Senin, 29 November 2010

Terjadi lagi

Sabtu, 27. November 2010.

Beliau di sana, di tempatnya di lab seberang. Aku di tempatku, duduk, (berpura-pura) menelaah jurnal. Bimbang setengah mati. Ada yang perlu kutanyakan, ya, tetapi tak yakin berhasilku. Lagipula seorang rekannya ada di sisinya, tak enak aku.

Skenario untuk "aku yang sempurna" adalah aku keluar dengan langkah ringan, satu tangan tersembunyi di dalam kantung celana, dan satu tangan membantu ekspresi. Kalimat yang keluar, yah, pelbagai basa-basi yang berpangkal dari ajakan perkenalan, meminta nomor telepon, dan macam-macam itulah.

Tapi yang terjadi, ya, aku (saja, aku yang tidak sempurna) yang tidak kunjung keluar dari cangkang.

Kemudian, saat aku sadar, beliau telah melangkah pulang, bersama rekannya tentu saja - apa yang kamu harapkan dari seorang gadis? Berjalan sendiri saja?

Sekonyong-konyong muncul beraniku sedikit. Segera aku berlari. Betul. Berlari menuruni tangga. Tiga lantai penuh, melompati beberapa anak tangga, menghela langkah.

Tapi di pintu itu aku tercekat. Ingin hati meneriakkan - oke, memanggil saja, tidak berteriak - "Mbak!" begitu. Tapi tidak satu kata pun keluar dari tenggorokanku. Bahkan tidak satu bisikan pun.

Dan setelah itu, beliau keluar dari pintu, aku mendapati keadaan yang sulit - dosen pembimbingku yang telah berjanji menemui kami siang itu sedang berbincang dengan mahasiswanya yang lain. Dan aku memilih mendekati beliau, dosen pembimbingku.

Dan beliau berlalu.

Dan sakit lebih lanjut dalam perjalanan kembali ke rumah, beliau kembali ke kampus. Akan berangkat ke acara "Malam Keakraban" rupanya.

Dan aku mau jadi batu saja.

--
F I N
written on 29. Nov 2010, 19.20 WIB (UTC +7), 20.20 WITa (UTC +8)
This imaginarily perfect me is killing me slowly, yet surely. At this rate, I won't have meaningful relationship with a lady.

Minggu, 28 November 2010

Waktunya...

Terlalu malu sampai beliau bisa memotong segera, "Aku ke sana lagi ya?"
Terlalu terpesona sampai tidak bisa berkata lain selain, "Oh, iya. (silakan)"


F I N
written on 28. Nov 2010, 14.10 WIB (UTC +7), 15.10 (UTC +8)
And that hand was soft, yet so cold, yet I couldn't see her eyes her expression. Tsk. :(

Sabtu, 20 November 2010

Sesal dahulu, pendapatan

Beberapa waktu yang lalu, aku menemukan kembali komik web xkcd edisi 235. Judulnya "Kite" ("Layang-layang"). Ini komiknya, kalau sekiranya kamu tak sempat mampir ke URL yang kuberikan.



(klik di gambar untuk melihat ukuran asli)

Tulisan pengganti (alt text) dari komik ini sederhana agak kompleks: "It's easier to regret your awkward conversations but hard to regret the ones you didn't have."

Perlu diterjemahkan? Baiklah, baiklah. Mudah menyesali perbincangan yang kikuk, tetapi berat menyesali yang tidak pernah terjadi. Oke. Mungkin lebih pas berikut ini: Mudah melupakan perbincangan yang kikuk, tetapi sulit melupakan yang tak pernah terjadi.

**

Pernahkah situasi ini terjadi padamu? Aku pernah. (jelas, itu alasan mengapa aku meminjam komik ini untuk tulisan ini).

Coba tengok, menerbangkan layang-layang sampai ketinggian cukup, kemudian menaikinya "hanya karena aku bisa", lalu mendapati ada seorang di sana, tetapi tiba-tiba menyapa menjadi hal yang jauh lebih sulit. Bahkan lebih daripada kegilaan menaiki layang-layang itu.

Atau misalnya, ada seorang di sebelahmu dalam sebuah bus. Dia membaca buku bagus yang telah kamu baca. Rasanya ingin sekadar berkata, "Hei, sudah baca sampai mana? Bagus ya, bukunya. Eh, karakter X itu matinya diracun siapa ya?" atau seputaran itu. Yang terlintas di pikiran ternyata malah "Ah, nanti dia terganggu. Biarkan saja." atau sejenisnya.

Atau kasus lain, ada penawaran yang kelihatan (dan kedengaran, dan sebagainya) menarik. Tetapi yang terjadi justru pergolakan batin, pikiran, argumentasi dengan diri sendiri. Pada akhirnya, kesempatan tersebut terlewatkan, dan yang tertinggal hanya "sekiranya dulu aku..."

**

Tidak, tak pantas aku menyarankan ini dan itu untuk kamu. Aku sendiri mengalami hal tersebut. Setiap waktu. Berbagai urusan. Laki-laki, perempuan. Pertemuan formal, tak resmi. Dalam bus, di jurusan sendiri. Di ujung selasar. Ah.

Ada beberapa pepatah mengenai hal ini. Yang cukup dikenal misalnya, "nasi sudah menjadi bubur" - meskipun bila diolah lebih lanjut dan disajikan baik, bubur pun bisa terasa lumayan. Ya, lumayan. Lainnya misal "sesal dahulu, pendapatan. Sesal kemudian, tak berguna." yang lebih langsung.

Kembali ke komik tersebut, beberapa orang membahas komik tersebut. Betul, dibahas. Di sana. Salah satu yang menarik adalah pendapat bahwa angan-angan, pada panel tengah bawah dari komik yang ditampilkan di atas misalnya, tiada berarti tanpa usaha nyata. Apapun hasil usaha tersebut. Bahwa pikiran-pikiran tersebut menghasilkan ujung cerita yang tak terbatas (infinite), sedangkan bila usaha dilakukan, maka ujungnya akan terbatas.

Ujung cerita yang terbatas ini dapat menjadi bahan nostalgia di masa mendatang. Tertawa atas kekikukan pada perbincangan pertama. Menyatakan semestinya kamu begini, begitu. Tetapi itu saja. Mudah, ringan, dan tidak ada yang perlu disesali - semuanya sudah terjadi, bagaimanapun.

Cerita akan jauh beda bila tiada kerja yang terjadi. Maksudnya, apa? Apakah dua orang tersebut tidak akan bertemu lagi lain waktu? Apakah dua orang akan pergi menonton di bioskop, misalnya? Apakah begini? Apakah begitu? Sesal ini yang menyakitkan. Dan ya, aku terlalu sering menyakiti diri dengan sesal.


--
F I N
written on 20. Nov 2010, 06.15 WIB (UTC +7), 07.15 WITa (UTC +8)
Miss, I deeply regret my cowardice. Maybe I should have said "hi, what's your name?" just that easily, and that carelessly.

Rabu, 17 November 2010

"Resep": teh teman berpikir

Ya, kira-kira itu yang tebersit di kepalaku saat pertama kali menyeduhnya. Rasanya secara singkat bisa disebut sepet, tetapi enak. Ada efek menenangkan sepertinya di setiap gelasnya. Sungguh, siapapun yang memilihkan teh ini harus bertanggung jawab (teh ini asalnya dari paket 'Idul Fitri dari Jurusan). Sampai sekarang masih senang sekali dengan teh ini. Mari kita sajikan di sini, yuk?


Yellow label tea (etiket kuning?) dari Lipton.

Nah, itu dia gambarnya sudah muncul (kalau belum, coba periksa pengaturan di perambanmu). Berhubung teh pemberian, jadi kotak ini tadinya masih terbungkus plastik sampai pekan lalu. Sekali pembungkusnya terbuka, ternyata laju habisnya cenderung cepat. He he.

Kalau menurut pembuatnya, teh ini adalah campuran dari macam-macam daun teh yang memberikan rasa yang konsisten (kira-kira demikian). Hmm.. Kalau konsistensi, tergantung kepada konsistensi pembuatan juga, tentu saja. Contoh beratnya adalah saat ibu mengangkat kantung tehnya saat baru sekitar semenit tercelup. Rasanya? Amburadul. Duh.

Baiklah, kembali ke "resep". Membuat teh (dari kantung teh celup) ternyata mudah tapi sulit. Dari lebih dari 10 gelas yang kubuat -termasuk yang amburadul tadi- yang "pas" paling banyak hanya 4 gelas. Rata-rata di bawah 50% tetapi membuat resep? Oh, baiklah. "Resep". Menurutku, teh bisa dikatakan enak apabila perpaduan manis dan sepet pada satu gelas tersebut pas. Untuk mendapatkannya, itu tadi, relatif sederhana tetapi agak rumit juga.

Yang diperlukan untuk satu gelas besar (bukan mug juga. Seperti gelas bir [?] yang kecil): satu kantung dari teh etiket kuning tersebut, dan 4-6 butir gula batu ukuran sebesar kelereng (normal). Prosedurnya? Kira-kira seperti berikut ini:

  1. Kantung teh dicelupkan dalam gelas berisi air panas 3/4 penuh, diamkan 3-5 menit
  2. Gula batu dimasukkan satu persatu
  3. Air panas ditambahkan sampai gelas penuh, lalu diaduk sedikit dan gula dibiarkan larut
  4. Berdoa, mudah-mudahan hasilnya cukup enak. :D


Ini yang menemaniku kemarin saat sedikit sedih. Padukan keduanya dan berdoa, mudah-mudahan cukup enak


PS: {Foto-foto: koleksi pribadi. Silakan kirim surat ke arif.rahman91[at]ui[dot]ac[dot]id
sekiranya diperlukan foto ukuran besar}

PPS: Kebetulan warnanya kuning juga ya? He he he.

PPPS: Maaf, untuk foto hasil jadinya... Telanjur habis tehnya sebelum sempat difoto. Teman mengolah gambar juga. He he he.

--
F I N
written on 17. Nov 2010, 13.20 WIB, 14.20 (UTC +7), WITa (UTC +8)
Thank You and thank you for keeping me company through one toughest time in my days. :)

Selasa, 16 November 2010

Stigma anak baik

Ada kontradiksi di sini. Mari kita bahas satu demi satu.

stig·ma (n) ciri negatif yg menempel pd pribadi seseorang krn pengaruh lingkungannya; tanda: anak itu menjadi betul-betul nakal krn diberi -- nakal oleh orang sekelilingnya

Ya, stigma. Kalau diterjemahkan lebih bebas lagi mungkin arahnya sama dengan citraan, meskipun citraan memiliki nilai rasa yang lebih netral daripada stigma. Akan tetapi, untuk sementara, peganglah dulu kalau aku menyebutkan stigma, aku menyebutkan soal citraan. Begitu pula sebaliknya. Bertahanlah.

**

Mari menghitung diri lagi.

Ada citra yang seolah lekat dengan diriku: anak baik. Citra yang baik ya, kedengarannya. Anak baik yang tidak macam-macam. Yang rajin begini, begitu. Yang pintar, yang senang membantu.

Aku bersyukur, di satu sisi, mendapat stigma ini. Andaikan dulu aku disebut nakal, bandel, mungkin entah seperti apa aku sekarang. Tetapi dengan citraan demikian, ternyata Dia memberikan lebih dari yang orang-orang harapkan kepadaku, dan keinginan-keinginan, pikiran-pikiran, dan kawan-kawannya yang cenderung gelap, kelam, hampir semua bisa tertahan dalam kandangnya di kepala saja.

Tapi di sisi lain, citraan ini sedikit banyak menghambat. Coba tengok ucapan ini: "Yee.. Bisa juga dia ngatain [bercanda, pen.] begitu." dan ucapan-ucapan senada dengan itu.

Ah...

Mungkin ini hanya di pikiranku. Mungkin ini tidak nyata. Tetapi apa betul, si "anak baik" tidak berhak punya sisi yang berbeda? Maksudku, toh semua - maksudku, semua - orang punya sisi baik dan sisi yang kurang baik, bukan? Kalau begini caranya, aku ingin jadi anak normal saja. *bercanda, ha ha!*

Tenang saja. Aku mencoba mempertahankan stigma ini, kok. Biarpun rasanya seperti agak membatasi gerak. Ah, entahlah.


--
F I N
written on 16. Nov 2010, 19.15 WIB (UTC +7), 20.15 WITa (UTC +8)
Some say that good guy are quasi-extinct. I'll prove them wrong. :>

Sesuatu di luar kuasa

Mbak,
Kalau kamu kebetulan membaca tulisan ini, perkenankan aku minta maaf. Maaf karena sampai sejauh ini, aku tidak bergerak lebih dekat dari lima meter darimu. Maaf juga karena waktu itu aku lari saat pandangan kita bertemu. Maaf karena aku punya rencana-rencana-rencana tentang kita, yang tak kunjung dilaksanakan.

Ada sesuatu yang mengenai telak di ranah pikirku. Sesuatu yang di luar kuasaku.
Sesuatu yang spiritual, kalau boleh kusebut demikian.

Sampai hari ini, dalam doaku kusematkan namamu, dengan pengharapan pada sang Maha Pencinta. Kumohonkan tentang sesuatu yang sederhana, tetapi tak mudah juga. Tentang, ah, tak penting lah.

Tapi aku takut.
Apakah yang aku rasakan pada kamu ini nyata?
Apakah ini bukan tipuan mata yang silap?

Sedangkan sejatinya Cinta setiap hari aku terima. Hela nafas, sinaran mentari, tetes embun dan hujan, rimbunnya pepohonan dan wanginya bunga, semuanya.

Takut aku.
Yang kurasa padamu menutupi Cinta yang acap terlewati begitu saja.
Yang kurasa menggelapkan pandangan mata rabun ini.

Ya. Sesuatu di luar kuasa membuatku berpikir lebih keras lagi. Jangan khawatir, namamu akan tetap ada di doaku.

Doa untuk... Kita.


--
F I N
written on 16. Nov 2010, 17.45 WIB 1845 (UTC +7), WITa (UTC +8)
I'm sorry. I'm sorry. I'm sorry Miss F. :'(

Aku yang sempurna

Mungkin ini terjadi tidak pada banyak orang. Mungkin malah cuma terjadi padaku. Sering.

Rencananya sederhana. Datang, dekati, dan bicara. Rencana yang mudah bukan? Banyak skenario yang disiapkan, berbagai suasana, dan waktu, dan lain-lain secara mendetail.

Tapi sesuatu menahanku menjalankan rencana-rencana-rencana itu semua. Lebih jauh lagi, di kepala melintas bayang-bayang "aku yang sempurna" yang melaksanakan rencana-rencana itu semua. Tanpa cela. Sempurna

Imaji "aku yang sempurna" itu - menyakitkan.


--
F I N
written on 16. Nov 2010, 12.40 WIB (UTC +7) 13.40 WITa (UTC +8)
I was early. And I didn't wait. Can You arrange us some other time? With some courage, please? X_X

Senin, 15 November 2010

Takut sukses

Ya, kamu tidak salah membacanya. Takut sukses. S-u-k-s-e-s, sukses. Aneh, kedengarannya. Di saat orang-orang dihantui kegagalan, ada beberapa orang *ehem. aku* dihantui takut sukses.

suk·ses /suks├ęs/ a berhasil; beruntung.

Ah iya, lebih mudah begitu. Takut dengan keberhasilan. Ada yang punya istilahnya, mungkin latinisasi sebagian semacam anufobia begitu? Boleh beritahukan kepadaku. Aku ingin tahu.

Banyak cara seseorang mendefinisikan keberhasilan. Bisa mempunyai kemeja polos baru, sepasang kaus kaki, atau sekadar dapat menunjukkan jalan ke orang yang nampak tersesat misalnya, bisa saja didefinisikan berhasil. Kalau yang demikian, aku tidak takut. Malah, rasanya cenderung kurang. He he he. *malu*

Ada satu hal yang agak kutakutkan dulu: soal hubungan pribadi. Relationship, kalau menurut orang-orang di negerinya Ratu Elizabeth II. Soal ini, berat. Sebab definisi berhasil dalam hal hubungan antar manusia ini menurutku adalah bukan bagaimana mendapatkannya (teman, kawan, kekasih, sahabat, ... [boleh dilanjutkan sendiri]), tetapi bagaimana membuatnya awet, tahan lama, tak habis ditempa zaman.

Nah, untuk hal yang satu ini tergolong sulit. Tanyakan kawan-kawanku semasa SD, aku hilang ditelan bumi. Maklum, tempatku bersekolah lanjutan jauh dari kawan-kawanku. Berangkat saat matahari masih gelap, dan kembali menjelang kembali gelap. Tambahkan faktor belum maraknya telepon seluler, apalagi internet di masa itu. Jadilah saat bertemu kembali mereka mendapatiku (dan sebaliknya) berbeda jauh dari masa SD dulu, bahkan beberapa ada yang terlupa. Duh.. Ha ha!

Yah, itu satu contoh (jangan ditiru!) tidak mampunya mempertahankan hubungan yang dulunya sempat terjalin. Kalau sekiranya semua dituliskan di sini, aku khawatir malah menjadi preseden buruk yang diikuti. Jangan ya?

**

Mungkin ini juga yang pertama kali hadir di kepalaku saat ada perempuan yang - yah - menarik perhatianku. Penolakan itu - yah - biasa. Pahit hanya singgah sebentar di lidah. Berhubung sampai saat ini belum pernah berhasil, jadi aku belum paham juga bagaimana bisa beberapa kawan karibku bisa langgeng sampai, um, 5 tahun ke atas. Hmm...

Coba bayangkan kalau sekiranya aku yang cuma seadanya ini sampai dapat menjalin hubungan khusus dengan perempuan itu, misalnya. Selanjutnya apa?

Entahlah, sepertinya harus kita coba dulu ya?


--
F I N
written on 20.12 WIB (UTC +7) 21.12 WITa (UTC +8)
I pray harder by the day, Miss. And I secretly wish you noticed me looking at you. And you'll ask and I'll answer. That simple.

Sabtu, 13 November 2010

Perempuan selalu tahu

Memancing ya? Minta maaf terlebih dahulu, tetapi demikianlah yang sering kudapati.

Pada mulanya nama, kemudian akun pada situs jejaring sosial berlatar belakang biru itu, dan kemudian ke mana-mana tempat. Dari 'penelusuran' mengenai hal-hal di ranah maya yang berkaitan dengan perempuan itu, aku berakhir pada situs penyedia jasa blog mikro twitter.

Beberapa bulan terakhir ini, daya tarik situs ini terasa demikian besar, sehingga akunku akhir-akhir ini jadi agak terlalu aktif. He he.

Ah, maaf. Perhatian teralih. Baiklah. Kembali ke soal perempuan ini. Genap sebulan beliau menerima pembaruan berita dariku. Beberapa hari sebelum itu, aku yang terlebih dulu meminta izin beliau agar dapat menerima pembaruan berita darinya. Seperti beberapa pengguna lain yang kuikuti, beliau menuliskan berbagai hal: keluhan, kegiatan, lokasi, serta pertanyaan-pertanyaan.

Nah, yang terakhir ini: Pertanyaan. Sesuai prosedur Seperti kebiasaanku apabila berada dalam situasi seperti ini, aku mengamati dan mendengar dari kejauhan, dan menyusun rencana. Ya, ya. Rencana. Rencana yang baik yang kecil peluang gagalnya - apabila bukan aku yang melaksanakan.

Selain mengamati, aku terkadang mendapati keadaan aku sedikit tahu, dan beliau tidak begitu tahu (baca: beliau melontarkan pertanyaan). Kamu yang juga menggunakan blog mikro itu semestinya mengerti rasa 'gatal'nya ingin menjawab pertanyaan dengan menyertakan nama penanya (reply). Aku pun tak berbeda. Hanya saja, berhubung sedang dalam fasa pengintaian, semestinya pula aku tidak diketahui. Jadilah, 'trik' no mention atau menjawab tanpa menyertakan akun penanya secara spesifik yang kupergunakan.

Sebentar. Sedikit tentang no mention ini, terkadang hal ini bisa berguna sekiranya jumlah penanya cukup banyak (misal: X: "ada di mana" Y: "serius? di mana? Z: "di D? Kapan?" yang dijawab langsung sekaligus).


Permasalahannya, cara seperti ini terkadang menimbulkan multitafsir, beberapa orang dapat jadi terlalu perasa dan merasa bahwa tulisan terakhir dialamatkan pada mereka - secara implisit tentu saja. Nah, kira-kira ini yang terjadi pada beliau. Bukan, beliau tidak salah menafsirkannya. Terlalu tepat malah, membuat detak jantung tiba-tiba melaju saat kubaca tulisan beliau yang kira-kira berbunyi, "Hmm... Sepertinya ada yang menjawab tweet-ku tanpa menyertakan namaku."

Yah, sekali lagi kecenderungan mengintai ini terbaca sang subyek. Harus merevisi beberapa pandangan umum tentang perempuan sepertinya. Karena, seperti yang terulang lagi, perempuan selalu tahu.


--
F I N
written on 13. Nov 2010, 15.10 WIB (UTC +7), 16.10 WITa (UTC +8)
Dear miss. I have no question to ask, for I think that you are my answer to it all.

Rabu, 10 November 2010

Setengah itu, diakah?

Aku punya rencana. Segudang rencana. Tentang hidup, tentang kehidupan. Dari hal semacam kemeja, kaus kaki, dan sandal jepit hingga beberapa lensa kamera, perjalanan ibadah, dan - ehem - setengah agamaku.

