Jumat, 30 Januari 2009

Satu Sore Satu Simpanan

Ehm.. Izinkan aku memulai dengan serangkaian terima kasih untuk kawan-kawanku tersayang untuk hari kemarin, Kamis 29. Januar 2009, yang akan selalu kusimpan. Dimulai dari Fian, yang masih setia denganku mengurus laporan KP yang.... Ah, begitulah. Amin? Entahlah, ke Ghazza mungkin dia, setiap dihubungi selalu "berada di luar jangkauan" dan semacamnya. Kemarin, insya Allah jadi yang terakhir kami mengubah isi laporan ter... Ehm, begitulah. Juga terima kasih untuk sukses tepat pada waktunya mencapai kampus. 'makasih banyak, An... ^_^

Kemudian, untuk 15 orang kawanku seperjuangan juga, yang sama-sama mengikuti Gladi Resik Wisuda. Mari kita mulai dari namanya, karena orang bilang tak kenal nanti tak sayang. Ke-15 orang itu ialah Martha -- yang jadi satu dari dua yang mewakili fakultas kami, Mbak Idham, Mbak Nurma, Cicis, Dian, Dini -- rekan labku, Bunga, Ida, Uthy, Desta, Himsky, Panji, Lulus, Komar, dan Rian. Semua 15 orang itu tampil luar biasa, terutama sepuluh puteri yang pertama kusebut tentunya. :-D

Gladi resik? Biasa lah, tak ada yang istimewa. Bahkan sekadar berjabat sekenanya dengan rektor dan dekan tak seberapa istimewa. Karena tak ada yang seistimewa yang kami alami setelahnya, tentu.

Jadi, acara itu selesai sekitar 16.30. Setelah itu? Foto-foto tentunya. Lokasinya masih di seputar Balairung UI, terutama dekat danau, um.. Entahlah apa nama danau antara Balairung dan Masjid UI. Foto-fotonya? Ehm, nanti saja. Belum lengkap dikumpulkannya, sedangkan dari kamera yang kupegang, belum dicuci negatif filmnya, hehe..

Mbak Idham, Cicis dan Himsky...... Sebelum sesi UI-wood. Aku? Di belakang kamera dong.. hehe

Nah, selepas sesi foto tepi danau itu, beranjaklah kami -- tidak semuanya -- ke Masjid UI, untuk menunaikan Shalat Ashar (terlambat sebetulnya.. -_-), kemudian berangkat menuju lokasi selanjutnya. Tempat itu jamak disebut UI-wood, entah kenapa kecuali kalau fakta bahwa ada tulisan besar-besar nama universitas kami di tepi danau (lainnya) di seberang jalan dan sebaris rumput yang dibentuk menyerupai logonya di bawahnya.

Indah memang, dari kejauhan, tetapi seperti banyak hal cantik di dunia, jalan menuju ke sana tak ada mudah-mudahnya. Untuk mencapai tempat itu, ada sebuah jalan. Mungkin malah satu-satunya jalan, kecuali nanti aku bisa temukan yang lain dengan sepedaku, hahaha.. Jalan setapak itu
(dalam artian dapat dilalui satu mobil saja) berpintu dari sisi halaman parkir FISIP, masih berupa tanah di antara rimbun pepohonan, yang berubah menjadi semi-lumpur setelah hujan menimpa. Jalan itulah yang kemarin kami lalui -- minus Komar dan Desta, tapi plus Ari dan Nagy -- dengan dua mobil yang dikemudikan Himsky dan Dini.

Jalan masuk? Relatif tidak ada kesulitan berarti, kecuali roda kemudi yang bergerak tak terkendali kala melalui lumpur yang cukup tebal. Lima menit mengendara -- atau sekitar itu lah-- sampai kami di belakang papan nama itu. Langsung saja, sesi kedua foto dimulai, dengan berbagai gaya yang, aneh-aneh, lucu-lucu, imut-imut, amit-amit, keren-keren, gendheng-gendheng, dan banyak lagi yang tak terkatakan.

Jelang Maghrib, kami memutuskan sudah saatnya kembali, dengan masing-masing personil ada janji tersendiri. Karena Adzan Maghrib telah berkumandang di radio, maka meski kami semua sudah tersebar merata dan duduk manis dalam masing-masing mobil pun menunggu dulu. Lepas Adzan, meluncurlah kami -- secara harfiah -- keluar dan kembali ke 'peradaban'.

Di sinilah masalah muncul. Di tengah kegelapan hutan UI, (itu juga mungkin sebabnya disebut UI-wood; Hutan UI), penumpang mobil yang aku tumpangi -- dikemudikan Himsky -- yang berjalan lebih dulu dikejutkan dengan klakson dari mobil belakang. Ternyata mobil satu lagi, yang dikemudikan Dini, terjebak lumpur sehingga tidak mau diajak maju. Jadilah semua laki-laki pun turun tangan mencoba membantu Dini yang sudah berusaha memundur-majukan kendaraannya itu. Sedangkan perempuan di mobil itu, dipindah sementara ke dekat mobil depan, menunggu Dini bisa mengeluarkan mobilnya dari lumpur.

Aksi dorong-mendorong -- untuk hal yang lebih baik daripada dorong-mendorong dengan polisi di depan Istana Negara atau semacamnya -- pun terjadilah. Nagy bahkan sampai terperosok setelah kehilangan pegangan pada mobil yang sudah maju. Andaikan Dini tak terus menekan pedal gas, bisa jadi hal buruk terjadi, tapi syukurlah Nagy masih diberi keselamatan. Kejadian itu berlangsung lebih kurang 15 menit, menyisakan kami bermandi lumpur, Nagy yang paling parah. Aku sendiri hanya kebagian lumpur di bagian kaki sampai di antara betis dan mata kaki.

Akhirnya, setelah lewat dari semua itu, kami semua menyempatkan diri berfoto dengan kaki penuh tanah, dan beberapa juga di tangan di depan mobil perjuangan itu -- sebuah Innova Hitam. Kemudian, karena waktu Maghrib memang sempit, jadilah kami kemudian meluncur -- arti konotatif -- ke Masjid UI lagi. Karena kaki kami penuh tanah, semua laki-laki kecuali Himsky naik di bagian belakang kedua mobil itu, dengan pintu bagasi terbuka. Aku bersama Rian dan Panji di Kijang perak Himsky, dan Ari serta Nagy di bagasi Dini. Sepanjang perjalanan ke M.UI (seolah jauh saja) tak lepas tawa dari kami, mengingat kejadian tadi, juga membuat olok-olok dengan pengendara di belakang kami sebagai subjek maupun objeknya.

Kemudian, sesampainya kami di M.UI, dengan kaki berlumur lumpur, kami berjingkat ke tempat wudhu' M.UI. Jadilah, satu pojok tempat wudhu' itu sedikit ternoda lumpur (maaf ya, Pak.. Nagy sudah mencari alat pel, tetapi tidak ditemukannya). Sedikit di sini betul sedikit ya, bukan 'sedikit', hihihihi....

Akhirnya, setelah Shalat Maghrib, berpisahlah kami menuju jurusan masing-masing, dengan satu kenangan yang kuyakin takkan terlupa. Kata orang, satu gambar bercerita seribu kata. Kata kami, andai foto kami hari ini telah disebarkan, maka takkan kami lupa cerita di balik foto itu. Sampai jumpa lagi, kawan. Tak sekali seabad kejadian itu terjadi. Tak semenit juga kejadian itu akan terlupa. Terima kasih untuk petang penuh kenangan itu. Biar kusimpan, seterusnya...


--
F I N
written on 30. Jan 2009, 07.53 WIB
"Hmmm... Saatnya mencuci sandal. ^_^"



1 komentar:

Idham 다미시 mengatakan...

Wah, jadi teringat kembali masa-masa itu.. Terjebak di jalanan UI wood...