Senin, 15 November 2010

Takut sukses

Ya, kamu tidak salah membacanya. Takut sukses. S-u-k-s-e-s, sukses. Aneh, kedengarannya. Di saat orang-orang dihantui kegagalan, ada beberapa orang *ehem. aku* dihantui takut sukses.

suk·ses /suks├ęs/ a berhasil; beruntung.

Ah iya, lebih mudah begitu. Takut dengan keberhasilan. Ada yang punya istilahnya, mungkin latinisasi sebagian semacam anufobia begitu? Boleh beritahukan kepadaku. Aku ingin tahu.

Banyak cara seseorang mendefinisikan keberhasilan. Bisa mempunyai kemeja polos baru, sepasang kaus kaki, atau sekadar dapat menunjukkan jalan ke orang yang nampak tersesat misalnya, bisa saja didefinisikan berhasil. Kalau yang demikian, aku tidak takut. Malah, rasanya cenderung kurang. He he he. *malu*

Ada satu hal yang agak kutakutkan dulu: soal hubungan pribadi. Relationship, kalau menurut orang-orang di negerinya Ratu Elizabeth II. Soal ini, berat. Sebab definisi berhasil dalam hal hubungan antar manusia ini menurutku adalah bukan bagaimana mendapatkannya (teman, kawan, kekasih, sahabat, ... [boleh dilanjutkan sendiri]), tetapi bagaimana membuatnya awet, tahan lama, tak habis ditempa zaman.

Nah, untuk hal yang satu ini tergolong sulit. Tanyakan kawan-kawanku semasa SD, aku hilang ditelan bumi. Maklum, tempatku bersekolah lanjutan jauh dari kawan-kawanku. Berangkat saat matahari masih gelap, dan kembali menjelang kembali gelap. Tambahkan faktor belum maraknya telepon seluler, apalagi internet di masa itu. Jadilah saat bertemu kembali mereka mendapatiku (dan sebaliknya) berbeda jauh dari masa SD dulu, bahkan beberapa ada yang terlupa. Duh.. Ha ha!

Yah, itu satu contoh (jangan ditiru!) tidak mampunya mempertahankan hubungan yang dulunya sempat terjalin. Kalau sekiranya semua dituliskan di sini, aku khawatir malah menjadi preseden buruk yang diikuti. Jangan ya?

**

Mungkin ini juga yang pertama kali hadir di kepalaku saat ada perempuan yang - yah - menarik perhatianku. Penolakan itu - yah - biasa. Pahit hanya singgah sebentar di lidah. Berhubung sampai saat ini belum pernah berhasil, jadi aku belum paham juga bagaimana bisa beberapa kawan karibku bisa langgeng sampai, um, 5 tahun ke atas. Hmm...

Coba bayangkan kalau sekiranya aku yang cuma seadanya ini sampai dapat menjalin hubungan khusus dengan perempuan itu, misalnya. Selanjutnya apa?

Entahlah, sepertinya harus kita coba dulu ya?


--
F I N
written on 20.12 WIB (UTC +7) 21.12 WITa (UTC +8)
I pray harder by the day, Miss. And I secretly wish you noticed me looking at you. And you'll ask and I'll answer. That simple.

Tidak ada komentar: