Rabu, 24 September 2008

Mimpi

Kalau kata orang, "bak mimpi di siang bolong" itu artinya suatu hal yang, boleh dibilang, mustahil. Tapi....... Karena sekarang waktu Maghrib hampir berlalu, dan malam mulai menjelang --senja kalau kata sebagian orang, tapi tidak juga. Sudah gelap sekarang. Saat badan capai, pikiran letih memikirikan berbagai-bagai urusan yang datang silih berganti, rebahkan badan dan biarkan mata terpejam.. Tapi, sebelum lelap, jangan lupa bacakan doa dulu, biar nanti mimpi yang datang membelai bukanlah mimpi yang... Aneh-aneh deh.

Jadi, sudah mengantuk, Rif? Tidak juga. Cuma ingin sedikit menuangkan mimpi (baca:impian) di sini, biar tak menguap tak berbekas. Layu, karena bagi beberapa orang, mimpi tak ubahnya kembang di kala mereka tidur. Ingat pula aku, ucapan seorang musisi --Anggun (C. Sasmi)-- di sebuah acara bincang-bincang televisi sekitar setahun-dua yang lalu. "Kalau sudah selesai mimpi, jangan hanya diam di tempat tidur! Bangun, mandi dengan air yang dingin, lalu berangkat kejar mimpi itu." Yah, kira-kira demikian yang kutafsirkan dari ucapan beliau itu. Hmm.. Perkataan yang baik, baik sekali. Jadi sebelum aku bangun dan mandi air dingin, biarkan sejenak ku bermimpi, boleh?

****
Aku bermimpi, suatu masa, di muka bumi, saat telah selesaiku dengan urusan pendidikan yang sekarang kujalani. Aku melangkah ke sebuah tempat yang asing bagiku, dan aku asing bagi penghuni tempat itu. Di sana, memperkenalkan diri aku, tanpa ada yang bertanya siapa aku dulu, tanpa aku bertanya siapa mereka dulu. Di sana, diterima aku sebagai diriku, bukan sebagai anak siapa, saudara siapa, murid siapa, suami siapa, dan seterusnya. Mungkinkah? Uff....

Bermimpi aku masih, saat kulihat halaman depan rumahku yang tak seberapa luas ditanami ragam kembang dan bunga. Kuning, merah, putih, warna-warna dunia yang aku dan istriku upayakan, kami pelihara agar, kalaupun layu, berganti dengan tunas-tunas baru yang tak kalah eloknya mewarnai hari kami. Kemudian, di halaman yang sama, di atas rumput yang terawat cermat, putra-putri kami berlarian, bergulingan, menendang bola karet, (mencoba) menangkap kupu-kupu dan capung.

** Ah, mati listrik tiba-tiba.. Syukur masih ada sisa daya dari UPS. Jadi, setelah menyimpan dan kemudian menanti menyalanya listrik kembali, kita lanjut? **

Duhh... Rumah itu mungil saja, tapi terasa lapang karena kelapangan hati penghuninya. Kecil, tapi berisi pelbagai gagasan besar dari manusia di dalamnya. Halamannya tak seberapa luas, berpagar tanaman serupa teh, dipangkas setiap akhir pekan. Tak ada kata yang terucap selain sapaan, salam, dan semuanya kala penghuninya menemui tetangganya, begitupun kala sang tetangga bersua dengan sang penghuni. Ahh... Nyaman nian hidup sedemikian. Riang gelak tawa anak-anak, riuh celoteh mereka memenuhi udara.

****
Mimpi? Impian? Utopia? Sebutlah yang di tengah. Yang pertama banyak dikata selimut malam, yang terakhir seolah tak pernah terwujud. Yang di tengah, ada untuk diraih, untuk dikejar, untuk diusahakan. Uff... Malam kian larut, kantuk mulai menyerang. Saatnya bangun dari mimpi tertulis ini untuk melompat ke mimpi yang lebih "realistis", lebih dekat dari bisikan, lebih hangat dari selimut wol tebal. Diiringi sisa-sisa tetes hujan, dan hembus lembab angin malam ini aku kan beranjak, berselimut waktu sampai esok menjelang. Semoga....


F I N
written on 24. Sep 2008, 18.30 WIB - blackout - 20.37 WIB.
Btw, I'd like to accessorise the house with both canary-yellow colored 1098 and 911, do you know?

Tidak ada komentar: