang satu ujungnya standar lubang USB, dan satunya lebih kecil. Kalau dibolehkan, uji cobakan saja kabel itu ke ponselmu. Ibarat kata, sekali merengkuh dayung lima belas pulau terlampaui. :p

Oke, kemudian untuk komputernya. Distribusi linux yang kugunakan adalah Linux Mint 3.1 Celena, kebanyakan masih dalam pengaturan aslinya. Sedangkan versi moto4lin yang kugunakan didapatkan dari repositori di kambing (kambing.ui.edu), versi 0.3 CVS. Mendapatkannya bisa dengan perintah sudo apt-get install moto4lin. Cara lain dengan membuka synaptic (Menu > Install Software) dan cari moto4lin, kemudian pilih "mark for installation", kemudian "apply".

Memulai
Pertama-tama, pastikan kamu tidak alergi dengan antarmuka "command line", sebab setelah instalasi moto4lin, tidak akan kamu temukan moto4lin di manapun di menu.

Kemudian, hubungkan komputer dengan ponsel (atau sebaliknya, pada dasarnya sama ^_^). Kemudian jalankan emulasi terminal di Celena (gnome-terminal), ketikkan dmesg | tail (tanda | terletak di atas simbol "backslash"). Cari baris yang mengandung kata-kata "USB ACM device". Perhatikan di mana ponselmu dikenali. Ponselku sendiri dikenali pada ttyACM0, yaitu di /dev/ttyACM0 (nol, bukan huruf "o". Jelasnya lihat gambar 1).

Perintah dmesg | tail
Gambar 1: Perintah Dmesg untuk melihat lokasi perangkat ponsel dikenali di komputer

Kemudian, masih di terminal, ketikkan gksudo moto4lin. Mengapa gksudo? Entahlah, saat aku mencoba sudo moto4lin, aplikasi ini tidak mengenali ponselku. Sedangkan bila tidak memiliki akses "root" atau "superuser", pengaturan yang dilakukan tidak disimpan. Jadi, sudahlah, biar saja aku yang menyesuaikan.

Bila sudah, maka jendela utama aplikasi akan muncul (lihat gambar 2). Perhatikan bagian bawah jendela tersebut, status (status:disconnected) menunjukkan apakah ponsel sudah siap dibaca oleh aplikasi, dalam hal ini masih belum. Lalu model menunjukkan model ponsel kita. Drive menunjukkan, um bagaimana menjelaskannya, drive seperti di MS Windows drive D:, H: dan semacamnya. FIles menunjukkan banyaknya berkas yang tersimpan di ponsel, sedangkan free space, cukup jelas.

Jendela utama moto4lin
Gambar 2: Jendela utama moto4lin

Agar moto4lin bisa digunakan untuk mengakses data di ponsel, maka kita perlu mengatur konfigurasi moto4lin. Klik preferences pada jendela utama moto4lin, maka jendela preferences seperti Gambar 3 dan 4 akan membuka.

Sebagai perangkat AT
Gambar 3: Dikenali sebagai perangkat AT

Sebagai perangkat P2K
Gambar 4: Dikenali sebagai perangkat P2K

Perhatikan, ACM Device diisi dengan di mana ponsel kita dikenali (lihat paragraf 6, sebelum Gambar 1). Isi dengan benar, kemudian klik update list. Maka AT dan P2K Vendor ID dan Product ID akan muncul pada tempatnya. Bila tidak muncul, maka silakan liat daftar Vendor ID dan Product ID ponselmu di situs resmi moto4lin, lalu isikan di tempat yang sesuai.

Moto4lin menggunakan mode komunikasi P2K dengan ponsel. Tolong jangan tanya artinya, sebab aku pun belum menemukan artinya. Pun dengan AT. Untuk mengubah mode koneksi (yang awalnya berada pada posisi AT), klik "Switch to P2K". Lalu tutup jendela Preferences.

Manajemen File
Selanjutnya, hubungkan ponsel dengan komputer melalui peranti lunak. Klik Connect/Disconnect sehingga tombol itu seperti ditandai. (Lihat Gambar 5). Menurutmu apa yang terjadi? Belum selesai, saudara-saudara. Lihat status di sebelah bawah? Sekarang status telah berubah menjadi connected, dalam mode P2K. Sehingga model ponsel, jumlah files, sisa memori ponsel, dan drive ponsel telah dikenali dengan baik. Tetapi bagaimana dengan transfer file yang dijanjikan?

Menghubungkan ponsel dan moto4lin
Gambar 5: Menghubungkan ponsel dan moto4lin

Coba klik update list, di antara tombol download dan remove. Tunggu sebentar, bisa dilakukan sambil melihat progress bar di sisi kanan bawah jendela yang bergerak jauh lebih cepat daripada menggunakan p2kmanager di OS yang masih kuutangi. Dan muncullah pohon direktori di sebelah kiri jendela aplikasi, juga files yang kamu simpan di memori ponsel (Gambar 6). HATI-HATI, semua file dalam ponsel, yang tidak nampak pada saat menggunakan ponsel pun akan nampak di sini, sehingga jangan sembarang menghapus atau mengubah files. Aku sendiri lebih senang langsung menuju picture, untuk memindah gambar-gambar jepretan sembunyi-sembunyiku ke komputer.

Moto4lin yang telah terhubung dengan ponselGambar 6: Moto4lin yang telah terhubung dengan ponsel

Fungsi Lain
Baiklah, selagi masih di sini, mungkin akan sedikit kusinggung tentang fungsi lain moto4lin ini. Yang pertama FIle Manager. Ini sangat berguna untuk memindahkan files dari komputer ke ponsel dan sebaliknya. Yang kedua adalah SEEM editor. Untuk mengubah serba-serbi ponsel kita? Di sini tempatnya. Gunakan dengan SANGAT HATI-HATI, dan ingat untuk selalu menyimpan data yang asli sebelum bermain-main dengan SEEM. Yang ketiga, KJava. Sepertinya gunanya untuk menyimpan aplikasi Java yang ada di ponsel, tetapi mungkin bisa untuk memasukkan aplikasi. Aku sendiri belum pernah mencobanya, dan masih menggunakan MIDWay di OS tetangga si Celena ini untuk memasukkan aplikasi.

KJava Manager
Gambar 7: Kjava Manager

SEEM Editor
Gambar 8: SEEM Editor

Mengakhiri Sesi
Baiklah, setelah selesai, putuskan hubungan ponsel dan komputer (klik disconnect seperti pada Gambar 9) sehingga status kembali menjadi disconnected. Jangan takut bila masih ada files yang muncul, sebab itu hanya 'sisa-sisa' saja. Lalu, tutup jendela moto4lin dengan tombol silang di pojok kanan atas, sampai kembali ke jendela emulasi terminal seperti Gambar 10.

Memutuskan hubungan ponsel dan moto4lin
Gambar 9: Memutuskan sambungan moto4lin dan ponsel

Tampilan terminal saat keluar dari moto4linGambar 10: Tampilan terminal selepas keluar dari moto4lin

Kemudian, cabutlah kabel dari komputer. Sejauh pengetahuanku tidak masalah langsung mencabut kabel dari ponsel, tetapi bila kamu takut, maka matikan saja komputernya terlebih dahulu.

Penutup
Ada beberapa hal penting yang aku lihat selama menggunakan moto4lin ini. Pertama, update files, transfer files, dan semacamnya jauh lebih cepat daripada p2kmanager di Win. Mungkin seperti yang pernah kudengar di sebuah milis bahwa HDD cache dipergunakan dengan optimal pada sistem operasi Linux.

Kedua, moto4lin masih dalam tahap pengembangan, jadi jangan harap semua fitur dapat digunakan dengan lancar. Semoga dengan berjalannya waktu bisa mematangkan aplikasi ini, karena menurutku aplikasi semacam ini bisa sangat membantu orang-orang yang ingin migrasi ke Linux dan/atau open source.

Yah, sejauh ini, baru itu yang bisa aku tulis tentang moto4lin, C650, dan Celena. Semoga ke depannya ada sesuatu lagi yang bisa aku dokumentasikan. Semoga membantu. ^_^

F I N
written on
early 19 Mär 2008

Pusing juga, sudah lama tidak mulai dari awal lagi jadi lupa-lupa-ingat, termasuk bagaimana menulis yang manis. Semoga masih benar deh, langkah-langkahnya. ^_^
Mana banyak istilah yang perlu dihurufmiringkan, tetapi karena terlalu malas jadi tak kulakukan... *sigh*

Minggu, 16 Desember 2007

Soft Launching POSS UI

Hari Sabtu kemarin (15. Dez), di gedung Engineering Centre Fakultas Teknik Universitas Indonesia telah berlangsung sebuah acara bertajuk "Soft Launching POSS UI". Acara ini diselenggarakan oleh POSS (Pemberdayaan Open Source Software) UI.

Sayang sekali aku terlambat, dan tiba setelah acara cukup lama dimulai. Setibanya aku di sana, aku "disambut"oleh "penunggu pintu". Seorang perempuan yang --ehm, ehm, Rif?! Rif?! iya deh-- membagikan cd gratis. Ada 3 macam: Dewalinux, BlankOn dan --apa lagi satunya ya? IGOS kalau tidak salah. Aku sendiri memilih Dewalinux karena belum pernah dengar™. Pembicara yang ikut berbagi dalam acara ini antara lain:
  • Pak Ibam (Rahmat M. Samik Ibrahim) dosen Fasilkom UI
  • Pak Adi dari POSS UI (nama lengkapnya aku tidak tahu, maklum terlambat :p)
  • Bang Fauzan dari ... (dari mana ya? Semua gara-gara terlambat nih)
  • Bang Adin (Gladhi Guarddin-kah?) dari "Juragan Kambing"
  • Bang JP (Jan Peter Rajagukguk-kah?) sebagai moderator


Sedangkan dari sisi "peserta", ada beberapa nama, baru kukenal maupun sudah cukup lama, berikut:
  • Arif Rahman (kenal dari lahir sampai detik ini, he he he :D)
  • Khairul Umam (pemilik warnet "Nge-Net" di gang senggol FKM UI yang ber-OS zencafe, pengembang UmamOS), seangkatan di Metalurgi (Polimer) UI 2005
  • Narpati Pradana (lebih mudah dijumpai di halaman komentar beberapa blog sebagai "Kunderemp")
  • Aziz (Teknik Industri UI 2006)
  • Haris (Elektro UI 2005)
  • Deni Lukmanul Hakim (pembelot FK UI 2005, sekarang Fasilkom UI 2006, bagian Ristek senatkah sekarang, Den?)
  • Bang Ricky dari Juragan Kambing (Tukang bakar kalau menurut Bang Adin
  • Mas Andi Darmawan dari id-ubuntu (Mas belutz-kah ini?)
  • dari KPLI Depok (lupa namanya, he he :p)
  • dan banyak lagi™

Jalan Cerita™

Sesi berbagi
Aku datang ketika Pak Adi sedang bicara masalah kemampubertahanan (ampun deh, bahasa lainnya sustainability) dari suatu proyek. Salah satu yang dibicarakan adalah bahwa UI telah menggunakan UNIX selama 24 tahun. Wow, suatu waktu yang panjang, suatu kesetiaan yang dalam, he he he. Jadi ringkasnya (dan seingatku) UI memilih perangkat bukan hanya agar perangkat tersebut "jalan". Selain perangkat tersebut "jalan", orang-orang di belakangnya juga harus mampu menguasainya. Istilah sembarangnya "the right man behind the right gun", jadi harus cocok dari pengguna ke perangkat dan sebaliknya.

Selain itu prospek dari suatu perangkat juga perlu dipertimbangkan. Pak Adi menganalogikan sebuah teknologi serat optik tercepat pada dekade 80-an (maaf, namanya sulit diingat) yang dapat memindah data dengan kecepatan mencapai 100 Mbit/detik, tetapi harganya mahal. Terbukti sekarang sudah banyak yang mampu melampaui teknologi itu dengan harga yang lebih murah, dan teknologi itu sekarang seolah raib ditelan bumi™.

Setelah Pak Adi, Pak Ibam yang mendapat kesempatan bicara. Inti yang kudapatkan dari beliau adalah pentingnya asas manfaat dalam pemilihan dan penggunaan perangkat lunak, khususnya sistem operasi. Ini karena banyak orang yang terjebak pada ideologi, jadi seolah-olah sistem operasi yang sudah lama sekali dia gunakan itu adalah agamanya yang akan dia bela sampai titik darah penghabisan. Menarik karena seorang kawanku *hampir-hampir* seperti yang beliau sebutkan itu.

Pengalaman Pak Ibam dengan Linux mirip benar denganku. Dulu perjumpaan pertama beliau dengan GNU/Linux adalah dengan Slackware. Alasannya sederhana: "Karena teman saya menggunakan Slackware. Jadi nanti gampang kalau ada masalah". Persis seperti saat aku dulu menggunakan Fedora core 5. Kemudian setelah waktu terus bergulir, dan pengetahuan serta pengalaman beliau bertambah (ini kata-kata dariku, bukan dari beliau), beliau menyimpulkan bahwa yang termudah dalam perawatan dan semacamnya adalah Debian, meskipun dulu beliau tidak suka dengan Debian karena: "Namanya nggak macho. Debian, seperti Bus Deborah" (PO. Bus yang pool-nya ada di Jalan Raya Margonda -pen). Memang menarik mendengar beliau bicara, tak sedikit kata-katanya yang memancing derai tawa dari kami.

Sesi Ide
Selepas bapak-bapak di sofa nan empuk yang berbicara, kini giliran kami di karpet yang bicara. Yang pertama ada Narpati yang mengusulkan kalau POSS UI nantinya ambil bagian dalam penterjemahan manual php, yang sampai saat ini masih belum ada versi Bahasa Indonesianya. Usul ini ditampung, dan ditawarkan langsung kepada pengusul, mas Narpati.

Ada juga Umam alias Irul yang tetap kukuh mengusung ide "Distro GNU/LINUX UI" yang "baunya" akan UI sekali. Dan sekali lagi, ditampung dan dikembalikan ke pengirim. He he.

Dan, usulan-usulan lain yang dibahas kesana kemari dan akhirnya, acara resmi ditutuplah oleh Bang JP.

Sesi Foto
Ini dia yang ditunggu, "Yang foto?! Yang foto?!" (á la pedagang air asongan). Sayang sekali aku *belum* punya kamera yang cukup buat foto selebar itu (lebar, karena Pak Ibam, he he, bercanda, Pak! Pesertanya memang banyak sih). Dan nampaknya yang membawa kamdig pun tidak membawa kabel untuk transfer foto, maka jadilah tulisan ini kering tanpa foto. Tapi rencananya foto itu akan dipajang di halaman web POSS, kok, jadi ditunggu saja kabarnya nanti.

Sesi Informal
Yak, sesuai dengan persamaan jumlah_peserta jumlah_makanan_dalam_kotak && banyak yang masih lapar, maka jadilah sesi informal ini bertaburan kotak-kotak berisi makanan kecil sambil mengobrol berbagai macam. Mulai dari logo KSL-UI, rencana invasi stasiun UI oleh POSS (tetapi masih bingung karena minimnya jumlah perempuan *untuk advertensi*), dan bakar-membakar CD/DVD --yang sempat tertunda karena hanya unit CPU+HDD+ODD+Casing saja yang diangkut sehingga Bang Fauzan harus mencarikan papan kunci, tetikus, layar monitor, dan kabel daya.

Setelah semua sudah tersedia, maka berlangsunglah pesta "bakar-bakaran" itu. Sembari berjalan, Bang Ricky dan yang lainnya masih bisa membahas berbagai hal: Driver printer dan printer di GNU/Linux, penulis DVD yang bagus, masalah pembelian duplikator media optik, masalah TIKI JNE yang sering sembarang dalam menangani kiriman, pemesan DVD Repo dan CD GNU/Linux yang bermacam-macam, dan banyak lagi.

Dibahas juga agenda POSS UI --yang karena acara ini, resmi 'berkantor' di lantai 3 EC FTUI-- ke depannya. Yah, sekitar 13.20 WIB aku pulang, kurang puas karena tidak membawa DVD untuk menempatkan DVD Repository Ubuntu Feisty untuk si Celena kesayangan, tapi puas karena dengan ini, UI, khususnya POSS telah siap membuat Open Source Software bergema di kampus kuning ini. Selamat berjuang bersama!


Oh, iya. Mau "sombong" dikit ah...


You are registered as user #458756 with the Linux Counter


Aku baru tahu ini agak terlambat, baru sekitar sebulan lalu. Bagi yang mau daftar, harus seorang pengguna linux tentunya, silakan lihat di Linux Counter. Ingat, ini BUKAN untuk gaya-gayaan! (walaupun tidak dilarang juga sih... :p)



EDIT (18. Dez 2007)
Ini dia foto bersama peserta dan pengisi acara "soft launching POSS UI", selamat menikmati.
kiri ke kanan Bang Ricky (Juragan burner); Bang Fauzan; Aku; Bang Adin (Juragan kambing); Dimas Julian MR (Juragan Kambing, 'makasih Mas Narpati, edit: 20. Dez 2007); Narpati; Khairul Umam (KSL UI); Haris; Bang Andi Darmawan (id-ubuntu); Pak Adhi; Pak RMS Ibrahim; Mas dari KPLI Depok (maaf lupa namanya); [?] (sama, lupa tanya nama juga); Mbak siapa ya... (minta nomor ponselnya boleh? ;p); [?] Lupa namanya; Bang JP Alexander; Bang [?] (lupa namanya, dari Depkominfo bukan?); Taufik Hidayat, eh Deni, ding! Hehe :-)

gambar asli tersedia di halaman web POSS.

Selasa, 16 Oktober 2007

C650 + GPRS + LinuxMint = Internet (Mahal)

Hm... Modem DSL di rumah entah kenapa ngambek dan mogok beroperasi. Tersangka utama ada dua, entah itu AC/AC Adapter atau malah si modem itu
sendiri. Jadilah aku sedikit senewen karena rutinitas pagiku terganggu.

Biarlah, nanti modem itu biar ayah yang mengurus. Sekarang, aku teringat, bukankah di OS yang masih kuutangi itu C650 setiaku bisa berfungsi sebagai modem? Tapi bagaimana caranya di LinuxMint?

Akhrinya aku jalankan gnome-ppp, mengganti user name menjadi wap, password menjadi wap123 (pengaturan standar GPRS Telkomsel :p). Kemudian masuk ke menu setup, atur modem device menjadi /dev/ttyACM0 (nol, bukan huruf O). Oh iya, ttyACM0 itu didapat dari hasil dmesg | tail, dan mungkin saja berbeda untuk setiap ponsel ataupun distro. Lalu mengatur baud rate ke angka 115200, dan close.

Kemudian aku bingung. Berapa nomor telepon yang perlu dihubungi? Kucoba biarkan 080989999 (nomor dial-up TelkomN(y)et instan, dan connect. Dor... Yang terjadi adalah error, dengan kode "NO CARRIER".

Pikir punya pikir, akhirnya masuklah aku ke OS berlogo jendela berkibar itu, lalu dari start menu, pilih connect to, Telkomsel GPRS (diatur oleh Motorola phone tools). Lalu muncullah angka "keramat itu": *99***3#. Daripada harus bolak-balik OS, sekalian saja aku lihat pengaturan di situ, dan kudapatkan juga nilai baud rate yang diperlukan itu 230400.

Kembali ke Bianca, aku ganti pengaturan-pengaturan yang salah sama sekali itu dengan yang kudapat dari jendela dan... Tersambung! Wah, ternyata tidak terlalu sulit 'mengubah' C650 kesayangan jadi modem. Walaupun mungkin hanya sementara, karena dikhawatirkan usia pakai ponsel jadi menurun. Di samping itu juga mencegah jebolnya pulsa :p. Sebabnya jelas, 1 kb (atau kB?) oleh Telkomsel dihargai Rp. 12, 00. Bisa gawat
seandainya terlalu asyik berselancar.

DISCLAIMER: Penulis tidak merangkap sebagai penjual voucher pulsa. Kehabisan pulsa tidak ditanggung penulis, seandainya pulsa habis, silakan tanyakan penjual voucher terdekat, dan jangan lupa: DIBAYAR!

Semua merk dagang dan yang lainnya adalah milik pemegang merk yang sah. Penggunaannya di sini hanya berfungsi sebagai ilustrasi.

Sabtu, 22 September 2007

Asyiknya Terminal

Ah, sudah sekitar dua bulan terakhir ini aku 'bermain-main' di sisi Linux Mint 2.2 "Bianca" di komputer kesayangan di rumahku. Selama ini bila aku mengunduh aplikasi lewat jalan darat (baca: dari perpustakaan di jurusanku 'tercinta' :D) dari situs getdeb.net atau malah packages.ubuntu.com, biasanya aku memilih cara pintas: "klik-ganda".

Sekitar sebulan yang lalu, aku iseng-iseng mencicip cara yang -ehm, sedikit- lebih rumit: dpkg. Apa gerangan yang menggiringku menggunakan dpkg? Tak lain dan tak bukan, karena cara klik-ganda tidak bisa memasang dua paket (atau lebih sekaligus). Yang ada jika paket tersebut membutuhkan paket lain (dependensi), maka aku diminta mengunduh dari internet. Huh?

Selidik punya selidik, dengan bantuan perintah "man dpkg" dan lebih sering lagi dengan "dpkg --help", akhirnya aku memberanikan diri menggunakannya. Bismillahirrahmanirrahim, kuketikkan "sudo dpkg -i nama.paket1-arch.deb nama.paket2-arch.deb" (Rahasia ya? He he he... Cuma lupa kok...). Muncullah permintaan untuk memasukkan kata sandi. Kumasukkan kata sandiku, dan...

Muncul "reading database"... dan seterusnya sampai setting up nama.paket... Dan kembalilah lagi ia ke awal. Luar biasa, itu pikirku. Daripada harus memboroskan bandwith untuk mengunduh paket yang sudah ada, lebih baik berpayah-payah sedikit dengan dpkg, bukan?

Jadilah kejadian itu sebagai "mak comblang" antara aku dan terminal. Dan setelah itu pula aku mulai belajar bahasa terminal (bukan bahasa preman, ya? Tolong dicatat!). Sayangnya, selama sebulan ini, baru sedikit yang kuingat di antaranya:
"mkdir -[option(s)]" --> membuat direktori (folder) baru,
"ls -[option(s)]" dan "dir" --> menampilkan isi direktori (aku sendiri lebih suka ls, lebih berwarna! :D),
"cd" --> berpindah direktori,
"dpkg -i namapaket.deb" --> memasang paket yang sudah diunduh,
"rm -[option(s)]", "mv -[option(s)]", "cp -[option(s)]" --> menghapus, memindah, dan menyalin berkas (dengan dibarengi nama berkas dan, untuk cp dan mv, tujuan pemindahan/penyalinan)
"clear" --> membersihkan tampilan layar terminal

Yah, baru sedikit sekali, ya? Mudah-mudahan dengan (kadang-kadang) rajin menjelajah www, dan coba-coba bisa bertambah banyak nantinya.

Oke, misi berikutnya: "bagaimana caranya memasang mesin pencetak merk Epson C41 SX di linux mint". Betul-betul mengganggu masalah pencetak ini, aku harus bolak-balik dua sisi (Pinguin ke Jendela) hanya untuk mencetak beberapa lembar dokumen. Sebal rasanya, tapi sejauh ini aku belum mendapat solusi soal ini. Jadi, ada yang mau bantu?


For Fun Only: Coba ketik apt-get moo di terminal linux mint/ubuntu (atau semua debian-based GNU/Linux ya?), dan hasilnya... He he he... coba dulu dong, nanti di-tulis di bawah ini
(sumber milis ubuntu indonesia)