Sabtu, 12 Januari 2008

Pencetak Rusak, Internet Jebol, Apa Lagi?

Hari Ahad yang lalu (6. Jan 2008), entah mengapa sebabnya, mesin pencetak merk EPSON C41 SX, yang selama ini sudah setia menemani untuk lebih dari 5 tahun, yang dimiliki keluarga kami mogok mencetak. Peringatan yang ditampilkan, secara kasat mata adalah berkedipnya lampu daya (hijau) dan lampu perawatan (indikator tinta, warna merah) secara bergantian. Kemudian pada aplikasi EPSON Status Monitor 3, ada peringatan "Part inside your printer are at the end of their service life. See your printer documentation."

Panik? Tentu saja... Tidak! He he he. Kebetulan saat itu sambungan internet di rumah ("spidi") sedang kuputus sementara akibat "penggunaan yang berlebihan di awal bulan". Kebetulan juga keesokan harinya kawanku Reza mengajakku ke kampus untuk "mengecek nilai" dan lain-lain (:P). Dan kebetulan lagi, bahwa perkuliahan sedang libur (Hore... Hore... Hore...).

Jadilah keesokan harinya aku berangkat dengan tanki bensin sudah terisi penuh ('makasih Ayah Nyengir). Setibanya di depan Halte FT, kulihat Reza sedang mengarah ke daerah "Kukusan Teknik". Sedikit klakson (yang setelah pergantian sakelar sepertinya menjadi lebih nyaring) dan membuka helm menarik perhatiannya. Kata beliau, "Sepi di Jurusan. Nggak ada 2005-nya". Dan setengah tak percaya, aku mengajaknya kembali ke Jurusan.

Benar ternyata, memang Perpustakaan Jurusan/Komputer Jurusan sangat-amat-sepi-sekali. Kunyalakan satu komputer, ternyata apa yang kutemukan? Aksesnya mati! Argh, ada apa ini? Kemudian atas usul dari Reza pula, kami bersama berangkat ke UPT PLK Perpustakaan Pusat UI, di mana juga tersedia akses internet dengan komputer yang 'lumayan'.

Sesampai di sana, ternyata sudah penuh saudara-saudara. Jadilah kami naik dulu ke lantai dua. Aku iseng-iseng mencari buku dari katalog online di komputer lantai dua. Sebenarnya ingin mencari buku karangan Herman Mellville "Moby Dick", tetapi sayangnya buku yang kumaksud tidak di lantai dua, melainkan di lantai tiga (referensi). Jadilah aku iseng-iseng mencari buku Herman Mellville yang lain. Ternyata, aku tak pernah sampai ke rak yang kumaksud, karena aku menemukan buku yang sangat-amat-menarik. "Soccer: Winning Through Techniques and Tactics" karangan Richard Alagich, pendiri Kamp Latihan dan Akademi Sepakbola Pasifik. Jadilah aku turun membawa buku itu sampai 21. Januar 2008. Yah, singkat cerita, setelah duduk di antrean daftar tunggu di depan ruang komputer, aku mendapat satu kursi dan seperangkat komputer, dengan internet tentu.

Baiklah, aku salah waktu itu tidak mencatat kalimat "penting" tentang mesin pencetakku itu. Jadi, kuputuskan segera membuka akun surat elektronikku, yang kebetulan menjadi anggota milis sebuah tabloid komputer yang bisa dibilang ternama. Segera kulemparkan pertanyaan, apakah ada cara memperbaikinya sendiri. Karena uang itu cukup menjadi masalah buatku. Kemudian, respon yang luar biasa cepat datang dari Pak Yohan, kata beliau, itu disebut juga "Blinking", yang arti harfiahnya mengedip, kalau tidak salah. Aku disarankan berjalan-jalan ke weblog beliau dan mengunduh aplikasi bernama SSC Service Utility fon Epson Stylus Printer dan melakukan yang disebut soft reset. Kemudian balasan juga datang dari "Rogan" (masjoe***@*********), disarankan membaca di sini dan di sini.

Baiklah kalau begitu, segera aku pulang (setelah meninggalkan Reza di Stasiun tentu saja. Masa' aku bawa pulang?) dan praktik. Begini langkah-langkahnya:

1 Lepaskan pencetak dari hubungan dengan komputer maupun daya listrik.

2 Persiapkan 'lokasi kerja', karena 'perbaikan' pencetak ini tergolong 'kotor'. Persiapkan juga sarung tangan pelindung dan kertas-kertas bekas untuk mencegah 'kemungkinan terburuk.
Ya, tidak perlu sarung tangan bila ingin semua orang bertanya-tanya "Selesai pilkada di mana, Mas?"

3 Buka penutup mesin pencetak (biasa disebut: Casing).
Agak sulit, sebab pada artikel kedua disebutkan "buka baut pada bagian belakang dan bawah pencetak", sedangkan tipe C41SX ini tidak menggunakan baut, melainkan hanya berupa semacam lidah pengunci dari plastik. Terbukti, proses ini memakan korban. Pengencang bagian belakang (total ada tiga kaki) sebelah tengah patah sampai lepas, sedangkan pengencang pendek di sisi kiri (dilihat dari belakang) patah, tetapi masih menggantung. Hanya satu pengencang yang masih bertahan utuh. TIPS: Sodok dengan 'obeng minus' sembari diusahakan dibuka dengan telunjuk atau jempol kiri menahan pengencang, dan tangan lain 'memaksa' membuka penutup.

4 Carilah semacam spons atau kapas di bagian kiri belakang (dilihat dari belakang).
Spons ini ada 4 yang relatif panjang, dan satu yang kecil. Jangan sampai ada tertinggal, sebab cukup mengesalkan juga bila tertinggal seperti yang aku alami.

5 Ambil spons tersebut, disarankan dengan tang dan kertas bekas untuk membawanya ke tempat mencuci.
Ya, dicuci. Spons itu seingatku merupakan bagian dari penampungan tinta sisa. Sayang sebenarnya, tetapi mau apa lagi. TIPS: Pergunakan air hangat/panas, walaupun percobaanku dengan air dingin cukup berhasil.

6 Cuci bersih spons tersebut, bila perlu 'diperas' agar tinta sisa keluar seluruhnya. Kemudian, keringkan.

7 Kembalikan spons tersebut ke tempatnya, dan kemudian pasang kembali penutup mesin pencetak tersebut.

8 Pasangkan aplikasi SSC tadi di OS (sayangnya hanya bisa berlaku di Win cows)

9 Pilih mesin pencetak yang bersesuaian, juga 'matikan' Status Monitor bawaan pabrik. Entahlah, aku lupa alasannya, tetapi alasannya ada di menu bantuan aplikasi ini, kok.

10 Pilih "Reset Protection Counter" dengan meng-klik kanan ikon yang ada di area dekat penunjuk waktu (task bar). Jika ada pertanyaan semacam sudahkah spons tersebut diganti, jawab saja sudah.

11 Setelah sudah dilaksanakan, matikan pencetak selama beberapa saat.

Kemudian, voilá, lampu-lampu pada pencetak tidak berkedip-kedipan genit lagi.

Dan mereka hidup bahagia selamanya, ups, maksudnya mesin pencetak tersebut bisa kembali digunakan seperti sediakala. Hasil sampingan yang didapatkan: Satu pengencang patah; telunjuk kiri yang tertutupi tinta, persis seperti selepas pilkada Jakarta tahun lalu; Nada aneh (seperti 'tik-tik' sewaktu mencetak. Sekian

NB: Oh, iya. Kemarin itu juga bertemu Nisa di Perpustakaan. Sayangnya hanya sekilasan saja, tidak sempat bicara-bicara tentang, entahlah. Tapi bila berlama-lama, aku khawatir digebuk juga... He he he. Damai, ya Nis!

--
F I N
written on 12. Jan 2008
TODO: Panduan memindahkan berkas dari Motorola C650 menggunakan moto4lin di distro linux turunan Ubuntu. (Dari dulu rencana terus...)


Selasa, 25 Desember 2007

Halaman Kuning

Adakah di antara kalian yang ingat tentang 'Halaman Kuning'? Bukan, ini bukan seperti kitab kuning di pondok-pondok pesantren, melainkan buku yang (mungkin) ditawarkan kepada orang-orang yang hendak memasang sambungan telepon di rumah/kantornya. Apakah kabarnya sekarang ini, ya? Apakah buku ini 'hilang ditelan bumi'™?

Ternyata tidak saudara-saudara. Dengan perkembangan internet yang cukup pesat di negeri ini, sepertinya buku halaman kuning ini ikut bergabung dengan 'sisi baik internet'. Silakan buka halaman ini. Aku sendiri mendapatkannya dari si Mbah dengan kata kunci, ehm?! Tidak perlu terlalu dibuka bukan? Sudahlah,lupakan saja kata kuncinya. Yang penting ditemukan, bukan?

