Rabu, 05 Maret 2008

Yahoo atau Google?

Sebagian besar kita tentu mengenal kedua situs pencari ini. Bahkan, bagi beberapa orang, dua situs ini telah menjadi sangat akrab. Keduanya bahkan seolah-olah menjadi kata kerja baru yang seringkali diucapkan.

"Butuh bantuan mengenai, um, apalah?"
"Di-google" atau "di-Yahoo saja." (meskipun pilihan kedua kedengaran memaksakan... :p)

Sekedar hal tidak penting, bila kita mengetikkan kata kunci "search engine" di masing-masing situs. Maka hasil berbeda akan kita dapatkan. Pada pencarian tanggal 5. März 2008, aku mendapati bahwa bila frasa itu diketikkan di yahoo, maka situs-situs yang didaftarkan adalah: (5 besar saja)

1 Yahoo! Search (search.yahoo.com)
2 Google (www.google.com)
3 Dogpile (www.dogpile.com)
4 AltaVista (www.altavista.com)
5 WebCrawler (www.webcrawler.com)

Hmm... Menempatkan diri sendiri di urutan teratas ya? Bisa dimengerti. ^_^

Lalu serupakah hasil di google? Ternyata tidak, dan inilah hasilnya:

1 AltaVista (www.altavista.com)
2 Dogpile Web Search Home Page (www.dogpile.com)
3 Web search engine - Wikipedia, the free encyclopedia (en.wikipedia.org/wiki/Search_engine)
4 Yahoo! Search - Web Search (search.yahoo.com)
5 Search Engine Guide Blog (www.searchengineguide.com)

Begini kesimpulan kasar dariku: yahoo sebisa mungkin mencari "search engine", sedangkan google sebisa mungkin mencari "search engine" dan tentang "search engine".

Yah, bagaimanapun semua punya kelebihan dan kekurangan. Sebelumnya pun aku selalu menggunakan google. Karena ada isu bahwa Microsoft (r) akan mengakuisisi yahoo, maka aku pun mengajukan aksi "selamatkan yahoo"...:p

Intinya sebenarnya aku menggunakan yahoo, agar lalu lintas pencariannya meningkat hingga harga jualnya akan ikut terangkat. Tetapi yang kutemukan malah kenyamanan dan ketepatan yang kadang (sering) mengungguli google. Jadilah sekarang ini aku merasa pas dengan yahoo. Soal akuisisi itu? Lupakan saja, sepertinya semua orang juga sudah melupakannya... he he he...

Jadi, mana yang kamu gunakan?

Sabtu, 01 Maret 2008

29. Februar 2008: Sekitar MUI dan sekitarku

Kemarin, Jum'at terakhir bulan Februari 2008 bisa disebut istimewa. Ya, tanggal kalender Juliannya hanya muncul sekali setiap empat tahun. Kali ini jatuh di hari Jum'at yang amat baik, penghulu hari dulu kudengar.

Seperti biasa, seperti Jum'at-Jum'at semester ini aku berangkat *menjelang* tengah hari, mengejar waktu shalat di Masjid UI (Ukhuwah Islamiyyah), UI Depok. Bedanya, karena STNK sepeda motor sedang diperpanjang, dan aku merasa kurang bugar akhir-akhir ini, jadilah aku memutuskan menggunakan kereta listrik menuju kampus tercinta. (Alasan lain yang bisa dikemukakan: Bensin sudah menipis, begitupun uang sakuku, he he.. ^_^)

Sebelum mandi, aku menyempatkan menonton acara televisi, judulnya "Sekitar Kita", tayang di GlobalTV pukul 10:00-10:30 WIB. Acaranya kali ini direkam dari suatu lokasi permainan perang (paintball). Yang jelas, tidak seperti kebanyakan acara sejenis yang berlatar luar ruang, acara ini memiliki kekhasan sendiri. Jalan ceritanya (kalau bisa dibilang begitu) unik, lucu, dan memancing tawa dan senyumku. Lumayan untuk mengembangkan senyum sebelum keluar rumah.

[Percepat 90 menit]

Uh, aku terlambat. Khatib sudah naik mimbar di saat aku mengambil wudhu'. Ah, ini ulah kereta listrik yang mengingatkan pada sebuah lagu yang liriknya sedikit kuingat; "biasanya, kereta terlambat 2 jam mungkin biasa". Untung kemarin itu tidak sampai 2 jam. Tetapi cukup mengganggu. Ditambah lagi bus kuning, ups, bus dalam kampus, yang kebetulan tidak lewat di waktu aku tiba di stasiun. Jadilah aku harus berjalan sampai MUI.

Yah, sudahlah lupakan soal kereta, bus, dan berjalan kaki, karena jalan kaki di kampus cukup aku suka sebenarnya. Kemudian aku duduk di Masjid UI yang lantainya sebagian besar dari pualam yang dingin, lebih nyaman daripada duduk di atas pualam yang dilapis karpet panas.

MUI
Lantai pualam yang dingin, tapi nyaman, he he...

Khatib kemudian memulai khutbah dengan cerita "19 tahun yang lalu". Ketika itu, dalam perjalanan menuju suatu tempat, beliau bersama rekan-rekannya melewati sebuah lampu lalu lintas yang sedang menyala kuning. Beliau kemudian memutuskan untuk menginjak pedal rem dan menghentikan kendaraan, "karena masih ada kesempatan".

Dari situ, tutur beliau, dimulailah diskusi tentang "peraturan yang dibuat manusia", dan tujuan mereka yang disebut "tujuan kita untuk sesuatu yang baik", dan "mengapa harus mematuhi peraturan yang dibuat manusia?"

Yap, dari situ cerita beliau mengalir. Tentang bagaimana manusia sebenarnya ingin teratur, bahkan beliau mengambil contoh tentang aliran musik "punk" yang mengaku tidak mengikuti aturan-aturan itu pun sebenarnya mengikuti aturan. Beliau mengambil contoh, bila ada orang yang hendak memasuki komunitas tersebut dengan memakai jas, berpakaian rapi dan bergaya klimis, bukantah akan diusir karena tidak sesuai. Beliau ingin menegaskan bahwa mereka pun ingin teratur dalam ketidakteraturannya.

Kemudian beliau meneruskan tentang keteraturan penciptaan, dan segalanya. Termasuk tentang kemungkinan negeri ini "mundur" adalah karena banyak dari manusia yang tinggal di dalamnya tidak bisa (atau tidak ingin) diatur. Beliau memperbandingkan dengan negeri impianku (halah, sebutlah negeri itu Deutschland) yang memiliki semacam pepatah: Ordnung ist Macht (setelah sedikit mengecek kamus, mungkin yang lebih tepat adalah Bestellen ist Macht?) yang artinya adalah keteraturan itu kekuatan.

Beliau juga mengingatkan bahwa Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang (berjuang) dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (QS 61:4). Hm... Masuk akal, mengingat betapa banyaknya pelanggaran di bumi pertiwi ini, bahkan oleh orang-orang yang semestinya menegakkan peraturan.

Dan, khutbah pun ditutup dengan kesimpulan bahwa keteraturan itu, meskipun berat pada awalnya, akan membawa manis bagi kehidupan, juga bahwa aturan manusia itu ditaati sepanjang tidak mendorong kepada kemaksiatan. Jadi, lanjut beliau, jangan ragu untuk memutar jalan lebih jauh, menunggu lebih lama, dan sebagainya agar keteraturan itu bisa tercapai. Dan iqamah pun dikumandangkan, dan kami semua shalat-lah.

[Percepat 30 menit]

Shalat telah selesai, aku masih setengah nyengir, berjalanlah keluar, maksud hati ingin berjalan saja ke jurusanku tersayang sampai kuliah bus melaju di kejauhan. Segera aku berlari dan ternyata, saudara-saudara, bus itu tidak berhenti di halte MUI. Uh, semakin lebarlah nyengirku saat itu. Jadilah aku benar-benar memulai perjalananku ke jurusan.

Sampai tiba-tiba...

Seorang bapak paruh baya, membawa sepeda motor, masih bersarung, sepertinya selesai menunaikan shalat Jum'at, celingak-celinguk lalu membelok ke kanan di tempat yang seharusnya tidak boleh. Oh iya, sedikit memberitahu, jalan di depan kompleks MUI bisa dikatakan semacam bulevar, jalan ke arah utara dan selatan dipisahkan pembatas yang ditanami rumput, sehingga memang diperlukan kemauan untuk mencari putaran yang sah untuk berbalik arah.

Jadilah aku tersenyum kecut. Betapa tidak, belum sehari, bahkan belum satu jam khatib memberikan pencerahan, memberikan peringatan, memberikan petuahnya, ternyata bapak itu tidak sanggup menyerap untuk dirinya sendiri. Aku membatin sendiri bagaimana mungkin pesan dari khatib bisa sampai ke keluarga bapak itu bila beliau sendiri abai dengan isi khutbah tersebut.

Yah, apa mau dikata, mungkin ini hukuman dari Sang Pemilik Dunia karena banyak dari kita tak acuh dengan (keter)aturan. Entahlah aku tak mengerti. Yang jelas buatku, selalu tatap sekitar kita... :p

F I N
written on 01. März 2008
I order myself: "In order to write in order, you shall write sort of draft in your notes in an orderly manner" ^_^

NB: Siapakah gerangan nama khatib tersebut? Seperti sudah kukatakan sebelumnya, aku terlambat jadi aku melewatkan nama beliau. Bila ada yang tahu, kenal atau apapun, selain memberitahuku, tolong sampaikan terima kasihku karena mengingatkan hal-hal yang terlupa.

Senin, 14 Januari 2008

Air Raksa?

Maaf, hanya ingin bertanya bagi yang tahu dan mengerti. Yang betul "Air Raksa" atau "Raksa" saja?

Yang dulu pernah aku dengar dari guru-guruku (semoga guru-guru pelajaran Bahasa Indonesia tenang di tempat mereka masing-masing, tetapi maaf, aku tidak pernah bisa mengerti Bahasa yang satu itu) dan juga dari sedikit membaca, yang lebih tepat adalah "Raksa". Mengapa "Raksa" jangan kamu tanyakan aku. Tetapi bagaimana sehingga zat kimia berlambang Hg itu sebaiknya (atau seharusnya) disebut "raksa", adalah karena memang zat itu bukan air.

Dari yang kubaca ini dan ini, disebutkan asal nama unsur ini (Hg adalah bentuk pendek dari bahasa latin Hydragyrum) adalah Υδραργυρος, hydragyros. Nama ini adalah gabungan dari air (karena bentuknya pada suhu ruang adalah cair), dan perak (karena warnanya yang keperakan). Nama lainnya adalah Mercury (di sini mungkin diterjemahkan sebagai merkuri, ya?), didasari atas nama dewa dalam mitologi Romawi bernama sama yang terkenal cepat dan lincah. Mungkin karena bentuknya cair sehingga raksa dikatakan lincah dan cepat. Mungkin ini juga yang mendasari nama lain raksa pada bahasa Inggris, yaitu quicksilver (quick=cepat, dan silver=perak). Yak, cukup dulu untuk perak, lebih lanjut silakan baca sendiri, ya?

Sekarang, mari bermain air. Air -murni- yang kutahu disimbolkan sebagai H2O (H-O-H). Dari sini bisa dilihat, bahwa air dan raksa adalah dua zat yang berbeda. Air adalah um, apa namanya? Molekul, ya? Iya betul, dan raksa adalah unsur. Memang tidak menutup kemungkinan bila dalam air yang ditemukan sehari-hari mengandung raksa, juga tidak menutup kemungkinan dalam raksa yang ditambang ada kadar air dalam jumlah tertentu, tetapi bukankah yang lebih utama yang dikedepankan untuk disebut?

Ah, sudahlah. Lagipula mengapa aku pusing-pusing memikirkan raksa dan air raksa, kalau ternyata salah seorang dokter yang sekarang ini sering sekali muncul di televisi pun menyebutnya air raksa. Sampai-sampai, sejauh yang kudengar, semua mengucapkannya dengan fasih: "Air Raksa"

--
F I N
written on 13. Jan 2008
TODO: moto4lin-C650-Celena. Ayo, dong! 'kan gambar-gambar pendukung sudah siap...