Tapi tentu saja, sebaik-baik manusia berencana, ada yang jauh, jauh paling Ahli Berencana. Mengenai kemeja, kaus kaki, sandal jepit, sementara ditunda dulu karena, yah, ada penundaan dari sisi hulu. He he he. Untuk rencana yang agak panjang, penundaan dari hulu itu ada juga pengaruhnya, tetapi berhubung masih (agak) panjang waktunya, tidak demikian masalah.

Nah yang terakhir itulah...

Cerita bermula dari masa-masa menjelang proses asesmen dari jejaring universitas se-ASEAN.Saat itu, keramaian terus terjadi di jurusan kami. Bolak-balik tiga lantai dalam 10 menit hal biasa.

Biasa sampai suatu hari mata yang kurang awas ini mendapati paras ayu di lantai 3 yang dulu jadi 'lantai kami'. Rambut hitam panjang terurai sebahu. Senyumnya membingkai sebaris gigi yang bersih. Kacamata minus menegaskan sepasang bola mata itu.

Ah, tidak... Mulai lagi.

Yang kuperbuat saat itu? Kau takkan percaya. Melihat daftar nama asisten lab tersebut. Dari pengetahuan dasarku tentang rekan-rekan dengan tahun masuk di bawahku, aku memperkirakan dari angkatan mana beliau. Kudapatkan dua nama, dan melalui 'bantuan' situs jejaring sosial karya M. Zu'berg, kudapatkan nama beliau, dengan beberapa data sampingan, yang terus dipantau sampai sekarang. *ups*

Kalau kamu tanya, "mengapa tak kau halangi saja jalannya dan tanyakan namanya?" ini jawabnya.

Selasa, 9. November 2010, menjelang tengah hari, lab lantai 3 di seberang lab yang diasisteninya. Aku 'mengantar' seorang kawan keluar pintu. Ternyata, di ujung koridor itu, beliau duduk dengan setidaknya seorang rekannya. Aduh, aduh, pandangan kami dipertemukan.

Dan yang terjadi? Balik kanan, langkah seribu, jalan!

Scene berikutnya seharusnya untuk perempuan. Ada sesosok tubuh menyandarkan diri ke pintu, bersembunyi, jantung berdegup lebih kencang, mulut mengutuk ketidakberdayaan dirinya. Masalahnya, yang ada di scene itu... Aku. Ah! :(

Itulah mengapa. Menjawab pertanyaanmu?

Baiklah. Pekerjaan rumah berikutnya adalah, bagaimana bisa memperkenalkan diri kepadanya. Yang aku ingin katakan sederhana saja, kok.

"Hei, aku Arif. Mmm.. Dari beberapa waktu lalu, aku sering lihat kamu. Boleh tahu namamu? Kalau tak keberatan, mungkin nomor telepon? Ini nomorku, kalau kamu berkenan, aku akan kirim pesan nanti petang, ya!"


--
F I N
written on 10. Nov 2010, 21.12 WIB (UTC +7), 22.12 WITa (UTC +8)
In this case, I heartily wish that it's as easier done as it is said, miss.

Selasa, 09 November 2010

Mata jendela hati (?)

Sepasang mata itu menatap mataku. Sedetik, dan terasa seperti, yah, sedetik. Sedetik itu otak tak bisa berpikir, dan detik berikutnya memerintahkan seluruh badanku berbalik dan sembunyi. Sembunyi di balik pintu, bersandar, jantung berdebar tiada aturan, nafas tersengal lebih dari melompati anak tangga tiga lantai. Tak bisa duduk aku, berdiri pun tidak.

Anak macam apa aku ini, bahkan anak perempuan pun ada yang bisa lebih dari itu.

Hanya kurang dari sepuluh langkah, dan pembicaraan kecil mestinya bisa mengawali satu cerita yang lain dalam lembaranmu. Meskipun juga bisa mengakhirinya sama sekali.

Kurang dari sepuluh langkah, di hadapan sekurangnya empat pasang mata yang lain, satu benang bisa terjalin. Sepuluh langkah yang berat, dan lebih mudah untuk kembali dan menyimpannya.

Langkah yang dapat jadi sesal seterusnya.

Maaf, aku tak sopan. Semestinya aku tak memandangmu. Semestinya aku tak mengetahui dirimu ada di hariku. Mestinya. Ah, mestinya.

--
F I N
written on 9. Nov 2010, 14:10 WIB (UTC +7) 15:10 WITa (UTC +8)

Dear, miss F. I wish my message is conveyed clearly through the air, between our eyes. :(