Baiklah, halaman awalnya sederhana (mungkin pengaruh dari imgLike Opera diatur pada show cached only dan noscript siaga penuh, ya?), ada beberapa tautan di atas di sebelah logo, di bawah tautan-tautan itu ada kolom pencarian dengan aturan awal berupa mencari "apa" di "kota apa".
Kemudian ada semacam sambutan di bawahnya, yaitu keterangan bahwa Yolk adalah kelahiran kembali Halaman Kuning ini. Kemudian ada pilihan untuk menjelajah berdasarkan kategorinya, lalu ada keterangan bahwa halaman ini juga dapat diakses melalui PDA atau ponsel, tentang review
(mungkin lebih tepat komentar pelanggan, ya?) dan terakhir ada berita-berita, yang tanggal terakhirnya lebih lama dari tanggal aku terakhir memperbarui blog ini, he he. Tapi tanggal itu masih cukup dekat (kalau dua bulan bisa dibilang dekat) dengan waktu aku melihatnya (25. Dez). Oh iya, ada juga fakta tentang Indonesia di sebelah kanan halaman ini.

Fungsi pencarian yang diberikan juga cukup baik. Bila menggunakan pencarian dengan pengaturan asli, maka kata kunci yang dimasukkan bisa ditemukan pada nama bisnis, alamat, klasifikasi, ataupun nomor telepon. Fungsi dasar ini dapat ditingkatkan menjadi fungsi mahir dengan beberapa
kata kunci, seperti listing: nama bisnis, address: alamat, dan sebagainya (periksa sendiri halaman mahirnya, bisa?) Sedangkan fungsi pencarian mahir terdiri dari beberapa kolom yang bisa diisi, yang pada dasarnya adalah visualisasi dari kata-kata kunci yang menggunakan titik
dua (:) itu tadi, dan ada beberapa pilihan yang tidak bisa digantikan dengan kata kunci mahir tadi.

Hasil pencarian yang diberikan, menurutku, cukup berkaitan dengan apa yang aku cari. Misalnya saja kita mencari 'restaurant' pada kolom pencarian dasar. Yang diberikan adalah klasifikasi yang mengandung kata 'restaurant', dan dari usaha-usaha yang nama, klasifikasi, atau bahkan
mungkin alamatnya mengandung kata restaurant.

Interaktivitas situs ini juga cukup baik, terlihat dengan adanya pilihan untuk menilai bisnis yang tertera pada situs itu. Hanya saja, sepertinya halaman komentar masih kosong. Mungkin ada dari kamu yang mau menjadi pionir? Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya dari situs ini.

Satu yang kurasa kurang dari situs ini adalah, antarmukanya berbahasa Inggris. Ini cukup menggangguku yang pengetahuan bahasa Inggrisnya minim. Bahkan, itu sebabnya aku menulis semuanya dalam 'bahasa ibuku'. Seandainya halaman ini diterjemahkan ke bahasa Indonesia, tentu akan
lebih memudahkan pengguna-pengguna awam sepertiku. Aku mengerti, halaman ini mungkin ditujukan juga untuk para ekspatriat di negeri ini, tetapi hargailah kami-kami yang tidak mengerti Bahasa Inggris ini. Setidaknya, pilihan yang mungkin adalah membuat antarmuka dalam dua bahasa, Inggris
dan Indonesia, sehingga kami juga memiliki kesempatan menggunakannya dengan nyaman.

Terakhir, aku hanya ingin menuliskan bahwa situs ini sepertinya dapat menggantikan buku Halaman Kuning bagi orang-orang yang lebih menyukai fitur pencarian daripada melihat daftar isi, jadi silakan mengunjungi (bila ada perlu) dan tulislah penilaian (juga komentar di halaman ini,
he he he. :-D)


F I N
written on 25. Dez 2005
Mau ikut kumpul-kumpul POSS-UI dan KSL-UI? Baca beritanya di sini, aku tunggu kamu di sana (kalau presentasi praktikumnya selesai cepat, he he. :-P)

Minggu, 16 Desember 2007

Soft Launching POSS UI

Hari Sabtu kemarin (15. Dez), di gedung Engineering Centre Fakultas Teknik Universitas Indonesia telah berlangsung sebuah acara bertajuk "Soft Launching POSS UI". Acara ini diselenggarakan oleh POSS (Pemberdayaan Open Source Software) UI.

Sayang sekali aku terlambat, dan tiba setelah acara cukup lama dimulai. Setibanya aku di sana, aku "disambut"oleh "penunggu pintu". Seorang perempuan yang --ehm, ehm, Rif?! Rif?! iya deh-- membagikan cd gratis. Ada 3 macam: Dewalinux, BlankOn dan --apa lagi satunya ya? IGOS kalau tidak salah. Aku sendiri memilih Dewalinux karena belum pernah dengar™. Pembicara yang ikut berbagi dalam acara ini antara lain:
  • Pak Ibam (Rahmat M. Samik Ibrahim) dosen Fasilkom UI
  • Pak Adi dari POSS UI (nama lengkapnya aku tidak tahu, maklum terlambat :p)
  • Bang Fauzan dari ... (dari mana ya? Semua gara-gara terlambat nih)
  • Bang Adin (Gladhi Guarddin-kah?) dari "Juragan Kambing"
  • Bang JP (Jan Peter Rajagukguk-kah?) sebagai moderator


Sedangkan dari sisi "peserta", ada beberapa nama, baru kukenal maupun sudah cukup lama, berikut:
  • Arif Rahman (kenal dari lahir sampai detik ini, he he he :D)
  • Khairul Umam (pemilik warnet "Nge-Net" di gang senggol FKM UI yang ber-OS zencafe, pengembang UmamOS), seangkatan di Metalurgi (Polimer) UI 2005
  • Narpati Pradana (lebih mudah dijumpai di halaman komentar beberapa blog sebagai "Kunderemp")
  • Aziz (Teknik Industri UI 2006)
  • Haris (Elektro UI 2005)
  • Deni Lukmanul Hakim (pembelot FK UI 2005, sekarang Fasilkom UI 2006, bagian Ristek senatkah sekarang, Den?)
  • Bang Ricky dari Juragan Kambing (Tukang bakar kalau menurut Bang Adin
  • Mas Andi Darmawan dari id-ubuntu (Mas belutz-kah ini?)
  • dari KPLI Depok (lupa namanya, he he :p)
  • dan banyak lagi™

Jalan Cerita™

Sesi berbagi
Aku datang ketika Pak Adi sedang bicara masalah kemampubertahanan (ampun deh, bahasa lainnya sustainability) dari suatu proyek. Salah satu yang dibicarakan adalah bahwa UI telah menggunakan UNIX selama 24 tahun. Wow, suatu waktu yang panjang, suatu kesetiaan yang dalam, he he he. Jadi ringkasnya (dan seingatku) UI memilih perangkat bukan hanya agar perangkat tersebut "jalan". Selain perangkat tersebut "jalan", orang-orang di belakangnya juga harus mampu menguasainya. Istilah sembarangnya "the right man behind the right gun", jadi harus cocok dari pengguna ke perangkat dan sebaliknya.

Selain itu prospek dari suatu perangkat juga perlu dipertimbangkan. Pak Adi menganalogikan sebuah teknologi serat optik tercepat pada dekade 80-an (maaf, namanya sulit diingat) yang dapat memindah data dengan kecepatan mencapai 100 Mbit/detik, tetapi harganya mahal. Terbukti sekarang sudah banyak yang mampu melampaui teknologi itu dengan harga yang lebih murah, dan teknologi itu sekarang seolah raib ditelan bumi™.

Setelah Pak Adi, Pak Ibam yang mendapat kesempatan bicara. Inti yang kudapatkan dari beliau adalah pentingnya asas manfaat dalam pemilihan dan penggunaan perangkat lunak, khususnya sistem operasi. Ini karena banyak orang yang terjebak pada ideologi, jadi seolah-olah sistem operasi yang sudah lama sekali dia gunakan itu adalah agamanya yang akan dia bela sampai titik darah penghabisan. Menarik karena seorang kawanku *hampir-hampir* seperti yang beliau sebutkan itu.

Pengalaman Pak Ibam dengan Linux mirip benar denganku. Dulu perjumpaan pertama beliau dengan GNU/Linux adalah dengan Slackware. Alasannya sederhana: "Karena teman saya menggunakan Slackware. Jadi nanti gampang kalau ada masalah". Persis seperti saat aku dulu menggunakan Fedora core 5. Kemudian setelah waktu terus bergulir, dan pengetahuan serta pengalaman beliau bertambah (ini kata-kata dariku, bukan dari beliau), beliau menyimpulkan bahwa yang termudah dalam perawatan dan semacamnya adalah Debian, meskipun dulu beliau tidak suka dengan Debian karena: "Namanya nggak macho. Debian, seperti Bus Deborah" (PO. Bus yang pool-nya ada di Jalan Raya Margonda -pen). Memang menarik mendengar beliau bicara, tak sedikit kata-katanya yang memancing derai tawa dari kami.

Sesi Ide
Selepas bapak-bapak di sofa nan empuk yang berbicara, kini giliran kami di karpet yang bicara. Yang pertama ada Narpati yang mengusulkan kalau POSS UI nantinya ambil bagian dalam penterjemahan manual php, yang sampai saat ini masih belum ada versi Bahasa Indonesianya. Usul ini ditampung, dan ditawarkan langsung kepada pengusul, mas Narpati.

Ada juga Umam alias Irul yang tetap kukuh mengusung ide "Distro GNU/LINUX UI" yang "baunya" akan UI sekali. Dan sekali lagi, ditampung dan dikembalikan ke pengirim. He he.

Dan, usulan-usulan lain yang dibahas kesana kemari dan akhirnya, acara resmi ditutuplah oleh Bang JP.

Sesi Foto
Ini dia yang ditunggu, "Yang foto?! Yang foto?!" (á la pedagang air asongan). Sayang sekali aku *belum* punya kamera yang cukup buat foto selebar itu (lebar, karena Pak Ibam, he he, bercanda, Pak! Pesertanya memang banyak sih). Dan nampaknya yang membawa kamdig pun tidak membawa kabel untuk transfer foto, maka jadilah tulisan ini kering tanpa foto. Tapi rencananya foto itu akan dipajang di halaman web POSS, kok, jadi ditunggu saja kabarnya nanti.

Sesi Informal
Yak, sesuai dengan persamaan jumlah_peserta jumlah_makanan_dalam_kotak && banyak yang masih lapar, maka jadilah sesi informal ini bertaburan kotak-kotak berisi makanan kecil sambil mengobrol berbagai macam. Mulai dari logo KSL-UI, rencana invasi stasiun UI oleh POSS (tetapi masih bingung karena minimnya jumlah perempuan *untuk advertensi*), dan bakar-membakar CD/DVD --yang sempat tertunda karena hanya unit CPU+HDD+ODD+Casing saja yang diangkut sehingga Bang Fauzan harus mencarikan papan kunci, tetikus, layar monitor, dan kabel daya.

Setelah semua sudah tersedia, maka berlangsunglah pesta "bakar-bakaran" itu. Sembari berjalan, Bang Ricky dan yang lainnya masih bisa membahas berbagai hal: Driver printer dan printer di GNU/Linux, penulis DVD yang bagus, masalah pembelian duplikator media optik, masalah TIKI JNE yang sering sembarang dalam menangani kiriman, pemesan DVD Repo dan CD GNU/Linux yang bermacam-macam, dan banyak lagi.

Dibahas juga agenda POSS UI --yang karena acara ini, resmi 'berkantor' di lantai 3 EC FTUI-- ke depannya. Yah, sekitar 13.20 WIB aku pulang, kurang puas karena tidak membawa DVD untuk menempatkan DVD Repository Ubuntu Feisty untuk si Celena kesayangan, tapi puas karena dengan ini, UI, khususnya POSS telah siap membuat Open Source Software bergema di kampus kuning ini. Selamat berjuang bersama!


Oh, iya. Mau "sombong" dikit ah...


You are registered as user #458756 with the Linux Counter


Aku baru tahu ini agak terlambat, baru sekitar sebulan lalu. Bagi yang mau daftar, harus seorang pengguna linux tentunya, silakan lihat di Linux Counter. Ingat, ini BUKAN untuk gaya-gayaan! (walaupun tidak dilarang juga sih... :p)



EDIT (18. Dez 2007)
Ini dia foto bersama peserta dan pengisi acara "soft launching POSS UI", selamat menikmati.
kiri ke kanan Bang Ricky (Juragan burner); Bang Fauzan; Aku; Bang Adin (Juragan kambing); Dimas Julian MR (Juragan Kambing, 'makasih Mas Narpati, edit: 20. Dez 2007); Narpati; Khairul Umam (KSL UI); Haris; Bang Andi Darmawan (id-ubuntu); Pak Adhi; Pak RMS Ibrahim; Mas dari KPLI Depok (maaf lupa namanya); [?] (sama, lupa tanya nama juga); Mbak siapa ya... (minta nomor ponselnya boleh? ;p); [?] Lupa namanya; Bang JP Alexander; Bang [?] (lupa namanya, dari Depkominfo bukan?); Taufik Hidayat, eh Deni, ding! Hehe :-)

gambar asli tersedia di halaman web POSS.